NovelToon NovelToon
Pernikahan Anak SMA

Pernikahan Anak SMA

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:29.9k
Nilai: 5
Nama Author: Asni J Kasim

Nina Verra Gandi, akibat cinta monyetnya–dia berulang kali hampir di lecehkan. Hingga kedua orang tuanya memutuskan untuk menikahkan Nina dengan sahabatnya sendiri, Rifki Yohanes, namanya. Seiring berjalannya waktu, Nina jatuh cinta pada sahabatnya itu. Saat cinta itu mulai tumbuh di masa SMK, Nina diduga mengidap penyakit kanker otak. Saat pengobatannya telah berhasil, musibah lain menimpa Nina hingga membuat Rifki menjadi pendiam dan hemat bicara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Rifki dan kawan-kawannya kembali ke Lapangan Samargalilah. Tiba di Lapangan, mereka mulai masuk dalam kerumunan. Seperti biasa, Nina dan Rifki berpegangan tangan. Begitu juga dengan yang lain. Terus berjalan hingga mendekati panggung.

"Satu, dua, tiga." Dalam hitungan ketiga, kembang api diluncurkan.

Nina, Sinta dan kekasih Dika juga sahabat Alan, mereka bersorak seperti pengunjung lainnya. Setelah acara pelepasan kembang api, Nina dan Rifki juga yang lain pergi ke pasar malam yang kebetulan juga diadakan di Lapangan SG.

Seperti kata Gio, dia mengajak Sinta membeli baju couple. Pilihan mereka jatuh pada baju kaos hitam di belakangnya tertulis 'Aku akan setia padamu' . Begitu juga dengan Nina dan Iki, mereka juga membeli baju kaos tersebut namun tulisan di belakangnya 'Suami idaman dan istri idaman' . Dika dan kekasihnya membeli couple kemeja warna putih. Alan yang jomblo membeli couple kaos bertuliskan 'Jomblo niBoss' .

"Bro, sepertinya kami harus pulang. Orang tua Nina menyuruh pulang," ucap Iki berbohong.

"Ya sudah, besok malam kita datangnya agak cepat. Kasi bisa sore aja, biar kita jalan-jalannya sore. Bagaimana menurut kalian?" Dika menatap teman-temannya.

"Oke, aku setuju," ucap Rifki.

Nina dan Iki pulang ke rumah sementara yang lain masih di lapangan. Dalam perjalanan pulang, Nina menyandarkan kepala di bahu Iki. Sementara kedua tangannya memeluk Iki. Berulang kali menguap, dia hampir tertidur. Beruntung mereka sudah hampir sampai. Tiba di rumah, Nina segera turun membuka pintu.

"Nina, kamu duluan ke kamar. Jangan lupa cuci muka dan sikat gigi. Setelah itu kamu tidur," ujar Iki. Pria itu menarik langkah ke tempat cuci pakaian.

"Biar aku saja, Iki." Nina menyusul.

"Aku aja, sekarang kamu naik ke kamar!" tita Iki.

Naik ke kamar, Nina melakukan apa yang Iki perintahkan. Faktor lelah, wanita itu tidur dengan cepat hingga dia tak menyadari kehadiran Rifki di kamar. Rifki yang baru masuk pun menghampiri Nina di atas tempat tidur. Sama lelahnya dengan Nina, Rifki pun tidur tanpa membilas wajah.

Keesokan harinya, Nina dan Rifki sudah di sekolah. Nina dan Sinta juga Clara sedang mencatat, sementara Rifki dan Gio ke Akutansi. Mereka sengaja ke sana karena Alan yang meminta mereka datang. Di sana mereka bertemu Zeto yang sementara duduk bersama reman-temannya.

"Ngapain kalian ke sini?" tanya Zeto menghadang Iki dan Gio saat akan keluar kelas.

"Ngapain? Menurut kamu." Gio tertawa. "Bro, ini sekolah kita bersama." sindirnya.

"Zeto, kami nggak mau cari masala. Jadi biarkan kami pergi," ujar Iki.

Zeto tersenyum sinis. "Kalau kalian nggak mau cari masalah, kenapa kalian ke fakultas kami?" Zeto mendekat dan berdiri dengan jarak yang sangat dekat dengan Iki.

"Tanyakan saja pada Alan," jawab Iki berlalu melewati Zeto.

Kesal, Zeto menarik Iki. "Aku tanya sama kamu!" bentak Zeto.

"Pelan kan suaramu, atau mulutmu kuberi pelajaran!" tegur Iki masih mencoba untuk tidak melayangkan tinju.

Berdecih, Zeto menghampiri Iki. Dengan kasar dia mencengkram kerah baju seragam yang Iki kenakan. "Sekali lagi aku lihat kamu datang ke sini, aku pastikan kamu akan berlumuran darah!" ancam Zeto.

Iki melepas kasar tangan Zeto. "Coba saja kalau kamu berani!" ucap Iki menantang.

"Kak Zeto, maaf sebelumnya. Tapi aku mohon, tolong Kakak jangan ngurusin hidup orang. Toh ini sekolah bukan milik Kakak. Iki juga di sini membayar, bukan sekolah gratis. Kita di sini hanya beda jurusan. Aku sering ke Farmasi dan nggak ada tuh yang memperlakukan aku kek Kakak sekarang." Alan menegur.

"Terserah aku dong, apa urusannya denganmu!" seru Zeto.

Bugh!! Alan melayangkan tinju tepat pada wajah seniornya itu. "Aku nggak suka ada siswa yang berlagak jagoan di sekolah ini," kata Alan menunjuk Zeto.

Zeto memegang pipinya yang memerah. "Berani sekali kamu!" seru Zeto mendekat namun di hadang oleh Pak Taufik, guru Akutansi yang kebetulan lewat.

"Apa-apaan kalian!" bentak Pak Taufik.

"Alan, Zeto, Rifki, Gio, ikut Bapak!" tegas Pak Taufik.

Nina yang diberitahu Sinta mengenai kejadian di Akutansi, terlihat cemas. Dia menunggu Rifki namun pria itu belum juga keluar dari ruangan guru BK. Tak berapa lama, terlihat Rifki dan yang lainnya keluar. Nina segera menghampiri.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Nina.

Rifki tersenyum. "Ayo ke kelas, di sini panas!" Menarik tangan Nina, dan sekilas melirik Zeto yang mengepal tangannya.

Gio menatap Sinta yang menatap tajam padanya. "Jangan sampai Sinta mutusin aku ..." batin Gio. Menarik langkah cepat, Gio menyusul Rifki dan Nina. Tiba di depan pintu, dia menarik senyum dikedua sudut bibirnya.

"Ayo masuk." Gio menggenggam tangan Sinta. Kemudian membawa wanita itu di tempat duduk.

Nina ingin mengintrogasi Rifki dan Gio namun guru pengampu mata pelajaran Kimia masuk ke dalam kelas. Memulai materi, mereka semua seakan melupakan semua masalah yang terjadi. Hingga materi selesai bersamaan dengan waktunya pulang.

Mengikuti apel pulang, Zeto yang di barisan Akutansi menatap Nina yang serius mendengarkan arahan dari Pak Kepala Sekolah. Hingga barisan di bubarkan, Zeto mengikuti Nina dan Rifki dari belakang. Sampai di parkiran, Zeto menghampiri Nina dan Rifki.

"Nina, bisa bicara sebentar?" tanya Zeto.

Nggak bisa!" Rifki menjawab.

"Kamu, Nina?" Zeto mulai emosi.

"Bukan, tapi aku sahabatnya," balas Rifki dengan santai.

"Apa yang mau Kakak katakan?" Cepat katakan, aku nggak punya banyak waktu," ujar Nina bertanya.

"Apa kamu mau kita mengulang permainan dulu saat di kamar ku?" Zeto tersenyum miring. Dia sengaja melakukan itu agar Nina malu.

Nina terdiam, sementara Rifki mulai terpancing emosi.

"Bagaimana? Oh, apa kamu sudah lupa permainan yang kita mainkan dulu?" Zeto menaikkan alisnya.

"Memangnya permainan apa yang kalian mainkan?" tanya teman Zeto bernama Rasman. Dia sengaja memulai pertanyaan itu. Para siswa yang di parkiran mulai penasaran. Mereka masih memasang telinga untuk mendengar.

"Aku dan Nina ber___"

Bugh!!

Bugh!!

Bugh!!

Kalimat Zeto menggantung saat Rifki melayangkan tiga bogem mentah pada wajah Zeto, Rifki menarik kerak baju seragam yang Zeto kenakan. Hingga guru BK yang masih di ruang guru segera ke parkiran setelah mendapatkan panggilan dari salah satu siswa.

"Apa-apaan kalian!" seru Guru BK. "Ikut saya!" tegasnya. Masuk ke dalam ruangan guru, Rifki, Nina, dan Zeto di tatap oleh semua guru yang masih di sana.

"Rifki, kenapa kamu memukul Zeto?" tanya Pak Jors. Guru Akutansi yang tak lain adalah wali kelas Zeto.

"Maaf, Pak. Aku nggak bisa beritahu kalian alasannya," jawab Rifki.

"Ya sudah, karena kamu nggak mau beritahu kami alasannya. Kamu terpaksa kami skors sesuai perjanjian yang tadi saat kalian di panggil ke ruangan Guru BK," jelas Pak Jors.

"Tapi, Pak. Nggak mungkin ada asap kalau nggak ada api!" Rifki berusaha membela diri.

"Saya tahu, itu sebabnya saya bertanya! Apa alasanmu memukul Zeto?" Pak Jors menahan kesal. "Nina, bisa kamu beritahu kami apa alasannya?" Pak Jors menatap Nina yang menunduk.

"Kak Zeto____" Kalimat Nina menggantung saat Rifki menggeleng pelan.

"Saya terima hukumannya, Pak," ujar Rifki.

Zeto tersenyum puas, memang itu yang dia inginkan. Dia mau Rifki tidak masuk sekolah. Dengan begitu, dia bisa mendekati Nina.

Pulang ke Ruko, Rifki menulis semua yang diperlukan. Mulai dari meja dan kursi, lampu hias, wifi, gelas, dan kelengkapan lainnya. Setelah semuanya dimasukkan kedalam list, Iki mengirimnya pada sang Papa. Hanya beberapa puluh menit saja, uang dengan jumlah hampir seratus juta masuk dalam rekening Rifki.

"Gunakan uang itu untuk membeli semua yang kamu butuhkan. Sisanya untuk kamu beli bahan-bahannya," tulis Ayah Simon dalam pesan yang masuk di ponsel Rifki.

"Nina ..." panggil Rifki.

Nina yang sementara di lantai dua membersihkan ruangan di atas, segera menghampiri Rifki. "Iya, Iki. Bagaimana?" tanya Nina.

"Ayo kita pergi belanja," ajak Iki.

Mengangguk, keduanya pergi membeli peralatan yang dibutuhkan. Cukup menyita waktu dan tenaga, mereka pergi dari siang hingga sore jam lima. Kembali ke ruko, keduanya merebahkan diri lantai. Nina berbantal lengan Iki yang kebetulan direntangkan.

"Iki, apa benar kita berdua sudah menikah?" pertanyaan konyol itu tiba-tiba keluar dari mulut Nina.

1
Sumiati Aja
cerita nya g msuk nni kn udah sembuh kok menninggal aja
mama Al: karena kanker tidak bisa di tebak kak.
banyak di dunia nyata yang di nyatakan sembuh oleh dokter malah meninggal dunia.
total 1 replies
Zana aripin
Aduh kenapa ceritanya begitu. Nina meninggal... semoga itu hanya mimpi iki ya thor
aris Widiatmoko
kok Nina meninggal kasihan Riki
Aji Sangpengembara
bagus banget
Asni J Kasim: Masya Allah, terima kasih banyak KK 🥰
total 1 replies
Rina Halawa
the best
Asni J Kasim: Terima Kasih untuk bintang 5nya Kak 😊🥰
total 1 replies
Zana aripin
Fuh ramai juga yg jadi pelakor ni. Novi dan vindian pelakor
Asni J Kasim: Vindian main belakangan 🤣
total 1 replies
Razana Razlan
cerita yg sgt best
Asni J Kasim: Terima kasih 🥰
total 1 replies
Razana Razlan
cerita yg best..byk pengajaran yg blh diambil.nilai kasih sayang yg hebat..maruah diri yg tinggi
Asni J Kasim: Terima kasih untuk bintangnya, Kak. Walau hanya bintang 4 udah senang, apalagi 5 🤣🤣🤣
total 1 replies
Queen
Hai kak, Mampir di novelku yaa
Mbah Gatot
lanjut bro ceritanya keren
Mbah Gatot
emosi cokkk Nina kek perempuan arggggggg tol anjayy


tpi keren ceritanya tingkat kan
Asni J Kasim: Tingkatkan kesabaran 🤣🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!