[TAMAT]
Ketika terbangun, Abella berada di dalam sebuah novel yang dimana tokoh utamanya, sang ratu, yang memiliki nama yang sama dengannya mati di tangan sang raja.
Dan berita buruknya, ia adalah ratunya sekarang.
By @yooazaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yooazaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Langkah Awal
*"Yang Mulia Ratu *saya tahu saya tidak berhak bertanya tentang masalah anda, tapi seperti nya ini berhubungan dengan mental dan juga stress yang di sebabkan oleh suatu hal. Jadi saya sarankan agar anda menghindari hal tersebut lagi"
Kalimat dokter yang baru saja memeriksa nya tadi terngiang ngiang di kepala nya. Ia sudah tahu jika cepat atau lambat penyebab kejadian kemarin akan di ketahui, dan itu baru saja terjadi di mulai dengan dokter pribadi istana. Untung nya dokter tersebut menuruti ucapan Abella untuk tutup mulut.
"Ratu, apa anda baik baik saja?" tanya Lela yang baru datang setelah mengantar dokter tadi pergi.
"Aku baik baik saja, kalian bisa melihatku bukan?"
Peter yang berdiri di belakang Lela mengerutkan kening nya, ia terlihat tengah memikirkan sesuatu untuk beberapa saat sebelum memilih untuk membuka suara.
"Wanita kemarin, dia semua dalang dari ini bukan?" tanya Peter dengan tatapan yang menahan emosi.
"Wanita kemarin? Maksudmu wanita dengan gaun merah muda yang lari di koridor seberang dengan terburu buru?" sambung Lela yang di jawab anggukan Peter.
Abella menghela nafas panjang, ia tidak mungkin menyembunyikan semua nya dari kedua pelayan dan pengawal pribadi nya dari masalah ini.
"Yang terpenting tolong jangan beri tahu siapa pun tentang masalah ini termasuk raja, biar aku yang mengurus nya"
"Tapi ratu-" mereka berdua menatap Abella khawatir.
"Aku bisa mengatasi nya, dan aku akan meminta bantuan jika perlu. Tetapi tolong jauhi dia dan keluarga nya, kalian bisa dalam bahaya" perintah Abella.
"Keluarga mana yang anda maksud?" tanya Lela.
"Muller, Keluarga Muller. Jauhi mereka sebisa mungkin, walaupun mereka masih memiliki ikatan darah dengan ku tetapi mereka penyebab utama nya penghancur Keluarga Silva"
"Keluarga Muller? Yang Mulia jika saya tidak salah dengar, hari ini salah satu anggota Keluarga Muller mengajukan pertemuan dengan Yang Mulia Raja" ujar Peter.
"Sudah kuduga mereka akan beraksi lebih cepat. Kalau begitu aku akan menemui raja" Abella berdiri dari sofa dan membuat Peter dan Lela panik.
"Ratu, anda bilang agar kami menjauh dari mereka, jika anda kesana bagaimana kami melindungi anda?" Peter menatap bingung harus berbuat apa, disamping nya Lela mengangguk menyetujui ucapan Peter.
"Tenang saja, ada raja dan Ruth disana, kalian tidak perlu khawatir" ujar Abella sambil tersenyum untuk memastikan mereka.
"Kalau begitu biarkan saya mengantar anda ke ruang kerja raja"
Abella bersama dengan Peter berjalan menyusuri koridor istana menuju ruang kerja raja, tepat sebelum mereka tiba seorang wanita yang tidak lain adalah Veronica, keluar dari ruangan tersebut.
"Kita bertemu lagi, Yang Mulia Ratu. Saya tidak menyangka reaksi anda berbeda dengan semalam" Veronica berhenti dua langkah di depan Abella lalu melipat tangan nya dan memandang rendah Abella.
Peter yang awal nya berada di belakang Abella mengambil tindakan untuk melindungi nya, ia maju dan menatap Veronica tak suka.
"Peter, mundur" perintah Abella, ia tidk merasa tidak perlu di jaga lagi. Apalagi ini di dalam istana dan banyak pengawal lain nya, jadi wanita ini tidak berani macam macam dengan nya.
Peter yang awal nya ingin menentang perintah Abella mengurungkan niat nya dan memilih menurut begitu melihat tatapan Abella.
"Baik, ratu" ujar Peter kemudian kembali melangkah mundur ke posisi nya semula.
"Huh, ku pikir kau akan membiarkan nya" ujar Veronica dengan nada yang sama seperti sebelum nya.
"Maaf saja untuk yang kemarin, aku hanya tak menyangka wanita seperti mu akan datang ke pesta mewah seperti semalam" Abella kini balik merendahkan Veronica.
"Apa maksud mu?! Aku berasal dari keluarga yang termasuk dalam tiga keluarga yang paling di andalkan oleh kerajaan ini!" Veronica naik pitam.
"Oh benarkah? Tapi kurasa kekayaan dan kemewahan mu dan keluarga mu tidak pantas untuk apa yang telah kau perbuat" ucap Abella santai.
"Kau tidak punya bukti Abella, kau tidak di perbolehkan berbicara sembarangan" tawa Veronica dengan wajah yang menahan marah.
"Tapi tetap saja aku mengingat perbuatan busuk kalian, ingat itu" setelah mengatakan itu Abella berjalan melewati Veronica, tetapi seketika tangan nya di tahan oleh nya.
"Sudah ku bilang tidak akan ada yang percaya dengan mu, kau tidak punya bukti"
Abella menatap Veronica yang seperti nya mulai kehilangan kendali hanya karena di ancam oleh nya. Ia menyeringai kemudian mendengatkan mulut nya ke telinga Veronica.
"Dan kuharap kau mengetahui bahwa pangkatku lebih tinggi dari mu, Nona Muller"
Veronica tersentak mendengar kalimat yang seperti bisikan itu di telinga nya, tubuh nya membeku dan diam mematung menatap Abella. Sedangkan Abella menarik tangan nya kasar agar cengkraman pada tangan nya itu terlepas.
"Kalau begitu, sampai jumpa" Abella pergi meninggalkan Veronica yang masih terdiam, di ikuti Peter yang juga mengabaikan wanita itu yang masih terdiam di tengah koridor.
Awas saja kau Abella, akan ku buat apa yang kau punya menghilang!
★★★★
"Masuk" raja mempersilahkan Abella masuk ketika ia mengetuk pintu, tetapi tatapan nya masih sibuk membaca kalimat kalimat yang ada di kertas yang ada di genggaman nya.
"Ah, apa aku mengganggu mu?" tanya Abella.
Raja yang awal nya fokus tanpa menyadari yang masuk adalah Abella seketika langsung menoleh dan nyaris melempar kertas nya karena terkejut.
"Abella?! Apa yang kamu lakukan disini?" dengan cepat raja yang awal nya duduk di kursi nya mendekati Abella.
"Ah, aku hanya berkunjung. Apa aku menganggu mu, aku akan kembali jika kau sibuk" ujar Abella yang langsung di sanggah raja.
"Tidak tidak aku tidak sibuk" raja menarik tangan Abella dan menyuruh nya duduk di sofa.
"Ngomong ngomong kapan kau akan mengembalikan pekerjaan ku kembali?" tanya Abella, karena sejak kemarin dokumen miliknya yang ia taruh di meja menghilang begitu saja.
"Aku tidak mengijinkan nya, nanti kau kelelahan seperti kemarin"
"Sudah ku bilang aku baik baik saja, lagi pula aku tidak memiliki pekerjaan yang harus ku lakukan"
Itu memang benar, karenaia juga membutuhkan pekerjaan itu untuk melupakan tentang Keluarga Muller.
"Tidak boleh" tolak raja lagi.
"Kalau begitu kenapa tidak biarkan aku kembali ke istana lama ku saja?" raja yang awal nya menaruh kepala nya santai di pundak Abella langsung menatap Abella kaget.
"Kenapa kau bicara seperti itu?" raja mencengkram bahu Abella panik.
"Aku hanya menginginkan pekerjaan ku kembali" Abella menatap kesal kepada raja. Ia tahu raja mengkhwatirkan nya, tapi ia tidak suka jika ia di perlakukan seperti ini.
"Baiklah baiklah, aku akan menyuruh Ruth untuk mengembalikan dokumen mu besok. Tapi hari ini kau harus beristirahat" Abella mengangguk menurut, setidaknya raja menuruti permintaan nya.
"Terima Kasih" Abella mengecup pipi raja, membuat nya melongo.
"A.. apa yang baru saja kau lakukan?" tanya raja masih dengan wajah shock nya.
"Kenapa?"
Abella yang awal nya melakukan itu untuk berterima kasih kini malah merasa takut karena raja masih menatap nya tanpa berkata satu kata pun.
"Bukan, harus nya kau melakukan nya disini" ujar raja sambil menunjuk bibir nya dengan seringaian nya.
"Tidak akan" Abella mengalihkan wajah nya yang memerah, wajah raja yang tampan membuat jantung nya tidak baik.
"Benarkah?" raja yang mendekatkan bibir nya ke wajah Abella langsung di tutup dengan kedua tangan nya.
"Hei, ada Ruth disini!" peringat Abella.
"Saya tidak melihat nya Yang Mulia Ratu, anda bisa lanjutkan" Abella menoleh dan mendapati Ruth yang duduk di pojok ruangan dengan kertas kertas pekerjaan nya sambil menghadap ke tembok.
"Huh?" ia menatap tak percaya pada pelayan pribadi raja yang satu ini.
"Jangan hiraukan saya Yang Mulia, anggap saja saya tidak ada" ujar Ruth kemudian kembali fokus pada pekerjaan nya.
Tatapan Abella beralih pada raja yang kini menatap nya dengan tatapan tanpa dosa.
"Apa?" tanya nya polos.
"Berhenti atau aku pergi" ancam Abella.
"Baiklah" raja membenarkan posisi duduk nya.
"Ngomong ngomong Keluarga Muller meminta pertemuan secara pribadi dengan mu" ujar raja seketika.
"Ah, benarkah? Kapan?" tanya Abella sesantai mungkin.
"Besok, apa kau ingin ku temani?" tawar raja dan di jawab gelengan oleh Abella. Tidak mungkin ia membiarkan raja mengetahui apa yang terjandi di antara mereka.
"Tidak perlu, aku akan mengajak Lela dan Peter saja"
"Kau bisa menggunakan guest room yang biasa ku gunakan, katakan saja padaku jika kau membutuhkan hal lain" ucap raja.
"Baiklah"
TBC
@yooazaa
Terima kasih yang udah baca dan menyempatkan like, vote dan komen :)
sukaaaaa😻😻😭