Dalam setiap perceraian, korban paling nyata adalah anak. memiliki orang tua yang tidak pernah harmonis adalah pukulan telak untuk seorang anak yang sudah mulai mengerti arti sebuah keluarga, itulah yang dialami Arkana.
Diusia remaja yang butuh perhatian penuh dan bimbingan untuk menentukan jati diri, Arkan malah mengalami keterpurukan atas perceraian kedua orangtuanya. dia tidak menemukan kehangatan dan dia selalu mencari perhatian dengan cara brutalnya.
Mungkinkah akan ada ruang teduh untuknya merasakan kehangatan ??
Bisakah dia melewati masa transisinya dengan baik ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sakabiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gloomy Morning
Nina sangat terpukul, dia sangat menyesal mengetahui kenyataan menyesakkan ini. Apalagi tadi Arkan bilang kalau dia sudah nyaman dalam lorong gelap yang sedang dia nikmati sekarang.
Nina tak bisa memejamkan matanya, air matanya pun terus mengalir melewati pipi manisnya sampai membasahi bantalnya. Dia sungguh menyayangkan Arkan yang dengan beraninya mengkonsumsi barang haram itu dan Nina tahu kalau itu akan membuat Arkan kecanduan.
Nina terus memikirkan cara untuk menyelamatkan Arkan agar tidak masuk terlalu jauh dalam lembah hitamnya saat ini. Dia akan tetap berusaha walau Arkan terlanjur membencinya.
***
Pagi-pagi sekali Nina mendatangi rumah Arkan, Ayah yang belum berangkat ke kantor sampai terkejut. Dia heran kenapa Nina datang pagi sekali.
Nina duduk di depan Ayah, dia sangat ingin membicarakan masalah yang dia lihat kemarin, dia tidak ingin masalah ini dibiarkan berlarut-larut.
"Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Ayah.
"M. .. enggak Pak, saya ... saya mau bicara ... sesuatu ...." kata Nina, dia masih belum yakin, dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Ayah saat nanti dia katakan kenyataan pahit itu.
"Oh ya? Bicaralah." Ayah menunggu, tapi Nina masih menahan kalimatnya, dia masih ragu.
"M ...."
"Apa ini, tentang sekolah kamu?"
"Bukan, ini tentang Arkan."
"Oh, oh iya ... kemarin malam saya lihat Arkan mengerjakan soal yang kamu tinggalkan, saya sampai terkejut. Saya bangga melihatnya, kamu memang bisa saya andalkan ...." kata Ayah optimistis, itu malah membuat Nina semakin ragu untuk bercerita, dia yakin kalau Ayah pasti akan sangat kecewa dengan kenyataannya.
"Benarkah?"
"Ya, kamu tidak memeriksa hasilnya kemarin?"
"M .. belum sempat."
"Saya tidak tahu hasilnya benar atau salah, tapi melihat Arkan memegang pena lalu mengerjakan soal sederhana yang kamu buat, sungguh membuat saya senang."
Melihat ekspresi Ayah saat ini membuat Nina semakin berat untuk menceritakan yang sebenarnya.
'Apa harus aku simpan ini semua, bagaimana aku bisa mengatasinya sendiri,' batin Nina dilema.
"Lanina," sadarkan Ayah.
"Oh, iya pak."
"Apa yang hendak kamu bicarakan, bisakah kita bicarakan sekarang?" tanya Syah, Nina jadi bingung, dia gak tahu harus mulai dari mana.
"M ... saya mau menemani Arkan sejak pagi, khusus hari ini!" kata Nina, dia mengurungkan niatnya untuk menceritakan yang sebenarnya, dia belum siap dan dia putuskan untuk mengatasi masalah komplek ini dengan dirinya sendiri.
"Oh, terserah kamu kalau memang maunya begitu, apa kamu sudah minta ijin sama wali kelas kamu?"
"Nanti saya akan hubungi bu Arini."
"Oke, saya senang kamu mau temani Arkan seharian, dia memang butuh teman saat ini, saya mulai khawatir kalau dibiarkan Arkan akan lari pada hal-hal negatif yang sangat saya takutkan!"
Deg, perasaan Nina semakin dilema. Tak terbayang bagaimana hancur dan kecewanya Ayah kalau dia tahu bahwa putra harapannya itu sudah berteman dengan hal negatif yang dia takutkan itu.
Nina speechless, dia terlanjur peduli pada Arkan, dia tidak bisa membiarkan ini semua begitu saja. Dia akan semakin menguatkan tekadnya untuk membantu Arkan mengatasi masalah yang terlanjur jadi sangat rumit ini.
Ayah sudah berangkat ke kantor, Nina segera pergi menuju kamar Arkan. Dia masuk tanpa permisi, dan saat ini Arkan sedang melakukannya lagi. Ternyata, dia sudah beberapa hari melakukan rutinitas gilanya itu setiap pagi setelah ayah pergi ke kantor.
Arkan sedang menikmati pagi yang cerah ini dengan menghisap metamfetamine nya dikamarnya yang kembali pengap. Nina menerjang lalu merebut itu secara paksa dari tangan Arkan. Arkan marah, dia sangat marah.
Sepertinya efek zat berbahaya dalam sabu itu sudah mulai memantik dopamine bekerja dalam sistem metabolisme tubuhnya. dia terlihat sangat agresif, dia langsung berdiri menghampiri Nina yang berhasil merebut bong miliknya.
Nina sembunyikan alat hisap itu dibelakang punggungnya.
"Sialan! Kembalikan!" hardik Arkan lalu berusaha merebut kembali alat yang sudah merusak hidupnya itu.
"Hentikan!"
"Jangan ganggu gue!"
"Gue akan menyelamatkan lo dari jerat barang haram ini!"
"Bullshit! gak ada yang akan bisa membantu gue!"
Kegaduhan itu terdengar oleh Bi Ija, Bi Ija sangat panik lalu dia setengah berlari menuju kamar Arkan. Saat tiba dia sangat terkejut, dia terpaku melihat apa yang Arkan lakukan selama ini tanpa sepengaetahuannya.
Arkan masih berusaha merebut bong itu tapi Nina juga berusaha mempertahankannya dengan sekuat tenaga.
"Kita bisa atasi ini bersama-sama," kata Nina yang menahan tubuh Arkan yang hendak meraih kembali bong-nya dari balik punggung Nina.
"Terlambat! Lo sudah terlambat! Ini adalah habitat gue sekarang! Aarrrrggh ... lo benar-benar pengganggu! Lihat apa yang akan gue lakukan sama lo!" Arkan semakin histeris, dia semakin membabi buta.
Bi Ija berlari menahan tubuh Arkan yang semakin hari semakin kurus. Belakangan efek metamfetamine ini sudah menjalar ke aliran darahnya sampai membuat pola makannya rusak dan pola tidurnya semakin kacau.
"Den ...." tahan Bi Ija, Bi Ija menahan keberingasan Arkan terhadap Nina, Nina jadi punya kesempatan memecahkan kembali alat terkutuk itu di kamar mandi. Dia hancurkan dengan penuh emosi.
"Bibi sayang sama Arkan kan?" tanya Arkan pada Bi Ija.
"Tentu saja den, tentu saja Bibi sayang sama kamu!" kata Bi Ija yang seketika menangis melihat tragedi kelam di pagi ini.
"Kalau begitu, tolong suruh dia pergi!!" pinta Arkan, Bi Ija menoleh kearah Nina yang juga menangis di kamar mandi, Bi Ija juga tak kuasa melihat Nina yang akhirnya kembali berhasil menghancurkan alat hisap yang Arkan rakit sendiri itu.
"Den ... sadar Den! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu lakukan ini semua?" tanya Bi Ija diantara isak tangisnya.
"Ternyata Bibi juga gak peduli sama aku! Bagus! Sekarang semua orang gak ada yang peduli!! Cuma hal ini yang membantu, cuma hal ini yang bisa mengkonversi rasa sakitku!!" Arkan meracau, dia sepertinya sudah masuk dalam tahapan 'the high' ini adalah fase dimana seorang pengguna psikotropika mengalami tekanan darah dan emosi, dia juga akan mulai merasa kalau tindakan sesatnya ini adalah hal yang bisa di benarkan.
"Den.."
"Bibi sama seperti mereka!" bentaknya kasar.
Nina kembali, berjalan mendekat kearah Arkan yang sudah mengalami efek buruk dari perbuatannya tadi, dia sangat tampak depresi karena tak bisa menuntaskan kenikmatan sesaatnya tadi.
"Belum ada kata terlambat, lo pasti sembuh! gue ... dan Bi Ija, akan membantu ... kita akan lakukan bersama-sama!" kata Nina.
PLAK! serta merta Arkan mendaratkan tamparan kasarnya tepat dipipi mulus Nina, Nina terdiam dan Bi Ija semakin merasa keadaannya menjadi tidak terkendali.
"Gue akan balas semua ini!" desis Arkan tajam, dia benar-benar merasa kalau Nina adalah musuh terbesarnya saat ini.
"Den Arkan ...." gumam bi Ija, dia benar-benar tak kuasa.
"Pergi lo dari kehidupan gue!" Arkan menarik tangan Nina lalu menyeretnya dengan paksa sampai keluar dari kamarnya, Bi Ija hanya mengikutinya dari belakang dengan panik, keadaan semakin chaos.
"Gue gak akan katakan ini sama orang tua lo, kita akan selesaikan ini berdua saja," kata Nina walau Arkan menyeretnya dengan kasar.
"Persetan dengan lo!"
Hal yang lebih mengejutkan Arkan lakukan, Arkan menghempaskan Nina tepat dianak tangga sampai Nina terjatuh dan tubuhnya sampai mengalami beberapa guncangan, dia sungguh kesakitan.
BRAK, tubuh mungil itu terhempas di dasar anak tangga.
Bi Ija terhenyak, dia sangat khawatir dengan Nina. Tapi Nina sungguh kuat, dia tidak mengalami hal serius tapi pasti tubuhnya akan terasa sangat sakit saat ini, dia hampir kehilangan nyawanya tapi dia setengah bangkit tanpa mempedulikan rasa sakitnya.
"Ya ampun Den!" hentak Bi Ija.
"Suruh dia pergi!" kata Arkan tak merasa bersalah sedikitpun, dia kembali masuk kedalam kamarnya lalu mengunci diri.
Bi Ija berlari di anak tangga menghampiri Nina yang kesakitan bukan main, tapi Nina tidak mempedulikan itu dia masih terus berusaha bangkit tapi sepertinya tangan dan kakinya terluka cukup parah.
"Neng! Ya ampun, apa yang sakit ...." tanya Bi Ija seraya membantu Nina bangkit, Nina tak berkata apa-apa dia mencoba menikmati rasa sakitnya itu.
Apa yang akan terjadi setelah ini?
Akankah Arkan sadar kalau dia hampir menghilangkan nyawa orang yang sedang berusaha menyembuhkannya saat ini.
Apakah Nina akan baik-baik saja setelah kejadian mengerikan tadi?
ko tokohnya sm kaya d platform sebelah y arkana n lalina 😂