Di saat orang tua terlalu campur tangan dalam kehidupan rumah tangga anak-anaknya, maka kehancuran menunggu di ujung jalan.
______
Tidak ada pelakor di sini. Fokus cerita hanya tentang konflik sederhana yang sangat berpengaruh dalam keharmonisan sebuah rumah tangga.
Selamat membaca🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GDB 17
Ternyata ibu mertua membawaku ke dapur. Ada sebuah parsel berisi buah-buahan--formasi lengkap--bertengger di atas meja makan. Jika diperhatikan dengan saksama, kurasa semua jenis buah ada di dalam sana.
Dengan gerakan cepat ibu mertua langsung membuka plastik yang membungkus parsel itu, lalu mengambil satu buah alpukat.
"Ini parsel dari Theresia." Beliau memberitahu. "Besar, 'kan?" tanyanya. Aku mengangguk. "Dari dulu dia memang sering ke sini. Baik banget anaknya," lanjut ibu sambil mengupas buah alpukat yang ada di dalam genggamannya. "Kamu tahu gak, Pril?" tanyanya lagi sambil melirik sekilas ke arahku. Aku menggeleng.
"Duduk dulu!" Ia memintaku untuk duduk di kursi, setelah menariknya. "Theresia itu suka sama Labiq," bisiknya seraya merentangkan telapak tangan di samping mulut.
DEG
Jantungku seolah berhenti berdetak. Apa maksud ibu mertua bicara seperti itu padaku?
Tiba-tiba saja perasaanku mulai berkecamuk. Suhu tubuhku menjadi panas dingin. Sungguh, bahasa terakhir ibu mertua bagaikan bom yang sukses meluluhlantakkan emosiku.
"Dan ... dulu itu dia pernah bilang sama ibu." Ibu mertua terus berceloteh tanpa memandang ke arahku lagi. Buah alpukat di tangannya sudah selesai dikupas.
Tunggu, kenapa tidak langsung dibelah saja? batinku mengomentari.
"Bahkan dia sempat nangis-nangis. Katanya Labiq gak merespon ungkapan cintanya." Seraya berdiri, wanita baya itu menuju wastafel dan mencuci buah yang baru saja beliau kupas. Lalu menghampiri blender yang terletak tak jauh dari wastafel.
Tatapanku masih mengekori. Tak ingin dianggap tidak sopan, aku harus tetap menjaga emosi. Setidaknya kalimat yang baru saja diutarakannya cukup sukses menghangatkan relung hati.
"Tadi juga, ibu denger dari dalam kamar, si There nangis-nangis." Beliau terus berceloteh seiring perputaran mesin blender. Tentu saja memblender buah alpukat tadi.
Jangan bilang, kalau jus itu dibuatkan untukku? Tuhaaan, selamatkan aku. Aku tidak suka alpukat.
Tatapanku masih fokus ketika ibu mertua menuangkan jus itu ke dalam gelas berukuran tinggi. Sebelumnya ia membubuhi gelas tersebut dengan susu cokelat.
"Ini, diminum!" titahnya seraya duduk di sampingku.
Aku mengerjap. Rasanya ingin menangis sekarang juga.
Gelas berisi jus alpukat itu sudah bertengger di hadapanku. Jika dilihat, komuknya sangat menggiurkan, tapi sungguh aku sangat tidak menyukainya.
"Ayo, diminum!" Beliau kembali bersuara saat melihatku yang masih terpaku.
Sekali lagi aku mengerjap, dan meraih gelas tersebut. Mau tidak mau, dengan gerakan lamban kujejalkan gelas itu ke mulutku. Dengan terpaksa pula, aku harus menelan kepahitan buah alpukat yang selaras dengan pahitnya kisah yang baru saja diceritakan oleh ibu mertua.
Dalam diam, hatiku kembali bertanya-tanya. Jadi, apa tujuan Theresia datang kemari? Mengapa dia harus menangis di depan suamiku? Bukankah dia sudah punya suami juga?
Itu hanyalah bisikan batinku. Nyatanya saat ini lidahku serasa kelu akibat meminum minuman yang paling tidak kusukai di dunia ini.
"Enak, 'kan?" Ibu mertua bertanya dengan sangat antusias. "Alpukat itu baik untuk ibu hamil, Pril. Setelah ini kamu harus sering minum jus alpukat!" tegasnya.
Peraturan sudah ditegakkan, dan aku hanya bisa mengangguk pasrah. Jika dibantah, bisa-bisa aku terkena serangan--omelan super duper panjang.
"Bu, saya ke kamar dulu, ya." Aku pamit setelah mencuci gelas. Ibu mertua mengangguk tanpa menghentikan langkahku. Sepertinya ia memang berniat merusak emosi ibu hamil.
Di dalam hati, aku terus berdo'a agar diri tak berbalut amarah saat menagih jawaban dari sang suami.
Sesampainya di kamar, aku tak melihat keberadaan Mas Labiq. Namun, terdengar suara air mengucur dari arah kamar mandi. Sepertinya dia ada di dalam sana.
Kuhempaskan kepenatan di atas kasur. Berbaring dengan posisi miring kiri adalah pilihan terbaik saat ini. Jantungku sedang bekerja keras, otomatis janinku membutuhkan banyak oksigen. Aku tidak ingin membuatnya ikut tertekan dengan apa yang sedang dirasakan oleh ibunya.
Lama menunggu, tanpa sadar membuatku terlelap. Hingga jarum jam menunjuk angka enam, aku baru tersadar.
Pemandangan pertama yang terpampang di hadapan adalah wajah suamiku. Aku mengerjap seraya mengucek kedua mata guna menyempurnakan penglihatan yang buram.
"Capek banget, ya?" tanyanya seraya membelai lembut anak rambutku.
Aku tersenyum lembut, lalu mengubah posisi setengah duduk. Bersandar pada bantal.
"Tadi aku nungguin kamu selesai mandi, eh malah ketiduran," responku.
Dia pun balas tersenyum. Dikecupnya punggung tanganku dengan sayang. Elusan lembutnya pun semakin terasa di wajahku.
"Ada apa?" Aku berkerut dahi. Ekspresi wajah suamiku tampak seperti sedang ingin mengatakan sesuatu, namun ragu.
"Tadi ... Theresia ke sini untuk cerita." Dia mulai membuka diri.
"Maksudmu dia curhat sama kamu?" Aku kembali berkerut dahi.
"Iya." Kepala mengangguk tegas, Mas Labiq tak menampik pertanyaanku. "Katanya seminggu yang lalu dia bertengkar dengan suaminya," lanjutnya.
Aku masih mendengarkan dengan saksama, tak ingin melewatkan detil ceritanya. "Sejak hari itu suaminya tidak pernah pulang ke rumah." Bersamaan dengan kalimat itu pandangan Mas Labiq jatuh pada kedua netraku. "Dia ke sini untuk minta tolong," ucapnya.
"Minta tolong apa?"
"Mencari keberadaan suaminya."
Aku tertegun sejenak.
"Kenapa dia tidak ceritakan saja masalah ini pada keluarganya?" Aku coba memikirkan solusi.
"Tidak mungkin, karena sebelum ini orang tuanya tidak menyetujui hubungan mereka. Jadi, There tidak ingin keluarganya berpikiran yang macam-macam." Mas Labiq menggeleng pelan.
Aku semakin gusar. Sebagai seorang wanita aku bisa merasakan seperti apa gelisahnya Theresia. Tapi ....
"Kalian sedekat itu?" Pertanyaanku sukses menyentak geming sang suami.
"Maksudnya?" Suamiku menatapku sanksi.
"Ya ... maksudnya, sampai dia mau cerita tentang rumah tangganya sama kamu ... apa kalian sedekat itu?" Aku bertanya ragu.
kembalikan dulu Labiq
Emang nenek-nenek cuma satu di dunia??
Rasanya gue paham
pantes aja sering ditindas
Otak anak juga butuh nutrisi, Mak. Apa perlu Penulis Keparat yang jadi pengamat gizi biar ibu mertua bisa mingkem
jagoannya dataaaaang 🤣
benar-benar meragukan pembaca 🤣