NovelToon NovelToon
Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: Awan

**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.

Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:

> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.

Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*

Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.

*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*

Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*

…tapi malam itu, Mas ingkar janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4: Penipu!

Naila tidak langsung bergerak.

Tangannya masih terangkat di dekat tombol lift, sementara dua kata tadi berputar-putar di kepalanya.

Mas Radhika.

Perlahan, ia menoleh kepada pria di sebelahnya. Aroma kayu dingin yang sejak pagi terasa akrab, Rolls-Royce hitam, akses bebas ke lantai tiga, dan kalimat tentang pujian di taman mendadak tersusun menjadi satu jawaban yang sangat memalukan.

"Kamu... Radhika?"

Pria itu memasang wajah tenang. "Katanya kenal."

Panas menjalar dari leher Naila sampai ke telinga. Pagi tadi ia memanggilnya Mas sopir. Barusan ia bahkan menarik laki-laki ini keluar dari ruang kerjanya sendiri agar tidak dipecat oleh dirinya sendiri.

Radhika mengulurkan tangan. "Kenalan lagi?"

Naila menepisnya.

"Penipu!"

Ia berjalan cepat melewati Bi Rohmah menuju ruang makan. Di belakangnya terdengar tawa rendah yang sama sekali tidak menunjukkan penyesalan.

"Mas Radhika menipu apa, Non?" tanya Bi Rohmah bingung.

"Tanya sendiri sama orangnya, Bi."

Radhika menyusul dengan langkah santai. "Aku nggak pernah bilang aku sopir."

Naila berhenti dan berbalik. "Tapi kamu membiarkan aku salah paham."

"Sudah kubilang lihat wajahku baik-baik. Kamu malah bilang wajahku pasaran."

"Karena aku nggak ingat!"

"Nah. Salah siapa?"

Naila mengepalkan tangan. Kalau bukan sedang menumpang di rumah keluarganya, mungkin serbet di tangan Bi Rohmah sudah ia lempar ke wajah laki-laki itu.

Larasati muncul dari ruang makan. "Kalian akhirnya turun juga. Ayo, supnya keburu dingin."

Naila masuk sambil mengembuskan napas keras. Meja panjang itu sebenarnya cukup untuk sepuluh orang, tetapi kursi yang tersisa hanya empat. Wirya dan Larasati sudah menempati dua kursi yang saling berhadapan. Dua tempat kosong lainnya berdampingan.

Naila menatap susunan itu, lalu menatap Larasati.

"Kursi yang lain sedang dibersihkan," kata Larasati ringan.

Enam kursi sekaligus?

Radhika menarik kursi di sebelah Naila. "Silakan, Non Naila."

Nada sopannya berlebihan. Naila duduk tanpa mengucapkan terima kasih.

Hidangan memenuhi bagian tengah meja: sup bening, ayam panggang bumbu kuning, tumis sayur, tahu kukus, dan sambal yang sengaja diletakkan jauh di sisi Wirya. Tidak satu pun masakan terlihat pedas.

"Bi Rohmah bilang Naila nggak makan pedas," ujar Larasati. "Kalau ada yang kamu suka, nanti bilang Tante."

Kekesalan di dada Naila melunak sedikit. "Ini sudah banyak sekali, Tante. Terima kasih."

Radhika mencicipi sup, lalu meletakkan sendok. "Hambarnya sedih."

Larasati langsung melotot. "Makan saja."

"Aku mau makan di luar."

"Ya pergi sana."

"Traktir."

"Kamu kerja tiap hari, minta uang sama Bunda?"

Radhika menyandarkan punggung pada kursi. "Kalau Bunda mengubah semua menu rumah demi tamu, kompensasinya harus jelas."

Naila menoleh tajam. "Siapa yang minta menunya diubah?"

"Tuh, tamunya tersinggung."

"Radhika," tegur Wirya tenang.

Larasati mengambil ponselnya dengan gerakan kesal. Beberapa detik kemudian, ponsel Radhika berbunyi.

"Sudah Bunda transfer. Pergi makan di luar setelah ini dan jangan banyak komentar."

Radhika memeriksa layar. "Cukup buat satu orang."

"Memang satu orang."

"Naila ikut."

Sendok Naila berhenti di udara. "Aku nggak ikut."

"Temani aku makan."

"Kamu sudah makan."

"Aku cuma cicip."

Naila menunjuk mangkuknya dengan mata. Isinya sudah berkurang hampir separuh.

"Aku punya kelas jam delapan pagi. Harus tidur cepat."

Radhika mengulurkan telapak tangan. "Jadwal kuliah."

"Apa?"

"Mana jadwalmu? Biar aku cek besok benar ada kelas atau nggak."

"Kenapa harus kamu yang cek?"

"Bisa saja kamu bohong."

"Aku nggak seperti kamu."

Radhika justru tersenyum. Senyum itu kecil, tetapi cukup membuat Naila semakin kesal karena sejak identitasnya terbongkar, laki-laki itu tampak jauh lebih menikmati malam ini.

Di seberang meja, Larasati menyenggol kaki putranya dengan ujung sandal.

Radhika menoleh. "Kenapa menendang?"

"Ambilkan udang buat Naila."

"Tanganku pegal."

"Tadi angkat dua koper kuat."

"Sekarang pegal."

Larasati menendangnya lagi, kali ini lebih keras. Wirya berdeham sambil memberi tatapan kecil kepada istrinya. Jangan dipaksa, kata tatapan itu. Semakin didorong, dua anak keras kepala di depannya bisa semakin menjauh.

Larasati akhirnya mengupas udang sendiri dan meletakkannya di piring Naila. "Makan yang banyak, Ndhuk. Jangan dengarkan anak Tante."

"Terima kasih, Tante."

Naila sengaja memakan udang itu dengan lahap tanpa melirik Radhika. Namun beberapa saat kemudian, satu potong ayam tanpa kulit muncul di piringnya.

Ia menoleh.

Radhika sedang mengambil sayur, wajahnya tenang seolah bukan tangannya yang baru bergerak.

"Aku nggak minta," bisik Naila.

"Bukan aku. Ayamnya lompat."

"Pembohong."

"Katanya penipu. Pilih satu."

Naila hampir membalas, tetapi Wirya bertanya tentang kampus dan jurusannya. Ia mengalihkan perhatian, menjelaskan bahwa dirinya mengambil Ilmu Komunikasi dan ingin menjadi presenter. Wirya mendengarkan dengan sungguh-sungguh, bahkan bertanya tentang kegiatan organisasi yang ia ikuti.

Radhika tidak menyela lagi.

Hanya ketika Naila menyebut jadwal kelas Senin, matanya bergerak sebentar, seolah sedang menyimpan setiap jam yang diucapkan.

"Kalau Mas Radhika kerja di mana, Om?" tanya Naila, lebih karena ingin mengembalikan percakapan kepada keluarga tuan rumah.

"Sekarang dia banyak membantu Mas Damar di Adiwangsa Group," jawab Wirya.

Naila teringat Radhika duduk santai di ruang kerja lantai tiga pada jam kantor. "Bantu bagian apa?"

Radhika mengambil minum sebelum ayahnya sempat menjawab. "Staf biasa."

"Oh."

Jawaban itu menjelaskan banyak hal. Mungkin Rolls-Royce tadi milik keluarga, bukan miliknya. Mungkin ia memang pulang terlalu cepat karena pekerjaannya tidak terlalu penting.

"Kenapa lihatnya begitu?" Radhika bertanya.

"Nggak apa-apa. Aku cuma heran staf biasa berani minta ibunya transfer uang makan."

Wirya menutup senyum dengan gelas, sementara Larasati tertawa tanpa berusaha menyembunyikannya.

Seusai makan, Naila pamit lebih dulu. Ia mengucapkan selamat malam kepada Wirya dan Larasati, lalu berjalan menuju kamarnya tanpa melihat Radhika.

Begitu pintu kamar tertutup, Larasati memukul lengan putranya dengan bantal sofa.

"Kenapa kamu ganggu Naila terus?"

"Aku makan."

"Kamu tipu dia sejak pagi. Kamu juga kirim aturan aneh semalam, kan?"

Radhika mengangkat alis. "Bunda baca ponselnya?"

"Nggak perlu baca. Wajahnya berubah begitu dengar lantai tiga. Bunda tahu kelakuan anak sendiri."

Larasati menunjuknya dengan ujung bantal. "Dengar baik-baik. Naila sudah jauh dari Papa Mamanya. Jangan buat dia merasa asing di rumah ini. Jangan sakiti dia."

Kali ini Radhika tidak membalas.

Ia keluar ke teras samping setelah kedua orang tuanya masuk kamar. Udara malam membawa aroma tanah basah dari taman. Sebatang rokok menyala di sela jarinya, tetapi dibiarkan habis lebih banyak oleh angin daripada diisap.

Dari tempatnya berdiri, jendela kamar Naila terlihat terang.

Gadis itu benar-benar tidak mengingatnya. Tidak ingat berapa kali ia menggendongnya saat menangis. Tidak ingat malam-malam ketika ia ikut terjaga demi membuatkan susu. Tidak ingat anak laki-laki yang selalu dimarahi karena membuat Naila terlalu manja.

Empat belas tahun berlalu, lalu ia kembali dengan wajah yang sama sekali tidak mengenalinya.

Radhika mematikan rokok di asbak. Senyum hambar menyentuh bibirnya.

"Dasar nggak tahu balas budi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!