NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:129
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Semua orang bilang Laras sial.

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.

Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.

Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.

Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.

Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…

*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29: Tiara Ditinggalkan

Tiara diperiksa sampai malam, lalu status dan pembatasannya ditentukan penyidik berdasarkan perkembangan perkara. Dua hari kemudian, Ratna meneleponku berkali-kali.

Aku tidak menjawab tiga panggilan pertama. Pada panggilan keempat, dia mengirim pesan bahwa Bimo ingin bertemu di rumah mereka di Kompleks Perwira TNI.

Arya ikut mengantarku.

Rumah yang membesarkanku masih sama: pagar putih, halaman rapi, sepatu disusun lurus di teras. Namun ketika masuk, tak satu pun benda terasa seperti milikku. Foto Tiara sudah memenuhi lemari pajangan. Fotoku yang dulu ada di dekat tangga tidak lagi terlihat.

Aku pernah belajar berjalan di lorong itu, mengerjakan tugas sekolah di meja dekat jendela, dan menunggu Bimo pulang sambil menjaga agar seragamnya tidak kusut. Dua puluh tahun hidup tidak hilang hanya karena bingkai foto disingkirkan. Namun kenangan juga tidak otomatis memberi orang hak memanggilku keluarga hanya ketika membutuhkan bantuan.

Arya menyentuh punggung tanganku singkat. Dia tidak bertanya apakah aku ingin pergi. Kehadirannya hanya mengingatkan bahwa setelah keluar dari rumah ini, ada tempat lain yang benar-benar menungguku pulang.

Ratna menyambut dengan mata bengkak. “Laras, tolong bicara kepada Pak Arya. Cabut laporan atau setidaknya katakan ini salah paham.”

“Buktinya sudah diserahkan kepada polisi.”

“Uangnya akan Mama kembalikan. Dua kali lipat kalau perlu.”

“Masalahnya bukan hanya nominal.”

“Tiara tidak tahan berada di bawah tekanan. Dia tidak makan, tidak tidur. Orang-orang sudah menjauhinya.”

“Saat aku dikirim ke Rejosari, Mama tidak bertanya apakah aku makan atau tidur.”

Wajah Ratna runtuh sesaat. “Mama tahu kami salah. Tapi kamu sekarang hidup baik. Bukankah kamu bisa mengalah?”

Aku hampir tersenyum karena pahit. Hidup baik selalu dijadikan alasan agar orang yang disakiti berhenti meminta keadilan.

“Uang itu berasal dari Arya. Prosesnya sudah resmi. Aku tidak akan menghalangi pengembalian, mediasi yang sah, atau pembelaan hukum Tiara. Tapi aku juga tidak akan berbohong demi membebaskannya dari akibat.”

Bimo keluar dari ruang kerja dengan kemeja organisasi veteran yang rapi. Meski sudah berstatus purnawirawan, dia masih aktif dalam berbagai perkumpulan keluarga militer dan menjaga penampilan seperti sedang diperiksa atasan.

“Cukup, Ratna,” katanya. “Jangan memohon kepada orang yang sudah membawa pengacara dan polisi ke rumah mereka.”

“Laras bukan orang lain.”

“Dia sudah memilih keluarga barunya.”

Kalimat itu dimaksudkan untuk menyalahkanku, tetapi justru menghapus sisa keraguan. Aku tidak meninggalkan rumah ini lebih dulu. Mereka yang menutup pintunya.

Arya berdiri di sampingku. “Laras tidak memilih perkara ini. Tiara yang memindahkan uang.”

Bimo menatapnya. “Nama keluarga saya sekarang menjadi bahan gosip dua desa.”

“Nama tidak dipulihkan dengan menyalahkan orang yang menemukan bukti.”

Rahang Bimo menegang. Dia tidak membantah fakta, hanya membenci tempat fakta itu diletakkan.

Dari lorong belakang muncul seorang perempuan muda yang belum pernah kulihat. Dia menggendong anak kecil berusia sekitar dua tahun yang tertidur di bahunya. Perempuan itu berhenti saat melihat kami.

“Pak Bimo, obat anaknya...”

Bimo segera memotong. “Dinda, bawa dia ke kamar belakang.”

Nada suaranya terlalu cepat. Ratna menoleh, dan untuk sesaat ada ketegangan aneh di antara mereka.

Dinda menunduk. “Baik, Pak.”

Saat berbalik, anak di gendongannya membuka mata. Bentuk alisnya mengingatkanku pada seseorang, tetapi aku tidak sempat memikirkan siapa. Dinda menghilang ke lorong dan pintu ditutup.

Aku sempat melihat gelang identitas klinik melingkar di pergelangan anak itu. Nama belakangnya tertutup lengan baju. Dinda menepuk punggungnya dengan gerakan orang yang sudah lama terbiasa merawat, bukan tamu yang kebetulan diminta menggendong.

Ratna menatap pintu lorong lebih lama daripada seharusnya. Ketika Bimo kembali bicara tentang nama baik, dia menyela dengan suara tajam agar kami segera berangkat ke polsek. Kecanggungan itu tidak berhubungan dengan perkara Tiara, tetapi jelas bukan hal kecil.

“Anak siapa?” tanyaku.

“Anak kerabat,” jawab Bimo. “Bukan urusanmu.”

Aku tidak mengejar. Ada terlalu banyak rahasia di rumah ini, dan aku tidak datang untuk membongkar semuanya hari itu.

Kami melanjutkan pertemuan di polsek karena Tiara dijadwalkan memberi keterangan tambahan. Di ruang tunggu, kulihat dua teman yang dulu selalu mengikutinya keluar tergesa-gesa setelah menyerahkan pesan. Mereka tidak menatap Tiara ketika berpapasan.

Seorang petugas menjelaskan bahwa pengembalian seluruh dana sudah dicatat sebagai itikad pemulihan, tetapi penyidik tetap harus menyelesaikan pemeriksaan alat bukti. Tiara belum dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Dia tetap memiliki hak didampingi pengacara dan memberikan bantahan.

Penjelasan itu penting bagiku. Keadilan bukan berarti aku boleh menukar bukti dengan keinginan menghukum. Kami membawa perkara ini ke jalur resmi justru agar keputusan tidak dibuat oleh dendam, gosip desa, atau kekuasaan Bimo.

Arya duduk di dekatku tanpa ikut campur ketika Ratna mencoba bicara. Kami sudah sepakat bahwa semua permintaan penyelesaian harus disampaikan melalui pengacara, bukan lewat tangis di ruang tunggu.

“Mereka bilang tidak bisa menjadi penjamin,” kata Tiara dengan suara serak. “Semuanya pengecut.”

Ratna meraih tangannya. Tiara menarik diri.

“Mama juga pengecut. Kemarin Mama menyalahkanku di depan semua orang.”

“Mama panik.”

“Papa bahkan tidak mau menelepon kenalannya.”

Bimo duduk jauh di sudut. “Aku tidak akan memakai jabatan atau relasi untuk mengganggu penyidikan. Kamu harus menghadapi akibatnya.”

“Karena takut namamu rusak, bukan karena jujur.”

Tiara tertawa tanpa humor. Wajahnya pucat dan rambutnya tidak serapi biasanya. Untuk pertama kali, dia tidak dikelilingi orang yang berebut menyenangkan hatinya.

Ratna kembali mendekatiku. “Laras, cukup bilang kamu sudah memaafkan.”

“Maaf pribadi tidak menghapus bukti.”

“Kamu memang ingin melihat Tiara hancur.”

“Aku ingin dia berhenti mengambil sesuatu lalu menyebut dirinya korban.”

Petugas memanggil nama Tiara. Dia berdiri, tetapi sebelum masuk ruang pemeriksaan, dia berjalan mendekatiku.

“Kamu senang sekarang?” tanyanya.

“Tidak.”

“Pembohong. Kamu mengambil keluargaku, pernikahanku, uangku, lalu membuat semua orang meninggalkanku.”

“Aku tidak mengambil semua itu. Kamu melepaskan sebagian dan merusak sisanya sendiri.”

“Kalau aku yang menikah dengan Arya, semua itu seharusnya menjadi milikku.”

“Kamu menolak dia karena mengira dia miskin.”

“Aku dibohongi!”

“Tidak ada yang berjanji kepadamu bahwa seorang suami harus menunjukkan rekening dan pangkat sebelum kamu memperlakukannya sebagai manusia.”

Tiara membuka mulut, tetapi petugas sudah memanggil namanya lagi. Kali ini tak seorang pun di keluarganya menyela untuk membela.

Matanya merah oleh marah, bukan sedih.

Petugas meminta dia masuk. Tiara mundur satu langkah, tetapi tatapannya tetap menempel padaku melewati orang-orang di ruang tunggu.

“Ingat baik-baik,” katanya, satu kata demi satu kata. “Suatu hari, aku akan membuatmu membayar semuanya dengan bunga.”

Aku tidak menjawab.

Namun saat dia dibawa masuk, aku menyimpan tatapan itu dalam ingatan. Itu bukan tatapan orang yang sudah menyerah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!