Dalam tahap revisi
Menikahi seorang cowok yang jelas jelas sudah ia ketahui perilakunya setiap hari selalu berbuat onar dan terkenal karena kenakalannya
Tapi ia tidak bisa menolak untuk membatalkan perjodohan yang sudah di buat orang tua mereka bahkan sejak mereka bayi
Karya : Myhani
Ig : @srihani.92
Fb : @srihani
Tg : @srihani
WA : 0852-2141-5356
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Daffin
"Iya bener gue udah gak pa-pa kok."
"Serius, Ra. Elo udah sehat?"
"Iya." Nara meyakinkan sahabatnya,Mia dan Baim "besok kalian pada pulang kan?"
Nara melihat Mia mengangguk, saat ini mereka tengah melakukan vidio call.
Nara berbaring di atas kasurnya. Namum tiba-tiba Daffin masuk dan merebahkan dirinya, di belakang Nara yang memunggunginya.
"Di belakang elo siapa, Ra?" tanya Baim yang lebih dulu melihat gerakan di belakang Nara.
"Eh. Bukan siapa siapa." Nara mendadak salting. Bisa gawat kalo mereka juga tau hubungannya dengan Daffin. Bukan Nara tidak mau jujur tapi saat ini lebih aman kalo lebih sedikit yang tau mengingat status mereka yang masih pelajar.
Daffin tersenyum jahil di belakang Nara. Ia mengangkat tangannya, melingkarkan pada perut Nara. Ia menenggelamkan wajahnya ceruk leher Nara dan sontak membuat Nara terkejut.
"Boy, lepas!" pekik Nara "Geli tau jangan peluk-peluk."
"Diam, Jen. Gue ngantuk." sahutnya tak kalah keras.
"Kalo ngantuk, ya tidur lah." Nara masih berusaha melepaskan tangan Daffin.
"Ra. Ra. Elo gak pa-pa 'kan? " Baim dan Mia mendekatkan wajahnya pada layar ponsel.
"Itu siapa Ra?" Baim terlihat khawatir tapi tak lama terdengar tawa Nara seiring dengan layar pada ponsel berubah putih sepertinya ponsel Nara terjatuh di kasur dan kameranya menghadap pada selimut putih.
"Hahaha.. " Daffin menggelitik perut Nara "Geli tau Boy haha.. Ampun haha.."
"Ini hukuman buat elo, karena elo gak nurut sama gue." Daffin menarik kaki Nara dan meluruskannya ia terus menggelitik telapak kaki Nara.
"Haha.. oke haha.. gue haha.. Minta maaf haha.. " Nara berguling ke sana ke mari.
"Gak bakal elo ulangi lagi kan?"
"Oke, oke." Nara mengatur napasnya.
Di sebrang sana Baim dan Mia saling pandang dengan kerutan di keningnya, sejak kapan ada laki-laki leluasa masuk ke kamar Nara dan suara itu seperti gak asing di telinga mereka.
"Tapi bohong." Teriak Nara kemudian berlari masuk ke kamar mandi "wekkkkk.." Nara memeletkan lidahnya sebelum kepalanya benar-benar menghilang di balik pintu.
"Nara!" pekik Daffin ia menggedor pintu kamar mandi sambil terus memanggil Nara.
"Nara Cahaya Prasetya jenius."
Dor dor dor
"Oi buka pintunya."
"Ogah, gak mau badboy." balas Nara dengan suara tinggi juga.
Mia dan Baim makin di buat penasaran siapa laki laki itu dan apa hubungannya Nara.
"Bukannya nama Nara cuma Nara Cahaya doang?" gumam keduanya.
Sedetik kemudian.
"Prasetya? Badboy?"
"Daffin Prasetya si badboy." pekik Mia dan Baim bersamaan.
"Astaga." Baim mulai panik, kenapa bisa cowok badboy itu ada di kamar Nara kalo dia ngapa-ngapain Nara gimana? "Nara elo masih di situ kan?"
"Ra. Elo denger gue gak?" Mia tak kalah khawatir, "elo baik-baik aja 'kan?"
Daffin tersadar saat mendengar sebuah suara dari ponsel Nara, ia berjalan dan mengambil ponsel yang masih terhubung dengan kedua sahabat Nara itu.
Keterkejutan Baim dan Mia dibuat bertambah saat layar ponsel menampilkan wajah Daffin.
"Daffin." ucap keduanya.
"Berisik elo berdua!"
"Daffin. Ngapain elo di rumah Nara? Eh lebih tepatnya di kamar Nara?"
"Enak aja ini kamar gue, Mia."
"Maksud elo?" Baim semakin di buat bingung begitupun Mia.
"Sembarangan aja elo pakai handphone gue." Nara mengambil ponselnya dengan cepat sebelum Daffin membocorkan status mereka.
"Akhirnya keluar juga elo." Daffin menarik Nara hingga terjatuh ke tempat tidur tepat di bawahnya.
"Lepas badboy!"
"Diam atau_" Daffin mendekatkan wajahnya pada Nara. Hingga napasnya yang panas terasa di wajahnya Nara. Mata Nara yang awalnya membulat perlahan tertutup seiring wajah Daffin yang semakin mendekat perlahan tapi pasti.
Cup
Nara merasakan sebuah benda basah nan lembut mendarat di bibirnya
Brakkkk
Lagi ponsel di tangan Nara terjatuh ke lantai bahkan sang pemilik tak menyadarinya sama sama sekali bersamaan dengan vidio call itu terputus begitu saja.
padahal kan Nara tokoh sentralnya.