Apakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidaApakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidak akan ada ucapan sakinah mawadah warahmah, dalam pernikahan.
Bertahan dalam pernikahan yang memberi tangis kesedihan bukan hanya bentuk kebodohan, tetapi bentuk dari perjuangan dalam mencapai pernikahan yang bahagia. Karena tidak ada pernikahan yang berjalan mulus tanpa masalah. Begitu juga pernikahan antara Zaara dan suaminya–Arjuna.
Malam pertama pernikahan yang harusnya memberikan Zara kebahagiaan, justru memberikan luka yang begitu menyakitkan untuk Zara, saat Zara mengetahui jika suaminya mencintai wanita lain.
Apakah Zara memilih menyerah? Tidak. Karena Zara mencoba bertahan dan berjuang untuk pernikahannya.
Apakah perjuangan Zara akan berbuah manis? Entahlah.
Ikuti ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Esok harinya, hari yang Zara tunggu akhirnya tiba. Setelah beberapa hari tidak bertemu Juna karena pekerjaan luar kota yang dilakukan Juna, hari ini Zara akan kembali melihat wajah tampan suaminya. Memikirkan semua itu, Zara terus saja tersenyum dan itu semua disadari oleh pelayan yang bekerja di sana.
"Nona Zara terlihat bahagia," ucap Ina menghampiri Zara yang tengah memasak di dapur.
"Iya, Bi. Mas Juna akan pulang siang ini, terakhir dia menelpon dia bilang akan tiba dalam satu jam lagi," jawab Zara tak menutupi hal itu.
'Ya Tuhan. Non Zara sangat mencintai Tuan Juna. Sampai kapan Non Zara harus disakiti seperti ini? Aku tidak bisa membayangkan betapa kecewanya Non Zara saat tahu jika suaminya telah mengkhianatinya,' batin Ina merasa sangat iba pada Zara.
"Non Zara bahagia menikah dengan tuan Juna?" tanya Ina tanpa sadar. Ina menjadi salah tingkah setelah pertanyaannya berhasil menghentikan aktivitas Zara yang langsung menoleh padanya.
"Bi. Aku sangat bahagia dengan pernikahanku. Aku sangat mencintaimu mas Juna. Bibi tidak perlu khawatir," jawab Zara yang jelas mengerti maksud pertanyaan Ina, tetapi Zara tetap bersikap seakan semuanya baik-baik saja.
Meskipun tidak secara langsung, tetapi Zara menyadari jika beberapa pelayan atau mungkin semua pelayan yang ada di sana mengetahui tentang Laura dan sadar jika Juna masih berhubungan dengan Laura. Zara juga menyadari jika semua pelayan di sana merasa iba padanya. Namun, Zara tetaplah Zara. Zara tidak akan memperlihatkan kesedihannya, Zara yang terkenal sebagai gadis cantik yang ceria akan selalu terlihat ceria, menutupi semua kesedihan yang sesungguhnya menyelimutinya.
"Syukurlah, Bibi senang mendengarnya. Oh iya, apa ada yang bisa bibi kerjakan? Kebetulan pekerjaan bibi sudah selesai," ucap Ina mengalihkan pembicaraan.
"Tidak perlu, Bi. Cukup temani saja aku jika bibi mau," jawab Zara yang dianggukki setuju oleh Ina.
***
"Aku masih ingin bersamamu," ucap Laura menatap kesal pada Juna.
"Jangan membuatku marah, Laura. Tolong mengertilah. Zara bisa curiga jika seperti ini," ucap Juna terlihat marah saat sikap Laura selalu saja semaunya.
"Kamu memikirkan perasaannya tanpa memikirkan perasaanku. Aku kekasihmu, Juna!" bentak Laura dengan mata berkaca-kaca berharap dapat meluluhkan hati Juna.
"Dia istriku! Jangan berlebihan!" balas Juna ikut membentak saat emosinya seakan terpancing.
Laura yang mendengar itu tertawa. Kata istri yang Juna sebutkan seakan menegaskan statusnya. "Kamu anggap apa aku? Hanya ****** untuk menghangatkan ranjangmu?" bentak Laura.
Jika saja sopir yang mengemudikan mobil mereka juga berada di dalam mobil, Juna pasti akan sangat malu mendengar ucapan Laura, beruntung Juna meminta sopir keluar dari mobil saat dia berusaha membujuk Laura untuk turun dari mobil saat mereka sudah tiba di parkiran apartemen Laura.
"Sikapmu seperti ini lama-lama akan membuatku lelah, kamu paling tahu apa yang aku sukai dan tidak aku sukai." Juna tak lagi memperlihatkan wajah lembutnya pada Laura, tatapan garang yang biasanya terlihat pada orang yang tidak disukainya terlihat dan itu membuat Laura menjadi takut.
"Aku masih ingin bersamamu, apa itu salah?" Laura mengeluarkan senjata andalannya yaitu menangis. Namun sayang Juna tak lagi terpengaruhi oleh tangisnya saat rasa kesal sudah menyelimuti Juna.
"Sekarang turun dan istirahatlah! Aku juga harus pulang. Aku lelah dan juga ingin beristirahat. Jangan membuatku semakin marah," ucap Juna tak lagi dibantah oleh Laura saat Laura sadar Juna telah benar-benar marah padanya.
"Baiklah, jangan marah. Kamu membuatku takut." Laura kembali bergelayut manja di lengan Juna.
Satu kecupan Juna berikan di dahi Laura, setelah itu membukakan pintu mobil, meminta Laura keluar dari sana.
"Sampai ketemu besok lusa," ucap Juna saat sopir sudah kembali masuk ke dalam mobil dan siap melaju pergi dari sana.
'Sial. Dia bilang besok. Itu artinya malam ini dia tidak akan datang padaku,' rutuk Laura dalam hati.
Satu jam kemudian, wajah kesal Juna berubah ceria saat mobil yang ditumpanginya sudah tiba di rumahnya. Juna memperhatikan penampilannya di kaca spion mobil lalu bergegas turun dari mobil saat wajah cantik seseorang di dalam rumah sudah sangat ingin dilihatnya.
Entah kapan Juna membelinya, yang jelas saat ini Juna masuk ke dalam rumah dengan membawa satu buket bunga berukuran sedang di tangannya.
Wajah cantik wanita yang ingin dilihatnya sudah menyambut Juna dengan senyum di wajahnya. Juna mendekat setelah mengucapkan salam yang dibalas oleh Zara. Zara menyambut Juna dengan mengecup punggung tangan Juna, dibalas Juna dengan kecupan lembut di dahinya.
Tak ada kata 'Aku merindukanmu' yang terucap dari bibir keduanya, tetapi sikap keduanya yang saat ini jelas mengungkapkan perasaan yang ada di hati mereka. Juna memeluk Zara dan Zara menikmati itu semua.
"Untukmu," ucap Juna memberikan bunga yang dibawanya pada Zara yang tersipu malu menerimanya. Untuk pertama kalinya Zara mendapatkan bunga dan itu dari pria yang dicintainya, perasaan cinta yang Zara miliki semakin bertambah meskipun perasaan sakit yang dirasakannya juga selalu bertambah.
'Aku mencintaimu, Mas. Aku percaya akan ada hari dimana hubungan kita akan menjadi jauh lebih baik dari sekarang dan benar-benar hanya kita berdua tanpa adanya orang lain dalam hubungan kita. Aku menantikan saat itu tiba, Mas.' Zara berbicara dalam hatinya.
Perfect deh.....
ada season kedua kah???
ternyata selama itu kamu pergi , gimana keadaan papa Emir juga Juna sekarang....