Dia Aisyah, seorang santriwati di pesantren tempatku mengajar. Gadis anggun nan jelita, yang mampu membuatku terpana pada saat jumpa pertama. Bukan karena kecantikan wajahnya yang membuatku kagum, tapi ketaatan pada-Nya lah yang mampu membuatku ingin selalu dekat dengannya.
Cerita ini hanya fiksi ya, hanya merupakan pemikiran dari author. Jangan lupa like, comment, and vote ya. Author akan sangat berterima kasih untuk hal itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erisna Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Dua Khitbah, Satu Wanita
Masih terlihat, Ayah Aisyah menatap Abah Yai penuh tanya. Ada gurat kebingungan di sana. Sebenarnya ada apa?
"Bagaimana ini, Abah Yai? Saya benar-benar bingung dengan rencana panjenengan. Mengkhitbah untuk dua orang berbeda, tapi pada satu wanita yang sama." Terlihat beliau mengambil nafas sejenak.
"Walau pun saya sudah tahu siapa laki-laki pilihannya, tapi saya masih belum yakin, kalau itu yang terbaik untuknya." Lanjutnya, terdengar lirih.
Mengkhitbah untuk dua orang yang berbeda, tapi pada wanita yang sama. Apa maksudnya?
"Saya juga baru tahu tadi, saat memasuki pekarangan rumah ini. Juga saat Nak Yusuf menyebutkan, nama wanita yang akan dikhitbahnya. Sempat terkejut memang. Tapi, mari kita lihat seberapa besar kerja keras mereka, dalam berusaha mendapatkan restu panjenengan," ada seulas senyum di bibir Abah Yai.
"Semua keputusan berada di tangan panjenengan, Ust. Saya tidak akan membela salah satu." Lanjut beliau.
Ayah Aisyah menghembuskan nafasnya perlahan.
"Baiklah, jika memang seperti itu menurut Abah Yai. Panjenengan memang benar-benar Kyai telandan, tidak memihak salah satu antara anak kandung maupun anak didik. Benar-benar bijak. Tidak salah Aisyah memilih mondok di situ," pujinya, kemudian Abah Yai tersenyum.
Tunggu dulu. Anak kandung, maupun anak didik? Apa mungkin ....
"Maaf, saya menyela, Abah Yai, Ustadz. Saya mau tanya, apa yang kalian maksud dengan, mengkhitbah untuk dua orang yang berbeda, tapi pada satu wanita yang sama? Dan lagi, anak kandung maupun anak didik? Apa maksud Abah Yai ...," Aku menggantung kalimat, tak sanggup untuk meneruskan.
"Benar, Yusuf. Sebelum kamu memintaku untuk mengkhitbah Aisyah, aku sudah lebih dulu mengkhitbahnya untuk Ilyas, karena dia meminta. Tapi Ustadz Ibrahim belum memberi jawaban sampai saat ini. Jadi, kami mau lihat seberapa serius kalian dalam berusaha mendapatkan hati kedua orangtuanya, karena itu akan menjadi jawabannya." Terdiam sejenak.
"Dan dalam hal ini, aku tidak akan ikut campur dengan urusan kalian." Lanjut Abah Yai, terlihat Ustadz Ibrahim -Ayah Aisyah- mengangguk setuju.
Jadi begitu. Aku kalah cepat oleh Gus Ilyas. Benar-benar ....
"Besok, kalian berdua datanglah ke sini. Akan saya berikan ujian yang pertama," ujar Ustadz Ibrahim.
Deg. Jantungku berdebar. Ujian pertama. Seperti apa itu? Baiklah, demi Aisyah, apa pun kulakukan.
Aku pun mengangguk, menyetujuinya. Kemudian, terlihat wajah puas kedua orang tua tersebut. Sementara itu, Ibu Aisyah yang sedari tadi diam mendengarkan, kini menampakkan wajah yang sulit diartikan. Kenapa dia?
Setelah semua sudah diputuskan, kami segera pulang ke pondok.
.
Dua khitbah, satu wanita.
Benar-benar nggak nyangka, bisa bersaing dengan Gus Ilyas. Urusan wanita pula.
Sebenarnya, sejak kapan Gus Ilyas menyukai Aisyah? Huh, aku keduluan lagi.
Harusnya aku yang lebih dulu mengkhitbahnya, jadi nggak perlu saingan begini. Jadi nggak enak sama Abah Yai.
Sampai larut malam, aku masih terjaga. Memikirkan ujian apa yang akan Ustadz Ibrahim berikan besok. Semoga, aku bisa melewatinya dengan baik.
Ayah, tunggu anakmu pulang membawa calon menantu, ya. Insyaa Allah, ini jodoh yang Allah berikan untuk Yusuf.
Ibu, do'akan Yusuf. Semoga, Ustadz Ibrahim benar-benar menerima Yusuf menjadi menantunya. Aamiin.
Tak terasa, bulir bening ini sukses melewati sudut mata. Teringat senyuman Ibu yang selalu menenangkan.
Ah, Ibu. Semoga kau tenang di alam sana.
Usai shalat malam, aku segera merebahkan diri. Berharap bisa segera terlelap, bertemu Ibu walau hanya dalam mimpi. Meminta restunya, mengharap ridhonya.
Ibu, sungguh, aku merindukanmu. Hiks.
***
Bersambung
Ada solusi terindah thor selain poligami.