Di malam kelulusan sekolahnya, Yaressa mendapat perlakuan buruk dari Arsaka -kekasihnya- yang mabuk. Kesuciannya direnggut paksa, menjadikannya seorang korban pemerk*sa'an.
Namun Arsaka tak bersedia bertanggung jawab dengan menikahi Yaressa, ia justru pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.
Dan Bara, kakak Arsaka, terpaksa menikahi Yaressa, kekasih sekaligus korban pemerkosaan adiknya, menggantikan Arsaka yang telah pergi, sedangkan Bara sendiri memiliki Kanaya, wanita yang ia cintai jauh di kota lain sana.
Kisah yang rumit, tentang perjuangan, pengorbanan, keikhlasan, akan melengkapi cerita cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Seperti yang Lek Nasir katakan, Bara datang ke rumah Lek Nasir untuk bertemu dengan Yaressa, namun badan Yaressa kembali demam tinggi dan tubuhnya sangat lemah, ia tak sanggup keluar untuk sekedar berdiri menemui Bara. Bu Puji sudah menyuntiknya dan memberikan obat.
"Saya sudah memberinya obat, jika dalam 24 jam demam tidak turun, bawa Yaressa ke rumah sakit yang ada di kabupaten," jelas Bu Puji pada Lek Nasir yang menunggu di depan kamar Yaressa, di sana sudah ada Bara yang siap menemui Yaressa.
"Terimakasih, Bu. Terimakasih," Lek Nasir mengucapkan rasa terimakasihnya setulus hati, ia kemudian pamit ke dalam kamar Yaressa untuk melihat kondisi keponakannya itu.
"Bara, bagaimana kabarmu?"
"Baik, Bu."
"Aku senang mendengar kabar pernikahan kalian, maaf, bukan bermaksud ikut campur, tapi," Bu Puji menjeda, matanya berkaca-kaca.
"Saat pertama kali aku melihatnya dan melakukan pemeriksaan, gadis itu benar-benar dalam keadaan kacau, ironis, sangat. Kau tidak akan mampu membayangkannya, dan aku terus memikirkan bagaimana nasibnya ke depan." Bu Puji menghela napas.
"Tapi, setelah aku mendengar kabar bahwa kau yang akan menikah dengannya, hatiku tiba-tiba merasa lega. Aku turut bahagia,"
"Terimakasih," tutur Bara singkat.
"Aku sudah memberikan obat medis, tapi itu hanya akan menyembuhkan luka luarnya saja, dan kamu, semoga kamu bisa menjadi obat dan penyembuh atas semua luka-luka dalamnya. Aku permisi,"
"Terimakasih, Bu,"
Bu Puji menepuk bahu Bara beberapa kali, setelah itu ia benar-benar melangkah pergi.
Pintu kamar Yaressa diketuk, Bara yang melakukannya. Lek Nasir membuka berdiri berhadapan dengan Bara.
"Bisakah saya bicara dengan Yaressa, Lek?" izin Bara.
Lek Nasir menoleh ke belakang, melihat Yaressa yang meringkuk membelakangi pintu dengan selimut tebal menutupi hampir seluruh tubuhnya, hanya rambut panjangnya yang dapat dilihat oleh Lek Nasir maupun bara.
"Bicaralah, Lek Nasir tunggu di teras depan."
***
Hening,
Bara masih berdiri di depan pintu kamar Yaressa yang sudah ia tutup dari dalam, dan Yaressa masih meringkuk membelakangi, tak berani untuk sekedar bergerak apalagi bertemu muka dengan Bara, calon suaminya. Keduanya tidak pernah tahu bagaimana rupa calon masing-masing, dan juga tidak mau tahu.
Bara dan Yaressa terjebak keheningan cukup lama.
"Kita ke rumah sakit, kau harus diobati secara menyeluruh agar cepat sembuh," ucap Bara memulai obrolan mereka, memecah keheningan.
"Rumah sakit mana yang bisa menyembuhkan sakit gadis yang direnggut kesuciannya secara paksa?"
DEG
Bara tak menyangka jika Yaressa akan mengatakan itu.
"Besok kita akan menikah, aku berkewajiban untuk menanyakan padamu, mahar apa yang kamu minta?" tak ada jawaban, namun isak lirih dari Yaressa tertangkap jelas dalam pendengaran Bara.
"Mahar apa yang kau minta?" tanya Bara mengulang.
"Bisakah anda memberikan saya cinta?" pinta Yaressa dengan suara parau.
Hening.
Bara menelan saliva kasar, itu adalah satu-satunya hal yang tak akan pernah bisa Bara berikan, sebab seluruh hati dan cintanya hanyalah untuk Kanaya.
"Yah, tak ada cinta untuk gadis yang ternoda."
DEG
Yaressa melanjutkan kalimatnya karena Bara tak memberi jawaban.
Tangan Bara mengepal erat, bagaimana gadis ini bisa mengatakan hal-hal yang menyentil batinnya? Di usianya yang masih terbilang sangat muda.
"Maaf," lirih Bara.
Ekor mata Yaressa bergerak kala mendengar kata maaf dari Bara yang sarat akan makna. Yaressa masih diam tak bergeming, mendengarkan apa yang akan Bara katakan selanjutnya.
"Kita akan menikah, mau tidak mau kita akan menjalin hubungan yang terikat oleh ikatan pernikahan, dan aku tidak ingin menyembunyikan apapun."
Jantung Yaressa berdegup kencang.
"Aku memiliki seorang kekasih yang sangat aku cintai, yang belum sempat kukenalkan pada keluarga, namun, takdir justru memaksaku untuk menikahimu, aku tidak bisa menolak permintaan Ayah, dan kuyakin kau pun tak akan bisa mundur."
Yaressa memejamkan mata meloloskan buliran-buliran bening ungkapan sakit hatinya. Ia tahu, ia tak mencintai Bara, tapi mendapati kenyataan jika calon suaminya mencintai gadis lain dan bahkan dengan kata lain dirinya menjadi perusak hubungan mereka, membuat batin Yaressa sangat ngilu.
"Aku akan menikahimu, untuk menjaga kehormatanmu, dan juga keluargaku, aku akan berusaha mengabulkan semua yang kamu minta, selain cinta, seluruh relung hatiku telah terisi oleh satu nama, dan tak akan pernah tergantikan, hanya dia."
Bara menghela napas setelah mengucapkannya, melegakan perasaannya namun sempurna mengguncang perasaan Yaressa, sesuatu yang awalnya ingin ia sembunyikan namun semua ia utarakan di awal pertemuan mereka.
"Berikan aku bunga sukulen echeveria sebagai mahar,"
"Apa?" Dahi Bara mengernyit, memastikan apa yang didengarnya.
Ia melirik meja yang terdapat sebuah pot kecil berisi bunga.
'Apa Arshaka yang memberikannya?'
"Baik," ucap Bara menyanggupi.
Setelah itu Bara pergi, keluar dari kamar Yaressa tanpa mengatakan apapun lagi.
***
Demam Yaressa turun, namun badannya masih lemah, ia di rias dalam keadaan berbaring, sebuah dress muslim putih lengkap dengan kerudung dan selendang menjadi baju pengantin Yaressa, ia nampak sangat cantik nan anggun.
Mempelai pria dan keluarga sudah tiba, duduk di karpet lantai ruang tamu Mak Eva yang sudah dihias sedemikian rupa untuk pelataran akad nikah.
Penghulu, saksi, wali hakim dan perangkat yang berkepentingan sudah siap, Mak Eva dan Sari hendak memanggil Yaressa di kamar, untuk dibawa ke ruang tamu. Namun, saat Mak Eva sampai di dalam kamar, Yaressa terbaring lemah di atas ranjang.
Mak Eva bicara pelan dengan Yaressa, kepala Yaressa pusing berat, ia tidak sanggup untuk sekedar duduk. Apalagi berdiri.
Mak Eva kembali ke luar, menemui suaminya, membicarakan kondisi Yaressa.
"Ada apa, Lek?" tanya Pak Hardhana cemas.
Bara turut mendengarkan. Begitupun dengan semua orang.
"Kepala Yaressa sakit, dia tidak bisa keluar, apa ijab-qobul bisa kita lakukan di sini dan Yaressa tetap di kamar?"
"Bisa, syarat sah nikah semua sudah dipenuhi, kita bisa melakukan ijab dan Qobul meski tanpa kehadirannya."
Jadilah prosesi akad itu dilakukan tanpa kehadiran Yaressa, hingga kata sah dan doa bersama dipanjatkan atas kedua mempelai.
Yaressa dan Bara telah sah menjadi suami istri.
Acara berlanjut makan bersama, bercengkrama dan beramah tamah, kemudian satu persatu pamit undur diri, begitupun dengan keluarga Bara yang menemui Yaressa terlebih dulu sebelum mereka pulang.
"Saya Hardhana, ayah mertuamu, nak. Ini Bu Ayumi, ibu mertuamu, dan itu," Pak Hardhana menunjuk Nayaka yang langsung mendekat.
"Kami sudah saling kenal, yah. Beberapa kali Kak Arshaka mengajak Naya main ke sini,"
Nyes,,,,
Yaressa memejamkan mata seiring berlinangnya air mata.
"Naya, sudah!" peringat Bu Ayumi.
Seketika Naya mundur, dengan kebingungannya.
"Kami pamit pulang, Nak Yaressa. Bara akan tinggal di sini sampai kau siap pindah ke rumah kami, semoga kau lekas sembuh." ucap Bu Ayumi tulus.
"Terimakasih," lirih Yaressa.
Bu Ayumi memeluk Yaressa sebelum pergi meninggalkan menantunya.
Bara berdiri di pintu menghadap halaman belakang saat Bu Ayumi dan Pak Hardhana keluar dari kamar Yaressa, ia tengah melakukan sambungan telepon dengan seseorang.
"Bara," suara tegas Pak Hardhana menyita perhatian Bara, dia menutup telepon lalu memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celana.
"Ayah, ibu sama Naya pamit pulang, maafkan Ayah!"
"Berhenti mengatakan maaf, Yah. Ayah tidak bersalah, mari, kuantar kalian sampai depan."
Pak Hardhana mengangguk beberapa kali, ia melangkah beriringan dengan Bu Ayumi di depan Bara yang berjalan beriringan dengan Nayaka.
"Kak, kenapa Kak Bara yang menikah sama Kak Eca? Yang pacaran sama kak Eca kan kak Arshaka? Kasihan Kak Arshaka dong kalau ditinggal nikah sama kalian?" tanya Nayaka polos sambil berbisik.
"Huss,,,, kecil-kecil nggak boleh ngomong pacar,"
"Tapi Kak Arshaka,"
"Naya?" teriakan Bu Ayumi menghentikan celoteh Naya yang ingin tahu.
Mereka saling berpelukan sebelum akhirnya mobil yang membawa keluarga Hardhana meluncur meninggalkan halaman depan rumah Lek Nasir.
***
Semoga author cepat nulis lagi dn buat Bara menyesali sikap dn kata2nya pada Yaressa
jgn karena apa"..khawatir jg karena gda kabar Lg dri novel nya
atau gmna, gaa ada kejelasan novel ini
padahal udah ditunggu tiap hari kelanjutan nya
klo thor nya sakit, semoga lekas sehat yaa thor, qta semua menunggu karya mu
semangat 💪💪💪
padahal ceritanya sangat bagus,,,
konflik nya lain daripada yang lain,,,