Berawal dari bermusuhan kemudian menjadi teman dekat. Rahma Dewanti dan teman-temannya memutuskan melanjutkan kuliah ke ibu kota setelah lulus SMA. Untuk meraih mimpi mereka.
Setelah sampai di ibu kota, ternyata Rahma tidak sengaja bertemu dengan ayah kandungnya. Selain itu dia juga menjadi korban pemerkosaan oleh teman dekat sendiri.
Kisah ini dibumbui dengan kisah cinta anak muda yang menguras emosi dan air mata.
Sanggupkah Rahma menjalani hidupnya setelah terjadi pemerkosaan? Akankah dia bisa menggapai mimpinya untuk menjadi orang sukses? Yuk baca kisah selengkapnya di Menggapai Mimpi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Kalau nggak lupa!" teriak Dolly sambil berlari menjauh dari mama Ratna.
"Dolly!!!" teriak mama Ratna.
Pak Edward yang melihat perdebatan antara ibu dan anak itu hanya menggelengkan kepalanya. Rumah itu selalu ramai jika ada anak-anak di rumah, tapi begitu mereka pergi ke sekolah semua rumah menjadi sepi.
Sementara itu, Frans sudah sampai di sekolah. Dia memarkir motornya dekat dengan lapangan, terpisah dengan motor siswa lainnya. Frans memperhatikan sekitarnya sebelum melangkahkan kakinya menuju kelas sang pujaan hati.
Setelah dirasa cukup sepi dan aman, seperti tahun-tahun sebelumnya, Frans mulai menjalankan aksinya. Dia melangkah dengan santai agar tidak ada yang curiga dengan apa yang akan dilakukannya. Walaupun santai dia tetap waspada.
Dilihatnya dari jarak beberapa meter sang gadis pujaan hati, dadanya bergemuruh jantungnya berdetak kencang seakan ingin melompat keluar. Begitulah dia, setiap melihat gadis yang dicintainya, jantungnya seakan mengajak perang.
*
*
*
Frans melihat dari kejauhan saat Rahma bersujud syukur di tanah lapangan. Frans ikut bahagia ternyata temannya itu bisa mengembalikan kepercayaan pihak sekolah padanya. Rahma anak yang cerdas, hanya saja keadaan ekonomi yang menghalangi kebahagiaannya.
"Frans!" teriak Tiara dari lapangan.
Tiara berjalan bersama Rahma dan Santi keluar dari lapangan menuju ke arah Frans berdiri.
"Apa?" ucap Frans begitu Tiara dan teman-teman sampai di depannya.
"Nanti habis ini Lo mau kemana?" tanya Tiara, membuka percakapan mereka.
"Entah!" jawab Frans menaikkan kedua bahunya dengan mimik cuek.
"Lo ikut kita mau nggak? Aku ada acara party kecil-kecilan buat ngerayain kelulusan," tanya Tiara.
"Siapa aja yang ikut?" tanya Frans balik.
"Kita-kita aja, nggak banyak kok. Cuma beberapa orang yang anggap keberadaan Rahma saja. Tapi kalau Lo nggak mau, gue nggak maksa," jawab Frans.
"Di mana acaranya?" tanya Frans lagi.
"Kafe "17" dekat stadion! Ikut?"
"Boleh!" jawab Frans mengangguk tanda setuju.
"Yee, kita party bareng si bos!" teriak Santi sambil mengangkat kedua tangannya yang megepal.
"Udah lihat pengumuman semua 'kan? Kalau sudah semua, kita langsung jalan aja!" kata Tiara.
"Gue udah!" jawab Frans.
"Ya udah, yuk jalan!" kata Tiara.
"Tunggu! Aku mau ambil tas dulu di kelas," teriak Rahma.
" Nggak usah teriak juga keles, kita juga mau ke kelas dulu ambil tas!" kata Tiara kesal karena tadi Rahma teriak tepat di samping telinganya.
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju kelas untuk mengambil tas masing-masing. Begitu sampai di kelas, suasana tampak heboh karena di atas meja Rahma dan Tiara ada sebuket bunga mawar dan dua kotak kado. Semuanya bertuliskan to: Rahma.
"Waw, si Upik abu dapat hadiah nih kek ya!" celetuk salah satu teman sekelas Rahma.
"Apa ya kira-kira isinya? Asal jangan boom aja!" sahut lainnya.
"Buahahaha!!!"
Rahma dan Tiara langsung menuju ke arah meja yang biasanya mereka tempati berdua.
"Cantik sekali bunganya!" teriak Tiara histeris langsung mengambil buket bunga itu.
"Buat kamu, bukan buat aku!" cebik Tiara menyerahkan buket bunga pada Rahma setelah membaca kartu yang menempel di buket bunga itu.
Rahma menerima buket bunga itu, dibacanya kartu yang menempel.
"Dari siapa ya, kok nggak ada nama pengirimnya?" tanya Rahma penasaran.
"Mana kutahu! Kamu suka?" Tiara balas bertanya.
"Suka banget! Tapi nggak tahu siapa pengirimnya, jadi takut mau ambil." jawab Rahma.
Frans yang mendengar jawaban Rahma menyukai bunga itu pun tersenyum samar.
"Kalau suka itu disimpan! Siapa tahu nanti ketahuan pengirimnya." Frans menimpali.
"Iya, betul itu kata Frans!"
"Simpan aja, dipajang di kamar!" sahut Santi dan Tiara bersamaan.
"Aku mana bisa bawanya, kalian tahu sendiri 'kan aku naik sepeda?" jawab Rahma bingung antara membawa pulang kotak kado dan buket bunga.
"Nanti aku anterin!" sahut Tiara.
"Gue juga mau anterin Lo pulang!" ucap Frans dengan kedua tangannya masuk dalam saku celana.
"Tuh, banyak yang mau nganterin kamu pulang!" kata Santi.
"Iya, deh. Aku diantar Tiara aja," jawab Rahma.
Rahma pun akhirnya setuju diantar oleh Tiara.
"Tapi... Sepedaku?" tanya Rahma kemudian.
"Sepeda Lo masukin aja ke mobil. Beres! Apalagi?" kata Frans kesal melihat Rahma yang terlalu banyak alasan untuk menerima hadiah itu.
"Baiklah kalau begitu!" jawab Rahma menyerah.
Akhirnya mereka meninggalkan kelas itu. Rahma kesulitan membawa itu semua. Tiara membantunya membawakan buket bunga, sedangkan Rahma memegang kotak kado.
Tiara terus memandangi buket bunga itu, sesekali ia juga mengendus aroma wangi dari bunga yang dibawanya. Tiara sebenarnya menginginkan buket bunga itu, akan tetapi dia tidak mau memintanya karena itu pemberian dari orang yang spesial. Sepertinya!
"Gue ambil motor, kalian duluan aja ke kafenya. Gue pasti ke sana kok!" kata Frans begitu mereka sampai di tempat parkir.
"Ok! Kami duluan. Lo beneran nyusul ya, awas kalau nggak!" jawab Tiara.