Aleta Quenby Elvina gadis berusia 21 tahun. yang terpaksa harus menikah dengan CEO tampan kaya raya, Ia dijodohkan oleh orang tua nya karena alasan orang tua nya lelah dengan sikap Aleta yang tidak bisa diatur, jadi orang tua Aleta memilih menikahkan Aleta dengan teman kolega papa nya. dengan harapan Aleta dapat berubah menjadi seseorang yang lebih baik lagi.
Namun, ternyata hal itu tidak membuat Aleta berubah malah ia semakin menjadi jadi, dan tidak terkontrol. karna menurut nya dengan ia menikah ia akan menjadi lebih bebas. dan terlepas dari aturan orang tua nya.
akankah pernikahan mereka akan berjalan dengan lancar? ataukah sebaliknya? apakah Aleta akan merasakan bahagia dengan pernikahannya?
selamat membaca ya, dan mohon dukungan nya teman teman☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon viannakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 18 - rumah baru
malam nya mereka makan malam bersama dan seperti biasa suasana ruang makan selalu sunyi jika sedang makan seperti ini. setelah selesai Aleta dana mamah membereskan meja makan sedangkan papah dan Tama ke ruang televisi.
"gimana honeymoon nya sayang? lancar kan?" aleta mengehentikan gerakan nya mencuci piring, dia menghela nafas nya sebelum menjawab pertanyaan mamah. dia sudah menduga jika akan mendapatkan pertanyaan seperti ini dari mamah. jadi dia sudah menyiapkan jawaban yang sekira akan dipercaya mamah nantinya
"lancar mah" jawab Aleta
"terus kapan kira kira mamah punya cucu" yah seperti dugaan mamah akan menagih cucu kepada dirinya. maka dia sudah tau akan menjawab seperti apa
"mah, aleta kan baru menikah jadi mau menikmati dulu waktu berdua. apalagi aku sama kak tama kan menikah nya dijodohkan jadi perlu waktu untuk kami saling mengenal dulu" jawab aleta pelan dan sangat hati hati. dia berharap mamah nya percaya dengan apa yang dia katakan
"hm okee sepertinya kalian memang harus saling mengenal lebih dekat baru setelah punya anak" jeda "mamah gak akan maksa kalian buat cepet cepet punya anak kalau gitu" mamah mengelus pundak aleta, dan aleta tersenyum akhirnya mamah percaya dengan apa yang dia katakan jadi dia tidak perlu susah untuk mencari alasan lagi.
"iyaa mah"
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
di ruang televisi papah dan tama sedang mengobrol ringan bahkan sesekali mereka membicarakan tentang bisnis. namun, tama teringat dengan rencana nya yang akan pindah kerumah baru dan dia pun memberitahukan kepada papah
"oh iya pah tama dan aleta ada rencana buat pindah kerumah baru" ucap tama
"oh kalian mau pindah? kapan?" tanya papah
"rencana nya sih besok"
"kok buru buru banget"
"iyaa pah gak enak kalau harus tinggal lama lama sama papah dan mamah" ucap tama
"loh ya gak papa mamah sama papah malah seneng kok, apalagi aleta kan anak tunggal. kalau kalian pindah dari sini pasti berasa sepi banget nanti rumah ini" papah terlihat belum rela jika tama dan aleta harus tinggal terpisah dengan mereka.
"haha papah masih bisa kok main kerumah kami nanti, lagipula tama juga sekarang sudah menjadi suami aleta tama harus bertanggung jawab sama aleta dengan sepenuhnya" ucap tama sopan, dan papah terharu mendengar nya papah berfikir bahwa papah tidak salah memilih menantu
"papah bener bener beruntung tam pilih kamu jadi menantu papah" papah menepuk pundak tama pelan
"terimakasih pah, papah sudah memilih tama sebagai menantu papah jadi tama janji tidak akan mengecewakan papah" ucap tama tersenyum
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
"halo bun" ucap tama saat ini dia sedang menelfon bunda untuk memberitahukan jika besok dia dan aleta akan pindah ke rumah baru mereka
"halo tam, kamu ini ya udah sampai indonesia gak ngasih kabar bunda. masa bunda tau dari mertua kamu sih, durhaka banget kamu ya. bunda ngambek pokoknya sama kamu" bunda ngomel ngomel saat tama baru saja mengabari nya setelah dia tiba di indonesia. dan tama hanya terkekeh saja mendengar bunda nya mengomel
"maaf bunda tama lupa-" perkataan tama di potong dengan omelan bunda
"tuhkan bunda dilupain, udah nikah jadi lupa sama bunda sekarang" dan tama makin tertawa, yang ternyata semakin membuat bunda sangat kesal "kamu jangan ketawa tama bunda ini lagi marahin kamu ya kok kamu malah ketawa"
tama berdeham karena suara nya menjadi serak karena tertawa baru setelah nya menjawab perkataan bunda "iyaa maaf bunda, karena tama lupain bunda. tapi tadi tama bener bener lupa buat kabarin bunda"
terdengar bunda menghela nafas "okee bunda maafin"
tama tersenyum dan seketika dia teringat dengan tujuannya menelfon bunda "oh iya bun, tama jadi lupa tujuan awal tama telfon bunda malem malem gini"
"kenapa?" tanya bunda
"besok rencana nya tama dan aleta akan pindah ke rumah baru yang udah tama beli-" sekali lagi perkataan tama di potong dengan ocehan bunda
"heh main pindah kerumah baru aja, kalian itu belum nginep di rumah bunda ya, udah mau pindah aja nginep dulu dirumah bunda" saat Tama akan membalas, bunda langsung mengatakan bahwa Tama tidak boleh menolak.
"gak pake tapi bunda gak mau ditolak harus mau" dan mau tidak mau Tama dan Aleta harus menginap terlebih dahulu dirumah bunda
"okee Tama sama Aleta akan menginap dirumah bunda"
"bagus, yaudah kamu istirahat udah malam bunda juga mau istirahat" ucap bunda
"iyaa Bun, selamat malam bunda"
"malam" dan telfon pun berakhir dengan sapaan balik bunda
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
keesokan hari nya mereka mengunjungi rumah yang akan ditinggali dengan Tama dan Aleta nantinya, karena Tama dan Aleta tidak jadi pindah hari ini maka mereka berniat untuk mengunjungi terlebih dahulu rumah baru nya.
dan saat sampai Aleta terbengong karena melihat penampakan rumah baru nya, dia sangat tidak percaya bahwa dia akan menempati rumah ini nanti nya.
rumah yang sangat besar dan mewah, bahkan rumah ini lebih besar dari rumah mamah dan papah nya. Aleta menarik lengan Tama saat Tama akan berjalan menyusul orang tua mereka yang sudah jalan terlebih dahulu.
"om gak salah beli rumah ini?" tanya Aleta dan Tama bingung dengan pertanyaan Aleta
"ya enggak, apa nya yang salah" jawab Tama.
"ini rumah nya gede banget om, bahkan kita cuma tinggal berdua disini"
"gak akan tinggal berdua kalau kita punya anak nanti" Tama sedikit menggoda Aleta dan seperti biasa respon Aleta hanya menatap Tama dengan tajam "udah ayok masuk" Tama mengajak Aleta untuk masuk. tapi aleta masih saja berdiri disitu sambil ngedumel
"cih siapa juga yang mau punya anak sama dia" jeda "ogah kali" aleta mengoceh, tapi dia tetap mengikuti Tama memasuki rumah barunya
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
dan saat memasuki ruang tamu Aleta semakin dibuat terperangah, karena ternyata di dalam rumah nya bahkan lebih terlihat sangat mewah.
wah kalau seperti ini sih nanti jika Aleta sudah tinggal disini, dia tidak akan mau membersihkan rumah sebesar ini sendirian. aleta harus mencari orang yang mau membersihkan rumah nya dan seperti nya dia juga mendiskusikan ini nanti dengan Tama.
"jangan jangan kamar nya juga besar, pasti sih gak mungkin enggak" Aleta mengoceh sendiri "gue harus liat kamar nya juga"
Aleta menghampiri Tama untuk menanyakan dimana letak kamar nya "om, kamar nya di mana?" tanya nya berbisik
"oh ayok saya anter buat liat kamar nya" ucap Tama, dan mereka pun melihat kamar yang terletak di lantai dua, tak jauh dari tangga terlihat pintu bercat putih yang sangat elegan. dan Aleta yakin bahwa itu adalah kamar yang menjadi kamar utama.
Tama membuka pintu kamar itu dan itu semakin membuat Aleta terbelalak. ternyata benar dugaan Aleta bahwa kamar nya juga sangat besar dan lebar.
"ni sih dua kali lipat lebih gede dari kamar gue" batin Aleta
"ayok masuk" ajak Tama
mereka memasuki kamar untuk melihat lihat seisi kamar yang sangat luas. Aleta terus saja merasa takjub.
"kamu suka?" tanya Tama, Aleta melolotkan matanya kepada Tama, apakah Tama sadar menanyakan itu kepada Aleta? pertanyaan yang tidak seharusnya ditanyakan setelah tau reaksi Aleta seperti apa saat melihat isi kamar ini.
"gila kali gue gak suka, rumah se gede ini kamar segede ini yakali gue gak suka" ucap Aleta sarkas, dan Tama hanya terkekeh saja
"syukur deh kalau kamu suka jadi saya gak harus cari rumah baru lagi" mendengar itu Aleta hanya berdecih saja.
_____________