Dalam hidupku tak pernah menyangka bahwa dalam pernikahanku akan mengalami hal semacam ini.
Seandainya godaan itu datang dari wanita lain, mungkin saja aku tak akan segila ini. Tapi justru godaan itu datang dari wanita yang seharusnya aku hormati sebagai ibu dari istriku.
Aku hanyalah lelaki normal, lelaki biasa yang bisa saja khilaf dalam bertindak. Apalagi jika dihadapkan dengan godaan nyata setiap hari, godaan yang mampu mengikis kesetiaanku, godaan yang mampu menjegal keimananku.
Aku, Adarga Handanu ... lelaki biasa yang sedang berjuang keluar dari jeratan nafsu sang ibu mertua. Berhasilkan aku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ammi Pooja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18 Rencana Rahasia
POV Arini
Setelah mendengar celoteh Ibu dengan Mas Danu di dapur, ketenanganku sungguh terusik. Ada rasa sakit yang semakin dalam menyiksa batin.
Lara dan air mata yang telah lama mengering, kini seolah tersiram air cuka kembali. Perih dan menyayat mengetahui kenyataan bahwa ibu yang dulu pernah kunanti kepulangannya, justru belum berubah. Bahkan penyesalan saja tak ada di hatinya.
Aku sengaja pamit ke Mas Danu dengan alasan ada pelatihan sosialisasi tabungan baru. Padahal itu semua hanyalah bagian dari rencanaku.
Dua hari sebelum rencana kepergianku, aku telah memasang beberapa chip penyadap suara yang dilengkapi dengan video perekam dan mikropon yang aku pesan dari teman. Chip itu aku tempel di tempat-tempat tersembunyi yang tak akan terlihat.
Chip pertama aku pasang di dapur, di dalam buffet kaca menempel pada pegangan sebuah panci presto. Chip kedua aku pasang di kamar tidurku, tepat di bagian rak buku paling atas di sela-sela tatanan buku.
Rak buku yang sengaja aku letakkan di sudut kamar itu memberiku keuntungan, karena aku bisa memasang chip tanpa Mas Danu curiga. Bahkan ruang keluarga dan ruang tamu juga tak lepas dari kontrol chip penyadap suara tersebut.
Khusus kamar ibu, aku pasang sebuah chip di bagian atas lemari pakaian. Chip yang dilengkapi dengan kamera dan mikropon itu terselip di antara tumpukan kardus dan koper milik ibu.
Meski aku harus memeras otak untuk memilih tempat-tempat untuk meletakkan beberapa chip itu, alhasil semuanya dapat terpasang dengan baik di tempat yang tak mudah terlihat.
Hanya gegara seorang ibu yang tak punya hati, aku harus lebih cerdik darinya. Aku kira orang-orang seperti ibu hanya ada di film-film saja, tapi pada kenyataannya Tuhan mengirim wanita itu ke kehidupanku sebagai penguji dalam rumah tanggaku.
Segala sesuatu sudah aku persiapkan dengan matang, bahkan sebuah kost-kostan dekat rumah juga sudah aku sewa. Kost-kostan yang aku gunakan untuk menginap selama pamit ke luar kota itu hanya berjarak satu gang dari rumah.
Beruntung pemilik kost adalah orang tua Neni, teman sekantorku. Setelah mendengar ceritaku, mereka bersedia membantu merahasiakan keberadaanku.
Setelah kepergianku, tentu saja pengintaian di mulai. Di menit-menit awal masih normal, tak ada yang mencurigakan. Kejadian mencurigakan bermula setelah ibu bilang tidak tertarik lagi untuk menggoda Mas Danu.
Benarkah ibuku tak tertarik lagi?
Mustahil! Aku yakin itu hanya akal-akalan dia agar Mas Danu lengah. Benar saja. Setelah ia masuk kamar, tampak di kamera gawaiku yang tersambung dengan chip itu menunjukkan setiap gerak geriknya.
Beberapa kali ia meletakkan sebuah kamera kecil secara berpindah-pindah, sepertinya sedang mengatur agar kamera itu tepat mengenai objek.
Akhirnya, ia menemukan posisi yang tepat. Yaitu di atas meja kecil samping tempat tidur. Kamera kecil itu ia tutup dengan sebuah kardus snack yang ia lubangi sebagai lubang pengintai untuk kamera.
Setelah memastikan kamera terpasang dengan baik, wanita yang kupanggil ibu itu keluar dengan membawa sebuah bungkusan plastik hitam. Entahlah, aku tak bisa melihatnya.
Tak berselang lama, ia masuk kembali sembari tertawa cekikikan. Aku tahu pasti ia telah memasang jebakan untuk Mas Danu, tapi jebakan apa aku tidak tahu karena jangkauan kamera pengintai hanya sampai di ruang tamu. Aku tidak kepikiran untuk memasang di garasi atau luar rumah.
Hingga Mas Danu selesai sarapan dan siap berangkat kerja, keadaan masih aman terkendali. Suasana rumah yang lengang. Ibu memang tidak berniat menggoda Mas Danu, kulihat di kamar ia sedang asyik memainkan gawai.
Detik-detik menegangkan dimulai saat Mas Danu keluar dari rumah dan kembali masuk dengan keadaan muka merah madam. Sepertinya ia marah karena langsung menggedor-gedor keras pintu kamar ibu.
Sandiwara dimulai, ibu yang ketakutan melihat kemarahan Mas Danu menjatuhkan diri di lantai, terus memohon agar tidak diperlakukan buruk. Wow sekali akting ibuku. Hatiku semakin geram saat usai adegan itu. Setelah Mas Danu keluar kamar masih dengan hati dongkol, justru di kamar ibu sedang berjingkrak gembira.
Ya, Allah ... apa benar wanita itu ibuku? Bagaimana bisa ayah dulu memilihnya sebagai istri?
Ayah, kini aku tahu apa yang ayah rasakan. Sekarang aku tahu mengapa ayah sampai depresi dengan penghianatan ibu. Benar, Yah. Dia iblis yang berwujud ibu, ibu yang tak punya hati.
Buliran bening bergulir di pipi mengiringi tangisan hati yang menyesakkan dada. Rasa hormat yang selama ini kujaga untuk seorang ibu menguar sudah tanpa sisa.
Jangan salahkan aku, Bu, jika aku lepas kendali membalas setiap luka yang ibu toreh. Bahkan hingga kini aku juga masih belum bisa menerima apa yang menimpa ayah. Aku kehilangan kasih sayang karena wanita yang tak tahu diri, wanita yang tidak paham dengan tanggung jawab sebagaimana layaknya seorang ibu dan sekaligus istri.
Setelah kejadian Mas Danu marah-marah, ternyata Mas Danu tidak kembali ke rumah. Sepertinya ia berusaha menghindari ibu. Dia memang pria yang setia meski terkadang otaknya lemot.
Aku akui Mas Danu tampan, tapi kembali lagi bahwa tidak semua manusia sempurna. Begitu pun Mas Danu, di balik ketampanan yang ia miliki tersembunyi banyak kekurangan. Salah satunya adalah cara berpikir yang terkadang membuatku ingin memakan isi batok kepalanya.
Siapa yang bisa menolak takdir? Jika Tuhan sudah menetapkan siapa jodoh kita, maka sekuat apapun kita menolak tetap saja ia akan mengejar hingga kita membuka hati dan menyakini bahwa dialah jodoh terbaik yang dikirim oleh Tuhan untuk menemani hari-hari kita.
Seharian tidak aku lihat Mas Danu kembali ke rumah. Segera kuputuskan untuk menelepon untuk mengetahui keberadaannya.
"Assalamualaikum, Mas."
"Wa'alaikumsalam, Sayang. Sudah selesai pelatihannya? Mas kangen, nih!"
"Belum, Mas. Nanti Minggu sore baru selesai, paling pulang sampai rumah malam."
"Video call ya, Mas kangen pengen lihat wajahmu, Dek."
"Video call? Jangan dulu, Mas. Di sini masih ramai, ada kepala cabang juga di sini." Aku mencoba memberi alasan. Tidak mungkin aku video call, itu sama saja memperlihatkan di mana aku berada.
"Tapi kayaknya nggak ramai, Dek? Kamu telepon aja jelas gini, nggak ada suara berisik."
Iya, juga ya. Di dalam kamar ini jelas sepi sunyi. Hish! Terkadang otakmu bisa bener juga, Mas.
"Ini aku masih ke toilet sebentar, makanya bisa telepon. Tapi waktuku banyak, Mas. Ini harus cepat kembali."
"Ooh ... begitu."
"Iya. Eh, Mas lagi apa?"
"Ini masih tiduran sambil main Hp, baru saja selesai main PS dengan Martin, nih!"
"Mas di rumah Martin?"
"Iya, mau nginep di sini sampai kamu pulang. Mas suntuk di rumah."
Alhamdulillah ... lega hati ini mendengar jawaban Mas Danu. Aku percaya suamiku akan menjaga hati untukku.
***
Baru saja usai salat azar, gawaiku berdering. Mas Danu menelepon, mengabarkan bahwa ibu sakit. Jujur, aku tidak percaya sama sekali dengan berita itu. Bisa saja itu akal-akalan ibu.
Segera kuambil gawai, membuka kembali icon penghubung alat penyadap suara. Benar dugaanku. Ibu tidak sakit, ia makan nasi padang begitu lahap. Bahkan ia juga menghabiskan satu buah apel dan satu buah pear setelah sebungkus nasi padang masuk ke perut.
Pasti akan ada jebakan lagi yang ibu persiapkan untuk Mas Danu. Sungguh kebangetan kamu, Bu. Hidupmu penuh drama.
Di kamar, ibu mulai mempersiapkan semua. Cara licik ia tempuh untuk membuat wajah cantik itu terlihat pucat layaknya orang sakit. Ia gosok bibirnya dengan scrub agar terlihat sedikit kering setelah dibilas.
Tak cukup disitu saja, foundation warna peach ia oles tipis-tipis untuk membuat wajahnya pucat. Sungguh tampilan yang sempurna. Dalam waktu singkat wajah yang semula segar bugar habis makan banyak, kini sudah berubah menjadi wajah yang sembab dan kuyu.
Huh! Sumpah, ingin rasanya aku pulang dan menjambak rambut bercat merah itu. Sandiwara demi sandiwara yang ia pertontonkan sangat membuatku muak.
Berkali-kali ia mondar-mandir di ruang tamu. Sesekali mengintip keluar, mengedarkan pandangan ke pintu pagar. Aku tahu siapa yang ia tunggu, sudah pasti suamiku yaitu menantunya sendiri.
Dari layar gawai kulihat Mas Danu memasuki kamar ibu. Seperti yang sudah kuduga, ibu berakting pura-pura sakit untuk menjebak Mas Danu. Benar-benar wanita gatal.
Detik-detik yang membuat hatiku semakin panas saat wanita itu merengkuh leher Mas Danu ke dalam pelukannya dan menciuminya. Kurang ajar, sungguh ini sudah keterlaluan.
Aku tidak bisa tinggal diam. Sudah saatnya aku pergoki kelakuan ibuku yang bejat itu. Segera aku ambil tas dan berlari pulang. Tak ingin kejadian yang lebih parah terjadi, langkah panjang kuayunkan agar segera sampai rumah.
Saat hendak memasuki rumah, pintu telah terbuka dan sesosok pria keluar terburu-buru hingga menabrakku. Martin. Ya, dia Martin teman sekantor sekaligus teman dekat Mas Danu. Napas pria itu terengah, sepertinya ia ketakutan.
"Martin? Kamu di sini?"
"I-iya, Mbak. Ibu Mbak Arini parah!"
"Iya, aku tahu. Makanya ini aku pulang."
"Ini, Mbak. Aku tadi sempat merekam dari balik jendela sebelum Danu teriak-teriak minta tolong."
Martin memperlihatkan video adegan yang sama dengan yang aku lihat di layar gawaiku. Kuminta ia mengirimkan ke gawaiku dan memintanya untuk merahasiakan semua, termasuk pertemuan dia denganku.
Setelah Martin menghilang dari pandangan, kuatur napas untuk menetralisir hati yang bergemuruh dan emosi yang meletup-letup. Kuayunkan kaki memasuki rumah dan mengucap salam.
Kudengar suara Mas Danu di kamar ibu, ia dengan keras menjawab salamku. Aku tahu ia sengaja melakukannya agar aku tahu ia di mana.
Saat aku memasuki kamar, semua adegan drama sudah berganti. Ratu drama kini terbaring di ranjang dengan selimut menutupi seluruh tubuh. Ia merintih kesakitan.
Sebagai pemanis, kutawarkan pada sang ratu drama untuk ke dokter, namun Mas Danu justru yang menjawab. Ia menyarankan aku untuk istirahat saja dan mencoba meyakinkan bahwa ibu akan baik-baik saja.
Ah, sungguh keren akting ibuku. Dia memang wanita yang luar biasa ... luar biasa gila.