NovelToon NovelToon
Key And Bian

Key And Bian

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:12.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: LaSheira

Selamat Membaca kisah Key And Bian 💖💖

Takdir masa lalu Presdir Adiguna Group dan seorang model bernama Jesika, telah membuat sebuah benang kusut untuk kehidupan anak-anak mereka.

Key dan Bian dua manusia yang mengenal arti cinta dengan cara berbeda. Semua terasa sederhana jikalau itu hanya tentang rasa mereka berdua. Tentang cinta berbeda status, tentang orang ketiga. Namun takdir masa lalu orangtua telah menyeret mereka dalam hubungan rumit tentang penghianatan, tentang ibu yang tersakiti, tentang kebencian yang diwariskan.


Dan bagaimana kalau takdir masa lalu itu memunculkan seseorang, anak yang tak diketahui. Dari situlah rumitnya takdir masa lalu itu akan terurai.

Akankan cinta Key dan Bian bersatu menuju perayaan?

Akan ada banyak tawa dan bahagia, namun juga akan ada airmata.

selamat membaca 🤗🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaSheira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Obat

Bian memasuki minimarket. Wajahnya

yang tadi bersemangat berubah kecewa saat melihat yang duduk di belakang kasir  melayani pembeli seorang laki-laki. “Ke mana

anak itu?” Sambil membatin dia berjalan mendekat ke arah kasir.

“ Maaf, permisi Mas. Hari ini Key tidak bekerja?”

Hamzah memperhatikan penambilan Bian sebentar. “ Mas siapa ya?” Merasa aneh, kok ada yang menanyakan Key.

Kenapa juga aku musti menjelaskan

padanya, bergumam sendiri. “ Teman.” Jawabnya singkat.

“ Dia tadi kurang sehat, jadi saya suruh pulang ke rumah.”

“ Sakit apa?” tanyanya lagi.

“ Pusing-pusing  sama agak pucat, tapi dia bilang baik-baik saja, cuma butuh istirahat.”

“ Baiklah, makasih ya Mas.” Sopan Bian berterimakasih lalu pergi keluar. Dia berdiri sebentar di pinggir jalan,

menimbang apa yang akan dilakukannya sekarang. Ia mengeluarkan ponsel dan menelpon.

“ Pak Wahyu, bawa mobil jemput

di depan minimarket di sebrang gerbang.” Lalu ditutupnya telfon. “Sakit apa

sebenarnya Key. Aduh, kenapa juga kami belum bertukar no hp.” Dia menggerutu

sendiri. Sampai mobil menepi dan seseorang membuka kaca.

“ Mau ke mana Mas?”

Bian masuk di kursi belakang. “

Cari apotik dulu Pak?”

“ Kenapa? Mas Bian sakit?” khawatir

dari nada suaranya.

“ Tidak.”

“ Lalu siapa yang sakit.”

“ Sudah jalan saja cari apotik.”

Katanya kesal, selain kepada Anjas memang Pak Wahyu  banyak tahu bagaimana kepribadian Bian yang

sebenarnya. Selain sudah lama bekerja, Bian juga malas berpura-pura kepada

laki-laki yang sudah menghabiskan separuh hidupnya itu bersamanya.

“ Sudah sampai Mas, itu ada apotik.

Biar saya yang turun, Mas mau cari obat apa.” Pak Wahyu sudah mau membuka pintu

mobil.

“ Sudah biar saya saja.” Karena dia

sendiri binggung juga mau mencari obat apa.

Memasuki apotik ada dua orang yang

duduk sambil mengobrol, mereka berdiri saat Bian masuk. Yang satu terlihat

sangat merona melihat Bian. Bahkan seperti tersipu. Wajahnya jadi merah tanpa

alasan. “Cari obat apa Kak?” tanyanya ramah.

“ Pusing-pusing sama pucat.”

“ Biasanya minum obat apa.”

“ Tidak tahu.” Bian masih bisa

tersenyum manis, walaupun kesal. “Mba apoteker?” tanyanya, gadis itu mengangguk.

“ Obat yang dipakai perempuan yang wajahnya pucat sama pusing-pusing itu apa?”

apoteker itu malah terlihat bingung. Ya jelaslah, obat pusingkan  banyak, lha pucat juga sebabnya apa dulu.

“ Oh mungkin dia lagi datang bulan

Mas jadi wajahnya pucat.”

“ Ya udah, kasih semua merek obat

yang bisa buat pusing, pucat sama datang bulan.” Katanya akhirnya. Dua orang

wanita itu saling berpandangan bingung. Tapi akhirnya mengambil beberapa obat

di etalase. Obat-obatan yang bisa dibeli tanpa resep dokter tentunya.

“ Ini Kak.”

Bian membayar lalu beranjak pergi.

“ Ganteng-ganteng tapi aneh ya

Mba.” Wanita yang melayani Bian tadi menunjuk pelangganya yang baru saja berlalu.

“ Ia.” Yang satunya menimpali

kecewa.

Bian bisa mendengarnya, namun ia

cuek saja, tidak memperdulikan, kemudian ia berjalan menuju mobil.

“ Sudah Mas?”

“ Ia, putar arah ke tempat  jemput saya malam-malam kemarin.” Pak Wahyu

melajukan mobil sesuai perintah. Sampailah mereka di gang rumah Key. “Di sini

saja Pak, pergi ke mana terserah Pak Wahyu, nanti saya telfon.”

“ Mas Bian mau ke mana?”

“ Ke tempat teman.”

“ Saya tunggu di sini nggak

apa-apa kan Mas? Daripada nanti Mas Bian nunggu.”

“ Tidak, tidak,  Pak Wahyu pergi kemana terserah, asal jangan

di sini.” Bian bertingkah malah semakin membuat Pak  Wahyu curiga dan penasaran. Dia menatap Bian

lama. “ Sudah sana.” Bian memastikan mobil itu melaju, setelahnya baru ia masuk

ke dalam gang.

“ Lurus, lalu belok kanan. Tapi,

bagaimana kalau orang tuanya ada di rumah.” Bian maju mundur melangkah. Dia

sudah masuk ke dalam gang, tapi keluar lagi. “ Aaaa.” Akhirnya ia berjalan

masuk lagi. Dia sudah belok  ke kanan, ada

beberapa rumah di sana. Yang mana rumah yang dicarinya, untung saja dia melihat

foodtruck somai milik Key. Walaupun dia belum pernah melihat mobil itu secara

langsung, tapi seingatnya foto yang sempat viral kemarin itu sama persis dengan

ini. Diapun berjalan mendekat. Menarik nafas panjang di depan pintu.

Menenangkan diri, sebelum akhirnya mengetuk pintu walaupun akhirnya ia sesali

keputusannya. Ia akan beranjak pergi, saat pintu terbuka. Terlambat, gadis

penjaga kasir itu sudah berdiri di depan pintu dengan wajah yang terkejut.

“ Kak Bian!

“ Ah, apa kabar?” canggung. “

Kenapa tidak berangkat kerja.”

Key menyadari suasana canggung ini,

“ Masuk Kak.” Dia membuka pintu lebar. “ Ahh, Key cuma agak gak enak badan kak.

Jadi izin gak masuk hari ini.” Bian duduk di kursi, begitu pula Key. “ Apa tadi

ke toko kak.”

“ Hemm.” Bian mengedarkan

pandangannya ke dalam ruangan. Rumah yang sangat sederhana untuk ukuran

kehidupannya. Ada beberapa foto terpasang, foto keluarga mereka. “ Aku membawa

obat.”  Dia tersadar, lalu menyerahkan

tas yang terlihat agak besar pada Key.  Agak ragu Key meraihnya. Ukurannya terbilang kurang normal jika hanya obat isinya.

“ Ini apa kak?” Saat sudah melihat

isinya, dia hanya terbengong-bengong. Ada banyak sekali botol obat, kapsul dan

ntah apalagi. Membayangkannya saja membuat dia semakin pusing. Key memang tidak

suka obat. Sampai sebesar ini, ia tidak bisa menelan obat-obatan. Kalaupun

terpaksa harus minum obat, obatnya harus berbentuk sirup kalau tidak

dihancurkan dulu pakai air baru diminum. Dan rasanya luar biasa pahit. “ Obat

semua Kak? Buat apa.”

“ Aaa, itu. Tadi temanmu di minimarket bilang kamu pusing-pusing sama pucat, aku minta semua jenis obat pusing

sama gejala pucat di apotik. Tidak tahu biasanya kamu minum yang mana.”

“ Ya ampun Kak. Tapi makasih

banyak.” Key tertawa geli sendiri. Menghitung-hitung berapa uang yang harus

dibayarkan untuk menebus semua obat itu. “ pasti habis banyak untuk menebus

obat-obat ini, dikembalikan boleh tidak ya Kak.”

“ Kenapa?”

“ Sayangkan uangnya Kak Bian. Aku

juga sebenarnya cuma pusing saja, istirahat tidur juga nanti sembuh kok. Jadi

tidak perlu minum obat.” Wajah Bian kecewa. “ Tapi terimakasih Kak, sudah mau

datang.” Key menyadari itu. Kini wajah Bian sedikit kembali tersenyum. “ Lain

kali bawa makanan aja ya Kak, dari pada obat, makanan enak jauh bisa membuat

badan sehat. Haha.

“ Apa artinya aku bisa datang lagi kemari.”

“ Tentu saja, kak Bian bisa datang

kapan saja.  Tapi sebenarnya aku juga

jarang ada di rumah Kak. Haha, pagi jualan somai, malamnya jaga minimarket.”

Canggung kembali.

“ Baiklah, sepertinya sudah malam,

dan kamu juga perlu istirahat kita bertemu lagi. Ehh.” Agak ragu Bian

menyerahkan ponselnya. “ Berikan nomermu.”

Ragu Key meraih ponsel milik Bian.

Ah, dia bahkan belum mahir mengunakannya. Tadi waktu coba di gerai ponsel

diapun diajari. “ Kakak saja yang simpan, Key nggak bisa masukin no pakai

ponsel beginian.”

Wajah Bian mengeryit tidak percaya. Jadi

benar yang dikatakan Anjas, bahwa gadis yang sempat viral fotonya di internet

ini bahkan tidak punya sosial media, smartphone juga tidak bisa pakai. Key

mendiktekan angka-angka yang panjang. Bian menuliskan dengan cepat. “ Aku

telfon ya?” ia mendengarkan sebentar, ada bunyi keras yang terdengar dari ruang

tengah.

“ Ia kak, sudah, nanti Key simpan

nomer Kak Bian.”

“ Baiklah, aku pulang ya.” Berdiri

pamit. Key pun ikut berdiri mengikuti langkahnya. “ Istirahatlah, tidak perlu

mengantar.”

“ Key antar sampai gang.” Katanya

kemudian.  Bian tidak bisa menolak, saat

Key sudah berjalan di sampingnya. Akhirnya merekapun berjalan berdampingan.

Semuanya diam, tengelam dalam pikiran masing-masing. Angin malam ini tidak

terlalu dingin, menemani mereka dalam belaian lembut. Sampai ke depan gang. Padahal jujur Bian ingin berjalan lebih lama lagi. “ Oh ya, kak bian

sudah makan belum?”

 “ Belum,” katanya cemberut.

“ Ya ampun, maaf ya Kak, Key sampai

lupa nawarinnya tadi. Atau mau balik lagi, makan di rumah.”

“ Haha, tidah usah Key. Bercanda

kok, tadi sebelum kemari, sudah makan. Ya udah, kamu jalan pulang duluan sana.”

“ Kakak mau naik angkot apa jalan

kaki?”

“ Jalan aja, nggak jauh ini. Sudah

sana, aku akan melihatmu sampai belokan.”

“ Baiklah, hati-hati di jalan ya

Kak. Sampai jumpa.”

Key berbalik dan melangkah, baru

beberapa langkah dia menengok. Bian masih berdiri ditempatnya tadi. Refleks Key

melambaikan tangan, Bian pun membalas. Lalu sampailah dia di belokan, untuk

terakhir kalinya dia menengok, berharap Bian masih ada di sana. Dan ternyata

benar, dia masih ada di sana. Tidak tahu kenapa dadanya menjadi berdetak

kencang, dan senyum merekah di bibir. Dia lalu berlari kerumahnya.

 

“ Pak wahyu kemana saja? Kenapa

lama?” Cukup lama Bian berdiri di pinggir jalan, menunggu di jemput sopirnya

tadi.

“ Maaf Mas, saya ketiduran.” Tadikan

sudah dibilang mau ditunngu, malah diusir kan.

“ Ya sudah, cari makan dulu. Saya

lapar.” Bian masuk kedalam mobil.

“ Ia Mas, mau makan apa?”

“ Bakso.”

“ Aduh Nas, kenapa bakso terus. “

“  Sudah cepat. Aku lapar.” Tidak perduli protes pak Wahyu tentang selera

makannya.

“ Ia Mas.”

Mobil melaju, keliling ke beberapa

tempat, mencari bakso, kedai nongkrong anak-anak muda akhirnya yang dituju.

Bian makan bakso dengan lahap. Sementara Pak Wahyu juga pura-pura menikmati

makannannya, padahal dia sebenarnya tidak terlalu suka bakso.

“ Besok saya masakin makan malam

saja ya Mas, jangan terlalu sering makan bakso.”

“ Ia, ia. ” Terus mengunyah

baksonya.

Bersambung.....

Bakso memang enak, tapi jangan

setiap hari ya ^_^

1
Nurma Sadiah
cie yang seneng di posesif🤣
Abizar Alfarizki
hadeeh bian 🫩
Nurma Sadiah
wow ternyata bian dan basma adik kakak😄
Nurma Sadiah
mau bakso🤤 apalagi makannya bareng orang kaya bian
Septi Msi Yogyakarta
halo kak author
aku rindu dgn krya2 mu
Nurma Sadiah
amanda sama anjas aja, cocok👍
Nurma Sadiah
ih sakit banget sih klo jadi manda/Sob/
Nurma Sadiah
happy ending😍
Mahendra Sari Anwar
kak,,ko blm ada lg cerita yg baru?
aku selalu tgu lohhh cerita nya🔥🔥🫶
love love love berkobon² nanas kan🫶
Mahendra Sari Anwar
maui lagiii🔥🫶
Maryam Husain
luar biasa
Putriani
izin mampir yah😍
☠Arin_
aku suka final ending yg bahagia gini
☠Arin_
the end🙏
☠Arin_
waaaah mau pamer🤣🤣🤣
☠Arin_
Senengnya🤣🤣🤣
☠Arin_
Sedih aja
☠Arin_
plong
☠Arin_
wah kena deh🤣🤣🤣
☠Arin_
😭😭😭😭masih berlanjot
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!