[[ TAMAT ]]
IG : @rumaika_sally
Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat dari Bagas
Pagi itu Mayang mengemasi tas sekolahnya. Papa menunggunya untuk sarapan.
Papa bilang dia kurang cocok dengan Pak Agus. Benar juga kata Tante Asti. Akhirnya ia memutuskan untuk mengantar sendiri Mayang berangkat sekolah. Nanti pulang sama Bima dulu katanya. Mayang sekaligus minta izin Papanya untuk pulang ke rumah Tante Asti. Mau edit video sama Bima katanya. Papanya mengangguk setuju. Ada Asti yang mengawasi dan mengurus mereka, pikirnya.
Mobil melaju cepat. Kabut masih sebagian menyelimuti sisi jalanan. Mayang mengancingkan sweaternya. Semenjak pindah ke sini, setiap pagi ia selalu memakai baju tebal. Ia lapisi baju seragamnya dengan jaket atau sweater. Kulitnya belum terbiasa dengan udara sedingin ini.
Di kelas, Susi dan teman-temannya menghampirinya. Mereka mengobrol tentang rencana mereka untuk berkemah. Ya cuma sekelas aja, yang mau ikut aja. Sabtu, Minggu dan Senin. Senin libur, tanggal merah. 3 hari lumayan seru. Begiru kata Susi.
Susi bilang, Bagas menawarkan area di kebun teh milik Papanya untuk lokasi camping. Ada gudang kecil di kaki bukit. Areanya cocok, medan yang dilalui juga tak sulit, hanya menanjak sedikit. Di sana para pekerja Papanya yang menjaga. Akses air bersih juga mudah. Ada toilet juga, tak perlu bersusah-payah untuk keperluan mandi dan buang air. Mayang mengangguk setuju, ia akan bilang Papa dulu.
Bima datang dan masuk kelas tepat setelah bel berbunyi. Tak lama kemudian, guru datang.
Sepanjang pelajaran, pikiran Mayang agak sedikit teralihkan. Ia ingin ikut camping. Belum pernah sebelumnya ia punya acara semacam ini dengan teman-temannya, pasti seru. Ia sudah biasa camping dengan Papanya. Mas Bima pasti menolak ikut. Ah, anak itu. Ia ingin Mas Bimanya ikut. Tapi acara itu di tempat Bagas, ada Bagas juga. Mas Bima pasti nggak mau, pikirnya.
Saat istirahat, Mayang mengajak Bima ke warung soto Pak Slamet. Bima mengantarnya.
"Naik motor atau jalan kaki?"
"Terserah Mas Bima."
"Yaudah naik kuda kalau gitu."
Mayang mendengus kesal. Bima tertawa. Mereka berjalan beriringan melewati lapangan basket. Mereka berpapasan dengan Bagas. Bima melirik sebal.
"Nanti di gerbang aku ngomong sebentar ya sama Pak Baron. Mayang tunggu sebentar."
Mayang mengangguk. Dari bawah pohon rindang itu Mayang melihat Bima dari kejauhan. Ia tampak berbicara serius dengan Pak Baron.
"Wah, boleh sih sebenarnya Mas. Cuma ada beberapa anak sini yang bawa mobil. Kebanyakan bawa motor sih. Itu di parkiran belakang, kayaknya bisa kok buat satu mobil lagi. Yang depan buat parkir Kepala Sekolah sama Guru dan staf."
"Emang muat berapa mobil, Pak?"
"Ya 5 paling banyak. Tapi cuma kadang-kadang penuhnya, Mas. Yang rutin bawa mobil terus paling Mas Bagas itu, sama anak kelas 11 ada 2 orang. Bisa kok, Mas."
Bima mengangguk cepat, berterimakasih pada Pak Baron dan berjalan ke arah Mayang yang sudah menunggunya.
"Kenapa Mas Bima?"
"Nggak apa-apa. Cuma nanya tempat parkir?"
"Ooh."
Langkah mereka semakin jauh dari gerbang. Menuju warung soto langganan mereka.
"Kata Mama kakinya udah enakan buat jalan. Tapi masih takut buat nyetir. Besok Bima bawa mobil ya. Mayang sama Bima pulangnya. Kata Mama kasihan kamu naik motor."
"Nggak papa naik motor. Mayang suka kok. Udah punya helm juga kemarin dikasih Mas Bima."
Bima tak keberatan sebenarnya, tapi ini permintaan Mamanya. Katanya Om Haris lebih tenang Mayang naik mobil. Udah percaya juga kalau Bima aman nyetirnya. Apalagi setelah mendengarkan penjelasan Pak Baron tadi. Malas sekali dia membayangkan akan bertemu Bagas di parkiran. Tapi Bima tiba-tiba tersenyum kecil. Ah, tapi dia pulang kan sama Mayang. Dia merasa menang. Pasti Bagas makin kesal.
"Mas Bima kenapa senyum-senyum?"
"Nggak apa-apa." Bima menjawab dengan cuek.
"Oh iya, Mas. Mas mau ikut camping nggak?"
"Camping?"
"Iya sama anak-anak kelas. Minggu depan. Susi tadi yang ngasih tau Mayang. Mau ya?" Mayang merajuk, mengalir lengan Bima.
"Camping dimana?"
"Di...Di situ. Deket kebun teh punya Papanya Bagas." Mayang terdiam, menunggu reaksi Bima.
Raut muka Bima berubah. Mayang merasakannya.
"Mayang mau ikut?"
"Kepengen. Nanti Mayang bilang Papa. Papa pasti ngasih izin kalau sama Mas Bima juga. Mayang belum pernah soalnya."
Bima hanya terdiam. Melanjutkan langkahnya. Warung soto semakin dekat, tinggal menyeberang jalan.
"Mau ya?"
Bima menggeleng. Mayang nampak kecewa. Keduanya memesan soto. Mayang makan dalam diam. Ia tahu Bima kurang suka sama Bagas. Bima tau anak itu pasti kesal dengan dia. Ia biarkan Mayang makan dengan tenang. Ia jadi tak selera makan.
Bima membayar pesanan mereka.
"Lagi berantem ya, Mas pacarnya? Diem-dieman mulu dari tadi?" Pak Slamet bertanya dengan nada bercanda.
"Iya tu, Pak. Ngambeg dia," Bima tertawa, Mayang makin mendelik kesal.
Mereka berjalan kembali menuju area sekolah. Tunggu, tadi Pak Slamet bilang pacar? Mayang mengingat-ingat. Tapi Mas Bima tak menyangkalnya. Ia cuma bilang kalau Mayang sedang mengambeg. Tiba-tiba ia merasa ada kupu-kupu beterbangan dalam perutnya.
Mayang berjalan pelan di belakang Bima. Bima berhenti mendadak. Mayang menabraknya.
"Aduh."
Bima tertawa. Ia gandeng tangan gadis itu. Mayang tak menolaknya, walaupun hatinya masih sedikit kesal.
"Ayo. Kalau marah nanti Mas Bima tinggal pulang. Gimana coba nanti Mayang mau pulangnya."
"Naik angkot," Mayang menjawab ketus.
"Emang Mayang tau naik angkot yang mana? Nomer berapa?"
Mayang menggeleng. Lalu tertawa. Bodohnya. Bima ikut tertawa sambil mengacak-acak rambutnya.
Satu jam pelajaran sebelum pulang, kelas kosong. Pak Bahri berkepentingan dan harus meninggalkan kelas. Anak-anak hanya diberi tugas tambahan. Bima dipanggil ke studio sekolah, Guru Kesenian memintanya untuk membantu memasang alat di studio musik.
Susi menghampirinya, ia duduk di kursi Bima. Mereka asyik mengobrol. Tiba-tiba Susi bertanya, "Mayang sama Bima pacaran ya?"
Mayang tersentak. Mukanya merah padam. Bingung hendak menjawab apa. Hanya gelangan kecil. Bagas di kursi seberangnya, diam-diam mendengarkan.
Ia alihkan perhatian Susi yang sedang asyik menulis. "Mayang kayaknya nggak ikut camping deh."
"Kenapa? Yah, sayang banget dong. Ayolah ikut. Kenapa sih?" Susi membujuknya
"Soalnya Mas Bima nggak mau."
"Emang kenapa kalau Bima nggak mau?"
"Ya nggak papa sih. Tapi kalau Mas Bima ikut, kayaknya Papa lebih gampang ngizinin. Coba nanti Mayang tanya Papa dulu."
Jam pelajaran telah usai. Mereka semua mengemasi tas mereka dan berhamburan keluar kelas. Mayang menunggu di kelas, ia keluar belakangan. Bima bilang tunggu sebentar, ia masih di ruangan musik.
Bagas merasa mendapat kesempatan. Dilambat-lambatkannya mengemasi buku. Lalu menunduk pura-pura membenarkan tali sepatu. Sampai di kelas hanya ada dia dan Mayang.
"Hei," Bagas berkata gugup. Mayang tersenyum ke arahnya.
"Mmm...Bagas mau nanya tentang..." kata-katanya tersendat. Ia mulai ragu. Kalau nggak dibalas berarti, ah. Coba Bagas ngomong langsung, pikirnya.
Selama ini Mayang bersikap biasa saja padanya. Mayang tersenyum padanya tiap kali mereka tak sengaja berpapasan atau bertemu pandang. Ah tapi, Mayangnya ini senyum kepada siapapun. Memang perangainya begitu.
"Tentang surat..." Lalu perkataan Bagas terpotong. Bima berdiri di depan pintu kelas. Lalu tergesa mengambil tasnya di kursi sebelah Mayang. Tadi Mayang sudah mengemasinya.
"Ayo, pulang. Mama udah nungguin kita," Bima berkata agak keras. Sengaja agar Bagas mendengar.
"Bentar dulu. Surat apa, Gas?" Mayang menatap Bagas penasaran.
Bima menarik tangannya. "Ayo, pulang."
"Nggak, nggak jadi," Bagas menggeleng cepat. Dia masih terduduk di kursi kelasnya, melihat Mayang dan Bima hilang dari pandangan.
Dalam hatinya mengumpat kesal. Ah anak itu. Berandalan. Ia menduga-duga. Bima dan Mayang seakrab itu. Dari obrolan Mayang dengan Susi tadi, seolah orang tua mereka akrab sekali. Dan Bima bilang barusan Mamanya nungguin mereka. Ah, Bagas semakin kalut.
Tapi kepindahan mereka di sekolah juga tidak bersamaan. Apa mungkin mereka saudara jauh? Pikirannya menjalar liar. Ia terus menduga-duga.
Ia merasa, Bima sengaja mengahalang-halanginya untuk menanyakan surat itu pada Mayang. Ah, apa mungkin Bima yang...
"Dar..." Bagas memukul meja dengan keras.
Benar, mungkin saja surat itu diambil Bima. Ia membanting pintu mobilnya dengan penuh amarah. Ia melaju kencang meninggalkan area sekolah. Beberapa kilometer setelah itu, ia melihat motor Bima dari jauh. Ada Mayang di boncengan belakangnya, memeluk pinggang Bima dengan erat. Mereka tampak asyik mengobrol sambil tertawa-tawa. Bagas makin kesal melihatnya.
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹