"Kenalkan dia pacarku!"
Tasya menghadiri pesta pernikahan temannya, dia tidak tau jika kedatangannya kepesta tersebut hanya untuk di permalukan oleh sang mempelai wanita yang tak lain orang yang mengundangnya.
Saat pesta itu berlangsung, tiba-tiba ada seorang pria tak di kenal menarik tangannya, pria kaya yang tampan membawanya kehadapan pasangan pengantin baru.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia di Perkenalkan sebagai pasangan pria tidak di kenal tadi.
Bagaimana kelanjutannya? silahkan baca yah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon israningsa 08., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menariknya Masuk Kedalam Kamar
Leon makan dengan sangat tenang, bahkan suara gesekan antara sendok dan piringnya nyaris tak terdengar, begitu pula dengan Rendi.
Sementara Tasya yang selalu merasa terus di pantau oleh Leon mulai sedikit risih, ayam yang tadi di berikan oleh Rendi sama sekali belum di sentuhnya.
Padahal dalam hati, jika saja Leon tidak ada mungkin dia akan langsung melahapnya hingga tersisa tulang, "Sya... Kenapa tidak makan ayamnya? Ohh apa perlu aku membantumu menyisahkan tulang dan dagingnya?" Rendi menawarkan diri.
"Ti-tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri kok! Kau makan saja!" Tasya melambaikan tangannya cepat menolak, "Kalau begitu makan ayamnya!"
Meskipun Ragu, tapi demi ucapan Rendi Tasya segera memegangi pangkal paha ayamnya, dalam beberapa gigitan paha ayam tersebut tinggallah sebuah tulang, "Em... Lihatlah Rend, aku sudah menghabiskan satu, jadi kamu juga makanlah, ayam gorengnya sangat enak!" ucapnya tersenyum kikuk menunjukkan sisa tulang tersebut di hadapan Rendi.
"Padahal ayam itu akan jauh lebih enak kalau aku yang memisahkan dagingnya!" Ia merajuk cemberut, Tasya ingin sekali menertawakan wajah gemas Rendi tapi dia ingat jika Leon masih ada di antara mereka.
"Rend! Kakak sudah selesai, kalian makanlah, aku mau kembali ke kamar sekarang!" pada saat itu Leon berucap setelah mengelap sudut bibirnya dengan tissue, "Kalau begitu aku akan membantumu kak!" Rendi berdiri, ia berniat ingin mendorong kursi roda kakaknya menuju kamar.
"Tidak usah! Kau makanlah dengan Tasya, kakak pergi dulu!" pamitnya, ternyata Kursi roda milik Leon memiliki remot kontrol, sungguh canggih tinggal menekan remot tersebut Kursi roda itu mulai berjalan, dan anehnya Tasya baru kali ini melihat itu.
"Sejak kapan kursi roda kak Leon punya remot? Kenapa aku baru tau? Tapi bodoamatlah... Lebih baik kak Leon segera pergi atau perutku tidak akan kenyang!" katanya mengacuhkan
Ketika pintu kamar Leon terdengar tertutup.
Tasya mulai leluasa untuk makan, Rendi sampai keheranan melihat sikapnya, "Jangan buru-buru Sya, nanti kalau kamu keselek bagaimana?"
Tasya tak perduli ucapan Rendi, ia hanya fokus menyendok dan memasukkannya kedalam mulut, hingga rongga mulutnya terasa penuh.
"Pelan-pelanlah Sya, tidak ada yang berebut makanan denganmu!" Pintanya malah di balas sebuah jempol dengan anggukan kepala beberapa kali sambil menguyah makanan dalam mulutnya.
Rendi menepuk jidatnya menyerah mengendalikan Tasya, "Hm... Makanlah Sya, makan apapun yang kamu mau! Tapi jangan salahkan aku kalau kau.... "
Arghh....
Suara sendawa Tasya memotong pembicaraan Rendi, pria itu kembali menepuk jidatnya, "Tidak bisakah kau jaga imej di depanku sebagai seorang perempuan?" imbuhnya.
"Heheh... Mohon maaf, di depan makanan aku benar-benar sulit mengontrol diri, apalagi menjaga imej... Ohh rasanya tidak mungkin!" jawabnya santai.
"Kau ini, ahh sudahlah... Aku juga sudah kenyang!" Rendi berdiri dari kursinya, "Aku juga!" Tasya menyeka ia mengambil piring kotor milik Rendi dan Leon lalu menumpukya.
"Apa yang kau lakukan?" Rendi mengeryit, "Aku mau membersihkan mejanya lalu mencuci piring, kau pergilah... Ku lihat tadi laptopmu menyala jadi aku mematikannya, kau pasti sangat sibuk ya?"
"Iya, pekerjaan kantorku sangat banyak, mungkin sebentar aku akan lembur, ahh tunggu... Kau bilang apa tadi? Mau mencuci piring? Tidak boleh!" Rendi memegang kedua tangan Tasya.
"Bibi... Bi.... " Panggil Rendi, "Iya tuan muda ada apa?" Bibi yang ia maksud datang dari arah belakang, "Kami sudah selesai makan!" jawab Rendi, "ahh iya tuan! Saya mengerti!"
Pembantunya itu mengambil tumpukan piring di hadapan Tasya yang tadi ia tumpuk, "Ehh Rend, lepaskan tanganku! Kau ini apa-apaan, aku ingin membantu bibi mencuci piring!" rontahnya meminta.
"Tidak boleh, tanganmu sudah kasar! Jadi kau tidak di perbolehkan mencuci piring! Biar bibi saja!" tegasnya, "Aku akan memakai sarung tangan, jadi jangan khawatir, aku juga tidak akan langsung mati hanya karena memiliki tangan yang kasar kan?" Tasya menyela ucapa Rendi, ia memutar bola matanya dengan ucapan konyol si pemilik rumah.
"Tetap tidak! Ayo sekarang ikut aku!" Rendi menariknya berjalan menuju kamarnya, Tasya ingin merontah dan melepaskan diri tapi entah kenapa tubuhnya tak mau melakukan keinginnnya.
Saat mereka berdua berada di dalam kamar Rendi menutup pintunya rapat-rapat sembari melepaskan tangan Tasya, "Ada apa? Kenapa kau membawaku ke kamarmu? Ka-kau jangan macam-macam ya Rend! Aku tidak segan-segan melapor polisi jika kau melakukan sesuatu padaku!" cerocos Tasya terdengar ketakutan mundur beberapa langkah agar menjauh dari Rendi.
"Pufhh... Hahah apa yang Sebenarnya kau fikirkan Sya? Memangnya aku akan melakukan apa padamu?" Rendi tertawa dengan keras menertawakan gelagat anehnya, "Terus kau menarikku kesini untuk apa?" tanyanya meminta jawaban yang lebih spesifik.
"Malam ini aku akan begadang! Jadi aku memintamu menemaniku!"
"Hah? Begadang? Why me?" keluh Tasya menunjuk dirinya sendiri.
"Why not?" Jawab Rendi mengedikkan kedua bahunya bersamaan, "Ayo duduklah... Kau bisa melakukan apapun selama kau tidak keluar dari kamar ini, ahh aku juga punya beberapa buku novel! Tunggu sebentar aku akan mengambilnya untukmu!"
Rendi berjalan munuju sebuah laci, ia membukanya dan mengeluarkan beberapa buku novel dari dalam laci tersebut dan meletakkannya di atas meja.
Tasya masih ragu tapi kakinya tidak bisa menolak apalagi dia sangat suka membaca novel, "Ini... Ini kan novel fantasi! Apa tidak ada novel bergenre romantis?"
Rendi yang kini duduk sambil menyalakan laptopnya menggelengkan kepala, "Kalau itu aku tidak punya, aku mengoleksi novel itu saat masih kuliah, kalau kau tidak mau membacanya juga tidak apa-apa!" balas Rendi.
"Ehh aku bisa mencoba membacanya siapa tau novelnya seru! Kamu kerjakan saja pekerjaanmu!" Kata Tasya, "Kalau boleh... Aku mau merekomendasikan novel yang menurutku bagus, siapa tau kau juga menyukainya! Ahh yang ini.... " Rendi menunjukkan sebuah novel padanya, "Benarkah? Kalau begitu aku akan membacanya sekarang!"
"Tunggu sebentar, karena kita mau begadang bersama aku akan mengambil minuman dan makanan untuk menemani kita, kau tunggu sebentar yah.... "
Rendi keluar dari kamarnya meninggalkan Tasya yang mulai membuka halaman pertama dari novel yang Rendi rekomendasikan.
Tapi bukannya fokus membaca, Tasya sempat berfikir, "Dia adalah pria yang perhatian! Sangat baik juga tapi Nadya kenapa sangat bodoh menyia-nyiakan laki-laki seperti Rendi?"
di awal mh sikap lu jutek bnget sumpah ehh skrg cereewett minta ampun🤣🤣🤣
kn ktanya lg pda jd TKI ga pulg2
orng tua Rendi trllu egois
Rama belum kenal betul sifat dan kelakuan Nadya
Leon aneh.....