NovelToon NovelToon
Tania (Tatapan Tanpa Rasa )

Tania (Tatapan Tanpa Rasa )

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:557.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Komalasari

Membaca novel ini, bisa menyebabkan shampo di rumah cepat habis.

Kehidupan Natahania berubah total setelah diperistri Elang Adhitama Gunardi, pria yang merupakan pemilik rumah tempatnya bekerja. Nathania yang polos, harus bisa mengimbangi gaya hidup Elang yang jauh berbeda dengannya. Dia kebingungan menentukan rasa, yang tak pernah Elang tunjukan dengan jelas. Kecewa, Nathania memutuskan pergi.

Apa yang Nathania lakukan berhasi membuat Elang sadar. Pria itu berusaha mencari dan membawanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kakak Beradik Irlandia

Nathania masuk ke dalam mobil Elang dengan wajah kesal dan cemberut. Ia tidak suka dengan keputusan Elang yang diambil secara sepihak itu.

Sementara Elang, setelah melewati tatapan para emak yang melihatnya seolah-olah ia adalah seorang aktor sinetron yang terkenal itu, ia pun mengikuti Nathania masuk ke dalam mobil.

Nathania memasang wajah cemberut.

Elang tidak mempedulikannya. Ia pun menyalakan mesin mobilnya, dan mobil mewah itupun melaju dengan gagahnya meninggalkan tempat itu.

Di sepanjang perjalanan, Nathania hanya terdiam. Ia semakin benci saja pada pria yang tengah fokus dengan kemudinya itu. Pria itu memang selalu seenaknya dengan kehidupan orang lain.

Nathania berkali-kali mengeluh kesal. Namun Elang masih bersikap tak acuh padanya. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah butik mewah. Elang pun mengajak gadis itu untuk turun.

Kembali menggenggam pergelangan gadis itu, ia mengajak Nathania masuk.

Suasana di dalam butik itu sangat nyaman, benar-benar nyaman. Sebuah ruangan yang didominasi dengan warna baby pink.

Ada beberapa gaun cantik yang terpajang disana, baik yang dipasangkan pada manekin, ataupun yang memang sengaja digantung saja.

Ini pertama kalinya Nathania masuk ke dalam sebuah butik, apalagi butik mewah seperti itu.

Tidak berselang lama, seorang wanita cantik dengan penampilan modisnya datang menghampiri mereka berdua. Tanpa rasa canggung, ia pun mencium pipi kiri dan kanan Elang dengan hangatnya. Wanita cantik itu terlihat sudah kenal akrab dengan Elang. Dan usia merekapun sepertinya tidak terlalu jauh.

Jika saja mereka adalah pasangan kekasih, maka wanita itu sangat cocok bersanding dengan Elang.

Nathania berusaha untuk tidak mempedulikan hal itu. Lagipula ia tidak peduli dengan apapun atau siapapun yang berhubungan dengan pria bernama Elang Adhitama Gunardi itu.

"Masa bodoh," gumamnya dalam hati.

Nathania menyibukan dirinya dengan melihat-lihat barang-barang yang terpajang disana.

Semuanya tampak sangat cantik dan berkelas.

"Tania," panggil Elang.

Nathania pun menoleh. Elang mengisyaratkan agar ia mendekat. Nathania pun menurut saja.

"Kenalkan ini Mariana. Dia pemilik butik ini," Elang dengan sedikit senyuman di wajahnya.

Nathania pun tersenyum kepada wanita yang ditunjuk Elang tadi. "Nathania," ucap Nathania seraya menyambut uluran tangan wanita bernama Mariana itu.

"Kamu ikut Mariana. Dia akan membantumu," suruh Elang.

Nathania melirik pria itu untuk sesaat, sebelum akhirnya gadis itupun mengikuti Mariana kebagian dalam butik.

Elang pun memilih untuk duduk di sofa berwarna baby pink itu. Ia mulai memainkan ponselnya. Memeriksa beberapa pesan. Ada sederet pesan dari sang adik Nastya. Gadis itu memberondongnya dengan banyak sekali pertanyaan. Meskipun gadis itu tahu, jika Elang saat ini ada di apartemennya.

Elang pun membalasnya dengan mengatakan jika ia akan pulang sebentar lagi.

Namun, dengan segera Elang mengabaikan layar ponselnya. Kini tatapannya tertuju pada gadis yang barusaja muncul dari bagian dalam butik itu.

Sesaat lamanya, Elang tertegun melihat Nathania yang tengah berdiri dengan dress panjang berwarna gold. Gadis itu tampak sangat cantik. Tubuh semampainya terlihat semakin indah dengan dress panjang itu.

Tali kecil di pundak Nathania membuat Elang tersenyum. Natahania pun berbalik dan memperlihatkan bagian belakang dress itu. Ternyata itu adalah backless dress.

Nathania pun menutupi punggungnya dengan tangannya. "Aku takut masuk angin," ucap gadis itu polos.

Mana mau ia memakai gaun seperti itu dihadapan orang banyak. Ia harap Elang pun tidak akan menyuruhnya untuk memakai gaun seperti itu.

"Ini sangat cocok dengan bentuk tubuh calon istrimu, Elang," ucap Mariana.

Elang menggeleng. "Carikan yang lain!" jawab Elang dengan kalemnya. Ia pun rupanya tidak suka dengan model gaun seperti itu.

"Oke," jawab Mariana. Ia tidak mau membantah pria itu. Ia pun kembali membawa Nathania masuk.

Sementara itu, Elang kembali pada ponselnya.

Tidak berselang lama, Nathania kembali hadir disana dengan gaun berwarna merah. Gaun yang panjang menjuntai hingga ke lantai.

Elang menyuruh Nathania untuk berbalik. Bagian depan belakang normal. Elang pun tersenyum. Tetapi senyumnya seketika hilang ketika melihat Nathania berjalan dengan gaun itu. Bagian bawah gaun itu terbelah sangat tinggi, bahkan hampir seluruh paha gadis itu dapat terlihat dengan sangat jelas.

Elang harus berfikir 5 kali jika ingin membelikan gaun seperti itu untuk Nathania. Pria itupun menghela nafas panjang.

"Kamu tidak punya gaun yang lebih normal, An?" Elang mengerutkan keningnya. Ia pun menggaruk keningnya berkali-kali.

Mariana tampak berfikir. Sedangkan Nathania, ia tidak pernah melihat Elang merasa bodoh seperti itu. Dan itu tampak lucu baginya.

"Ada satu. Aku yakin kamu pasti suka. Ayo, Tania kita coba lagi!" ajak wanita cantik itu. Nathania kembali mengikuti Mariana ke dalam.

...🍀🍀🍀...

Menjelang sore, Elang baru mengantarkan Nathania kembali ke apartemennya.

Ia meletakan papper bag berwarna merah muda itu di atas meja.

Totalnya ada sekitar 4 buah papper bag.

Nathania hanya berdiri ketika pria itu menghampirinya. "Aku pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik. Nastya dari tadi terus saja mengganguku," keluhnya dengan sedikit jengkel.

Elang tampak sangat menyayangi gadis menyebalkan itu.

Nathania pun mengangguk pelan. Dan lagi-lagi, gadis itu hanya terdiam ketika Elang kembali menyentuh bibir merah mudanya.

"Jangan lupa makan!" ucap Elang setelah 10 detik berlalu. Nathania hanya mengangguk. Ia menatap kepergian pria itu yang kini telah menghilang dibalik pintu lift.

Sekitar 25 menit diperjalanan, akhirnya Elang pun sampai di istana megahnya. Ia memarkirkan mobil double cabinnya dan melemparkan kunci mobil itu kepada sang sopir pribadi. Pria berusia sekita 30 tahunan yang akan memasukan mobil itu ke dalam garasi.

Sementara Elang langsung masuk ke dalam rumah.

Sejenak terdengar teriakan Aida. Seperti itulah dia setelah Nathania pergi dan kini dia dirawat oleh orang lain.

Elang pun tidak mau ambil pusing. Ia segera menuju keruang kerjanya.

Duduk di belakang meja kerja, ia pun menghubungi Nastya yang saat itu ada di dalam kamarnya. Elang menyuruh gadis itu untuk datang keruang kerjanya.

Tidak berselang lama, Nastya pun masuk.

Gadis itu nuncul dengan wajah nakalnya dan menggoda sang kakak. Ia merasa geli, jika membayangkan sang kakak yang baru pulang dari apartemennya itu.

"Kakak sudah mandi?" tanya Nastya. Ia sebenarnya sedang menggoda Elang.

Elang tidak menjawab. Sepasang mata itu mengisyaratkan agar sang adik tidak macam-macam dengnnya. Ia tahu jika Nastya tengah menyindirnya.

Nastya pun tertawa renyah.

"Duduklah, Kakak ingin bicara serius denganmu!" perintah Elang dengan tenangnya. Sikapnya yang kalem membuat Nastya selalu terpesona dengan kakaknya yang satu ini.

"Ada hal penting apa, Kak?" tanya Nastya. Ia tampak sangat penasaran.

Elang tidak langsung menjawab. Ia lalu beranjak dari meja kerjanya dan menghampiri sang adik. Gadis itu menyambutnya dengan sebuah senyuman.

"Ini hal yang sangat penting. Dengar Kakak sudah memutuskan untuk menikah," ucap Elang tanpa berbasa-basi lagi.

Itulah Elang. Ia cepat, tegas, dan tidak suka bertele-tele.

Nastya terbelalak kaget. Akan tetapi ia kini tersenyum lebar.

"Sungguh? Ini berita bagus, Kak," jawabnya dengan wajah bahagia.

Memang sudah sejak lama ia ingin seorang kakak perempuan. Intensitas bertemu yang sangat jarang dengan sang ibu, membuatnya merindukan sosok seorang wanita dewasa yang akan menemaninya berbagi segala hal. Ia sudah membayangkan hal itu sejak lama.

"Kakak akan menikah lusa," ucap Elang lagi.

Nastya mengernyitkan keningnya. Ia pun tertawa renyah.

"Ada yang lucu?" tanya Elang.

"Pernikahan seperti apa yang disiapkan dalam jangka waktu sesingkat itu? Kakak ini ada-ada saja," Nastya mengibaskan tangannya di depan Elang. Ia yakin jika Elang sedang mengajaknya bercanda saat itu.

"Kita lihat saja lusa. Kakak harap kamu bisa menerima pernikahan Kakak dengan baik," ucap Elang dengan yakin. Ia menatap serius kepada Nastya.

Nastya sudah sangat mengetahui setiap arti dari tatapan mata sang kakak, karena itu ia pun kini mulai bersikap serius.

"Tentu saja. Aku pasti akan menerimanya dengan senang hati. Lagipula, sudah lama aku ingin punya seorang kakak perempuan," jawab Nastya dengan yakin.

"Baguslah, Kakak suka jawabanmu," ucap Elang masih dengan gayanya yang kalem.

Untuk sesaat Nastya terdiam dan berfikir. Dan beberapa saat kemudian ia pun kembali berkata.

"Jadi, siapa wanita yang beruntung menjadi kakak iparku itu? Mariana? Vivian? Widya? Atau ... siapa?" tanya Nastya penasaran.

Elang menarik nafas panjang. Tatapannya lekat kepada sang adik yang bermata kebiruan itu. Ia tahu, jika Nastya pasti tidak akan menyukai jawabannya kali ini.

"Nathania ...." jawab Elang dengan tenangnya.

Seketika mata kebiruan itu terbelalak dengan sempurna. Si pemiliknya benar-benar terkejut dan tidak percaya dengan jawaban yang didengarnya barusan.

"Apa maksud, Kakak? Jangan bercanda! Aku bertanya dengan serius," Nastya tidak percaya dengan jawaban sang kakak.

Elang tersenyum simpul. Tatapannya masih tertuju kepada sang adik.

"Ini serius. Kakak akan menikahi Tania. Tania yang kamu kenal itu," tegas Elang. Ia meyakinkan Nastya jika ia sangat serius saat itu.

Nastya pun berdiri dengan tatapan tajam yang ditujukan kepada sang kakak yang masih terlihat tenang.

"Kegilaan macam apa ini? Kakak sudah tidak waras jika benar-benar melakukan hal itu. Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak suka dan tidak akan pernah menerima gadis udik dan norak itu untuk menjadi kakak iparku! Aku tidak mau!!" tolak Nastya dengan sangat tegas.

Ia pun berniat untuk keluar dari ruang kerja Elang. Akan tetapi, dengan segera Elang mencegahnya.

"Perbincangan kita belum selesai, Nastya. Jadi, kemari dan duduklah! Ini perintah," Elang dengan sikapnya yang tegas namun masih terlihat tenang dan kalem.

Nastya pun menoleh. Wajahnya tampak tidak bersahabat. Ia tidak seceria tadi.

Elang pun bangkit dari duduknya dan menghampiri gadis itu. Ia berdiri tepat dihadapan gadis itu.

"Keputusan Kakak sudah bulat. Kakak akan menikahi Tania lusa. Kakak berharap kamu bisa menerima hal itu dengan baik," ucapnya dengan sangat tenang.

"Kenapa, Kak? Kenapa harus gadis itu? Aku tidak mengerti bagaimana Kakak bisa berfikir segila ini?" Nastya masih menolak keputusan Elang untuk menikahi Nathania.

"Kamu tidak harus mengerti. Kamu hanya cukup menerima dan menyetujuinya," jawab Elang.

"Tetapi kenapa harus Tania? Jangan bilang jika Kakak sudah menghamili gadis itu!" celetuk gadis berwajah bule itu.

Bukannya marah, Elang justru tersenyum lebar mendengar celetukan adiknya itu. Ia pun hanya geleng-geleng kepala.

Nastya mendengus kesal. Ia tidak percaya jika Nathania si gadis yang selalu ia ganggu itu, kini akan menjadi calon kakak iparnya.

Bagaimana mungkin? Itu artinya kini Nathania ada dalam perlindungan Elang, dan tentu saja Nastya harus memperlakukannya dengan baik dan hormat. Sama seperti ia menghormati kakaknya, Elang.

Nastya masih tidak percaya dengan semua ini. Bahkan malam itu, ia sampai tidak bisa tidur karena memikirkan rencana pernikahan Elang dan Nathania yang sangat mendadak itu.

Jam dinding sudah menunjukan pukul 23.30 malam. "Dean pasti sudah tidur," gumam Nastya dalam hati. Ia pun mengurungkan niatnya untuk menghubungi kekasihnya yang kurang perhatian itu.

Terus memainkan telunjuknya pada layar ponsel itu, hingga akhirnya ia berhenti pada kontak bernama "Makaroni." Nastya tersenyum. Ia pun mengetik sebuah pesan.

Hei, Makaroni. Sudah tidur?

Tidak butuh waktu lama untuk menerima balasan dari seberang sana.

Belum. Aku sedang menonton sepak bola. Ada apa menggangguku malam-malam begini?

Nastya tersenyum. Ia pun kembali membalas pesan itu.

Aku tidak bisa tidur. Besok kamu tidak sibuk, kan? Bagaimana kalau kita keluar?

Tidak berselang lama, balasanpun masuk.

Tanyakan pada kakakmu, dia selalu memberiku pekerjaan secara mendadak.

Lagipula, pak Elang akan menikah lusa, kan?

Nastya mengerutkan keningnya. Roni mengetahui rencana pernikahan Elang dan Nathania? Ah, tentu saja. Pria itu adalah orang kepercayaan Elang, sudah pasti ia mengetahuinya.

Nastya pun memutuskan untuk menghubungi Roni secara langsung.

Awalnya, Roni menolak panggilan darinya. Tetapi pada panggilan kedua, ia menjawabnya.

"Ada apa? Aku sedang menyeduh kopi. Gara-gara kamu, tanganku jadi terkena air panas," keluh Roni dari seberang sana.

Mendengar hal itu, Nastya malah tertawa cekikikan. "Pantas saja kamu tidak menjawab telepon dariku. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Nastya setengah berbisik. Ia tahu jika Elang ada di ruang kerjanya.

Kebetulan ruang kerja Elang berada tidak jauh dari kamarnya.

"Ada apa? Jangan tanyakan tentang diskon padaku, karena aku tidak tahu," gurau Roni diselingi tawa pelan. Pria itu tahu jika Nastya merupakan seorang shopaholic.

"Diam kamu! Aku serius, aku ingin bertanya tentang rencana pernikahan kakakku," jawab Nastya dengan harapan Roni bersedia memberitahunya sesuatu yang penting dari alasan Elang untuk menikahi Nathania.

Akan tetapi, Roni adalah orang kepercayaan Elang. Mulutnya terkunci untuk hal-hal yang penting dan dianggap sebagai privasi oleh sang Tuan Besar. Meskipun itu dihadapan Nastya sendiri yang merupakan adik kesayangan Elang.

"Apa yang ingin kamu ketahui? Tidak ada hal yang penting," jawab Roni mencari aman.

"Jangan bohong kamu! Aku yakin kamu pasti mengetahui sesuatu. Kenapa kakakku sampai memilih Nathania untuk menjadi calon istrinya. Padahal setahuku ia memiliki banyak sekali kenalan wanita yang jauh lebih segalanya dibandingan dengan si udik itu," gerutu Nastya.

Terdengar Roni tertawa lepas di ujung telepon sana. Entah apa yang ia rasa lucu, tetapi itu sudah membuat Nastya semakin kesal dibuatnya.

"Heh, makaroni! Apanya yang lucu? Aku serius kali ini. Aku yakin kamu pasti mengetahui sesuatu," gerutu Nastya lagi.

Roni pun menghentikan tawanya. Ia meneguk kopi itu dua kali.

"Dengar, Nastya. Terima saja keputusan pak Elang, karena meskipun kamu bersikeras untuk menolaknya ... itu hanya akan membuatmu lelah. Kamu tahu sendiri bukan seperti apa watak pak Elang?" Roni dengan tatapan serius kearah televisi. Sesekali ia merasa gemas dengan permainan sepak bola yang sedang ditontonnya.

Sementara Nastya hanya terdiam. Ia memang sangat tahu watak Elang. Apapun yang sudah menjadi keputusan Elang, maka itu adalah suatu kepastian yang tidak dapat diganggu gugat lagi oleh siapapun. Elang adalah sosok kuat yang tak terkalahkan.

1
Cassie
bagusss bangettt💫🎉🥀😻💃🤍😍💐🌺🌷🌹💋🌻😘🫂🔥❤️‍🔥
Lusy Purnaningtyas: banyak banget emotnya... 😂
total 2 replies
Rahmawati
bagus banget
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih, Kak
total 1 replies
Widi Yanti
keren
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih, Kak 🥰
total 1 replies
ilyas Baihaqi
Luar biasa
Titik pujiningdyah
makaroni I missssssyouuuuuu
Titik pujiningdyah: tiba2 kngen aj sama elang
total 2 replies
Henym
Luar biasa
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih, kak
total 1 replies
dewi andarini
terima kasih untuk cerita nya.
semangat selalu dalam menulis
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih juga sudah mampir. Jangan lupa baca juga cerita yang lain, kak
total 1 replies
dewi andarini
dari banyak cerita di novel... jarang yg buat irisan bawang lumer dimata ku.
cerita ini bikin baper banget
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Aduh, terima kasih, kak. Silakan lanjut
total 1 replies
dewi andarini
kok jadi tiba2 ada bawang dimata
dewi andarini
ceritanya bikin baper
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih, kak
total 1 replies
rindu rindu
widih end deh.. walaupun baru baca tp puas sm ceritanya, tiap baca bikin nyeri badan, nyeri hati juga senyum2 sendiri.. ohhhh othor kau buat diri ku selalu berdenyut nyut nyut nyut... ☺
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih, kak. Lanjut ke judul lain saja. Tak kalah seru
total 1 replies
rindu rindu
Wealah.. Rahman sama Titiek gak pake Puspa ajah... 🤣
rindu rindu
merinding cuy baca suratnya.. 😭😭
rindu rindu
ya Tuhan, Roni sadis.. masaklah ke tukang jagal... 🤣🤣🤣
rindu rindu
bandung sdh kayak jakarta ye.. macet syelaluhhh
rindu rindu: bukan sih.. saya di bekasi tp kl ke Bandung.. euhhh macet parah, susah cari lahan parkir juga.
total 2 replies
rindu rindu
si othor lagunya, lagu2 jaman ku dulu, kirain cerita nya thn 97..hihii
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Sama, kak. Saya juga tua😂
total 3 replies
rindu rindu
ceritanya sedih banget, nyeri dan ser2an perasaan bacanya, tapi seru bikin merinding dan penasaran.
rindu rindu
ga usah dipikirin Tan, yg penting udah dah jd istrinya, masa depan menanti, masa lalu hanya jd kenangan. tinggal jd istri yg baik aja biar Elang makin cintrong
Anita noer
itu actor thailand y thor
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Bukan, kak. Itu Takeshi Kaneshiro
total 1 replies
rindu rindu
boddo bgt si cuy
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!