Apa jadinya jika saat acara reuni SMA engkau berjumpa kembali dengan seseorang yang dulu pernah engkau sukai? Akankah mengungkit dan mengungkap kembali segala rasa dan kenangan yang perbah ada?
Mas Han, lelaki sholeh dan baik hati begitu mencintai istrinya, Mawar. Hidup berbahagia dalam biduk rumahtangga, meski belum dianugerahi seorang anak. Namun sayang, kebahagiaan itu harus berakhir, ketika diketahui bahwa dia mengidap tumor otak. Dari hasil scaning baru disadari bahwa tumor yang bersarang di kepalanya itu juga menyerang hormon kedlsuburannya. Sehingga menyebabkan Mas Han selamanya tidak akan pernah bisa memiliki keturunan.
Johan, seorang lekai tampan yang memiliki wajah mirip bintang film Bollywood Amir Khan. Pengusaha sukses memiliki tiga orang istri. Meski telah menikah ketampanannya tetap memikat hati kaum hawa. Sehingga tak heran dia selalu dipuja dan digilai banyak perempuan.
Siapa sangka dalam acara reuni SMA, Johan dan Mawar kembali dipertemukan. Ternyata sedari dulu, Johan sudah menyimpan rasa cinta kepada teman sekelasnya, Mawar. Tak ingin kecolongan kali kedua, Johan kembali menyatakan cinta dan berniat menikahi Mawar. Akan kah Mawar menerima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafri Yanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Bulan Madu
Pagi ini aku terbangun, saat mendengar suara telepon Johan berdering di atas nakas. Kulihat lelaku itu, tengah terbaring pulas. Wajahnya terlihat tenang dan damai. Rona kebahagiaan terpancar jelas pada senyumnya. Setelah menikmati madu cinta yang kami reguk bersama sejak tadi malam hingga pagi ini. Tentu saja, kami kembali memadu kasih setelah bersuci dan menunaikan sholat shubuh berjamaah. Karena lagi-lagi aku tak kuasa menolak rayuan mautnya yang memikat hati. Bersamanya, diriku serasa kembali menjadi gadis remaja yang tengah dimabuk cinta.
"Sayang ... bangunlah. Ada telepon, nih." Aku menggoyang tubuhnya pelan, menggodanya dengan memberi kecupan ringan di pipi. Sejenak Johan menggeliat lalu bangun, duduk di sampingku masih di atas ranjang.
"Assalamu'alikum." Johan mengucap salam setelah mengenggam teleponnya.
"Wa'alaikum salam ... kamu di mana, Mas?" Terdengar sahutan di seberang sana. Aku bisa mendengar percakapan mereka, karena Johan sengaja membesarkan volume androidnya.
"Aku sudah di Surabaya bersama Mawar. Oh, ya ... gimana kabarmu bersama anak-anak?" Johan bertanya sambil melirikku sekilas. Seakan ingin menenangkanku ketika dia sedang berbicara dengan Sekar, istri pertamanya. Aku tersenyum samar. Seketika muncul ide untuk menggodanya saat dia sedang asyik bertelepon dengan madu pertamaku itu.
Sengaja melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Menyurukkan wajah ke ceruk lehernya. Sesekali aku mengecup lembut dan mengelus pipinya. Kulihat Johan menggelinjang kegelian karena ulahku. Aku semakin tersenyum senang.
"Kapan kamu pulang ke rumahku, Mas?" Kembali terdengar pertanyaan balasan dari Sekar.
"Ehmm ... mungkin seminggu lagi. Soalnya aku mau bulan madu dulu dengan Mawar." Johan mengedipkan sebelah mata ke arahku. Tangan kokohnya mengelus-elus bahuku. Membuatku semakin mengencangkan pelukan kami.
"Bulan madu? Ke mana, Mas?"
"Ada, deh. Pokoknya kamu tunggu aja, ya. Seminggu lagi aku pulang ke rumahmu."
Setelah Johan mengakhiri percakapannya dengan Sekar. Dia kembali merebahkanku di ranjang, balas menggodaku dengan kecupan-kecupan gemas.
"Memangnya kita mau bulan madu ke mana, Yang?" tanyaku penasaran. Karena sebelumnya dia tak pernah membicarakan soal bulan madu kepadaku.
"Kamu maunya ke mana?" Dia balik bertanya seraya mengelus pipiku dengan punggung tangannya.
Sejenak aku termenung, bingung mau bulan madu ke mana. "Aku mau ke tempat yang sunyi, biar nggak ada orang yang mengganggu kita," usulku tersipu.
"Oke. Kalo gitu kita bulan madu ke pulau cinta, aja."
"Pulau cinta? Emang ada?" tanyaku heran.
"Ada, dong. Pulau cinta ... pulau kecil milik pribadi rekan bisnisku. Dia pasti senang bila aku mengunjungi pulaunya bersamamu, Sayang." Johan mencubit hidungku mesra. Dia semakin mengeratkan pelukan. Untuk kesekian kalinya kami kembali terbuai dalam amukan gelombang asmara.
--------
Setelah menempuh perjalanan laut selama dua jam, menjelang sore kami tiba di sebuah pulau kecil berpasir putih dengan air laut yang tenang. Nyaris tiada deburan ombak di sini. Di tepian dasar laut yang dangkal itu, terlihat jelas berbagai macam bentuk terumbu karang, dihiasi ikan-ikan kecil berwarna-warni di sela-selanya. Sungguh indah ... benar-benar pulau dengan pemandangan yang memukau.
"Kamu menyukainya?" bisik Johan tepat di telingaku. Ketika dia menggendong untuk menurunkanku menuju tepian pasir putih. Tersebab kapal boat yang kami tumpangi tak boleh bersandar di tepian pantai. Khawatir akan merusak terumbu karang. Supaya gamis yang kupakai tidak basah terkena air laut, Johan menggendongku turun dari kapal.
"Iya, aku suka," jawabku ikut berbisik, saat Johan menurunkanku dari gendongan.
Sejenak kami melepas lelah, duduk di pasir putih menghadap laut dengan matahari yang sebentar lagi akan tenggelam. Saat waktu magrib hampir tiba, kami memutuskan untuk segera memesan kamar.
Namun langkah kami terhenti saat seorang lelaki sebaya dengan Johan datang menyambut kami.
"Hai, Jo. Akhirnya kamu ke sini juga," sapanya ramah tersenyum riang. Kedua lelaki yang tampaknya sudah saling kenal itu tertawa bersama.
"Aku nggak nyangka ... pulaumu bagus juga," kata Johan sambil menjabat tangan si tuan rumah.
"Oh, ya. Ini Mbak Mawar, ya?" Lelaki yang memakai pakaian khas pantai itu menatapku sambil menganggukkan kepala. Aku pun ikut mengangguk.
"Iya, Dre. Kami baru saja menikah dan mau bulan madu di sini."
Kulihat sekilas Johan mengedipkan mata ke arah lelaki yang dipanggil Dre itu. Keduanya tertawa bersama.
"Wah, selamat, ya, Jo. Akhirnya kamu mendapatkan wanita impianmu. Oh, ya .... aku sudah menyiapkan kamar khusus untuk kalian berdua." Lelaki itu mengajak kami untuk masuk lebih dalam ke kawasan resort miliknya.
Kami menyusuri taman-taman indah. Bangunan di sini terlihat unik dan artistik. Dinding dan tiang bangunan lebih banyak menggunakan batang pohon kelapa. Juga beberapa kursi taman, semuanya menggunakan bahan dari kayu. Benar-benar menarik, aku menyukainya. Sepanjang jalan Johan selalu mengenggam tanganku mesra, sedang tangan satunya menyeret koper berisi pakaian kami berdua.
Setiba di sebuah home stay paling ujung, Dre menghentikan langkah. Menatap kami berdua penuh arti. Sepertinya home stay yang satu ini sengaja dibangun terpisah agak jauh dari bangunan home stay yang lain.
"Ini kamar kalian. Aku memilihkan kamar yang letaknya paling jauh. Agar tidak ada yang menganggu kesenangan pengantin baru." Dre tertawa kecil sambil menepuk pundak Johan pelan.
"Terima kasih, Dre. Kamu tahu saja apa yang aku mau." Johan ikut tertawa senang. "Bagaimana, Yang? Kamu menyukainya?" tanya Johan mengusik pandangan takjubku melihat sekeliling. Aku tersenyum simpul lalu mengangguk.
"Baiklah. Aku pergi dulu ... silakan nikmati bulan madu kalian." Dre menyerahkan kunci ke tangan Johan, lalu beranjak dari hadapan kami.
Setiba di kamar aku menghempaskan tubuh di ranjang. Rasanya ingin terlelap meski hanya sebentar. Perjalanan tadi terasa melelahkan tapi juga menyenangkan.
Johan meletakkan koper di sudut kamar. Kemudian ikut merebahkan dirinya di sampingku. Dia tampak selalu tersenyum senang, seolah merasa bahagia teramat sangat. Setelah bermalas-malasan sekejap, kami membersihkan diri lalu melaksanakan sholat magrib berjamaa'ah.
Aku dan Johan berjalan sambil bergandengan tangan menuju kafe untuk makan malam. Sepertinya si pemilik resort sudah menyiapkan makan malam yang romantis untuk kami berdua. Hatiku membuncah bahagia. Sedikit bergetar saat Johan menatapku mesra, sambil mengecup jari-jemariku yang ada dalam genggamannya. Persis seperti adegan-adegan film romantis di layar kaca. Sambil menanti hidangan, kami bercakap-cakap ringan. Tak sengaja ekor mataku melirik ke arah sepasang anak manusia yang tengah asyik bercumbu mesra.
"Jo ... lihat, tuh. Mereka nggak malu, ya, berciuman di tempat umum." kataku jengah. Sepasang kekasih itu seakan tak peduli dengan beberapa pasangan lain di sekitar mereka.
"Ssttt ... nggak usah usilin orang lain, ah. Toh, kita sudah beberapa kali melakukan yang lebih dari itu." Johan mengedipkan sebelah mata kembali menggodaku. Wajahku langsung menghangat malu.
"Iya ... tapi nggak harus di tempat umum kayak gini juga, kalee. Malu, dong, sama yang lain. Apa mungkin mereka bukan pasangan halal, ya?" Jiwa julidku mendadak muncul. Biasanya bagi pasangan halal alias sudah suami istri, pasti tak terlalu mengekspos kemesraaan mereka di tempat umum. Karena sudah biasa malakukannya di tempat yang lebih privat. Lain halnya dengan pasangan yang belum halal, dan sesekali berjumpa. Setiap ada kesempatan, mereka akan menyalurkan hasrat bercinta di mana saja. Tak peduli di tempat umum. Seakan dunia hanya milik berdua.
"Udah, deh, Yang. Nggak usah pedulikan orang lain. Sekarang kamu fokus ke aku aja, ya. Gimana ... apakah kamu bahagia setelah menikah denganku?"
Aku menunduk malu-malu. Rasa tak kuasa balas menatap tatapannya yang selalu melenakan perasaanku.
"Jo ... bukankah setiap rasa tak harus diungkapkan dengan kata-kata?" elakku lirih, mulai berkelit.
"Tapi aku butuh pengakuanmu, supaya aku lebih yakin bahwa kamu bahagia bersamaku." Johan tersenyum lembut.
"Hmm ... apakah kamu mengira aku tidak bahagia sekarang?"
"Sayang ... ayolah. Katakan sekali saja, bahwa kamu mencintaiku, please," rengeknya manja.
"Iya, Johan, Sayang. Aku mencintaimu, dan aku bahagia bisa hidup bersamamu selamanya."
Huft ... akhirnya kata-kata puitis sarat gombalan itu, meluncur juga dari bibirku.
"Kalo gitu, cium aku sekarang." Dia tersenyum nakal.
"Enggak!" tegasku spontan.
Johan terkekeh pelan, demi menyaksikan aku yang cemberut malu campur kesal. Lagi-lagi dia berhasil menggodaku. Tak lama kemudian pesanan kami pun datang. Sesekali Johan menyuapkan nasinya ke mulutku. Terkadang aku menolak, sambil lirik kiri-kanan. Tak enak jika ada yang memperhatikan tingkah lebay Johan. Sementara sikap lelakiku itu, selalu terlihat tenang dan santai. Membuatku semakin gemas ingin mencubitnya seketika.
Kami berjalan menyusuri pasir putih yang keperakan ditimpa cahaya bulan. Setelah menyantap hidangan malam, Johan mengajakku duduk di tepi pantai. Berdua menyaksikan kerlip bintang dan Dewi Malam yang sedang purnama.
"Mawar ... apakah benar dulu kamu menolak cintaku?" Johan mengusik keheningan yang tercipta.
"Maksudmu?"
"Dulu ... waktu reuni, bukankah aku pernah cerita ke kamu, bahwa aku menyukaimu. Aku sudah mengungkapkan perasaanku padamu melalui Amel. Tapi kata Amel, kamu menolak cintaku. Apakah benar begitu?" tanyanya penuh selidik.
Sejenak aku tersedak. Tak kukira jika Johan masih saja mengingat cerita cinta kami sewaktu di SMA dulu. Sewaktu reuni lima tahun lalu, Johan pernah menanyakan itu, tapi aku tidak pernah menceritakan yang sebenarnya.
"Mawarku, Sayang. Katakanlah yang sebenarnya. Aku nggak marah, kok." Johan mengusap pipiku mesra. Sikapnya yang selalu hangat membuatku nyaman seketika.
"Emm, Jo. Sebenarnya Amel tak pernah menyampaikan perasaan cintamu kepadaku, jadi aku tidak pernah menolakmu waktu itu."
"Jadi sebenarnya ... kamu juga menyukaiku 'kan?" Johan makin penasaran. Kulihat kerlipan bintang-bintang di matanya.
"Eee ... aku nggak paham, Jo. Apakah waktu SMA dulu aku mencintaimu atau tidak. Tapi ... aku selalu gugup dan jantungku berdebar aneh bila tak sengaja dekat denganmu."
"Nah ... benar dugaanku, bahwa sewaktu SMA dulu, kamu juga mencintaiku. Ah, sial banget itu si Amel. Ternyata dia nggak amanah dalam menyampaikan perasaan cintaku kepadamu."
"Lagian kamu, sih. Kenapa tidak menyampaikan sendiri perasaanmu itu. Malah menyuruh orang lain untuk mengungkapkannya."
"Waktu itu aku takut kamu menolak cintaku. Jadi ... ah, coba seandainya dulu aku tahu perasaanmu. Mungkin sedari dulu kita sudah menikah. Tak perlu menunggu bertahun-tahun lamanya kita bersatu. Selama ini aku selalu tersiksa mengingat cintaku padamu, Mawar."
"Sudah lah, Jo. Tak perlu menyesali masa yang lalu. Toh, sekarang kita sudah resmi menjadi suami istri. Saat ini dan selamanya aku milikmu."
Johan tersenyum lega. Perlahan dia mendaratkan kecupan di bibirku. Aku sedikit membalas ciumanya, setelah yakin tidak ada orang lain di sekitar kami. Ketika kurasakan desahan napasnya mulai memburu. Pelan kudorong dadanya dari pelukan, takut dia makin keterusan.
"Udah, ah. Jangan di sini, nanti dilihat orang," tahanku halus.
Johan terkekeh lagi. "Jangan takut, Sayang. Aku nggak mungkin ngelakuinnya di sini. Rugi, dong, jadi tontonan gratis. Yuk, kita kembali ke kamar."
Aku dan Johan segera beranjak dari situ. Berjalan santai sambil berpegangan tangan. Dia terus bercerita ringan, sementara aku dengan tekun mendengarkan.
Sesampai di kamar, kubuka pintu jendela yang menghadap ke laut lepas. Pandangan mataku tak henti-hentinya menatap langit yang dihiasi germerlap bintang. Sungguh indah ciptaan Tuhan. Aku memang menyukai keindahan malam, apalagi di saat bulan purnama tengah bersinar terang.
Kulihat Johan mulai sibuk dengan laptop di pangkuan. Sepertinya dia sedang memeriksa laporan keuangan perusahaan. Seketika terbersit rasa cemburu pada laptop itu. Kenapa saat bulan madu begini, benda itu harus mengganggu kesenanganku.
Segera kututup jendela. Berjalan mendekati Johan yang semakin asyik bekerja. Kulingkarkan kedua tangan ke bahunya, menempelkan pipiku ke pipinya.
"Sayang ... apakah masih lama? Tidur, yuk," rajukku mulai manja.
"Sebentar, Yang. Sedikit lagi, tanggung ini. Kamu tidur duluan, gih." Johan menyahut pelan, jari-jemarinya tampak lincah menari di keyboard laptop.
Kulepaskan pelukan lalu melangkah ke kamar mandi. Menggosok gigi, tak lupa berwudhu. Sebelum tidur malam, aku terbiasa berwudhu terlebih dahulu. Setelah ritual di kamar mandi selesai, kulihat Johan sudah berdiri di tepi ranjang. Tersenyum menggodaku.
Seketika aku merasa gugup, jantungku berdenyut indah. Kala menatap sorot matanya yang seperti menginginkan sesuatu. Meski kami sudah melakukannya beberapa kali sejak menikah tiga hari lalu, tapi selalu saja hatiku deg-degan untuk memulainya.
"Ke sini, Sayang. Kenapa berdiri saja di situ." Johan duduk di tepi ranjang. Menepuk-nepuk tempat di sebelahnya, menyuruhku untuk duduk. Senyum malu-malu aku duduk di sampingnya.
Johan meraih botol madu di atas nakas. Menuang ke dalam gelas, mengaduknya perlahan, memberikannya padaku.
"Apa ini?" tanyaku basa-basi.
"Ini madu ... minumlah"
"Untuk apa? Biar kuat, ya?" Aku mulai menggodanya.
"Bukan hanya itu. Ini madu juga untuk menambah kesuburan. Bukan kah kamu ingin segera punya anak? Mudah-mudahan dengan cara ini, aku bisa membantu mewujudkan impianmu."
Tanpa ragu kureguk air yang sudah dicampur madu itu hingga tandas. Kemudian Johan bangkit dan memadamkan lampu kamar. Jantungku kembali berdebar tak karuan.
"Apa kita mau memulainya sekarang?" tanyaku sedikit gugup.
"Iya, Sayang. Kamu udah siap 'kan?" tanya Johan tenang. Senyumnya yang menawan membuatku merasa nyaman.
Johan selalu bersikap lembut, tenang dan hati-hati. Seakan tak ingin aku merasa tersakiti dengan sentuhannya. Setiap akan memulai bercinta. Dia tak pernah lupa membisikkan do'a. Memohon agar benih yang ditanamkan, kelak akan menjadi anak-anak yang sholeh. Juga menghindari 'kerja sama' jin atau setan dalam percintaan anak manusia.