Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.
Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.
Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.
Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.
Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Yang Menyembuhkan Bukan Berlian, Tapi Kehadiran
"Iya," jawab Selena akhirnya.
Satu kata itu keluar begitu pelan hingga nyaris tenggelam oleh musik ballroom.
Amaya mengangguk puas. "Bagus kalau kita sepakat."
Ia tidak meminta pengakuan lain. Selena sudah kehilangan hak untuk menentukan cerita mana yang dipercaya orang-orang. Memaksanya lebih jauh hanya akan membuat pesta Karina berubah menjadi panggung pertengkaran.
Karina mengusap punggung tangan Amaya. "Terima kasih untuk album ini, Maya. Mama nggak tahu kamu mengumpulkan semuanya sejak kapan."
"Nggak lama. Yang sulit bukan mengumpulkannya, tapi mencari bengkel yang mau memulihkan kertas lama tanpa merusak tulisan Mama."
"Kamu sampai memikirkan itu?"
"Kalau tintanya hilang, Mama pasti sedih lagi. Aku sudah cukup membuat Mama menunggu."
Karina kembali memeluknya. Kali ini ia tidak menangis keras. Dagunya hanya menempel di bahu Amaya, sementara tangannya menahan putrinya seolah takut jarak sepuluh tahun akan terbuka lagi jika pelukannya longgar.
Robert berdiri di belakang mereka dan merangkul keduanya.
"Foto keluarga, Bu Karina," ujar fotografer yang sejak tadi menunggu. "Boleh lihat ke sini?"
Karina tidak melepaskan Amaya. Ia justru menariknya lebih rapat ke sisi kanan, sementara Robert berdiri di sisi kiri istrinya.
Kilatan kamera menangkap mereka bertiga dengan syal lama di bahu Karina dan album di tangan Robert.
Para nyonya yang tadi mengelilingi kotak giok kini meminta fotografer mengambil gambar dari sisi yang tidak memantulkan plastik pelindung album. Ada yang menyuruh Karina mengangkat syal sedikit lebih tinggi. Ada pula yang bertanya apakah foto pencarian lama boleh dipamerkan dalam acara keluarga berikutnya.
Hadiah Amaya tidak lagi membutuhkan pembelaan.
Ia telah mengubah cara orang-orang mengingat pesta ini. Besok, yang dibicarakan bukan nilai giok atau jumlah karat berlian, melainkan seorang ibu yang akhirnya memegang kembali jejak anaknya.
Selena berdiri beberapa langkah di luar bingkai.
Biasanya Karina akan memanggilnya agar tidak ada seorang pun merasa dibedakan. Malam ini tidak.
Selena melirik Meihwa, menunggu sang nenek meminta fotografer mengulang gambar. Meihwa hanya menatap syal yang dahulu ia lihat tergeletak setengah jadi di kamar Karina.
Tongkatnya mengetuk lantai sekali.
"Simpan album itu baik-baik," katanya kepada Robert. "Jangan sampai rusak lagi."
Tidak ada pembelaan untuk Selena. Tidak ada pula teguran kepada Amaya.
Selena menahan napas. Meihwa belum meminta maaf dan mungkin tidak akan pernah melakukannya di depan orang banyak. Namun diamnya malam ini sudah cukup untuk menunjukkan bahwa satu-satunya tempat berlindung Selena mulai retak.
"Satu foto lagi, Maya," pinta Karina.
Amaya menurut. Senyumnya tidak lebar, tetapi matanya jauh lebih hangat daripada ketika memasuki ballroom.
Jessica berdiri di belakang fotografer dan membentuk hati dengan kedua tangan.
"Jangan lebay," bisik Amaya setelah kamera berhenti berkedip.
"Gue belum mulai lebay. Kalau ini masuk infotainment, judulnya sudah gue siapkan. Putri Hilang Pulang Membawa Delapan Belas Tahun Kenangan."
"Kedengarannya murahan."
"Yang penting engagement."
Amaya hampir tertawa. Kehadiran Jessica membuat pusat ruangan yang penuh mata penasaran terasa sedikit lebih mudah ditanggung.
Nathan memandang wajah itu dari seberang meja.
Amaya yang dahulu akan mencarinya di tengah kerumunan. Setiap pujian, setiap penghinaan, bahkan setiap pilihan gaun harus lebih dulu melewati pendapatnya. Ia hanya perlu tersenyum atau mengangguk, lalu perempuan itu akan tenang.
Sekarang Amaya berdiri di pusat perhatian tanpa sekali pun menoleh kepadanya.
Nathan lebih menyukai Maya yang dulu.
Pikiran itu muncul begitu jelas sampai membuatnya tidak nyaman. Ia mencoba menyebutnya kerinduan. Namun yang ia rindukan bukan tawa lama atau kelembutan Amaya.
Ia merindukan kepastian bahwa perempuan itu tidak akan pergi.
Di sisi lain ruangan, Sebastian juga tidak mampu memalingkan mata.
Keinginannya terhadap Amaya semula sangat sederhana dan sangat salah. Ia ingin membawa perempuan itu keluar dari bawah cahaya, menyentuhnya, lalu menghapus semua jejak sebelum pagi.
Hasrat bisa ditahan. Tubuh dapat dijauhkan.
Namun malam ini ia ingin bertanya bagaimana Amaya menemukan tiga puluh dua kota di album tersebut. Ia ingin mendengar alasan perempuan itu tertawa saat dirinya terluka. Ia ingin tahu kapan tatapan lembut itu tulus dan kapan dipakai untuk menyayat orang.
Ia masih ingin tidur dengannya.
Masalahnya, sekarang ia juga ingin berbicara dengannya setelah itu.
Sebastian membenci perubahan tersebut. Keinginan untuk memahami seseorang jauh lebih sulit dibunuh daripada nafsu.
"Dokter Sebastian."
Seorang nyonya yang memegang ujung album menoleh kepadanya. "Tadi Dokter bilang nilainya tidak terhingga. Tapi kalau pekerjaan restorasi dan pencarian bahannya benar-benar dihitung, kira-kira berapa?"
Sebastian meletakkan gelasnya.
"Saya tidak tahu biaya pembuatannya," jawabnya. "Namun hadiah itu tidak berharga karena kertas atau jahitannya. Yang menyembuhkan penyesalan bukan berlian, tapi kehadiran saat ini."
Percakapan di sekeliling mereka berhenti.
"Giok bisa diwariskan. Berlian bisa dijual kembali. Tapi penyesalan delapan belas tahun hanya bisa diringankan karena orang yang dirindukan berdiri di sini dalam keadaan hidup."
Tatapannya jatuh kepada Amaya.
"Itu sebabnya tidak ada pembandingnya."
Jantung Amaya berdetak satu kali terlalu keras.
Pria itu berbicara kepada semua orang, tetapi tatapannya membuat kalimat tersebut terasa seperti sesuatu yang hanya ditujukan kepadanya.
Jessica menutup bibir dengan gelas agar senyumnya tidak terlihat. Ia sudah menyaksikan banyak laki-laki merayu perempuan dengan mobil, vila, atau bunga satu truk. Baru kali ini ia melihat seorang pria yang mengaku tidak tertarik justru memberi nilai tertinggi pada hadiah sahabatnya.
Lebih menarik lagi, pria itu terlihat kesal pada dirinya sendiri.
Karina menoleh kepada Selena. "Kamu dengar sendiri. Mulai sekarang, biarkan Maya menentukan urusannya. Kamu nggak perlu memilihkan teman, barang, atau keputusan apa pun untuk dia."
"Iya, Ma."
"Kalau dia butuh bantuan, dia akan meminta."
Selena menunduk. "Aku mengerti."
Robert melihat ketegangan yang belum sepenuhnya turun, lalu memberi isyarat kepada pemimpin acara.
"Istri saya sudah terlalu lama dibuat menangis di hari ulang tahunnya," katanya sambil mengulurkan tangan kepada Karina. "Sekarang saya harus memperbaiki suasana sebelum dia menyesal mengundang kita semua."
Tawa ringan menyebar. Lampu utama diredupkan, menyisakan sorot keemasan di tengah lantai dansa.
Karina menyerahkan album kepada staf hotel, lalu menerima tangan suaminya. Syal lama tetap melingkari bahunya saat Robert membawanya menuju pusat ruangan.
Nada pertama lagu pembuka mengalun.
Para pasangan mulai berdiri dan bergerak ke tepi lantai. Jessica menggandeng lengan Amaya, tetapi perhatiannya tertuju ke belakang.
Nathan telah meninggalkan kursinya.
Di belakangnya, Selena mengangkat wajah. Ia mengikuti arah langkah Nathan dan melihat tujuan yang sama dengan semua orang lain.
Sisa senyum di bibirnya menghilang.
Ia merapikan jas, menarik napas, lalu berjalan lurus ke arah Amaya.