Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 MIDNIGHT CONVICTION
Persimpangan jalanan perbatasan yang tadinya dipenuhi ketegangan perlahan-lahan kembali lengang. Bau asap kendaraan dan debu pertempuran yang membumbung tinggi mulai terurai ditiup angin malam Cikampek yang menusuk tulang. Pasukan Cijalu Bersatu, Liberian Gang dari Bakan Jati, serta rombongan CBC dan Andul telah sepenuhnya memundurkan barisan mereka ke kegelapan teritori masing-masing.
Zela merapikan kembali kerah jaketnya yang sedikit berdebu. Dia berbalik membelakangi Ryuka, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu melangkah santai menuju arah lorong kota.
"Setelah konflik ini selesai... sampai jumpa lagi, bodoh," ucap Zela dengan nada suaranya yang khas—datar, dingin, dan tanpa beban. Tangannya terangkat melambai pelan di udara tanpa sekalipun memalingkan wajah atau melirik ke belakang.
Ryuka yang masih berdiri menepuk-nepuk celananya yang kotor seketika menghentikan gerakannya. Matanya mendelik tajam menatap punggung Zela yang makin menjauh. "Siapa yang lu sebut bodoh, Sialan?!" sembur Ryuka gusar, tetapi Zela sudah menghilang di balik belokan lorong tanpa membalas teriakan itu.
Ryuka menghembuskan napas panjang, meludah tipis ke samping, lalu mendengkus kesal. "Cih, sok keren banget tuh anak." Ryuka memutar badannya dan berjalan menyusuri trotoar Sukaseri untuk pulang.
Belum sampai lima ratus meter melangkah menyusuri gang utama pemukiman, langkah Ryuka terhenti. Di bawah pendar kuning lampu jalan yang berkedip, berdiri sesosok pria berjas rapi dengan postur tegap yang amat berwibawa. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung, menatap Ryuka dengan pandangan mata yang tajam dan dingin.
"Tuan Muda," panggil Sebas dengan suara bass yang berat, tegas, namun dipenuhi tata krama yang kaku.
Ryuka menyengir canggung, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Eh... Sebas. Lu ngapain berdiri di tengah gang malam-malam begini?"
Sebas melangkah mendekat. Meskipun posisinya adalah seorang pelayan, cara bicaranya terpancar bagaikan seorang mentor senior yang disegani. "Saya sudah memperingatkan Tuan Muda agar tidak berkeliaran malam ini. Area perbatasan sedang memanas, tetapi Tuan Muda justru keluyuran dan kembali dengan baju berdebu seperti ini. Jika Tuan Muda terus bersikap ceroboh, keselamatan Tuan Muda sendiri yang menjadi taruhannya."
"Iya, iya, Sebas... Gua tau. Tadi cuma ada masalah kecil sama anak-anak Bakan Jati," kilah Ryuka melambaikan tangannya santai.
"Masalah kecil yang Tuan Muda selesaikan dengan kekerasan tanpa perhitungan, bukan?" potong Sebas dingin, membuat Ryuka membisu. "Mari kita pulang sekarang. Saya tidak ingin Tuan Muda menambah daftar masalah sebelum esok hari."
Mereka berdua berjalan menyusuri lorong sempit menuju pemukiman tempat tinggal Ryuka. Namun, saat hendak memotong jalan melalui gang tua beratap seng, Ryuka menghentikan langkahnya. Di depan sebuah bangunan usang, terlihat seorang cewek bertudung sweater hitam sedang berdiri mematung.
Itu adalah Elisa Mandasari.
Namun, Elisa yang dilihat Ryuka malam ini sangat berbeda dengan cewek yang ditemuinya tempo hari di atap gedung. Tidak ada lagi sisa tawa renyah atau tatapan matanya yang tajam. Raut wajah Elisa tampak pucat, sayu, dan diselimuti oleh tekanan batin yang sangat berat. Pandangan matanya kosong menatap ubin jalanan.
"Elisa?" gumam Ryuka heran.
Tepat di samping Elisa, berdiri seorang pria berkaos oblong dengan senyuman lebar yang terus mengembang di wajahnya. Pria itu menoleh dan matanya membelalak gembira saat melihat Ryuka.
"Ryuka?! Lu Ryuka, kan?!" seru pria itu.
Ryuka mengernyitkan dahi, mencoba mengingat wajah pria tersebut. "Gilang? Lu beneran Gilang teman masa kecil gua?"
Pria itu adalah Gilang—teman sepermainan Ryuka waktu kecil yang sudah bertahun-tahun tidak terdengar kabarnya. Gilang melangkah mendekat dengan wajah penuh semangat. "Gila, udah lama banget gak ketemu lu, Ka! Gua gak nyangka bisa ketemu lu di kota ini!"
Ryuka melirik Elisa yang berdiri membisu di belakang Gilang. "Lu... kenal sama Elisa?"
Gilang mengangguk mantap, senyumnya tidak pernah pudar dari wajahnya. "Iya! Gua sama Elisa udah saling kenal dari lama banget. Gua ke sini sengaja buat ngebantu dia keluar dari masalahnya!"
Mendengar ucapan Gilang, Elisa mendongak pelan. Matanya menatap Ryuka dengan raut dingin dan tidak bersahabat—sebuah topeng perlindungan diri agar Ryuka tidak perlu terseret ke dalam lumpur masalahnya.
"Gak usah sok peduli, Ryuka," potong Elisa dengan nada suara yang sengaja dibuat kaku dan menusuk. "Ini urusan gua sama Gilang. Lu gak ada hubungannya sama sekali dan gua gak butuh bantuan dari orang luar kayak lu."
Sebas yang berdiri di samping Ryuka melirik Elisa dengan pandangan menilai yang sangat cermat. Sebagai pelayan yang berpengalaman, Sebas bisa membaca dengan jelas bahwa sikap dingin Elisa hanyalah gertakan untuk menyembunyikan rasa takut dan tekanan besar yang sedang menghimpit badannya.
Gilang yang melihat ketegangan itu langsung menepuk bahu Ryuka sambil tersenyum lebar. "Udah, jangan dimasukin ke hati, Ka. Elisa cuma lagi pusing aja. Daripada tegang gini di jalanan, mending kita bicara di tempat persembunyian Elisa. Di atap gedung tua biasa!"
Beberapa saat kemudian, mereka berempat telah berkumpul di rooftop gedung tua—tempat persembunyian Elisa. Udara malam di atap gedung terasa sangat dingin ditiup angin kencang.
Untuk mencairkan suasana yang kaku, Ryuka menyuruh pelayannya. "Sebas, beliin kita minuman sama rokok di warung bawah dong."
Sebas menatap Ryuka secara langsung. "Tuan Muda menyuruh saya menjadi pelayan pembawa minuman?"
"Aduh Sebas, sekali-kali napa. Buat nemenin ngobrol nih," bujuk Ryuka.
Sebas menghembuskan napas pelan, merapikan sarung tangannya. "Baiklah. Demi Tuan Muda, saya akan membelikannya. Namun ingat, jangan mengonsumsi terlalu banyak alkohol jika Tuan Muda tidak ingin kehilangan kewaspadaan."
Setelah Sebas kembali membawa kantong plastik berisi beberapa kaleng minuman dan dua bungkus rokok, atmosfer di atap gedung perlahan mencair. Kaleng minuman dibuka dengan suara nyaring. Ryuka, Gilang, dan bahkan Elisa menyulut batang rokok mereka masing-masing. Asap putih membumbung tinggi diterpa angin malam, sedikit menghangatkan suasana yang semula membeku.
Gilang terus bersenda gurau, mencoba tertawa dan memecah kekakuan dengan berbagai cerita lama, berusaha keras untuk merangkul dan menghibur Elisa yang duduk menyendiri di pinggiran tembok pembatas atap.
Di bawah pengaruh dinginnya malam dan tegukan minuman hangat, perlahan benteng pertahanan Elisa mulai runtuh. Cewek itu menundukkan kepalanya, menghembuskan asap rokoknya ke udara malam dengan pandangan mata yang sangat lelah.
"Gua... udah gak tahan lagi," bisik Elisa pelan. Suaranya yang gemetar memecah keheningan atap gedung.
Ryuka menoleh, menyandarkan badannya ke sofa usang. "Soal lu yang jadi buron itu?"
Elisa mengangguk pelan, jemarinya meremas kaleng minuman yang dipegangnya hingga penyok. "Dewan Intelligent dan mantan fraksi gua, Ghost Girl... mereka terus memburu gua tanpa henti. Gua gak pernah dikasih napas bebas. Setiap sudut kota terasa kayak penjara buat gua. Gua cuma pengen bebas... Gua pengen melepaskan diri dari bayang-bayang mereka, dan gua juga pengen menyelamatkan fraksi yang pernah gua bangun itu dari orang-orang yang merusaknya."
Mendengar keluh kesah Elisa yang tertekan, Gilang yang sejak tadi tersenyum memajukan badannya. Wajahnya yang ceria berubah menjadi sangat mantap.
"Makanya dari itu gua di sini, Elisa," ucap Gilang dengan nada suara yang penuh keyakinan. "Gua bakal bantu lu lepas dari jeratan orang Intelligent. Gua gak bakal ngebiarin lu menderita sendirian lagi."
Gilang lalu menoleh menatap Ryuka dan Sebas, menjelaskan rencana pertarungan yang sudah disiapkannya. "Pihak Dewan Intelligent udah ngirim pesan ke Elisa. Mereka minta Elisa buat datang ke sebuah tempat eksekusi malam ini kalau mau menyelesaikan semua perselisihan ini secara permanen."
Gilang menghembuskan napas panjang, mengepalkan tangan kanannya yang kekar. "Gua udah bilang sama Elisa... kalau di tempat itu nanti pecah pertarungan, gua yang bakal berdiri paling depan buat ngehajar mereka semua. Gua bakal jadi tameng dan pedang buat Elisa."
Elisa menatap Gilang dengan raut wajah yang penuh haru sekaligus cemas, sementara Ryuka mendengarkan penjelasan itu sambil manggut-manggut memahami situasi rumit yang dihadapi teman masa kecilnya dan Elisa.
Sebas yang sejak tadi berdiri diam menyandarkan badannya di dekat pintu tangga darurat akhirnya angkat bicara dengan suaranya yang tenang dan penuh wibawa. "Sebuah jebakan yang sangat transparan dari pihak Dewan Intelligent. Pilihan yang sangat berisiko bagi Anda sekalian untuk mendatangi teritori musuh di tengah malam seperti ini."
Ryuka menyunggingkan senyum miringnya, melempar puntung rokoknya ke ubin beton lalu mematikannya menggunakan ujung sepatu. "Gak ada tantangan yang seru kalau gak berisiko, Sebas. Lagian Gilang itu temen gua, dan Elisa... dia cewek yang pernah ngebantu gua di atap ini."
Ryuka bangkit berdiri dari sofa bekas, merenggangkan kedua tangannya ke atas hingga berbunyi benturan sendi yang nyaring. Rasa kantuknya hilang total, berganti dengan gejolak adrenalin yang mulai membakar dadanya.
Gilang ikut berdiri di samping Ryuka, menyunggingkan senyum khasnya yang penuh rasa percaya diri. Elisa menarik tudung sweater hitamnya ke atas, menutupi separuh wajahnya yang kini tidak lagi dipenuhi keraguan, melainkan tekad bulat untuk merebut kembali kebebasannya.
Sebas melirik jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam menunjukkan angka yang presisi.
"Waktu telah menunjukkan pukul 11:00 malam, Tuan Muda," ucap Sebas dengan nada suara yang sangat dingin dan berkelas. "Jika Tuan Muda memang telah memutuskan untuk memfasilitasi pertarungan ini, maka sebaiknya kita bergerak sekarang sebelum pihak musuh mengambil posisi yang lebih menguntungkan."
Ryuka berjalan melangkahi pintu tangga darurat, lalu menoleh ke belakang sambil menyunggingkan cengiran tajamnya di bawah kegelapan malam Kota Cikampek.
"Jam 11 malam... waktu yang sempurna buat berburu," bisik Ryuka bergelora.
Dengan tekad yang telah bulat dan keberanian yang membakar dada, keempat sosok itu melangkah turun menembus pintu tangga gedung tua, meluncur menuju lokasi pertemuan berdarah yang telah menanti di tengah pekatnya malam.