"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."
Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.
Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.
Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.
"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar mengejutkan
Matahari perlahan turun ke peraduannya, menyisakan semburat keunguan yang tampak temaram.
Di kejauhan, sekawanan burung terbang rendah membentuk formasi, saat rumah menjadi tujuan akhir penutup hari.
Di sudut ruangan yang senyap, Alina terbaring tak sadarkan diri. Pergelangan tangan yang tadi sengaja ia iris kini telah di balut rapi dengan kasa putih, pun dengan kepalanya yang juga terluka karena perbuatannya sendiri.
Manik mata itu perlahan mengerjap. Pandangannya kini mengedar pada sekeliling ruangan yang serba putih.
Dimana ini?
Sejenak pikirannya kosong. Ia bahkan melupakan badai yang menghantamnya pagi tadi.
Tatapannya hampa, seolah dunia tak lagi menyisakan hal yang menarik.
Hingga pintu ruangan itu perlahan terbuka. Menampilkan sosok nyonya Airish yang kini melangkah mendekat.
Kepingan memori tadi pagi perlahan memenuhi isi kepalanya. Begitu berisik, membuat kepalanya serasa ingin meledak saat itu juga.
"Kamu sudah sadar? Bagaimana perasaanmu?"
Tatapannya tajam menghunus. Jelas sebaris tanya itu bukanlah sebuah bentuk kepedulian, melainkan sebuah sindirian tajam yang disisipkan untuk menguliti harga dirinya yang jatuh berceceran.
"Apakakah anda sudah menghubungi mas Leon? Apakah dia... sudah setuju?" Tanya Alina dengan suara parau.
"Untuk apa aku menghubunginya?"
Alina memejam penuh putus asa.
Namun, sekali saja. Biarkan ia berusaha menembus benteng hati yang keras itu untuk terakhir kalinya.
"Saya janji, saya akan melakukan semua yang anda inginkan, selama anda mau membujuk mas Leon untuk membantu menyelamatkan Marsha."
"Sudahi sandiwaramu Alina. Tidak perlu berpura-pura lagi. Saya sudah tau semuanya."
Alina mengernyit. Tak sedikitpun mengerti apa maksud ucapan nyonya Airish barusan. "Apa maksud anda?"
Tanpa sepatah kata pun, Nyonya Airish kini merogoh tasnya, mengeluarkan secarik kertas, lalu melemparkannya ke hadapan Alina tanpa rasa iba.
Dengan tangan yang gemetar, Alina perlahan membukanya. Sebuah hasil USG terpampang disana, membuat ia mengernyit. "Apa maksud anda?"
"Sampai detik ini, kamu masih ingin pura-pura di depanku?" Perempuan itu menatap sinis pada Alina yang jelas kebingungan saat tiba-tiba di sodori hasil usg tanpa pemberitahuan.
"Kamu hamil, Alina... Apakah sekarang kamu ingin mengakui jika janin yang ada di dalam kandunganmu itu milik Leon?"
Alina menatap nyonya Airish dengan tatapan tak percaya. Bibirnya bergetar hebat. "H-hamil?
Seluruh sendi di tubuh Alina seketika melumpuh.
Bagaimana bisa ia hamil???
Mereka memang tak memakai pengaman. Tapi, mengapa kenyataan ini ia dapati saat ia harus berjuang mati-matian demi keselamatan sang putri.
Mengapa harus sekarang??? Di saat laki-laki itu bahkan tak mempercayainya sama sekali.
Mengapa sekarang??? Di saat laki-laki itu bahkan tak menginginkan sang jabang bayi lahir dari rahimnya. Leon bahkan memintanya menggugurkannya terakhir kali.
Lalu, apa yang harus ia lakukan saat ini.
Semua terlalu rumit dan melelahkan.
Alina tak cukup mampu untuk menanggung semuanya seorang diri.
Ia takut. Ia takut salah melangkah.
"Bahkan kamu tega membahayakan kandunganmu sendiri hanya demi memainkan drama murahan itu?" Cemooh nyonya Airish, lagi.
"Ma, cukup."
Alina muak. Ia benar-benar muak dengan segalanya.
Ia tidak tahan lagi dengan semua ini.
Cukup. Sudah cukup.
Alina merasa dunianya telah runtuh sepenuhnya. Bahkan di tengah ketidakberdayaannya, Tuhan justru mengujinya lagi dengan sebuah kabar kehamilan, memaksanya memikul beban yang teramat berat di atas pundaknya yang sudah terlanjur patah.
"Kenapa? Apa sekarang kamu malu untuk mengakuinya? Dimana selingkuhanmu itu? Apa dia bahkan tidak tau jika sekarang kamu sedang berbadan dua?"
"Alina bilang cukup, Ma!!!!" untuk pertama kalinya, Alina meninggikan suaranya dihadapan perempuan itu, perempuan yang dulu begitu dihormatinya meskipun selalu memberikan luka menganga.
"Alina mohon, cukup." lirihnya kemudian. Dalam sisa-sisa harga diri yang runtuh, ia kembali memohon dengan suara yang bergetar hebat.
Cukup.
Jiwanya benar-benar sudah tidak sanggup lagi untuk menampung luka baru.
Ketakutan itu begitu menggebu.
Bagaimana jika pada akhirnya ia harus merasakan kehilangan yang sama untuk kesekian kalinya?
Jika pada akhirnya sesuatu itu di ambil lagi, kenapa sejak awal Tuhan mempercayakan itu padanya?
Kenapa?
Kenapa takdir begitu kejam mempermainkannya?
"Setelah ini, jangan berani-berani kamu menampakkan kaki di rumah saya lagi, atau saya pastikan hidupmu jauh lebih menderita dari ini."
Kalimat penuh ancaman itu menjadi salam perpisahan yang kejam, sebelum akhirnya sosok itu berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Alina seorang diri dalam keheningan yang menyiksa.
Sakit. Rasanya terlalu menyakitkan.
Namun pada akhirnya, ia tetap tak bisa berbuat apa-apa selain menerima begitu saja makian yang dilontarkan.
Hingga dering ponsel itu menggema, mengusik hening yang mencekam.
"Hallo."
"Bu, Marsha kolaps lagi."
☆☆☆☆☆☆☆☆
Annyeong Chingu
Hahaha
Othor balik lagi nih
Siapa yang kepo sama lanjutannya, hehe.
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕
tapi tunggu up nya harus bersabar