“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”
Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Lubang Hitam
~Pernikahan Putra kedua Victor Regen akan di gelar~
~Nathan Regen akan Menikah~
Nathan tertegun menatap layar laptop di ruang kerjanya. Headline berita yang terpampang di hadapannya membuat raut wajahnya seketika menegang. Tanpa berpikir panjang, ia segera meraih ponselnya. Jemarinya dengan cepat mencari satu nama di daftar kontak Victor Regen, ayahnya.
"Serahkan pada Ayahku," kata Nathan cepat begitu panggilan itu diangkat oleh sekretaris Ayahnya.
"Aku mendengarmu," Victor akhirnya berbicara melalui ponsel, nadanya tegas seperti biasa.
"Apa maksud ayah tentang berita ini? Pernikahan? Aku belum setuju untuk itu!" Suara Nathan yang marah dan tidak senang terdengar jelas.
"Apa yang kau tunggu? Dia wanita cantik dan pintar, pasangan yang pantas untukmu. Biarkan ayah yang mengaturnya," ujar Victor tenang penuh kendali.
"Ayah!" suara Nathan meninggi dari balik ponselnya. Tangan kanannya refleks menekan pelipis yang berdenyut, mencoba meredam sakit kepala yang tiba-tiba menyerang. Lalu dengan kasar, ia memutus panggilan itu.
Tring..tring..
Nathan dengan cepat meraih gagang telepon. "Saya sibuk," jawabnya singkat, lalu meletakkannya kembali dengan kasar.
Dengan emosi yang masih membara Nathan segera berdiri mengambil jasnya yang tergantung lalu pergi dari kantornya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil membuka kaca mobilnya agar angin masuk ke dalam. Mobil itu terus melaju sekitar tiga jam sampai akhirnya ia berhenti di depan rumah sakit.
"Ada apa kau sakit?" tanya Luna pada Nathan yang sudah berdiri di depan lift. Nathan sedikit terkejut karena Luna tiba-tiba muncul, tapi wajah datarnya berhasil menyembunyikan itu.
"Kau darimana? Aku pikir kau berada di ruanganmu," Nathan melirik Luna sejenak lalu kembali menghadap lift.
"Kopi," Luna mengangkat kopi yang barusan ia beli. Nathan menoleh sebentar, lalu tak menanggapi apapun.
"Aku bertanya apa kau sakit? Beberapa hari lalu jadwal tidurmu baik-baik saja kan?"
Ting..
Pintu lift terbuka mereka berdua segera masuk, Nathan langsung menekan nomor 16 lantai tempat Luna bekerja.
"Kepalaku sakit, apa kau bisa memberikanku obat?"
"Daripada obat, aku rasa kau lebih butuh dokter psikolog." Mendengar itu Nathan langsung menoleh pada Luna, lalu kembali menghadap pintu lift.
Ting..
Pintu lift terbuka mereka melangkah keluar, Luna segera menuju pintu kantor diikuti Nathan di belakangnya.
"Kau tidak butuh obat, kau tahu itu," Luna yang sudah duduk di kursinya meletakkan kopi di mejanya lalu melihat ke arah Nathan yang sudah duduk di sofa.
"Aku melihat berita itu, kau akan menikah dan aku yakin kau tidak setuju dengan itu. Karena itu kepalamu sakit," matanya tak lepas dari Nathan.
Nathan menyandarkan tubuhnya di sofa, apa yang Luna katakan benar tapi dirinya juga tidak mempunyai solusi selain obat yang bisa menenangkannya. Luna pun berdiri dari kursinya lalu menghampiri Nathan.
"Bagaimana perasaanmu? Ceritakan padaku apa yang kau rasakan sekarang," tanya Luna yang sudah duduk di depan Nathan.
Nathan hanya diam melihat Luna tidak mengatakan apa-apa. Luna menyerah untuk menunggu jawabannya.
"Apa kau sedang marah?" tanya Luna kembali.
"Aku tidak tahu," jawab Nathan setelah berpikir sejenak.
"Apa pernikahan itu penting untukmu?" tanya Luna lagi.
"Tidak," kali ini Nathan menjawab cepat.
"Apa kau membenci Alia?"
Nathan diam sejenak. "Tidak."
"Apa kau menyukainya?"
"Tidak," jawab Nathan cepat tanpa ragu.
"Kau hanya membenci perjodohan ini?" Mendengar itu Nathan hanya diam dan tidak menjawab apa-apa.
"Kau membenci Ayahmu," tanya Luna lagi, Nathan tidak menjawab dan hanya diam.
"Kalau begitu menikah saja, yang penting kau tidak membenci Alia. Itu cukup," ucap Luna akhirnya.
"Kau tahu aku tidak akan melakukannya," Nathan akhirnya bicara, kepalanya terasa semakin sakit, memaksanya menutup mata.
"Kalau begitu cari wanita lain lalu menikah dengannya. Maka tidak akan ada perjodohan." Nathan membuka matanya, melihat Luna dan memikirkan perkataannya.
"Masalahmu adalah kau tidak ingin rencana ayahmu berjalan lancar, iya kan? Kau tidak membenci Alia, kau hanya membenci perjodohan ini. Jadi karena Alia yang dijodohkan denganmu berarti tinggal mencari wanita lain, lalu menikah dengannya. Pernikahan tidak penting untukmu jadi menikah dengan siapapun aku rasa itu tidak masalah, yang penting bukan wanita yang dijodohkan oleh ayahmu."
Nathan menegakkan tubuhnya dari sandaran sofa, ia memang berniat melakukan itu menikah dengan siapapun yang bisa bekerja sama dengannya, tapi sayangnya ia belum menemukan wanita yang tepat sampai sekarang. Tapi ia tidak menyangka dokter psikiaternya akan mengatakan ide seperti itu.
"Apa kau selalu memberikan solusi seperti itu pada pasienmu?" tanya Nathan dengan senyum tipis tapi terlihat wajah mengejek di sana.
"Tidak selalu, hanya pada satu pasien yang hilang arah," ucapnya santai, ia berdiri lalu kembali duduk di kursinya sambil meneguk kopi.
"Hilang arah…" ulang Nathan sambil mengangguk-angguk.
"Dalam kasusmu kau tidak punya jalan keluar, hanya ada dua pilihan yang pertama menuruti kemauan Ayahmu dengan menikahi Alia atau menentangnya secara langsung dengan mengumumkan pernikahanmu dengan wanita pilihanmu. Bukankah itu tujuanmu berkencan dengan banyak wanita?"
Nathan kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Kau memang mengenalku."