NovelToon NovelToon
Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:781
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.

Namun takdir berkata lain.

Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.

Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 – Seleksi Tim Elit

Papan pengumuman di aula utama Akademi Aetherion benar-benar dipenuhi murid sejak pagi. Suasana yang biasanya dipenuhi obrolan santai, kini berubah menjadi riuh karena disana juga terdapat nama peserta yang dinyatakan lolos.

Sorak-sorak terdengar dari berbagai sudut aula. Beberapa murid melompat kegirangan, sementara yang lain tampak gugup membaca daftar nama yang terpampang pada lembar perkamen besar berbingkai emas itu.

Di tengah kerumunan itu, Aurelia masih berdiri terpaku, matanya tidak lepas dari satu baris tulisan. Namanya yang tercetak jelas dengan tinta emas, dan dibawahnya nama Caelum, hal itu membuat Aurelia mengernyit.

“Aku bahkan tidak pernah mendaftarkan diri.” Gumamnya pelan.

“Tentu saja kau tidak.” Suara lembut itu terdengar dari sampingnya.

Lyra menyelinap di antara kerumunan para murid yang benar-benar penuh seraya membawa dua potong roti isi, ia pun menyodorkan salah satunya pada Aurelia. “Kau pasti belum sarapan lagi, kan?” Tanya Lyra yang membuat Aurelia tersenyum malu.

“Kau tahu?”

“Karena kau selalu begitu kalau lagi banyak pikiran. Selain itu, kalau kau sampai pingsan saat seleksi nanti, aku malas menggendongmu.” Aurelia tertawa kecil menanggapi ucapan yang dilontarkan oleh sahabatnya itu.

“Kau benar-benar teman yang sangat perhatian.”

Tak jauh dari tempat Aurelia berdiri, ketiga kakak Aurelia juga masih berdiri didepan papan pengumuman, Kael yang sudah menyadari nama Aurelia itu pun membuat tatapannya berubah menjadi serius, sedangkan Lucien justru lebih tertarik pada bagian bawah daftar.

“Hmm aneh.” Gumamnya pelan.

“Apa?” Rowan ikut penasaran dengan apa yang tengah diteliti oleh kakak keduanya itu.

“Itu lambang seleksi darurat.” Lucien menunjuk sebuah lambang kecil di pojok pengumuman dan membuat Rowan mengernyitkan dahinya.

“Memang apa bedanya?”

“Seleksi biasa itu akan dilakukan setiap lima tahun sekali. Tapi seleksi darurat hanya diadakan jika akademi menilai ada ancaman besar yang mendekat.” Terang Lucien yang langsung membuat tatapan Rowan spontan menoleh ke arah Aurelia.

“Kau pikir ini ada hubungannya dengan Meteor Astralis?” Tanya Rowan. Lucien tidak menjawabnya, namun ekspresinya sudah cukup menjelaskan.

Bel akademi terdengar berdenting tiga kali dan suara Kepala Akademi menggema melalui sihir pengeras suara. “Seluruh peserta seleksi dimohon berkumpul di Arena Celestia dalam lima belas menit.” Begitulah ucap Aldric.

Kerumunan murid mulai bergerak, Aurelia menarik napas panjang dan Lyra menepuk pelan bahunya. “Ayo kita hadapi bersama.” Tutur Lyra yang membuat Aurelia mengangguk. Meski hanya Lyra yang ikut berjalan di sampingnya, ia tahu tiga kakaknya tidak jauh dari sana dan perasaan itulah yang membuat langkahnya terasa lebih ringan.

Arena Celestia merupakan arena terbesar di Akademi Aetherion. Tribunnya melingkar mengelilingi lapangan batu putih yang dipenuhi lingkaran sihir. Di atas arena terdapat puluhan kristal cahaya yang melayang.

Langit hari itu terlihat tampak cerah, namun suasana di arena jauh dari santai. Seluruh professor telah hadir, mulai dari Profesor Cedric, Profesor Lyren, Profesor Elowen dan ditengah arena berdiri Kepala Akademi-Aldric.

Tatapan Aldric menyapu seluruh peserta yang ada. Hari itu ada tiga puluh dua murid yang dipanggil, beberapa berasal dari murid tahun terakhir, sebagian lagi dari tahun kedua, namun hanya ada tiga murid yang berasal dari tahun pertama, yaitu Aurelia Evandria, Lyra Violette dan Caelum Velrath.

“Kenapa murid baru ikut?” Bisik-bisik itu mulai kembali terdengar dan sampai di telinga Aurelia.

“Itu tidak pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Apa mereka sehebat itu?” Bisikan itu pun datang dari murid yang lainnya lagi.

Saat ini Caelum berdiri beberapa meter dari Aurelia. Ketika ia menyadari Aurelia tengah melihatnya, ia hanya memberikan senyum tipis dan membuat Aurelia mengalihkan pandangannya, entah kenapa ia tidak ingin menatap mata merah itu terlalu lama.

Profesor Aldric mengangkat tongkat sihirnya, arena pun langsung menjadi sunyi.

“Festival Agung Sihir bukan hanya sekedar perlombaan. Festival itu merupakan tempat berkumpulnya para penyihir terbaik dari seluruh kerajaan. Tahun ini, aturan sedikit berubah.” Kalimat terakhir Aldric membuat para professor saling berpandangan satu sama lain.

“Tim Elit akan dibentuk bukan hanya berdasarkan kekuatan, tetapi juga kemampuan bekerja sama.” Terang Aldric lagi, lalu ia pun menjentikkan jarinya dan tiga puluh dua bola cahaya melayang di udara. “Setiap peserta akan dipasangkan secara acak.” Kerumunan pun mulai gelisah.

Mereka gelisah, karena mereka sudah jelas berharap bisa memilih partnernya sendiri. Bola-bola cahaya itu mulai bergerak dan satu per satu turun ke tangan para peserta. Sebuah cahaya putih mendarat di telapak tangan Aurelia, ia pun membukanya perlahan dan didalamnya tertulis satu nama.

Lyra Violette. Aurelia langsung tersenyum lega dan Lyra pun sama halnya, ia mulai memperlihatkan bola cahayanya, isinya pun sama. “Yeeah kita satu tim.” Gumam Lyra dan mereka pun saling tersenyum. Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat.

“Itu hanya pasangan tahap pertama.” Seru Aldric yang seakan mematahkan kebahagiaan Lyra dan juga Aurelia. “Babak kedua akan dilakukan dengan sistem penggabungan tim.” Lanjutnya lagi dan membuat seluruh peserta kembali bingung.

Sedangkan di sisi lain arena, Kael yang tengah memperhatikan dari tribun bersama Lucien dan Rowan tampak tidak menyukai apa yang tengah berlangsung di arena saat ini, bukan hanya Kael, Rowan juga merasakan hal yang sama, sedangkan Lucien, ia justru sedang memperhatikan Caelum, karena tatapan pria berambut putih itu tidak pernah lepas dari Aurelia.

“Ada yang aneh.” Kata Lucien pelan dan Kael mengikuti arah pandang adiknya.

“Dia?”

“Ya. Dia sama sekali tidak tertarik pada seleksi ini, dia hanya memperhatikan Aurelia kita.” Ujar Lucien yang membuat rahang Kael langsung mengeras.

“Babak pertama dimulai.” Suara Aldric kembali menggema. “Sekarang masuki Hutan Ilusi.” Seketika seluruh arena diselimuti cahaya hijau, lantai batu disana menghilang dan digantikan menjadi hutan lebat yang membentang sejauh mata memandang.

Pohon raksasa menjulang tinggi, kabut tipis memenuhi tanah, suara burung terdengar dari kejauhan, semuanya benar-benar terasa begitu nyata, Lyra bahkan sampai menelan air liurnya sendiri.

“Ini… ilusi?” Lyra memandang sekeliling dengan rasa takjub yang luar biasa dan Profesor Cedric tersenyum dari luar arena.

“Setengah ilusi.” Jawab Cedric

“Maksudnya?” Tanya Lyra penasaran.

“Hutan itu nyata, namun makhluk didalamnya adalah ilusi.” Jawaban itu membuat Aurelia menghela napas pelan.

“Berarti kalau terluka, rasa sakitnya tetap nyata?” Tanya Aurelia dan membuat Cedric mengangguk.

“Tiba-tiba aku ingin kembali ke asrama.” Rengek Lyra seraya memegang lengan Aurelia.

“Aku juga.” Balas Aurelia seraya tertawa kecil.

Aba-aba diberikan oleh Aldric, setelah itu seluruh peserta pun mulai berlari memasuki hutan, lalu Aurelia dan Lyra pun berjalan berdampingan. Selama perjalanan, Lyra terus menanyakan strategi apa yang akan mereka gunakan didalam sana, namun hanya satu yang di pikirkan oleh Aurelia, yaitu apapun yang terjadi, mereka jangan sampai berpencar.

Keduanya mulai bergerak secara perlahan dan tidak terburu-buru. Aurelia menggunakan sihir bintangnya untuk menerangi jalan mereka, sedangkan Lyra menciptakan hembusan angin melalui sihir ilusi miliknya.

“Aku akan mendeteksi Mana disekitar,” kata Lyra dan Aurelia mengangguk setuju.

“Kalau ada sesuatu, beritahu aku.” Belum sempat Lyra menjawab, angin yang dikendalikan olehnya tiba-tiba saja berbalik arah.

“Aurelia. Nunduk.” Ucap Lyra spontan dan Aurelia mengikuti arahannya tersebut.

Terdapat seekor serigala bayangan telah melompat di atas kepala mereka. Makhluk itu mendarat beberapa meter di depan mereka dengan mata yang merah menyala, tubuhnya tersusun dari kabut hitam dan Lyra dengan cepat menciptakan puluhan bayangan tipis yang muncul di sekitar mereka sehingga membuat siapapun sulit membedakan mana Lyra yang asli.

“Aku akan menahannya.” Teriak Lyra.

“Aku butuh watuh 10 detik.” Aurelia mengangkat tongkat Astralis, kristal pada tongkat tersebut pun mulai bersinar dan cahaya putih telah memenuhi ujung tongkat. Ketika serigala bayangan itu mulai menerjang, setiap bayangan yang diciptakan Lyra menghilang satu per satu.

“Satu detik lagi.” Teriak Aurelia dan makhluk itu meraung serta bayangan tipis yang di ciptakan melalui sihir ilusinya pun semakin banyak yang sudah menghilang akibat serangan yang dilakukan oleh serigala tersebut. “Lyra.” Aurelia tampak mengkhawatirkannya.

“Aku masih kuat, Relia.” Kini yang tersisa hanyalah Lyra yang asli. Namun tepat sebelum serigala mencapai pada Lyra yang asli, Aurelia mulai mengayunkan tongkat Astralisnya.

“Stella Lux.” Sebuah ledakan cahaya memenuhi hutan dan membuat serigala bayangan itu menjerit akibat cahaya yang diciptakan oleh Aurelia. Tubuh serigala itu pun perlahan berubah menjadi ribuan partikel cahaya, dan akhirnya menghilang. Lyra yang sedikit shock itu pun terkulai ditanah.

“Hampir saja.” Ucapnya lega dengan napas yang sedikit tersengal.

“Kau hebat.” Tutur Aurelia yang ikut duduk di sisinya.

“Bukan aku, tapi kita.” Keduanya pun saling melempar senyuman satu sama lain.

Tanpa mereka sadari, dibalik pepohonan yang tak jauh dari mereka, ada seseorang yang diam-diam tengah memperhatikan pertarungan itu—Caelum. Senyumnya terlihat semakin lebar kala melihat Aurelia menggunakan sihirnya dengan tongkat Astralis yang ia gunakan tadi.

“Jadi beginilah kekuatan Astralis. Ternyata Astralis benar-benar memilihmu.” Bisiknya pelan. Namun Caelum sendiri juga tidak menyadari bahwa dari cabang pohon yang lebih tinggi, sepasang mata abu-abu juga tengah mengawasinya—Orion.

Orion menatapnya dengan begitu dingin, seolah ia sudah tahu bahwa Caelum tidak datang ke hutan itu untuk mengikuti ujian, melainkan untuk mengamati satu orang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Aurelia.

Di kejauhan, bayangan hitam yang lain pun mulai bergerak di antara pepohonan hutan, bayangan yang bukan bagian dari ujian akademi, namun sebuah bayangan yang perlahan mulai menembus perisai Aetherion tanpa diketahui siapa pun.

1
Diana Novitasari
rekomendasi dari kak Adib, aku baru baca sampai bab 5 🤭, sudah bagus👍
ujang casper
lanjut
ujang casper
ceritanya menarik, ada unsur harry potternya, keren min
Anonim
bagus ceritanya, kalimatnya tersusun rapi
Anonim
lanjut kak
kyu rin97
ceritanya sejauh bab 5 yg aku baca bagus, recommended, pertahanin kak
kyu rin97
seru kak, next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!