NovelToon NovelToon
Menjadi Pengantin Pengganti

Menjadi Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Pengantin Pengganti
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sia Masya

Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Dian duduk bersender di atas ranjangnya setelah selesai mandi dan berpakaian. Ia mengambil handphone yang diletakkan di atas meja, samping tempat tidurnya.

Dian mencari nomor Cindy. Ia harus meminta bantuan Cindy, sehingga kerjaan nya menjadi ringan.

"Halo."

"Halo mbak Dian. Ada apa?"

Terdengar suara Cindy dari seberang menyapa Dian dengan suara nya yang imut.

"Cindy, akhirnya. Mbak Dian sangat merindukan mu."

"Cindy juga merindukan mbak Dian. Kenapa tidak datang mengunjungi Cindy lagi?"

"Mbak sangat capek, jadi tidak sempat ke situ."

"Mbak Dian ngapain? Apa mbak Dian lagi kerja, makanya sibuk?"

"Ah, iya. Mbak Dian masuk kerja lagi bareng kakakmu." Jelas Dian jujur.

"Benarkah? Kok mbak Dian setuju-setuju saja? Apa dipaksa sama kakak? Apa mbak Dian aman kerja bareng kakak? Atau mungkin mbak Dian sering disuruh-suruh kakak? Jika demikian...."

Suara Cindy terdengar bergetar, seolah-olah ingin menangis. Cindy pasti merasa sangat bersalah.

"Ah tidak. Tenang saja, mbak aman-aman saja. Hanya mungkin karena mbak baru pertama kali menjadi asisten pribadi, makanya mbak Dian masih menyesuaikan diri."

Dian merasa kekhawatiran Cindy terlalu berlebihan. Cindy terdengar sangat tidak percaya pada kakaknya sendiri. Untuk disuruh, sepertinya tidak. Awalnya karena belum paham, Dian merasa Joshua seperti suka memerintah nya. Namun setelah jadwal yang diberikan pak Arya, ia akhirnya memahami kalau itu semua termaksud tugasnya. Hanya, untuk berkas-berkas yang ia bantu tangani, sepertinya itu siasat Joshua, untuk melihat gimana kemampuannya. Tidak apa-apa, lagian saat itu, ia merasa lebih berguna daripada harus duduk, dan hanya melihat dan menanti Joshua menyelesaikan pekerjaan nya. Tapi, justru setelah tahu bagaimana tugas asisten, ia merasa capek. Karena harus mondar-mandir terus. Ia memang sangat tidak profesional saat ini.

Sepertinya kakak tidak aneh-aneh sama mbak Dian. Itu semua memang adalah rencana nya. Kakak memang ingin dekat dengan mbak Dian. Semoga mereka cepat-cepat menikah. Aku ingin tinggal bareng sama mbak Dian. Aku pengen sekali punya kakak cewek dari dulu.

"Cindy gimana melukis nya?"

"Baik mbak. Mas Emil sangat penyabar saat membimbing Cindy."

"Syukurlah. Senang dengarnya."

Dian mengatur napasnya pelan.

"Cindy mau nggak, kalau mbak Dian balik temani Cindy lagi."

Apa yang dikatakan sama Joshua benar adanya. Dian meminta untuk kembali mengantar nya. Cindy berusaha mencari alasan, karena ia telah berjanji pada kakaknya, untuk menolak permintaan Dian.

"Sepertinya tidak perlu mbak. Cindy sekarang malah ditemani oleh tiga orang pengawal. Jadi Cindy rasa tidak perlu. Mbak hanya perlu fokus pada pekerjaan mbak. Nanti kasihan mbak Dian capek. Hoaaamm... Cindy ngantuk mbak. Cindy mau tidur dulu. Sampai ketemu besok mbak. Nanti temuin Cindy ya. Bye..."

Cindy buru-buru mematikan panggilannya. Ada sedikit rasa bersalah, karena ia harus menolak Dian.

"Maafin Cindy ya mbak, tapi ini yang terbaik buat kalian berdua. Aku tidak ingin merusak rencana kakak lagi"

Cindy menarik selimut nya dan mulai membawa dirinya pada mimpi yang panjang.

Sedangkan Dian, dirinya masih gelisah. Permintaan nya malah mendapat penolakan.

"Tapi, justru dengan kamu mau mbak temanin kamu, mbak nggak akan terlalu capek di kantor."

Dian menggerutu pada ponselnya, melihat panggilan yang sudah diakhiri begitu saja.

"Dian, sepertinya kamu memang harus bertahan selama sebulan. Atau mungkin sebaiknya kamu membujuk Joshua, untuk segera melamar dan menikahimu. Tanpa harus menunggu dia bisa menaklukkan hatimu. Karena itu jalan satu-satunya."

Dian siap lebih cepat, alarm telah disetel nya semalam. Ia juga menerima pesan pagi ini dari pak Arya. Katanya ada seseorang yang akan datang menjemputnya.

"Huh, kenapa jam istirahat pagi ku jadi terganggu seperti ini. Padahal biasanya, aku akan bangun jam 9. Sekarang masih jam 5.30. Pria itu, emang dia butuh asisten nya mulai jam berapa sih."

Jam 6.25 , mobil avanza hitam muncul di bawa perkarangan rumahnya. Dian segera turun. Orang rumah juga belum bangun. Pria tua itu dan istrinya biasanya bangun jam 7, jadi sebentar lagi mereka akan bangun. Tapi ini lebih baik, daripada ia harus melihat wajah mereka.

"Jalan pak."

Sang supir mulai menyetir mobilnya meninggalkan rumah Dian. Pagi yang cerah, udara yang sejuk dan dingin. Dian meminta supirnya mematikan AC mobil, dan membiarkan jendela terbuka. Ia sudah lama tidak menikmati udara pagi sesejuk itu. Dulu, saat masih bersama ibunya, ia akan berkeliling menjual koran, atau mungkin kue titipan toko, ke setiap rumah. Ia bekerja dari pagi ketemu malam, tanpa henti. Dari kecil, tidak ada yang namanya menikmati masa kecil. Mungkin sempat, saat ayahnya masih memiliki pekerjaan bagus, dan masih peduli pada keluarga. Namun, setelah ayahnya dipecat, perubahan besar mulai terlihat pada ayahnya. Pria itu mulai mabuk-mabukan, dan saat pulang akan mengajak istrinya bertengkar. Dian sudah mulai lupa pada wajah ayahnya, dan ia juga tidak tahu dimana ayahnya berada sekarang. Karena saat ayahnya pergi, usianya baru 7 tahun. Bahkan setelah berita kehamilan ibunya, ayahnya juga tidak muncul.

Air mata kini mengalir di sudut pipinya tanpa ia sadari. Kisahnya memang begitu menyedihkan dan tragis. Masuk menjadi anak angkat dari orang kaya, dikiranya akan ada kenyamanan. Ternyata semua itu hanya sandiwara. Ia belum tahu, bagaimana perlakuan orang tua angkatnya dibelakang nya. Saat ia hampir celaka, mereka hanya memenangkan sebentar, dan mengatakan tidak apa-apa. Kami akan merawatmu sampai sembuh. Bahkan beberapa kejadian yang selalu mencelakainya. Tidak ada tindakan untuk lapor polisi. Dirinya seperti anak burung, yang ditaruh di dalam sangkar emas. Ia dibuat sesempurna mungkin sebagai boneka hidup, harus selalu peringkat di kelas, les bahasa asing, les piano, les apapun harus mendapatkan nilai A. Tidak boleh kurang apapun. Ia pernah dihukum, saat nilainya rendah. Dan ia dikunci dalam gudang tanpa makan, maupun minum selama satu hari penuh. Cuman segelas air yang disediakan untuknya.

Saat sakit, ia harus tetap berangkat sekolah. Sang ibu angkatnya itu, memberinya obat dan menyuruhnya minum, agar ia tidak absen.

Dian berpikir, mungkin itu pola asuh mereka, agar ia menjadi anak yang pintar saat besar nanti. Dan biar bisa lebih semangat belajar. Sampai saat kelas 2 SMP, ia mendengar pembicaraan mereka tentang putri kandung mereka, dan putri pengganti(dirinya sendiri).

Mereka punya banyak musuh, jadi dirinya yang akan menjadi target orang-orang jahat. Karena putri mereka pernah diculik. Jadi mereka mengamankan putri mereka ke luar negeri, dan menjadikan Dian sebagai pengganti nya. Jika Dian diincar, dan terbunuh, mungkin orang-orang jahat itu akan berhenti mencari putri mereka. Tapi syukurlah, Dian seperti memiliki banyak nyawa, saat ia diculik, atau mungkin ditabrak, tidak sampai membuat dirinya meninggal. Tuhan seolah-olah selalu melindungi nya.

Karena hal itu, Dian menjadi paham, bahwa selama beberapa tahun, ia tinggal bersama orang tua angkatnya, mereka hanya sandiwara saat memanggilnya 'Anakku/putriku'.

Semua perhatian yang mereka berikan, adalah kepalsuan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!