Tembus pandang, ahli pengobatan, dan kekuatan tiada tara adalah sepasang mata dewa.
Menjadi buta demi membangkitkan kekuatan mata dewa membuat Ivan begitu menderita.
Namun semuanya terbayar setelah Ivan mendapatkan mata dewa yang sinarnya menembus kegelapan.
Gadis-gadis cantik perlahan jatuh hati kepadanya.
Bagaimana kelanjutannya dapat di baca, semoga terhibur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agus budianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 17 TARUHAN
Kini justru api perseteruan terjadi antara Dania dan Julia. Ivan juga menjadi bingung dengan hal ini.
"Jadi Mahendra grup mengandalkan bocah kampung ini untuk mengikuti kompetisi giok, benar-benar lelucon," ujar Bastian.
"Jika mau melawak, cari tempat lain saja, haha..." sambung Bastian tertawa lepas.
"Menang atau kalah, kompetisi belum di mulai, aku cukup percaya diri untuk saat ini," balas Julia.
"Benarkah, kalau begitu aku akan tunjukkan wakil dari Darmawan grup, aku ingin lihat, apa kamu masih bisa begitu percaya diri atau tidak," ujar Bastian.
"Prok... prok...!" Bastian bertepuk tangan memanggil.
Seketika tiga orang pria dengan jenggot dan kumis panjang mulai muncul di sana. Sontak saja kemunculan ketiga orang itu langsung menarik perhatian orang-orang di sana.
"Bukankah mereka tiga saudara yang legendaris itu, master dari segala master, tiga saudara yang yang menduduki peringkat satu penilai batu negara ini, ternyata dia datang untuk berkompetisi di kota ini juga," ujar salah seorang di sana.
"Tampaknya mereka akan mewakili Darmawan grup sebagai ahli penilai batu, dapat di pastikan kali ini Darmawan grup akan menjadi kandidat kuat juara," ujar orang yang lain.
"Kompetisi kali ini benar-benar luar biasa, tidak menyesal aku jauh-jauh datang dari luar kota," ujar orang yang lain lagi.
Orang-orang di sana juga langsung mengenali mereka. Yang pertama bernama Tino, yang kedua Dono, dan yang menjadi pemimpin mereka bernama Rio. Mereka bertiga adalah master batu giok yang sangat terkenal.
"Mereka... bagaimana bisa..." Julia juga mulai panik.
Pantas saja Bastian begitu yakin bisa menang, ternyata dia telah mengundang tiga saudara legendaris. Entah bagaimana caranya, tapi ini benar-benar gawat, pikir Julia.
"Haha... sekarang kamu baru merasa takut bukan?" ujar Bastian kepada Julia.
Julia juga langsung terdiam tidak berkata-kata. Julia sadar betul kemampuan dari tiga saudara legendaris. Mahendra grup sendiri hanya bisa mengandalkan dirinya yang kemampuannya terbatas, dan juga Ivan yang baru saja terjun ke dunia giok. Jelas hampir mustahil untuk dapat menang.
"Julia, apa yang kamu takutkan, ada aku di sini," Ivan mencoba menenangkan Julia.
"Ivan..." balas Julia.
"Memang kamu orang yang banyak gaya, apa kamu tidak tahu siapa tiga saudara legendaris, kamu mau melawannya, dalam mimpi pun tidak akan bisa," ujar Dania kepada Ivan.
"Aku tahu kamu begitu tidak suka terhadapku dan ingin aku kalah, tapi sayang, itu tidak akan terjadi," balas Ivan.
"Bagaimana jika kita bertaruh, kalau kamu kalah dalam kompetisi ini, maka patahkan kedua kakimu," ujar Dania.
Dania mau mengambil kesempatan ini untuk memberikan pelajaran kepada Ivan. Pria brengsek sepertinya harus menerima ganjarannya karena menyinggungnya, pikirnya.
"Kalau aku menang bagaimana?" balas Ivan sama sekali tidak takut.
"Aku akan serahkan diriku, terserah kamu mau berbuat apa terhadapku," ujar Dania dengan penuh rasa percaya diri.
"Baik, kamu yang minta ya, aku harap kamu tidak akan ingkar janji nanti," balas Ivan.
"Ivan, apa yang kamu lakukan, kamu malah bertaruh lagi?" Julia terlihat mengkhawatirkan Ivan.
"Bagaimana jika kalah, kamu bisa kehilangan kakimu?" sambung Julia.
"Tenang saja, percaya padaku," balas Ivan.
Di saat pertikaian semakin menjadi-jadi, terdengarlah suara dari panitia bahwa sebentar lagi kompetisi batu giok akan segera di mulai.
Para peserta di minta untuk memilih batu mereka masing-masing pada tumpukan batu yang telah di sediakan.
Tampak banyak tumpukan batu di sana dengan berbagai ukuran dan bentuk. Setiap tumpukan batu mempunyai harga yang berbeda-beda tergantung atas kemungkinan ada giok di dalamnya.
"Bagaimana pun caranya kalian harus memenangkan kompetisi ini!" Bastian memberikan perintah kepada tiga saudara legendaris.
"Tuan Bastian tenang saja, anda telah membayar kami dengan mahal, hanya kompetisi kecil saja," balas Rio yang merupakan tertua dari tiga saudara legendaris.
Bastian juga memberikan sebuah kartu bank kepada mereka yang akan di gunakan untuk membeli batu pilihan mereka.
"Dania, kita tunggu saja di tribun!" ajak Bastian.
Bastian hendak menggandeng tangan Dania, tapi Dania langsung menghindarinya.
"Baik, setelah acara ini selesai, jangan lupa janjimu?" balas Dania.
"Tentu saja aku ingat, hanya 800 milyar saja, bagi keluarga Darmawan itu tidak seberapa," ujar Bastian.
"Kamu masih jual mahal, tunggu saja waktunya," ucap Bastian dalam hati.
Bastian dan Dania juga pergi ke tribun meninggalkan tiga saudara legendaris.
"Tino, apa semua sudah kamu siapkan?" tanya Rio dengan nada pelan agar tidak ada yang mendengarnya.
"Tenang saja kak, semua beres, tidak akan ada yang mengetahuinya kalau kita berbuat curang," balas Tino.
Ivan dan Julia sendiri juga mulai memilih batu yang akan mereka gunakan dalam kompetisi ini.
"Ivan, di dalamnya ada 50 milyar, kamu bisa memakainya untuk mendapatkan batu pilihanmu," Julia memberikan sebuah kartu bank kepada Ivan.
"Aku ke sebelah sana dulu," Julia juga pergi meninggalkan Ivan ke tumpukan batu yang lain.
Ivan juga langsung menggunakan kekuatan mata dewanya. Seketika sekilas cahaya terlintas di kedua matanya. Mata dewa mengeluarkan kemampuan tembus pandangnya.
Penglihatan Ivan langsung menembus setiap tumpukan batu di sana. Hingga kemudian sebuah batu menarik perhatiannya.
Batu itu ukurannya lebih besar sedikit di bandingkan bola kasti dengan label harga yang masih menempel senilai 50 juta.
"Mungkin harga 50 juta adalah yang termurah di sini, tapi justru isi di dalamnya begitu mengejutkan," ucap Ivan dalam hati.
Ivan juga membeli batu tersebut untuk di gunakan pada kompetisi ini. Julia yang sudah selesai memilih batu juga telah kembali. Terlihat di kedua tangan Julia sebuah batu berukuran bola futsal dengan banyak kristalisasi berwarna hijau.
"Ivan, aku sudah selesai, bagaimana denganmu?" tanya Julia.
"Aku juga sudah," jawab Ivan dengan menunjukkan batu pilihannya.
Julia langsung melotot melihat label harga yang hanya senilai 50 juta saja.
"Ivan batu milikmu ini harganya hanya 50 juta, apa kamu serius, lebih baik kamu ganti saja!" ujar Julia.
"Di sana ada tumpukan batu yang harganya 10 milyar, kamu bisa ke sana untuk memilihnya," sambung Julia.
Julia tentu saja perasaanya tidak tenang saat ini, mereka menghadapi lawan yang begitu berat yaitu tiga bersaudara legendaris. Harapan menang begitu kecil, di tambah lagi Ivan hanya memilih batu dengan harga 50 juta saja.
"Tidak perlu, aku yakin dengan pilihanku," balas Ivan.
Kemudian terdengar suara bel yang menandakan waktu memilih batu telah habis. Para peserta di minta untuk merapat ke tribun.
Semua orang juga mulai merapat ke tribun. Di depan tribun ada sebuah panggung yang cukup besar. Di panggung tersebut ada seorang wanita yang menjadi pemandu acara.
"Para penonton, tamu, dan para kontestan yang datang menghadiri kompetisi batu giok ini, mohon di perhatikan!" ujar wanita pembawa acara dengan menggunakan mikropon.
"Kompetisi terbesar batu giok kota Neo akan segera di mulai," sambung wanita pembawa acara.
Segera terdengar tepuk tangan yang meriah dari orang-orang di sana.
"Kompetisi kali ini jauh lebih meriah dari sebelumnya, aku lihat banyak orang-orang kaya yang datang untuk dari luar kota untuk menonton kompetisi ini," ujar salah seorang di tribun.
"Bukan hanya meriah, kompetisi ini juga di siarkan secara langsung oleh saluran televisi nasional, itu menandakan kompetisi ini begitu penting dan terkenal," ujar orang yang lain.
"Entah siapa yang akan menjadi juaranya, tapi pastilah mereka yang terbaik dalam urusan giok," ujar orang yang lain lagi.
Terlihat di berbagai sudut tempat itu para kameramen yang menyorot ke panggung untuk menyiarkannya secara langsung.