NovelToon NovelToon
Si Jenius Pasar Saham

Si Jenius Pasar Saham

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Theo, seorang bocah jenius dengan pemahaman luar biasa tentang pasar modal, lahir di keluarga yang serba kekurangan. Kehidupannya yang sederhana berbanding terbalik dengan kecemerlangannya dalam menganalisis grafik saham dan memprediksi tren pasar. Suatu ketika, sebuah kesempatan tak terduga datang saat ia menemukan sebuah buku tua berisi strategi investasi legendaris. Dengan modal nekat dan kecerdasannya yang tak tertandingi, Theo mulai merintis jalan dari nol. Ia bertekad membuktikan bahwa kecerdasan finansial dapat mengubah nasib, bahkan bagi anak dari keluarga miskin sekalipun, dan membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Pertemuan Tak Terduga di Acara Amal

Beberapa bulan kemudian, Glory School mengadakan acara amal tahunan yang cukup besar. Acara ini dihadiri oleh para orang tua siswa, alumni, serta tokoh-tokoh penting dari berbagai kalangan, termasuk keluarga Wijaya. Theo, yang kini semakin nyaman dengan lingkungan barunya, ditugaskan untuk membantu panitia dalam beberapa aspek, terutama yang berkaitan dengan promosi dan logistik acara, memanfaatkan keahliannya yang sudah terasah.

Di tengah keramaian acara, di mana para tamu menikmati hidangan mewah dan pertunjukan seni dari para siswa, Theo sedang sibuk mengawasi jalannya distribusi konsumsi. Ia bergerak lincah di antara para tamu, memastikan semuanya berjalan lancar.

Saat itulah, matanya menangkap sosok yang familiar. Seorang gadis dengan rambut panjang tergerai dan senyum manis yang sama seperti yang pernah ia lihat di perpustakaan. Gadis itu sedang berbincang dengan ibunya, yang rupanya adalah salah satu tamu undangan penting. Theo mengenali wajahnya seketika, meskipun gadis itu kini mengenakan gaun malam yang elegan dan terlihat lebih dewasa.

Perasaan penasaran yang sempat tertahan beberapa bulan lalu kini kembali muncul. Theo memutuskan untuk mendekat, dengan alasan ingin memastikan tidak ada masalah dengan konsumsi di area tempat gadis itu berada.

Saat ia mendekat, gadis itu menoleh. Matanya bertemu dengan mata Theo. Ada kilatan keterkejutan dan sedikit rona merah yang kembali menghiasi pipinya, persis seperti saat di perpustakaan. Ia ingat Theo.

"Permisi," Theo memulai dengan sopan, sedikit membungkuk. "Apakah ada yang bisa saya bantu terkait konsumsi di area ini?"

Gadis itu sedikit terdiam, masih memproses pertemuan tak terduga ini. Ibunya menatap Theo dengan ramah.

"Oh, tidak perlu, Nak," jawab ibu gadis itu. "Semuanya sudah sangat baik. Terima kasih atas perhatiannya."

Gadis itu kemudian menatap Theo, senyumnya sedikit lebih percaya diri kali ini. "Ya, semuanya baik-baik saja. Terima kasih."

Theo merasa ada kesempatan untuk akhirnya berkenalan. "Saya Theo,"

...****************...

Theo merasa ada kesempatan untuk akhirnya berkenalan. "Saya Theo," ucapnya, mengulurkan tangan kanannya dengan sopan.

Gadis itu menatap tangan Theo sejenak, lalu tersenyum lebih lebar. "Elsa," jawabnya, membalas uluran tangan Theo. "Senang akhirnya bisa berkenalan denganmu, Theo." Suaranya terdengar lebih mantap kali ini, tidak lagi terbata-bata seperti di perpustakaan.

"Wah, kalian kelihatan sudah cukup akrab," ujar ibu Elsa, menatap interaksi putrinya dengan Theo dengan senyum geli. Ia memperhatikan rona merah yang kembali muncul di pipi Elsa, dan senyum ramah Theo yang seolah sudah mengenalnya.

Elsa tersipu mendengar ucapan ibunya. Ia mencoba mengalihkan pandangan, namun senyumnya masih tersisa di bibirnya. "Kami pernah bertemu sebentar di perpustakaan sekolah, Bu," jelas Elsa, mencoba meredakan rasa malunya.

"Oh, begitu," sahut ibu Elsa, mengangguk mengerti. Ia kemudian menatap Theo dengan lebih lekat. "Terima kasih sudah menjaga putriku dengan baik, Nak. Dan terima kasih juga atas bantuanmu dalam acara amal ini."

Theo tersenyum. "Sama-sama, Ibu. Saya senang bisa membantu." Ia kemudian menatap Elsa lagi. "Senang bertemu denganmu lagi, Elsa."

Elsa membalas tatapan Theo, senyumnya kini lebih terang. "Senang bertemu denganmu juga, Theo."

Percakapan singkat itu berakhir dengan janji tak terucap untuk saling mengenal lebih jauh. Theo kembali melanjutkan tugasnya, namun kali ini dengan perasaan yang berbeda. Pertemuan dengan Elsa meninggalkan kesan yang menyenangkan, sebuah percikan kecil di tengah kesibukannya. Sementara itu, Elsa, setelah Theo menjauh, masih merasakan debaran halus di dadanya. Ia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan pemuda tampan dan baik hati yang pernah ia senggol di perpustakaan itu, apalagi di acara sepenting ini.

...****************...

Theo kembali melanjutkan tugasnya, namun kali ini dengan perasaan yang berbeda. Pertemuan dengan Elsa meninggalkan kesan yang menyenangkan, sebuah percikan kecil di tengah kesibukannya. Ia tidak bisa memungkiri bahwa gadis itu memiliki daya tarik tersendiri, tidak hanya karena kecantikannya, tetapi juga karena aura sopan dan sedikit pemalunya.

Sementara itu, Elsa, setelah Theo menjauh, masih merasakan debaran halus di dadanya. Ia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan pemuda tampan dan baik hati yang pernah ia senggol di perpustakaan itu, apalagi di acara sepenting ini. Dan yang lebih mengejutkan, ternyata Theo adalah siswa di sekolah yang sama dengannya, bahkan ia terlihat sangat dipercaya oleh panitia acara.

"Dia anak yang baik, ya, Bu," ujar Elsa, masih dengan senyum yang tersisa di bibirnya, menatap ke arah Theo yang sedang berbincang dengan salah satu guru.

"Ya, Ibu lihat," sahut ibu Elsa, tersenyum. "Sepertinya dia siswa yang sangat berprestasi dan dihormati di sekolah. Wajahnya juga tampan sekali. Cocok sekali denganmu, Nak." Ibu Elsa menggoda putrinya.

Elsa kembali tersipu. "Ibuuu..." rengeknya pelan, namun ia tidak bisa menyembunyikan rasa senang yang mulai tumbuh di hatinya. Ia melirik Theo lagi, yang kini sedang tertawa bersama guru tersebut. Ada perasaan hangat yang menjalar di hatinya. Ia merasa, pertemuan di perpustakaan yang canggung itu, ternyata hanyalah awal dari sesuatu yang mungkin akan menjadi lebih menarik.

Acara amal terus berjalan meriah. Theo sesekali mencuri pandang ke arah Elsa, yang kini sedang menikmati pertunjukan musik bersama ibunya. Elsa pun sesekali balas menatap, menciptakan komunikasi diam-diam di antara mereka di tengah keramaian. Ada sebuah pemahaman baru yang mulai terbentuk, sebuah ketertarikan yang tumbuh dari pertemuan tak terduga.

Di sisi lain, keluarga Wijaya juga hadir dan menikmati acara tersebut.

...****************...

Acara amal terus berjalan meriah. Theo sesekali mencuri pandang ke arah Elsa, yang kini sedang menikmati pertunjukan musik bersama ibunya. Elsa pun sesekali balas menatap, menciptakan komunikasi diam-diam di antara mereka di tengah keramaian. Ada sebuah pemahaman baru yang mulai terbentuk, sebuah ketertarikan yang tumbuh dari pertemuan tak terduga.

Di sisi lain, Pak Wijaya dan Nyonya Wijaya juga hadir, menikmati suasana acara. Kehadiran mereka bukan sekadar sebagai orang tua siswa, melainkan sebagai salah satu kontributor utama sekolah Glory. Donasi mereka yang besar telah membantu pembangunan berbagai fasilitas di sekolah tersebut, termasuk laboratorium sains canggih tempat para siswa jenius seperti Theo dan Elsa mengasah otak mereka.

Jhonatan, yang juga merupakan alumni berprestasi dari Glory School, turut hadir. Ia tampak gagah dalam balutan jasnya, sesekali menyapa para guru dan alumni yang ia kenal. Ia melihat Theo yang sedang sibuk membantu panitia, dan juga sempat melihat interaksi singkat antara Theo dan Elsa. Jhonatan tersenyum tipis, menyadari bahwa Theo mungkin akan menemukan lebih dari sekadar pengalaman akademis di sekolah ini.

Theo, yang sedang mengawasi jalannya acara, melihat Jhonatan sedang berbincang dengan beberapa alumni. Ia sempat melambaikan tangan, dan Jhonatan membalasnya dengan anggukan. Theo merasa bangga bisa berkontribusi dalam acara ini, baik sebagai siswa maupun sebagai 'konsultan' mini bagi Jhonatan.

Pertemuan dengan Elsa tadi masih membekas di benaknya. Ia penasaran ingin tahu lebih banyak tentang gadis itu. Apakah Elsa juga seorang siswa jenius seperti dirinya? Dan mengapa ia begitu terburu-buru saat itu? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di benaknya, menambah warna baru pada hari yang sudah cukup istimewa ini.

Malam semakin larut, dan acara amal pun perlahan-lahan berakhir. Theo merasa lelah namun puas. Ia telah berhasil menjalankan tugasnya dengan baik, dan yang terpenting, ia telah bertemu kembali dengan Elsa,

1
Tosari Agung
hati hati Rendra Theo dan anakmu yang belum tentu di pihakmu akan membuat serangan saham yang menukik 🤣🤣🤣🤣🤣
Rahul: apakah Rendra kena karma nya🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!