Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.
Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.
Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.
Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17•Batas Yang Sudah Hilang
Tawa Dewi masih terdengar dari ruang tengah. Bara berdiri di tangga. Keheningan dari lantai atas lebih keras dari suara itu.
Ia naik. Anak tangga berderit di bawah kakinya. Di depan kamar Naya, ia berhenti. Tiga kali ia ketuk pintu.
Tidak ada jawaban.
“Naya. Kamu masih bangun?”
Gagang pintu berputar. Naya membuka sedikit. Mata merah. Dress biru mudanya kusut. Ia tidak lagi menutup wajah saat melihat Bara.
“Kamu ngapain naik ke sini?” suaranya rendah.
“Mastiin kamu masih bernapas.”
Naya mendorong pintu. Bara menahan dengan telapak tangan. Bukan paksa, hanya cegah.
“Bar, turun. Kita sudah kelewat batas tadi di dapur.”
“Aku tahu.” Bara menatap ke dalam. “Tapi aku gak bisa denger kamu nahan tangis sendirian di sini sementara dia ketawa sama mantannya di bawah.”
Naya mundur. Bahunya naik turun. “Kalau Mas Arkan tahu—”
“Dia gak akan tahu.”
Jarak di antara mereka menyusut. Wangi sampo Naya tercium. Tangan Naya naik, menahan dada Bara. Dorongannya lemah.
“Naya—”
Bara tidak menyelesaikan. Ia menunduk sampai keningnya menyentuh kening Naya. Napas mereka bertabrakan.
Lalu bibirnya turun.
Singkat. Panas. Salah. Bibir Bara menyentuh bibir Naya yang masih asin oleh air mata.
Hanya beberapa detik.
Naya mendorong dada Bara. “Bar, gila! Turun sekarang sebelum kita kebablasan!”
Suaranya pecah. Bukan marah. Bara mundur. Tangannya mengepal. “Maaf. Aku cuma gak bisa lihat kamu dipatahkan kayak gini.”
“Jangan pernah naik lagi,” kata Naya. Matanya basah. “Demi kita berdua. Demi kewarasan aku.”
Pintu tertutup. Suara kunci berputar jelas di telinga Bara. Ia berdiri sebentar, lalu turun dengan langkah lebih berat dari saat naik.
Di ruang tengah, tawa Dewi pecah lagi.
---
Jam di dinding menunjukkan pukul dua pagi saat pintu kamar Naya diketuk lagi.
Tubuh Naya menegang. Ia melirik jam. Sudah berjam-jam sejak ia mengunci pintu setelah Bara turun. Ia kira malam ini ia lewati sendiri.
Ketukan itu terulang. Pelan, tapi pasti.
Naya membuka pintu.
Arkan berdiri di ambang. Wajahnya kosong. Matanya sembab. Ia tidak bertanya kenapa pintu terkunci. Ia masuk, menarik selimut dan bantal dari lemari. Gerakannya cepat, tanpa menoleh.
“Mas… mau tidur di mana?”
Arkan berhenti. Ia menoleh. “Kamu masih berani nanya?”
Naya mundur setengah langkah. Tapi kali ini ia tidak diam. “Berani, Mas. Aku capek kamu begini terus. Wanita tadi itu mantan kamu, kan? Kamu gak pernah jawab. Selalu ngeles.”
Alis Arkan naik. “Kamu mau mulai lagi?”
“Mulai apa? Bilang kenyataan?” Naya maju satu langkah. “Malam ini Dewi ketawa sama Mas di ruang tengah, sementara aku disuruh Ibu kayak pembantu.” Tawanya keluar pendek, hambar.
Arkan diam. Rahangnya mengeras. “Kamu jadi istri nggak becus,” katanya, suaranya ditekan. “Dipanggil Mama buat masak, ngilang. Tamu datang, kamu masuk kamar. Nggak ada penghargaan.” Ia mengalihkan pembicaraan.
“Itu alasan Mas,” potong Naya. “Alasan biar Mas bisa bawa selimut keluar dan tidur jauh dari aku. Sama kayak dulu, pas aku tanya kenapa Mas pulang tengah malam. Selalu ada alasan. Selalu bukan Dewi.”
Wajah Arkan mengeras. “Kamu mau aku bilang apa? Mau aku ngakuin sesuatu yang nggak ada?”
“Aku mau Mas jujur sekali aja.” Mata Naya merah, tapi tidak jatuh lagi.
Arkan menatapnya lama. Lalu ia berbalik, membawa selimut dan bantal keluar kamar. Pintu ditutup pelan, bukan dibanting.
Arkan tidur di sofa lantai utama. Jauh dari istrinya sendiri.
Naya berdiri di tengah kamar. Napasnya berat. Malam ini ia dipeluk orang yang salah, lalu diabaikan orang yang seharusnya jadi tempat pulang.
Ia duduk di tepi ranjang. Matanya kosong menatap pintu.
Malam itu ia tidak tidur.
Jam lima pagi, ia menyerah. Turun ke bawah dengan langkah pelan.
Arkan masih terlelap di sofa. Wajahnya damai, bertolak belakang dengan kata-kata semalam. Naya berhenti sebentar, menatapnya, lalu masuk ke pantry. Ia menuang air ke gelas. Genggamannya lama di gelas itu. Setelah habis, ia kembali ke kamar. Mencoba berbaring. Tapi matanya tidak terpejam.
Pukul tujuh, ia belum juga turun.
Ibu Desy turun lebih dulu. Ia melihat Arkan di sofa. Wajahnya langsung merah. Bukannya membangunkan anaknya, ia naik ke atas. Mengetuk kamar Naya tanpa menunggu.
“Naya, buka!”
Naya membuka pintu. Wajahnya pucat.
“Kamu ini istri macam apa?” Suara Ibu Desy rendah tapi tajam, ditahan agar tidak ke bawah. “Suamimu tidur di sofa dan kamu masih mengurung diri di kamar!”
Kata-kata itu menghantam bertubi. Tentang kewajiban istri. Tentang malu keluarga. Tentang tidak tahu diri.
Kepala Naya berdenyut. Pandangannya mengabur. Lututnya lemas. Sebelum sempat memegang apa pun, tubuhnya jatuh.
Bara ada di pantry, menggapai gelas di meja. Pagi itu ia turun lebih awal, belum berani menatap wajah Naya setelah kejadian semalam.
Lalu suara Ibu Desy memecah rumah. “Naya!”
Gelas di tangan Bara terlepas. Pecah di lantai. Ia tidak peduli.
Bara berlari naik. Dua anak tangga dilewati sekaligus. Pintu kamar Naya terbuka. Ibu Desy berdiri terpaku, wajahnya pucat. Di lantai, Naya terbaring tak sadarkan diri.
Tanpa pikir panjang, Bara mengangkat tubuh Naya. Ringan. Terlalu ringan untuk ukuran orang yang menahan semuanya sendiri.
“Bar, bawa dia ke rumah sakit!” Suara Ibu Desy bergetar.
Bara mengangguk. Ia turun cepat, membawa Naya melewati ruang tengah.
Di sana, Arkan baru saja bangun dari sofa. Rambutnya acak-acakan, matanya masih berat. Ia terperanjat mendengar teriakan ibunya. Tapi ia terlambat.
Bara sudah membuka pintu mobil. Dengan hati-hati ia meletakkan Naya di kursi belakang, lalu tancap gas.
Arkan berdiri di ambang pintu. Napasnya memburu. Ia melihat mobil Bara menjauh, membawa istrinya pergi.