Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.
Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.
Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.
"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"
Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Bukannya mendengarkan bentakan Kenzo, Tria yang sudah kehilangan akal sehatnya justru bangkit berdiri dengan histeris. Ia langsung melompat maju dan memeluk tubuh Kenzo dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang cowok itu sambil menangis sejadi-jadinya.
"Ken, tolongin aku! Aku tahu aku salah, tapi cuma kamu yang bisa bikin Rindu cabut tuntutannya! Tolong aku, Ken... aku masih sayang sama kamu!" ratap Tria di sela tangisnya, mengabaikan fakta bahwa Kenzo sudah menegang dan berusaha mendorong bahunya menjauh.
Pemandangan di depannya terjadi begitu cepat, menghantam dada Rindu dengan kekuatan yang luar biasa.
Deg.
Udara di sekitar Rindu mendadak terasa hilang. Paru-parunya seolah menyempit seketika, menolak untuk bekerja. Trauma sesak napas yang beberapa saat lalu berhasil diredam Kenzo, kini mendadak kembali menyerang dengan intensitas dua kali lipat lebih hebat.
Bukan karena dinginnya air kolam, melainkan karena rasa sesak yang menghimpit ulu hatinya melihat perempuan lain memeluk pria yang baru saja menyatakan perasaan kepadanya. Rindu melangkah mundur beberapa tapak dengan tidak stabil. Papan klip di tangannya terlepas, jatuh menghantam lantai tegel kolam dengan suara prak yang nyaring, membuat kertas catatannya berserakan.
"R-Rin..." rintih Rindu pelan, tangannya bergerak naik mencengkeram dadanya sendiri yang terasa sangat sakit. Napasnya mulai memburu, pendek-pendek, dan tak beraturan. Pandangannya perlahan mengabur seiring dengan pasokan oksigen yang menipis ke otaknya.
Kenzo yang menyadari suara papan klip jatuh langsung menoleh dengan panik. Begitu melihat wajah Rindu yang memucat dan tubuhnya yang mulai limbung karena sesak napas, mata elang Kenzo menyalang penuh amarah.
Dengan satu sentakan kasar, Kenzo mendorong Tria menjauh hingga perempuan itu terenyak ke lantai.
"Jangan pernah sentuh gue lagi, Tria! Pergi lo!" bentak Kenzo murka, tidak memedulikan Tria yang menangis tergugu.
Kenzo langsung berbalik secepat kilat, menangkap tubuh Rindu yang hampir ambruk ke lantai. Ia membawa Rindu ke dalam dekapan hangatnya, merengkuh bahu gadis itu agar tetap tegak.
"Rindu! Rin, Hey…” Kenzo menatap wajah Rindu yang pucat.
Di dalam kolam, Gani dan anak-anak tim utama langsung menepi dengan wajah tegang.
Gani berteriak lantang ke arah Tria, "Heh Tria! Keluar lo sekarang sebelum gue panggil satpam kampus! Lo hampir bikin anak orang mati tahu gak?!"
Plak!
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Rindu menepis kasar tangan Kenzo yang hendak meraih bahunya kembali. Sentuhan yang beberapa menit lalu terasa begitu menenangkan, kini justru terasa membakar kulitnya. Rasa sesak di dadanya bercampur aduk dengan rasa kecewa yang luar biasa.
Rindu tidak sudi menjadi bagian dari panggung drama ini. Tanpa memedulikan Kenzo yang memanggil namanya dengan nada panik, Rindu berbalik dan langsung berlari sekencang mungkin meninggalkan area kolam renang indoor. Ia mengabaikan panggilan Gani, mengabaikan kertas-kertas catatannya yang berserakan di lantai, dan mengabaikan fakta bahwa napasnya semakin terputus-putus. Yang ia inginkan hanyalah pergi sejauh mungkin dari Kenzo dan Tria.
"Rindu! Tunggu, Rin!" teriak Kenzo frustrasi.
Kenzo hendak langsung mengejar Rindu, namun Tria lagi-lagi dengan nekat menarik ujung handuk yang ada di pundak Kenzo dari lantai. "Ken, tolong aku dulu—“
"LEPASIN GUE, TRIA!" bentak Kenzo dengan suara yang menggelegar penuh amarah, tatapannya begitu maut hingga membuat Tria refleks melepas cengkeramannya karena ketakutan.
Kenzo tidak memedulikan mantannya itu lagi. Ia langsung menoleh ke arah kolam dengan kilat mata yang tajam. "Gani! Urus Tria, panggil satpam kalau dia gak mau keluar! Gue harus kejar Rindu!"
"Siap, Capt! Buruan kejar, Rin kondisinya lagi gak stabil itu!" sahut Gani sigap, langsung naik dari kolam bersama Doni untuk mengadang Tria.
Kenzo langsung berlari menyusul Rindu, melompati undakan tangga dengan tergesa-gesa. Jantungnya berdegup liar karena takut terjadi sesuatu yang buruk pada Rindu, terutama dengan kondisi napas gadis itu yang sedang memburuk.
"Rin... Rin, tunggu!"
Langkah kaki Kenzo yang lebar akhirnya berhasil menyusul langkah Rindu di area parkir yang agak lengang. Tepat saat jemari Rindu baru saja hendak menyentuh gagang pintu mobilnya, Kenzo bergerak secepat kilat.
Greb.
Kenzo berhasil meraih pergelangan tangan Rindu, menahannya dengan genggaman yang kuat namun tetap berhati-hati agar tidak menyakiti gadis itu. Napas Kenzo memburu, dadanya kembang kempis bukan hanya karena lelah berlari, tetapi karena rasa takut yang teramat sangat melihat kondisi Rindu.
"Lepas, Kak! Lepasin Rin!" seru Rindu parau. Ia mencoba menyentak tangannya dengan sisa tenaga yang ada, namun genggaman Kenzo mengunci pergerakannya.
Rindu terpaksa berbalik menghadap Kenzo. Wajahnya sudah pucat pasi, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang memerah, dan bibirnya bergetar menahan sesak yang kian menghimpit dadanya. Napasnya terdengar pendek dan putus-putus, tanda bahwa pasokan oksigen di paru-parunya sudah berada di batas kritis.
Melihat kondisi Rindu yang mengkhawatirkan, Kenzo sama sekali tidak berniat mendebat atau memberikan penjelasan panjang lebar tentang Tria terlebih dahulu. Prioritas utamanya saat ini adalah keselamatan Rindu.
Dengan gerakan cepat namun lembut, Kenzo merogoh kantong jaket training-nya yang lembab dan mengeluarkan sebuah botol kecil—inhaler milik Rindu yang untungnya sempat ia amankan tadi.
"Kakak gak akan lepasin sebelum kamu pakai ini. Lihat kakak, Rin... pakai ini dulu, baru kamu boleh marah sama kakak," ucap Kenzo dengan suara yang melunak total, bergetar penuh permohonan.
Ia mengarahkan inhaler itu tepat di depan bibir Rindu, menatap lekat-lekat mata gadis itu dengan sorot mata yang dipenuhi rasa bersalah dan kekhawatiran yang mendalam.
Rindu terpaku seketika. Sentakan tangannya terhenti, dan untuk beberapa detik ia bahkan melupakan rasa sesak yang tengah menghimpit dadanya. Sepasang matanya yang basah melebar, menatap botol inhaler di tangan Kenzo dengan pandangan tidak percaya.
Rindu benar-benar terkejut. Tidak ada satu orang pun di kampus, di klub renang, bahkan di antara teman-teman dekatnya yang tahu kalau sang Ratu Lintasan sebenarnya memiliki penyakit asma. Selama ini ia menyembunyikan rahasia itu rapat-rapat dengan dalih "trauma kram" demi menjaga reputasi dan gengsinya sebagai atlet.
"K-Kakak... kok bisa..." bisik Rindu parau, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Kakak tahu semuanya, Rin. Kakak tahu dari pertama kali kakak nemuin botol ini jatuh di loker kamu minggu lalu," potong Kenzo lembut, memangkas semua kebingungan di mata Rindu.
"Tapi sekarang itu gak penting. Pakai ini dulu, Rin. Kakak mohon..."
Melihat sorot mata Kenzo yang begitu tulus dan dipenuhi rasa cemas yang amat sangat, pertahanan Rindu akhirnya runtuh. Rasa sakit di dadanya sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Dengan tangan yang gemetar, ia menerima inhaler itu dari tangan Kenzo, mengarahkannya ke mulut, lalu menekan tombolnya dalam satu hirupan panjang.
Sshhh.
Rindu memejamkan mata erat-erat, membiarkan obat itu masuk dan memperlebar saluran pernapasannya yang sempat menyempit. Setelah beberapa detik, ia mengembuskan napas perlahan. Dadanya yang tadi naik-turun dengan ekstrem kini mulai bergerak dengan ritme yang lebih stabil, walau tubuhnya masih lemas dan gemetar.
Kenzo yang melihat itu langsung mengembuskan napas lega yang luar biasa panjang, seolah beban berat baru saja diangkat dari pundaknya. Tanpa ragu, ia memajukan tubuhnya dan membawa tubuh rapuh Rindu ke dalam pelukannya kali ini dengan sangat erat, seolah takut gadis itu akan menghilang jika ia melepaskannya lagi.
"Maaf... Maaf karena drama kakak tadi bikin kamu kayak gini," bisik Kenzo tepat di samping telinga Rindu, tangannya bergerak lembut mengusap punggung gadis itu untuk menenangkannya. "Kakak gak ada apa-apa lagi sama Tria, Rin. Bagi kakak, dunia kakak cuma ada di kolam, dan sekarang... ada kamu di dalamnya."
Melihat napas Rindu yang mulai teratur dan tubuhnya yang tidak lagi setegang tadi, Kenzo perlahan melonggarkan pelukannya. Ia menangkup kedua bahu Rindu, menatap lurus ke dalam sepasang mata gadis itu yang masih tampak sedikit sayu.
"Mau ikut kakak sebentar?" tanya Kenzo lembut, menawarkan ruang untuk menjauh sejenak dari atmosfer kolam yang baru saja kacau.
Rindu sempat diam beberapa saat, menimbang rasa gengsi dan gemuruh di dadanya. Namun, melihat binar penuh penyesalan sekaligus keseriusan di mata Kenzo, pertahanannya benar-benar runtuh. Rindu akhirnya mengangguk pelan.
Melihat persetujuan itu, Kenzo tersenyum lega. Ia tidak langsung membawa Rindu pergi begitu saja. Menyadari bahwa Rindu datang ke kampus menggunakan mobil pribadi beserta fasilitas keluarga, Kenzo berputar ke arah pintu kemudi sopir untuk meminta izin secara langsung dan sopan.
"Pak, permisi. Saya Kenzo, pelatih privat Rindu," ucap Kenzo setelah kaca mobil diturunkan. "Saya izin membawa Rindu sebentar untuk menenangkan diri dan evaluasi. Rindu akan diantar pulang selesai sesi latihan tambahan nanti. Saya jamin keselamatannya."
Sopir pribadi Rindu tidak langsung mengiyakan. Sebagai orang kepercayaan keluarga, beliau langsung merogoh ponselnya untuk meminta konfirmasi. "Sebentar ya, Mas Kenzo. Saya telepon bapaknya Non Rindu dulu."
Setelah beberapa saat tersambung dan menjelaskan situasinya secara singkat serta menyebutkan nama Kenzo yang memang sudah dikenal sang ayah sebagai atlet berprestasi sopir pun mengangguk setelah menelepon ayah Rindu.
"Baik, Mas Kenzo. Pak Baskoro sudah memberi izin. Tolong dijaga ya Non Rindu-nya," ujar sang sopir ramah sambil memberikan senyuman penuh arti.
"Pasti, Pak. Terima kasih," jawab Kenzo sopan.
Kenzo kemudian kembali berjalan ke arah Rindu,
"Ayo, Rin. Kita cari tempat yang lebih tenang biar kamu bisa napas lebih lega."
Rindu mengangguk pasrah dan mengikuti Kenzo melangkah menuju mobil SUV hitam milik cowok itu. Begitu membukakan pintu untuk Rindu, Kenzo memastikan pendingin ruangan di dalam mobilnya disetel ke suhu yang nyaman tidak terlalu dingin agar tidak memicu asma Rindu kembali kambuh.
Kali ini, Kenzo menggunakan mobilnya sendiri untuk membawa Rindu. Langkah ini juga menjadi simbol bahwa tidak ada lagi yang ia sembunyikan dari Rindu, mulai dari rahasia hidupnya sebagai pewaris tunggal, penyakit Rindu yang sudah ia ketahui, hingga batas tegas yang ia tarik dari masa lalunya bersama Tria.
Setelah memastikan Rindu duduk dengan nyaman dan memegang botol inhalernya, Kenzo menumpu tangannya di bingkai pintu mobil, menatap Rindu dengan senyum teduh yang menenangkan.
"Kamu tunggu kakak sebentar di sini yah. Kakak mau ambil barang-barang kakak di dalam dan juga tas kamu," pamit Kenzo lembut, memastikan gadis itu tidak merasa ditinggalkan. "Sekalian kakak mau pastiin si ratu drama itu udah bener-bener pergi dari area kolam. Nggak akan lama, oke?"
Rindu hanya bergumam pelan sambil menyandarkan kepalanya di jok mobil yang empuk. Rasa lemas pasca-serangan asma dan gejolak emosi tadi membuat energinya terkuras habis. Namun, melihat bagaimana cara Kenzo memperlakukannya dengan begitu sigap dan protektif, ada rasa aman yang perlahan menyelimuti hatinya.
"Iya, Kak. Jangan lama-lama," sahut Rindu hampir menyerupai bisikan, matanya memperhatikan punggung tegap Kenzo yang mulai berjalan cepat kembali ke arah gedung kolam renang indoor. Di dalam mobil yang tenang itu, Rindu menarik napas dalam-dalam. Oksigen kini terasa mengalir lancar ke paru-parunya. Sambil menunggu Kenzo kembali, ia menyentuh dadanya yang masih menyisakan debaran halus bukan lagi karena sesak napas, melainkan karena mengingat ucapan Kenzo di tepi kolam tadi: "Bagi kakak, kamu itu gak pernah ada di posisi cadangan. Kamu itu... garis finish-nya."
Rindu duduk bersandar di dalam mobil yang tenang, matanya lurus menatap ke arah pintu keluar gedung kolam renang indoor. Detik demi detik berlalu, dan rasa cemas yang tadi sempat menggelayuti hatinya perlahan mulai terkikis oleh embusan AC yang sejuk.
Tak lama kemudian, sosok yang ditunggunya muncul. Rindu melihat Kenzo berjalan cepat kembali ke arah mobil. Cowok itu tampak membawa dua tas sekaligus di pundaknya tas olahraga besar miliknya sendiri dan tas ransel kecil berwarna cerah milik Rindu.
Kenzo membuka pintu kemudi, memasukkan kedua tas tersebut ke kursi belakang dengan hati-hati, lalu mendudukkan tubuh tegapnya di balik setir. Aroma segar sehabis membasuh wajah langsung menguar dari tubuh Kenzo, menggantikan atmosfer tegang yang sempat tertinggal di area parkir tadi.
"Lama ya? Maaf," ucap Kenzo langsung menoleh ke arah Rindu, matanya meneliti wajah gadis itu dengan saksama untuk memastikan kondisinya benar-benar sudah membaik. "Tadi kakak sekalian mastiin anak-anak lanjut latihan mandiri dipimpin Gani, dan... si Tria udah disuruh pulang sama satpam."
Rindu memperhatikan raut wajah Kenzo yang tampak sedikit lelah namun memancarkan kelegaan yang besar. "Enggak kok, Kak. Makasih ya udah bawain tas Rin," gumam Rindu pelan, suaranya sudah terdengar jauh lebih stabil dari sebelumnya.
Kenzo tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut Rindu dengan gemas sebelum mulai menyalakan mesin mobil. "Sama-sama. Sekarang, tugas kamu cuma duduk manis. Kita pergi ke tempat yang gak ada drama, cuma ada kakak, kamu, dan udara segar."
Rindu mengangguk pelan. Rasa lelah yang teramat sangat setelah terkuras emosi dan fisik membuat seluruh pertahanannya runtuh. Kali ini, ia pasrah saja Kenzo membawa ke mana laki-laki itu mengarahkan mobilnya. Rindu menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap deretan pepohonan kampus yang bergerak mundur seiring mobil SUV hitam itu membelah jalanan.
Kenzo mengemudikan mobilnya dengan sangat tenang, sesekali melirik ke samping untuk memastikan Rindu tidak kembali kesulitan bernapas. Tangan kirinya turun dari setir, bergerak perlahan hingga mendarat di atas punggung tangan Rindu yang terasa dingin, lalu menggenggamnya lembut.
"Istirahat aja dulu, Rin. Nanti kalau sudah sampai, kakak bangunin," bisik Kenzo hangat, tanpa melepas pandangannya dari jalan raya di depan.
Sentuhan hangat dari tangan Kenzo entah mengapa menjalar menjadi rasa nyaman yang menenangkan di dada Rindu. Di dalam mobil yang melaju membelah kota, keheningan di antara mereka tidak lagi terasa canggung atau mencekam, melainkan penuh dengan rasa saling percaya yang baru saja bertumbuh di tengah badai drama yang berhasil mereka lewati.
__bersambung__