Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Malam itu, meja makan keluarga Jiang dipenuhi berbagai hidangan mewah.
Delvin Jiang duduk di kursi utama bersama Moly dan Sanny. Sementara Dylan Jiang duduk di sisi lain dengan ekspresi dingin, hampir tidak menyentuh makanannya.
Viona berdiri dengan tenang di samping meja, lalu satu per satu meletakkan gelas minuman di depan mereka.
Saat ia hendak meletakkan gelas di depan Sanny—
Plak!
Sanny dengan sengaja menepis tangan Viona.
Prang!
Gelas itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.
“Dasar mengganggu!” bentak Sanny. “Hanya pekerjaan sekecil ini saja kau tidak bisa melakukannya!”
“Tidak berguna!” tambah Moly dengan wajah tidak senang.
Viona langsung menundukkan kepala.
“Nyonya, bukan saya yang menjatuhkannya. Tadi Nona yang—”
Namun Sanny segera memotong.
“Kau sendiri yang tidak memegangnya dengan benar, jangan menyalahkanku!” katanya ketus. “Cepat bersihkan semuanya!”
Viona menggigit bibirnya dan hendak berjongkok untuk memungut pecahan kaca.
Namun pada saat itu—
Tak!
Sepasang sumpit meluncur deras dan menghantam meja hingga memantul mengenai pipi Sanny.
“Aah!”
Sanny memekik pelan sambil memegang wajahnya.
Semua orang langsung terdiam.
Dylan yang duduk di kursinya bahkan tidak mengangkat kepala.
“Hanya makan saja juga tidak bisa diam,” ucapnya dingin. “Apa mulutmu diciptakan hanya untuk membuat keributan?”
“Kakak!” seru Sanny dengan mata memerah. “Aku—”
“Aku tidak bertanya.”
Tatapan Dylan yang dingin membuat Sanny langsung menelan kata-katanya.
“Kau sengaja menjatuhkan gelas itu. Aku melihatnya dengan jelas.”
Suasana meja makan langsung membeku.
“Sanny hanya bercanda dengan pelayan itu,” kata Moly dengan senyum kaku.
“Bercanda?”
Dylan tersenyum tipis.
“Kalau begitu lain kali aku juga akan bercanda seperti tadi.”
Wajah Moly langsung berubah.
Delvin yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
“Dylan, tidak perlu membela seorang pelayan sampai seperti ini.”
“Sejak kapan Papa yang aku kenal bisa memanjakan anak seperti ini?” sindir Dylan dingin. “Bahkan setelah melakukan kesalahan, masih saja dibela?”
Delvin mengerutkan kening.
“Dylan, Sanny masih muda—”
“Masih muda?” Dylan tertawa kecil. “Dia sudah cukup besar untuk menindas orang lain, tapi terlalu muda untuk bertanggung jawab?”
Tatapannya beralih pada Sanny yang wajahnya sudah memucat.
“Bersihkan.”
“A-apa?” tanya Sanny tidak percaya sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Kenapa?” Dylan menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kalau kau berani melakukannya, kenapa tidak berani bertanggung jawab?”
Tatapannya beralih pada Delvin.
“Atau sejak kapan keluarga Jiang tidak bisa mendidik anaknya sendiri dengan baik?”
“Dylan!” Delvin membentak pelan.
Namun Dylan tidak peduli.
“Dulu, keluarga Jiang memiliki aturan yang sangat ketat. Siapa yang berbuat salah, dia yang bertanggung jawab. Sejak kapan aturan itu berubah?”
“Dylan, ini pekerjaan pelayan,” sela Moly dengan senyum kaku. “Biarkan Viona yang membersihkannya.”
Dylan langsung menoleh padanya.
“Jangan merasa putrimu adalah putri raja. Dia bahkan tidak bisa dibandingkan dengan ujung jari kaki seorang putri.”
Mata Moly membelalak.
“Dylan, bagaimana bisa kau berkata seperti itu?” tanyanya dengan wajah sedih.
“Kenapa tidak?” jawab Dylan dingin. “Peraturan keluarga Jiang dulu sangat jelas. Sejak kapan semuanya berubah?”
Ia lalu menoleh kepada Delvin.
“Atau… peraturan itu hanya berlaku untuk orang lain, tapi tidak berlaku untuk putrimu?”
Delvin menggertakkan giginya.
“Sanny, bersihkan.”
“Pa!” seru Sanny tidak percaya.
“Bersihkan!” bentak Delvin dengan wajah muram.
Sanny hampir menangis.
Ia tidak pernah dipermalukan seperti ini. Dengan enggan, ia berjongkok mengambil pecahan kaca.
Namun saat tangannya hampir menyentuh pecahan itu—
“Pakai tanganmu.”
Suara Dylan yang dingin membuat semua orang menoleh.
“Apa?” tanya Sanny dengan wajah pucat.
“Bukankah kau ingin Viona membersihkannya dengan tangan kosong?” tanya Dylan sambil menatapnya tajam. “Kalau begitu lakukan sendiri.”
“Dylan!” bentak Moly.
“Aku hanya mengajarkan tanggung jawab,” jawab Dylan dingin.
Sanny masih berjongkok di lantai dengan wajah penuh ketidakpercayaan, sementara Moly terus menatap Delvin, berharap suaminya akan membela putri mereka.
“Saat aku baru berusia dua belas tahun,” ucap Dylan dingin, “aku hanya memecahkan sebuah gelas tanpa sengaja.”
Delvin sedikit menegang.
“Papaku yang baik ini…” lanjut Dylan dengan senyum tipis yang penuh sindiran, “merotan kakiku dua puluh kali dan tanganku dua puluh kali. Setelah itu, aku masih harus berlutut selama dua jam.”
Tatapan Dylan semakin tajam.
“Apakah kau sudah lupa?”
Delvin hanya terdiam.
Dylan tertawa kecil.
“Kalau aturan itu bisa kau ajarkan padaku…”
Tatapannya beralih pada Sanny.
“Berarti kau juga harus bisa mengajarkannya pada putrimu.”
“Dylan!” seru Moly dengan wajah pucat. “Bagaimana bisa kau membandingkan masa lalu dengan sekarang?”
“Masa lalu?” Dylan tersenyum dingin. “Bukankah keluarga Jiang sangat menjunjung aturan? Kalau begitu, kenapa aturan itu berubah begitu aku pergi?”
Tatapannya kembali jatuh pada Delvin.
“Atau… apakah aturan keluarga Jiang hanya berlaku untuk anak dari istri pertama? Tapi tidak untuk anak selingkuhan?"
Delvin menggertakkan giginya.
“Cukup!”
Namun Dylan hanya bersandar di kursinya.
“Kenapa marah?” tanyanya tenang. “Aku hanya mengikuti cara mendidik yang kau ajarkan sendiri. Bukankah kau selalu berkata, orang yang salah harus dihukum? Putrimu bukanlah harta Karun yang bernilai. Hanya seorang anak yang dari hasil hubungan gelap."
Dylan mengambil serbetnya dengan tenang, menyeka sudut bibirnya, lalu berdiri dari kursi.
“Ada satu hal lagi,” ucapnya datar.
Semua orang menatapnya.
“Aku baru pindah ke rumah baru.”
Delvin sedikit mengernyit.
“Lalu?”
“Jadi aku membutuhkan seorang pelayan rumah tangga.”
Dylan melirik ke arah Viona yang masih berdiri dengan kepala tertunduk sambil memegang nampan.
“Aku akan membawanya pergi.”
Plak!
Sumpit di tangan Moly jatuh ke meja.
“Apa?” serunya tanpa sadar.
Sanny yang sedang berjongkok membersihkan pecahan gelas langsung berdiri.
“Kakak! Dia hanya pelayan!” teriaknya.
“Memangnya kenapa?” tanya Dylan dingin.
“Dia… dia…” Sanny tidak tahu harus berkata apa.
Delvin pun mengerutkan kening.
“Dylan, rumah ini masih membutuhkan Viona. Dia sudah terbiasa dengan pekerjaan di sini. Papa bisa mencarikan pelayan lain untukmu.”
“Tidak perlu,” jawab Dylan tenang. “Aku sudah terbiasa memakai barang lama.”
Kalimat itu membuat wajah Delvin berubah.
“Dylan…”
“Apa?” Dylan menatap ayahnya. “Bukankah dia hanya pelayan? Kenapa Papa tidak tega melepaskannya?”
“Dia…”
Delvin terdiam.
Moly buru-buru menyela.
“Dylan, Viona sangat bodoh dan lamban. Dia tidak cocok melayanimu.”
“Kalau begitu lebih baik,” jawab Dylan sambil tersenyum tipis. “Aku justru tidak suka orang yang terlalu pintar.”
“Kakak!” seru Sanny kesal. “Kalau kau butuh pelayan, aku bisa mencarikan sepuluh orang untukmu!”
“Aku hanya menginginkannya.”
Tatapan Dylan jatuh pada Viona. “Mulai malam ini, dia ikut denganku.”
Viona yang sedari tadi diam langsung membelalakkan matanya.
“T-Tuan Muda…”
Ia menunduk panik.
“Aku… aku masih harus melayani Tuan Besar dan Nyonya…”
“Mulai sekarang,” potong Dylan, “kau melayaniku. Tidak ada yang boleh membantah.”