NovelToon NovelToon
Cowok Cupu Favoritku

Cowok Cupu Favoritku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.

Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.

Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.

Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Naysilla membuka pesan dari nomor misterius yang berisi sebuah tangkapan layar dari grup WhatsApp yang sedang membahas tentang tragedi di kolam renang.

Sekali lagi, Jessy menjadi sumber informasi. Ia mengirimkan sebuah video dengan keterangan tuduhan.

"Lihat guys, lewat bukti ini udah ketauan kalo semuanya salah dia. Tapi ternyata jalang itu cukup licik, ia nunjukin rekaman CCTV yang udah di edit waktu di aula" -Jessy.

"Kawal dia sampe masuk bui guys, gue nggak terima nama gue ikut terseret" -Dimas.

"Oh, jadi mereka nyembunyiin fakta dan fitnah gue, kalo bukti yang kemarin itu palsu?" ia memejamkan mata dalam-dalam, membayangkan alur cerita yang pelik ini, apa ia kuat? Apa ia sanggup?.

"Buka videonya!" ucap Mohan dingin. Emosi gadis itu ikut meresap ke dirinya, ia mengambil alih ponsel Naysilla yang malah diletakkan begitu saja di atas meja.

Pesan ke dua dari nomor misterius berisi video yang sebelumnya di sebarkan di grup WhatsApp.

Awalnya semua tampak biasa, video hasil rekaman CCTV detik-detik Lena jatuh ke dalam kolam. Namun, kejanggalan muncul di saat Mohan datang membawa Naysilla menjauh dari area tersebut.

Terlihat tangan Naysilla seolah terulur ke samping, menyentuh pundak Lena. Video berakhir, tapi amarah di hati Mohan baru meledak.

Tangannya mengepal erat, lalu memukul dinding dengan keras tanpa menghitung rasa sakit. Naysilla yang duduk di sampingnya terkejut dan merasa takut. Mata Mohan memerah, diselimuti kabut amarah yang pekat.

"Momon... Udah yah..." ucapnya lembut. Entah keberanian dari mana, gadis itu melangkah mendekat, lantas mendekap.

Dua debaran menyatu dalam kehangatan, menciptakan ketenangan. Tanpa ragu ia mengusap tubuh kokoh itu dengan kelembutan. Rasanya nyaman sekali sampai sulit diakhiri.

"Apa gue ngalah ajah yah, keluar dari sekolah ini..." ucapnya spontan yang membuat Mohan semakin mengeratkan dekapan, seakan-akan takut ditinggalkan.

"Tentang fitnah itu, gue nggak masalah sih. Gue percaya sesuatu yang dibangun atas dasar kebohongan pasti nggak akan bertahan lama, dan nanti lama-lama kebenaran akan terungkap juga" sambungnya.

"Lo percaya kebenaran akan terungkap, terus ngapain mau keluar dari sekolah segala?"

Mohan membawa tubuh gadis itu sedikit ke belakang, masih dalam dekapan. Hingga ia jatuh terduduk tepat di atas pangkuan. Ia tak bisa bergerak, terkunci rapat dalam dekapan erat.

"Mereka setiap hari berusaha mati-matian buat nyiksa gue, dari awal mereka mau ngusir gue, mungkin mereka nggak suka aku sekolah d sini. Sebenarnya salah gue apa sih Momon?" ia melepaskan dekapan sepihak, menatap wajah dingin yang pelan-pelan melunak.

"Lo nggak salah, tapi hati mereka yang terlalu jahat yang salah" ia mengusap pelan pipi halus gadis itu. Hingga gejolak aneh tiba-tiba menyerang. Ketenangan berubah menjadi ketegangan.

"Na, turun! Lo berat" ucap Mohan menahan gejolaknya. Tapi gadis itu malah tersinggung dan salah paham. Ia pikir secara tak langsung cowok itu mengatainya gendut.

"Iiis... Nyebelin...!" ia melompat ke bawah dengan wajah masamnya, dan Mohan juga ikut salah mengartikan reaksi gadis itu.

"Kenapa? Lo mesih pengen di pangku, sama di peluk? Sini!" ia merentangkan kedua tangannya dengan senyuman menyebalkan.

Naysilla yang melihat itu merasa salah tingkah, berakhir ia menginjak kakinya lantas menuju kursi sebelah dan menyeruput kopi yang mulai mendingin.

Dalam diam, mereka sama-sama meredamkan debaran. Perasaan malu tapi nyaman bercampur menjadi satu. Membentuk sebuah rasa samar, yang mereka sendiri tak bisa menjabarkan.

"Aduh..." Naysilla meletakkan kepala di atas meja. Tubuhnya terasa ringan, seolah bumi berputar di sekelilingnya.

"Na, lo kenapa?" tanya Mohan dengan sigap. Ia segera memeriksa kondisi gadis itu. Memastikan suhu tubuh dan denyut nadi yang masih bekerja dengan sempurna.

"Aku nggak apa-apa, cuma mabuk dikit kok" ucapnya lemah dengan mata terpejam tak berdaya.

Mendengar kata mabuk membuat cowok itu semakin panik saja. Dengan cepat ia mengambil cup kosong bekas kopi, menghirup sisa aroma yang mungkin masih tertinggal jejak alkohol di sana.

"Na, tadi lo minum apa?" tanyanya serius dengan tatapan tajam menusuk.

"Kopi"

"Hanya itu?"

"Iyah"

"Terus lo mabuk kenapa?"

"Kopi"

"Maksud lo?"

Mohan berusaha menegakkan tubuh Naysilla, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

Ia memegang kedua pundak gadis itu dengan lembut tapi tegas. Ia pandangi wajah lemah gadis itu lekat, walau sedang dalam keadaan tak sehat, tapi sialnya wajahnya cukup memikat.

"Gue nggak kuat ngopi, tiap ngopi emang bawaannya pusing gini. Hehe..."

"Astaga...." Mohan mengusap wajahnya kasar, lantas tersenyum kecil.

"udah tau ngga bisa ngopi, ngapain dipaksa? Hmm..." ia kembali mengusap pipi gadis itu pelan, jemarinya perlahan turun ke bawah, menyentuh sudut ranum yang menggoda.

"Pengen ajah, soalnya cocok sama keadaan" ia menepis pelan jemari Mohan yang mulai nakal.

"Kata orang kalo mabuk itu rasanya pusing, gue nggak bisa minum alkohol tapi gue bisa merasa pusing tiap minum kopi. Jadi, gue mabuk kopi, hahaha...."

Cowok itu mengerutkan dahi mendengarkan celotehan Naysilla. Sedikit aneh tapi cukup masuk di otak pintarnya.

Ia berlutut di samping kursi Naysilla, menawarkan punggung lebarnya.

"Naik!"

"Naik apa?"

"Sini..." ia menepuk pundaknya sendiri. Naysilla mengerti, dengan hati-hati ia melompat ke atas pundak kokoh itu.

"Gue boleh pegangan nggak Momon?" ia menatap ragu dengan posisi tangan masih melayang di atas pundak.

"pegang ajah, biar nggak jatuh"

Grep...

Gadis itu memeluknya erat sekali. Kedua tangannya melingkar sempurna sampai ke dada. Dalam diam, Naysilla meraba debaran. Begitu pun Mohan yang merasakan detak jantung gadis itu berirama cepat di punggungnya.

...****************...

Pintu tua berdecit kasar ketika di buka paksa. Ruangan pengap penuh debu menjadi penyambut utama.

Seluruh jendela terkunci rapat, menahan akses cahaya merambat. Sebuah ruang terbengkalai yang penuh beberapa barang bekas pakai.

Seorang gadis berambut pirang duduk dengan tenang, diantara dinding-dinding lembab tapi suasana terasa panas.

"Dasar tolol, cuma gitu ajah lo nggak bisa?" gadis itu menendang kasar seorang siswa laki-laki berbadan gempal, yang terduduk di lantai, dengan wajah pasrah menunduk ke bawah.

"Gu-gue... Gue bisa-"

"Bisa apa? Gue benci orang bodoh dan tolol kaya lo, Dimas!" ia menghisap rokok elektrik miliknya, menghembuskan asap pekat tepat di wajahnya, hingga membuat cowok itu batuk-batuk tersiksa.

"Jessy... Nggak perlu marah-marah. Kita bisa Serang dia dari dalem, dari kelemahan dia" ucap gadis berambut sebahu dengan senyuman palsu.

"Maksud lo?" ia menatap Olivia dengan pandangan penuh selidik.

Olivia mendekat, membisikkan rencana jahat. Di dalam ruang sunyi itu, tersimpan peta kekejaman. Semua dirangkai dalam diam, dengan hati busuk mereka.

Olivia tersenyum puas, merasa berhasil bisa mengendalikan semua hal dengan kelembutan palsu.

Tanpa mereka tau, ada sosok yang diam-diam membelok dari kelompok mereka, berkhianat untuk yang salah dan memihak yang benar.

1
Sofyan Sofyan
jangan lama2 ya😭
Aisyah Suyuti
good
kelinci kecil
penasaran, kira-kira siapa anak pemilik sekolah yang asli yah
arina_ar: ikuti terus kelanjutan ceritanya, nanti akan terjawab semuanya. terimakasih sudah mampir.
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
hai......
cupu tuh apaan ?
arina_ar: culun kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!