Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.
Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.
Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.
Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.
Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.
Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.
Jena datang dengan penuh harapan.
Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Ingkar Janji
Pagi menyambut dengan sinar matahari yang masuk melalui jendela apartemen Jena. Berbeda dengan malam sebelumnya yang ia lewati dengan senyum dan hati yang tenang, pagi itu Jena bangun dengan perasaan bahagia.
Ia masih mengingat janji Jovian.
"Besok tunggu aku, jangan berangkat dulu."
Karena itulah pagi-pagi sekali ia sudah bersiap. Ia mandi, merapikan rambut, mengenakan pakaian kantor terbaiknya, bahkan memakai riasan tipis yang membuat wajahnya terlihat segar.
Jena lalu menyiapkan sarapan sederhana dan menikmatinya sambil sesekali melirik jam dinding.
"Baru jam enam lewat tiga puluh. Sebentar lagi," gumamnya dengan senyum kecil. Ia duduk di ruang tamu sambil membawa tas kerja. Ponselnya sudah berada dalam genggaman, menunggu pesan dari Jovian bahwa pria itu telah tiba di bawah apartemen.
Namun menit demi menit berlalu.
Pukul enam lewat empat puluh lima.
Tidak ada kabar. Jena mencoba tersenyum dan berpikir positif. "Mungkin jalanan macet," pikirnya.
Pukul enam lewat lima puluh lima.
Masih tidak ada kabar. Senyum di wajahnya mulai menghilang. Ia membuka kontak Jovian dan mencoba menelepon.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif."
Jena terdiam. Sekali lagi ia mencoba.
Hasilnya tetap sama. Tangannya perlahan turun ke pangkuan. "Mas, kamu ke mana?" bisiknya pelan. Namun ia segera menggeleng, menepis pikiran buruk yang mulai muncul. "Tidak. Jangan berpikir macam-macam."
Baru semalam mereka kembali memperbaiki hubungan. Baru semalam juga Jovian berjanji akan lebih banyak memberi kabar.
Jena menggigit bibir bawahnya pelan.
"Lima menit lagi," putusnya. Ia akan menunggu lima menit lagi. Ia percaya Jovian pasti punya alasan.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Empat menit.
Lima menit.
Namun tidak ada suara bel apartemen. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada panggilan dari pria yang semalam mengatakan akan menjemputnya.
Kekecewaan perlahan menyelimuti hati Jena. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mencari nomor Sifa. Beberapa detik kemudian, panggilan tersambung.
"Assalamu'alaikum, Tante."
"Wa'alaikumsalam, Jena. Ada apa?"
Jena mencoba tersenyum meski wanita itu tidak bisa melihatnya. "Tante, aku mau tanya. Mas Jovian sudah berangkat ke kantor belum?"
"Sudah."
Jantung Jena seperti berhenti sesaat. "Sudah?" ulangnya.
"Iya. Dari tadi." Ada jeda kecil sebelum Sifa melanjutkan ucapannya dengan santai. "Tapi dia tidak langsung ke kantor. Dia ke tempat Michelle dulu."
Jari Jena langsung mencengkeram ponselnya lebih erat. "Ke tempat Michelle?"
"Iya. Katanya dia dan Michelle mau meninjau tempat charity fashion untuk acara Kamis depan."
Dunia Jena seolah mendadak sunyi.
Sementara di seberang sana, Sifa masih berbicara tanpa mengetahui perubahan ekspresi Jena.
Namun Jena sudah tidak benar-benar mendengarnya. Yang terngiang di kepalanya hanyalah satu kalimat.
"Besok tunggu aku, jangan berangkat dulu."
Janji yang diucapkan dengan begitu yakin. Janji yang membuatnya berdandan lebih awal dan menunggu dengan hati berbunga. Namun pagi ini, ia mengetahui dari orang lain bahwa pria itu sudah pergi menemui Michelle.
Bukan dari pesan. Bukan dari telepon.
Bukan dari Jovian sendiri.
Air mata perlahan memenuhi kedua matanya. Lagi-lagi karena rasa sakit yang sama kembali datang. Ia kembali menjadi orang terakhir yang mengetahui apa yang dilakukan kekasih hatinya.
Jena menutup matanya rapat, berusaha menahan sesak di dadanya. Dengan tangan yang masih menggenggam ponsel, Jena menatap kosong ke arah depan. Panggilan dengan Sifa sudah terputus, tetapi kalimat wanita itu masih terus berputar di dalam kepalanya.
"Dia ke tempat Michelle dulu."
Dada Jena makin terasa sesak. Bukan karena Jovian bekerja dengan Michelle. Semalam pun ia sudah mengatakan bahwa ia mengerti Jovian memiliki tanggung jawab sebagai seorang pemimpin perusahaan.
Yang membuatnya sakit adalah kenyataan bahwa Jovian kembali tidak menepati janjinya. Padahal baru kemarin ia memeluknya dan berjanji akan lebih terbuka.
Baru kemarin ia mengatakan bahwa dirinya akan belajar membagi waktu.
Bahkan semalam, dengan tenang, ia menyuruhnya tidur lebih cepat agar tampak segar saat masuk kantor.
Jena memejamkan mata. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Kenapa, Mas?" bisiknya lirih.
Namun kali ini ia tidak menangis lama.
Jena mengusap air matanya dengan cepat. Ia sudah terlambat untuk pergi ke kantor.
Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, ia membuka aplikasi pemesanan taksi online dan memesan kendaraan.
"Pengemudi sedang menuju lokasi Anda."
Jena menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu mengambil tas kerja yang berada di samping sofa. Ia berdiri di depan cermin dekat pintu masuk. Riasannya masih rapi, pakaian kantornya masih sempurna. Tidak ada yang akan tahu bahwa beberapa menit yang lalu hatinya kembali hancur karena orang yang paling ia percayai.
Ponselnya ia masukkan ke dalam tas.
Tidak ada pesan untuk Jovian.
Tidak ada telepon. Tidak ada pertanyaan, "Mas, kamu di mana?"
Karena ia lelah menjadi orang yang terus meminta penjelasan.
Jika memang Jovian masih menganggapnya penting, seharusnya pria itu sendiri yang datang dan menjelaskan.
Tak lama kemudian, notifikasi kedatangan taksi muncul.
Jena menarik napas panjang. Ia membuka pintu apartemen dan melangkah keluar.
Perjalanan menuju kantor terasa begitu panjang bagi Jena.
Sepanjang jalan, ia memilih diam. Tidak ada musik yang ia putar, tidak ada ponsel yang ia buka untuk mengecek apakah ada pesan dari Jovian.
Karena Jovian pun sama sekali tidak memberikan kabar. Tidak ada ucapan maaf, penjelasan atau pun pesan yang mengatakan bahwa ia tidak bisa menjemputnya.
Taksi akhirnya berhenti di depan gedung kantor Ardhana Group. Jena turun dengan wajah yang sudah kembali tenang.
Setidaknya dari luar. Tidak ada seorang pun yang boleh melihat bahwa hatinya sedang terluka.
Ia berjalan masuk melewati lobi dengan langkah anggun. Para karyawan yang berpapasan menyapanya dengan hormat.
"Selamat pagi, Bu Jena."
"Pagi." Jena membalas dengan senyum tipis. Ia berjalan menuju lift dan naik ke lantai tempat ruangan CEO berada.
Namun saat pintu lift terbuka, langkahnya langsung terhenti. Di lorong ruangan CEO, berdiri dua sosok yang sangat ia kenal.
Jovian dan Michelle.
Keduanya sedang berdiri berdampingan sambil melihat beberapa dokumen yang dibawa Michelle. Sesekali mereka berbicara sambil tertawa lepas.
Pemandangan itu terasa begitu menusuk bagi Jena. Karena pagi itu, seharusnya ia datang bersama Jovian.
Seharusnya ia duduk di samping pria itu dalam perjalanan menuju kantor.
Seharusnya ia tidak perlu menunggu dengan harapan yang perlahan berubah menjadi kekecewaan.
Suara ketukan heels membuat Jovian menoleh. Begitu melihat Jena, wajahnya langsung berubah. Senyum lepas yang sempat muncul perlahan memudar ketika melihat ekspresi datar kekasihnya itu. "Jena." Suara Jovian terdengar pelan.
Jena menghentikan langkahnya beberapa meter dari mereka. Michelle pun ikut menoleh dan tersenyum profesional. "Selamat pagi, Jena."
"Selamat pagi, Bu Michelle." Jena membalas dengan sopan. Kemudian pandangannya beralih kepada Jovian.
Bukan tatapan marah. Bukan tatapan penuh air mata. Tetapi tatapan yang terlalu tenang hingga membuat Jovian semakin gelisah.
"Sayang, aku mau jelaskan tentang tadi pagi-"
"Selamat pagi, Pak Jovian."
Seketika ucapan Jovian terhenti.
Jantungnya seperti diremas. Panggilan itu. Bukan "Mas" seperti biasanya. Melainkan sebuah panggilan formal yang menciptakan jarak di antara mereka.
Jovian menatap Jena tidak percaya. "Jena ..."
"Saya izin masuk ke ruangan saya dulu, Pak, Bu." Jena berkata dengan nada profesional sambil berjalan melewati Jovian dan Michelle. Tanpa melirik sedikit pun ke arah Jovian.
Hal itu membuat hati Jovian mencelos. "Jena pasti marah dan kecewa," batinnya.
Sementara Michelle yang berdiri di antara mereka hanya memperhatikan perubahan sikap keduanya dengan tatapan sulit diartikan.
ayo Jenaaa segera menjauh agar harga dirimu tdak di injak dgn Kompensasi dari keluarga ardhana
menjauh lah jena ...jangan lg menerima apapun dr kelg itu..walaupun di beri konspensasi atas 9bth bersama jo..
menjauhlah dan hiduplah dg mandiri..
raihlah suksesmu tanpa mereka
semangat jena💪💪💪