Kesialan dapat menimbulkan keajaiban??
Benarkah itu??
Kisah seorang gadis berusia 18 thn bernama Gaby Debbara Fernando, gadis yang diusir oleh ayahnya karena kesalahan yang entah apa itu. Kecelakaan yang membuatnya harus masuk rumah sakit, justru malah menimbulkan keajaiban dalam kehidupannya. Bagaimana tidak??
Kecelakaan yang dialaminya mungkin merupakan kecelakaan yang paling beruntung, sebab ia dapat bertemu dengan Ardiaz Sunjaya.
Ya...Pengusaha muda yang sukses bernama Ardiaz Sunjaya, siapa yang tidak mengenalnya. Ardiaz pria tertampan sedunia ini jatuh cinta pada seorang gadis biasa??
Begitu banyak gadis cantik dari kalangan atas, namun ia hanya jatuh cinta pada Gaby.
Penasaran dengan perjuangannya??
Langsung baca aja yak...
Jangan lupa like, vote, rate ya...
Kalo ada saran dan masukan silahkan ajukan di kolom komentar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Sugairti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 17
"Aku suka Gaby?" Tanya Ardiaz pada dirinya sendiri.
Ia bangkit menghampiri jendela dan membuka gorden yang menutupi jendela. Bersamaan dengan itu Gaby tiba ditaman tepat dibawah ruang baca.
"Cantik!!" Ucap Ardiaz tanpa sadar, ia melihat Gaby yang sedang mengikat rambutnya.
Ucapan Ardiaz didengar jelas oleh Kangjian, lalu ia mendekati Ardiaz dan ikut melihat apa yang dilihat Ardiaz.
Kangjian tersenyum jahil.
"Oh, nona Gaby memang cantik tuan!!" Ucap Kangjian menyenggol kecil tangan Ardiaz.
"Apa!? Siapa yang bilang dia cantik?" Tanya Ardiaz yang tak menyadari bahwa ia-lah yang mengatakannya.
"Barusan tuan bilang seperti itu," jawab Kangjian.
Ardiaz memutar bola matanya dan kembali memandang Gaby yang sedang mengobrol dengan Anny.
"Nona ini sudah larut malam, sebaiknya nona beristirahat agar besok kembali semangat!!" Ucap Anny setelah dilihatnya langit gelap.
Gaby memandang langit malam yang dipenuhi bintang.
"Ah benar juga, baiklah selamat malam bi!!" Jawab Gaby sambil berdiri dan mengucapkan salam selamat malam lalu pergi kekamarnya, sedangkan Anny pergi memasukkan Reb ke kandangnya.
Gaby sampai dikamarnya lalu dengan cepat mengganti pakaian dan tidur lelap.
"Tuan masih saja tidak mau mengaku!!" Ucap Kangjian kesal karena perkataannya tidak dipedulikan Ardiaz.
"Kau berbicara yang tidak masuk akal. Bagaimana bisa aku mengakuinya!!" Tegas Ardiaz sambil beranjak dari tempatnya.
"Sudahlah, hari sudah malam aku mau tidur." Ardiaz mengakhiri pembicaraan dan meninggalkan Kangjian sendiri.
"Suka ya?" Batin Ardiaz sepanjang koridor.
"Ah sudahlah!!" Ardiaz sampai didepan kamar Gaby.
Perlahan tangannya meraih gagang pintu dan membukanya secara perlahan. Tampaklah Gaby yang terbaring diranjang dengan cantik.
"Bahkan saat tidur pun ia begitu cantik," batin Ardiaz menganggumi kecantikan Gaby.
Ia melanglah mendekat kearah Gaby dengan satu tangan yang ada didalam saku. Perlahan tangannya meraih pipi Gaby namun urung. Ardiaz tak berani menyentuh Gaby.
"Cinta atau tidak, itu hal biasa." Ucapnya sambil mengeluarkan liontin Gaby.
"Kau dengar?" Ardiaz memasangkan kalung itu keleher Gaby.
Setelah terpasang Ardiaz mendekatkan wajahnya dan berbisik.
"Aku pikir, aku mencintaimu." Bisik Ardiaz lalu mengusap kecil kepala Gaby.
Pagi tiba, Gaby terbangun dengan wajah lesu.
"Aku merasa akan ada masalah," ucap Gaby sambil mengusap wajahnya dan beranjak kekamar mandi.
Selesai bersiap Gaby turun kemeja makan untuk sarapan pagi sebelum berangkat sekolah. Seperti biasa Anny telah menyiapkan makanan untuk sarapan pagi Gaby.
"Bi, dimana tuan Ardiaz?" Tanya Gaby yang tidak melihat Ardiaz duduk dimeja makan.
"Oh itu, pagi-pagi sekali tuan Ardiaz pergi kekantornya." Jawab Anny sambil menuangkan segelas jus kegelas Gaby.
"Silahkan nona," ucapnya sebelum pergi kedapur.
"Terima kasih," Gaby perlahan menyantap makanannya.
"Hmmm, tuan Ardiaz sepertinya sibuk sekali." Ucap Gaby pelan disela mengunyah makanan.
Setelah selesai sarapan Gaby bergegas pergi kekampusnya, walau ia cemas akan ada perdebatan tapi belajar itu sangat penting.
Gaby disambut dengan pembicaraan yang kurang enak dihatinya. Ia mendengar orang-orang membicarakannya dari kejauhan.
"Bicara sekuat itu, mana mungkin tidak didengar olehku." Batin Gaby kesal.
Tiba-tiba Shany dan Qilla menghampiri Gaby dan memulai perdebatan.
"Ah sudah kuduga." Batin Gaby yang menatap kesal Shany dan Qilla.
"Halo Gaby, bagaimana kabarmu?" Sapa Shany dengan nada meledek.
"Oh Shany, kabarku sangat buruk sehingga aku bisa saja membunuhmu!!" Jawab Gaby dengan tegas.
Lantas Gaby memilih untuk pergi meninggalkan Shany dan Qilla.
"Eh kurang ajar, dia kabur begitu saja!!" Ucap Qilla dengan lantang.
"Biarkan saja, pertunjukkannya baru saja akan dimulai!!" Jawab Shany dengan tersenyum sinis.
"Menyebalkan, mereka pasti mendengar kabar bahwa aku digoda Davie!!" Batin Gaby.
Shany dan Qilla menyusul Gaby ke kelas dan kembali meledeknya dengan berbagai perkataan aneh.
"Oh apakah kau lelah? Setelah berc*mbu dengan tunangan saudarimu?" Tanya Shany yang kemudian duduk disamping Gaby.
"Apa maksudmu Shany?" Ucap Gaby dengan wajah sedih.
"Apa kau menuduhku, kalau aku merebut tunangan kakak ku sendiri?" Lanjutnya sambil menunduk.
"Kenapa... kenapa kau tega sekali... hiks... hiks," Gaby berpura-pura menangis agar orang mengira ia telah ditindas Shany dan Qilla.
Teman sekelas Gaby hanya memperhatikan perdebatan mereka.
"Sebenarnya aku bosan melihat mereka yang terus berdebat, tapi ini lumayan untuk story media sosialku!!" Ucap salah seorang siswi.
"Kau benar, memang membosankan melihat mereka berdebat tapi ada untungnya juga!!" Dijawab oleh temannya sambil tertawa.
"Apa!?" Teriak Shany sambil mendobrak meja.
"Kau ini benar-benar kurang ajar ya!!" Shany berniat menampar Gaby namun seseorang memegang tangannga sehingga usahanya untuk menampar Gaby ia urungkan.
"Jangan mengganggu nona Gaby lagi!!" Ancam Rony.
Seketika semua orang terkejut termasuk Gaby melihat Rony tiba-tiba datang dan membantu Gaby.
"Siapa dia?" Tanya para siswa-siswi.
"Entahlah, tapi dia tampan sekali." Jawab yang lain sambil menganggumi ketampanan Rony.
"Rony? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Gaby sambil berdiri.
Rony hanya melirik kearah Gaby sekejap lalu beralih pada Shany.
"Sekali lagi saya lihat anda menyakiti nona Gaby. Saya laporkan anda pada tuan Ardiaz." Lagi-lagi ucapan Rony mengejutkan orang-orang.
"Ah dia orang kepercayaan tuan Ardiaz," ucap orang-orang.
Rony membanting keras lengan Shany dan mendekat kearah Gaby.
Rony membungkuk memberi salam kemudian menjelaskan maksud kedatangannya.
"Saya kesini untuk memberikan ponsel nona yang tertinggal dimobil..." Rony mengeluarkan ponsel Gaby dan memberikannya pada Gaby.
"Untunglah saya tepat waktu, jika terlambat sedikit saja nona sudah dilukai wanita ini." Lanjutnya menatap tajam Shany dan Qilla.
"Terima kasih Rony, kau boleh pergi sekarang. Biar aku yang menghadapi mereka berdua," ucap Gaby menyuruh Rony untuk pulang.
"Tapi nona, masalah ini sudah sering terjadi kan? Kenapa anda tidak memberi tahu tuan?" Bantah Rony yang tidak ingin pulang.
"Sudahlah, mereka tidak ada apa-apanya. Kau pulang saja." Tegas Gaby, Rony tak berani membantah lagi dan akhirnya ia pulang.
Rony tiba diparkiran mobil, lalu ia mengeluarkan ponselnya dan menelpon Ardiaz.
Perusahaan Sunjaya...
"Tuan?" Panggil sekertaris Windy.
"Ada apa?" Jawab Ardiaz yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Rony menelpon anda, dia sempat menghubungi ponsel pribadi tuan. Tapi tak dapat tersambung," ucap Windy menjelaskan.
"Suruh dia menelpon kembali ke ponselku!" Jawab Ardiaz sambil mengeluarkan ponsel miliknya dan menyalakannya.
"Baik tuan," Windy lantas pergi dari ruang kerja Ardiaz.
Tak lama setelah itu, ponsel Ardiaz berdering. Sebuah panggilan dari Rony, dengan cepat ia mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa?" Tanya Ardiaz.
"Tuan, saya ingin melapor kalau tadi nona hampir saja ditampar oleh teman sekelasnya!!" Ucap Rony sambil melirik kearah kelas Gaby yang tak jauh dari parkiran mobil.
"Hmmm... pasti Shany!!" Tebak Ardiaz dalam hatinya.
"Lalu kenapa kau tak tetap disana dan menjaganya?" Tanya Ardiaz.
"Nona melarang tuan, ia menyuruh saya untuk pulang. Nona bilang dia bisa mengatasinya sendiri!!" Jawab Rony.
"Hmmm... gadis itu susah ditebak!" Batin Ardiaz sambil tersenyum kecil.
"Ya sudahlah, kau pulang saja. Sore nanti biar aku saja yang menjemputnya!!" Ucap Ardiaz sambil memutar-mutarkan bollpoin.
"Baik tuan," setelah Rony menjawab Ardiaz memutuskan panggilan.
"Cukup menarik," ucapnya pelan dan meletakkan ponselnya.