Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Langkah kaki Syifa terasa ringan meski ia tidak tahu ke mana sang suami akan membawanya pagi ini. Di sampingnya, Fadhlan berjalan dengan ritme yang tenang, menyamai langkah kecil istrinya.
"Mas, kita mau kemana?" tanya Syifa, mendongak menatap raut wajah suaminya yang tampak segar diterpa angin pagi.
"Hm, lihat saja nanti, Dek."
Syifa mengerucutkan bibirnya sedikit, gemas dengan jawaban klasik itu. "Selalu saja kalau ditanya, cuma dijawab lihat saja nanti."
Fadhlan tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya, sebuah senyuman langka yang selalu berhasil membuat jantung Syifa berdesir. Pagi ini, Fadhlan memang sengaja menyiapkan kejutan. Sebuah tempat sarapan privat yang sudah ia pesan di dekat resort milik Alwi. Hanya butuh waktu lima menit berjalan kaki menyusuri jalan setapak.
Sesampainya di area yang dituju, Fadhlan menghentikan langkah. Ia berbalik, menghadap Syifa sepenuhnya.
"Dek, tutup matanya. Jangan mengintip, ya?"
"Eh? Kenapa harus tutup mata, Mas?"
"Ikuti saja," bisik Fadhlan lembut.
Tanpa menunggu jawaban, Fadhlan meraih jemari Syifa, menyatukan sela-sela jari mereka dalam sebuah genggaman yang hangat dan kokoh. Ia menuntun langkah Syifa yang kini berjalan dalam kegelapan.
"Hati-hati jalannya, Dek. Awas ada batu... nah, yang itu agak licin," ujar Fadhlan, sengaja memberi peringatan yang sedikit dilebih-lebihkan untuk menggoda istrinya.
Syifa refleks mencengkeram lengan Fadhlan lebih erat. "Ish, lagian kenapa sih harus pakai acara tutup mata segala?"
Fadhlan terkekeh pelan. Langkah mereka berhenti tepat saat deru ombak terdengar lebih dekat dan aroma khas laut menyapa indra penciuman.
"Oke, sudah sampai."
"Udah boleh buka mata?" tanya Syifa tidak sabar.
"Iya, Sayang."
Syifa membeku. Kata terakhir itu bergaung di telinganya seperti melodi yang manis sekaligus mematikan. 'Sayang? Dia panggil aku Sayang lagi? Telingaku masih normal, kan?' Ini adalah kali kedua Fadhlan memanggilnya dengan sebutan itu, dan efeknya masih sama, membuat lutut Syifa seketika terasa lemas.
Saat kelopak matanya terbuka sempurna, Syifa spontan menutup mulutnya dengan tangan yang bebas. Matanya berbinar takjub. Di hadapannya, terhampar karpet merah alami berupa taburan kelopak bunga mawar yang membentuk jalur menuju sebuah meja di ujung sana. Meja kayu estetik itu telah dihias cantik dengan vas bunga segar, lilin aromaterapi, dan peralatan makan yang tertata mewah.
Tanpa melepaskan genggaman tangannya, Fadhlan menuntun Syifa berjalan beriringan di atas taburan mawar itu. Ritme langkah mereka begitu khidmat, mengembalikan memori Syifa pada momen sakral saat mereka berjalan menuju pelaminan beberapa waktu lalu.
......................
"Masya Allah... begitu indah ciptaan-Mu, Ya Rabb," lirih Syifa setelah mereka duduk. Matanya menyapu pemandangan lepas pantai yang berkilau keemasan diterpa matahari pagi.
Fadhlan bertopang dagu, menatap wajah istrinya yang tampak bersinar. "Adek suka?"
"Iya, Mas. Suka banget," jawab Syifa dengan senyuman paling tulus yang ia miliki.
Tatapan Fadhlan melunak, berganti dengan kilat rasa bersalah yang samar. "Maaf ya, kalau kita belum bisa pergi honeymoon seperti pengantin baru pada umumnya. Jadwal saya agak padat belakangan ini. Tapi saya janji, setelah ini saya akan ajak kamu liburan ke tempat mana pun yang ingin kamu kunjungi, Dek."
Syifa tersentak pelan, buru-buru menggeleng. "Eh, tidak apa-apa, Mas. Seperti ini saja sudah lebih dari cukup buat aku. Tapi..." Syifa mengedarkan pandangan ke sekeliling pantai yang sepi. "Kenapa hanya ada kita? Tidak ada pengunjung yang lain?"
Fadhlan menegakkan tubuhnya, menyunggingkan senyum penuh percaya diri yang menjadi ciri khasnya. "Tentu saja tidak ada. Karena saya sudah menyewa tempat ini seharian supaya bisa berdua saja denganmu."
'Subhanallah... sampai menyewa tempat ini? Pasti mahal sekali,' gumam Syifa dalam hati. Ia teringat ucapan sahabatnya kemarin. Apa betul yang dibicarakan Tasya? 'Amalan apa yang sebenarnya Ummi lakukan di masa lalu, sampai Allah mentakdirkan pria sebaik dan se-perhatian ini untuk menjadi jodoh hamba, Ya Rabb?'
"Dek? Kenapa malah melamun?" suara Fadhlan membuyarkan lamunan Syifa.
"Eh? Iya, Mas, kenapa?"
"Kamu mau sarapan apa?"
"Mas saja yang pilihkan. Aku ikut seleranya Mas saja."
"Oke, kita pesan best menu dari restoran ini saja ya, Dek?" Syifa mengangguk setuju.
...----------------...
Sembari menunggu hidangan disajikan, Fadhlan mengajak Syifa berjalan-jalan santai di tepi pantai, membiarkan kaki mereka sesekali disapu oleh buih ombak yang dingin.
"Waktu kecil... apa kamu sering berlibur ke pantai?" tanya Fadhlan tiba-tiba. Pertanyaan itu terdengar kasual, namun ada nada penuh harap yang tersembunyi di sana.
Syifa terdiam sejenak, mencoba menggali ingatan masa lalunya. Namun, kepalanya justru terasa berdenyut samar. "Hm? M-maaf, tapi aku tidak terlalu ingat, Mas. Tidak tahu kenapa, kalau mencoba mengingat masa kecil, rasanya seperti banyak kenangan yang hilang. Gelap. Dan... aku tetap saja tidak bisa mengingatnya," ujar Syifa, nadanya berubah sedih dan frustrasi pada dirinya sendiri.
Fadhlan menghentikan langkah. Ia memandang wajah istrinya dengan tatapan sendu yang mendalam.
'Kenapa hanya aku yang tidak bisa kamu ingat, Dek? Bahkan hampir semua kenangan masa kecilmu bersamaku pun menguap begitu saja? Ya Allah, hanya Engkau Yang Maha Mengetahui alasan di balik semua tabir ini...' Fadhlan bermonolog dalam hati.
Fadhlan menarik napas panjang, lalu mengulas senyum menenangkan. Ia mengangkat tangannya, mengusap lembut pipi Syifa dengan ibu jarinya. "It's okay kalau kamu tidak ingat, Dek. Tidak apa-apa."
Syifa mencoba mengalihkan suasana agar tidak larut dalam kesedihan. "Kalau Mas sendiri bagaimana? Kakek dan Abi pernah cerita, katanya Mas pernah tinggal dan menuntut ilmu di luar negeri dalam waktu yang lama. Apa itu benar?"
Sorot mata Fadhlan menerawang jauh menatap garis cakrawala. "Benar. Setelah kedua orang tua saya meninggal, saya yang saat itu sedang menuntut ilmu di pondok pesantren terpaksa harus pindah ke luar negeri. Kakek yang mendesak keras saat itu. Jadilah saya hanya tinggal berdua dengan Kakek di lingkungan yang benar-benar asing bagi saya."
Fadhlan terkekeh hambar, mengenang masa lalunya. "Semenjak itu, Kakek berubah menjadi sangat keras dalam mendidik saya yang masih remaja. Apalagi kalau sudah urusan bisnis. Dalam waktu yang tidak singkat, Kakek selalu menuntut saya untuk menguasai segalanya. Saya pikir setelah fase itu selesai saya bisa langsung pulang ke Indonesia, ternyata tidak. Kuliah pun harus dilanjutkan di sana."
'Ternyata perjalanan hidupmu sangat berat dan sepi ya, Mas?' batin Syifa iba.
Syifa meraih tangan Fadhlan, menggenggamnya erat demi menyalurkan kekuatan. "Tapi aku percaya, Kakek dan almarhum orang tua Mas pasti sangat bangga melihat kesuksesan Mas Fadhlan sekarang," hibur Syifa dengan senyuman manis yang meneduhkan.
"Mungkin sekarang iya. Tapi kemarin, sebelum saya menikah denganmu, Kakek tampaknya masih menyimpan kecewa."
"Kecewa? Kenapa begitu?" Syifa mengernyit heran. Pria sesempurna Fadhlan, bagaimana bisa membuat kecewa?
"Dulu... banyak rumor miring yang mengatakan kalau saya seorang penyuka sesama jenis," ujar Fadhlan dengan wajah yang seketika berubah muram dan kaku. "Hanya karena saya tidak pernah menjalin asmara dengan wanita mana pun, tidak pernah terlihat berkencan. Bahkan rumor konyol itu sampai ke telinga Kakek dan Om Romi, membuat mereka sempat panik."
Syifa menutup mulutnya, terkejut. "Astaghfirullah... kenapa bisa ada orang yang tega mengira seperti itu?"
Fadhlan menunduk, menatap lekat-lekat manik mata Syifa. "Kalau kamu sendiri bagaimana? Apa kamu akan percaya rumor itu?"
Syifa tersenyum hangat, menggeleng perlahan. "Insya Allah, sejak awal aku percaya kalau Mas Fadhlan adalah pria normal. Mas hanya sedang menjaga batasan yang ketat antara pria dan wanita, di saat lingkungan sekitar menganggap bahwa pacaran atau kedekatan tanpa status adalah hal yang wajar. Bukankah begitu?"
Syifa menjeda sejenak, lalu menyambung dengan nada lembut namun tegas. "Karena fitnah terbesar bagi seorang lelaki ialah seorang wanita, pun sebagaimana fitnah terbesar bagi perempuan adalah lawan jenisnya. Mas hanya sedang melindungi diri Mas, dan saya menghormati itu."
Mendengar untaian kata dari istrinya, beban tak kasat mata yang selama ini menggelayuti pundak Fadhlan luruh seketika. Dadanya dipenuhi rasa lega dan hangat yang luar biasa.
"Masya Allah... memang istri Mas yang paling mengerti," ujar Fadhlan, gemas luar biasa hingga refleks mencubit pelan pipi Syifa yang merona.
"Ishh, Mas! Jangan dicubit, sakit tahu!" protes Syifa sambil meNgusap pipinya, meski bibirnya tak bisa menyembunyikan senyuman.
Fadhlan terkekeh melihat respons kesal istrinya yang justru terlihat sangat menggemaskan. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama saat Syifa melemparkan pertanyaan berikutnya dengan nada usil.
"Sebelumnya... Mas Fadhlan pernah dijodohkan juga, ya?"
Seketika, raut wajah Fadhlan berubah drastis. Ia kembali ke 'mode kulkas' andalannya datar, dingin, dan kaku. "Tidak," jawabnya ketus.
Syifa menahan tawa melihat perubahan ekspresi yang begitu cepat itu. "Hehe... pasti bohong. Iya, kan? Ngaku saja, Mas."
Fadhlan menghela napas pasrah, sadar ia tidak bisa mengelak dari tatapan menyelidik istrinya. "Itu dulu rencana sepihak dari Kakek Nizar, Sayang. Tapi, saya berani sumpah, yang benar-benar serius saya nikahi dari hati saya sendiri... cuma kamu," jelas Fadhlan defensif, berusaha meyakinkan Syifa setengah mati.
Syifa menggigit bibir bawahnya menahan tawa. 'Ya Allah, lucu banget sih Pak Fadhlan kalau lagi panik begini. Kalau sifat aslinya keluar, malah kelihatan mirip bocil yang lagi merengek takut disalahkan ibunya.'
"Tapi, bukankah menikah dengan saya juga berawal dari rencana perjodohan Kakek Nizar? Berarti sama saja dong dengan yang sebelum-sebelumnya?" pancing Syifa lagi, menaikkan sebelah alisnya.
Fadhlan melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Syifa bisa merasakan hembusan napas suaminya. "Siapa yang bilang sama?" bisik Fadhlan dengan suara rendah yang mengintimidasi namun seksi. "Hanya mahasiswa satu ini... yang bisa membuat saya ingin—"
"Ingin apa?" potong Syifa cepat, melangkah mundur dengan wajah memerah. "Jangan aneh-aneh ya, Mas! Itu... masih ada pelayan restoran yang melihat kita dari jauh!"
"Tidak ada yang aneh, Sayang. Kan kita sudah sah jadi suami istri?" goda Fadhlan dengan senyuman jahil yang jarang ia tunjukkan di kampus.
"Pak Fadhlan! Jangan mulai, ya!"
"Hei, panggil apa tadi?" Fadhlan menyipitkan matanya.
"Bapak! Kenapa coba? Memang kenyataannya begitu, kan?"
"Coba ulangi sekali lagi."
Syifa menjulurkan lidahnya sedikit, lalu bersiap mengambil ancang-ancang. "Pak Fadhlan! Dosen Killer yang... hihi, galak! Lariii...!" celetuk Syifa, lalu langsung membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin di atas pasir pantai.
"Asyifa Humaira...!" panggil Fadhlan dengan suara baritonnya yang khas, yang biasa ia gunakan untuk menertibkan mahasiswa di kelas.
Fadhlan langsung mengejar. Dengan langkah kakinya yang jauh lebih panjang, tentu saja tidak butuh waktu lama bagi Fadhlan untuk menyusul. Dalam beberapa detik, Fadhlan sudah berada di belakang Syifa dan langsung melingkarkan lengannya, memeluk dan mengangkat tubuh istrinya dari belakang hingga kaki Syifa menggantung di udara.
"Mas! Ih, turunin ngga! Nanti jatuh!" jerit Syifa bercampur tawa.
"Siapa suruh berani menjahili suami sendiri, hm?" ujar Fadhlan sambil memutar tubuh Syifa pelan di udara, layaknya adegan dalam film romantis.
"Mas... iya, iya, aku minta maaf! Hahaha, turunin!"
Namun, hukum fisika tidak bisa diajak kompromi. Karena terlalu asyik bercanda dan kehilangan tumpuan di atas pasir yang gembur, Fadhlan mendadak kehilangan keseimbangan.
BRUK!!
Keduanya jatuh bersamaan di atas hamparan pasir pantai yang lembut. Beruntung, Fadhlan dengan sigap menahan berat tubuhnya menggunakan kedua siku agar tidak menindih Syifa.
Suasana mendadak hening. Syifa termangu, napasnya memburu, menyadari posisi Fadhlan yang kini berada tepat di atasnya. Begitu pun dengan Fadhlan, seolah dunia di sekitarnya runtuh, pandangannya terkunci sepenuhnya pada wajah cantik sang istri.
"M-mas...?" cicit Syifa gugup, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
"Tetap seperti ini sebentar saja, Sayang," bisik Fadhlan dengan suara yang terdengar parau. Hembusan napas hangatnya menerpa wajah Syifa, menciptakan sensasi menggelitik yang menjalar ke seluruh tubuh.
'Dia... dia tidak mungkin mau melakukannya di sini, kan?' batin Syifa panik.
Chu~
Fadhlan mengecup bibir istrinya tanpa permisi. Syifa terbelalak terkejut. Namun, ini bukan sekadar kecupan singkat seperti malam-malam sebelumnya. Ciuman itu perlahan berubah menjadi dalam, penuh tuntutan sekaligus kelembutan yang memabukkan. Syifa seolah terhipnotis oleh pesona suaminya, hingga tanpa sadar tangannya merayap naik, melingkar di leher Fadhlan, membalas mesra di tepi pantai yang sepi itu.
Semilir angin pagi bertiup lembut, seolah menjadi saksi bisu bersatunya dua hati yang kian mencair. Meski Syifa masih terasa sedikit kaku dan belum berpengalaman, ia berusaha keras mengimbangi suaminya yang begitu bersemangat menyalurkan seluruh rasa cintanya.
......................
Sementara itu, dari kejauhan, beberapa pelayan yang membawa nampan berisi makanan mendadak menghentikan langkah mereka secara serentak.
"Kalian... cepat berbalik arah dan berpura-puralah tidak melihat kejadian barusan," bisik sang kepala pelayan dengan ekspresi tegang namun profesional.
"Baik, Pak," jawab para pelayan serempak, langsung memutar tubuh 180 derajat.
"Jaga sikap profesional kalian. Beliau adalah tamu VVIP nomor satu di restoran ini. Jangan sampai mengganggu."
...----------------...
Di sisi lain resort, tepatnya di restoran utama yang berbeda, keluarga besar Syifa beserta para sahabat sedang menyantap sarapan pagi mereka. Suasana di meja utama tampak hangat. Kakek Ali duduk dengan wajah yang luar biasa sumringah, matanya tidak lepas dari layar ponsel milik Abi Musthofa yang baru saja memperlihatkan sebuah foto/video atau laporan dari orang kepercayaannya.
"Abah, sarapannya dimakan dulu, nanti keburu dingin," ujar Ummi Salwa mengingatkan ayah mertuanya.
Abi memberikan kode lirih kepada istrinya agar membiarkan sang ayah menikmati kebahagiaannya pagi ini.
Kakek akhirnya meletakkan ponsel tersebut dengan senyum yang semakin lebar, lalu bersiap menyantap hidangannya. "Haihh... cucuku akhirnya sudah dewasa. Sudah tidak sabar rasanya, sebentar lagi aku pasti bisa menggendong cicit!" pungkas kakek Ali dengan nada penuh kemenangan.
Abi Musthofa hanya terkekeh pelan. "Doakan saja, abah. Semoga dilancarkan segala sesuatunya."
......................
Sementara itu, di meja yang agak terpisah dari rombongan keluarga, Jihan yang tidak sengaja menangkap obrolan sensitif tersebut langsung menyenggol heboh lengan Adiba.
"Eh, Diba, Diba! Kayaknya Syifa sama Pak Dosen udah 'itu' deh. Kamu denger gak tadi Kakek Ali bilang apa?" bisik Jihan dengan mata berbinar-binar penuh gosip.
Adiba menghela napas, menyuap makanannya dengan tenang. "Hussh! Jihan, jaga bicaramu. Itu bukan urusan kita. Lagipula mereka kan sudah sah menjadi suami istri. Jadi wajar-wajar saja kalau dalam waktu dekat Syifa hamil."
"Iya sih, bener juga," Jihan menopang dagunya, mendadak berubah lesu sekaligus iri. "Duh Ya Allah beruntung banget ya sahabat kita. Udah dapet pria tajir melintir, good looking, mapan, lulusan pesantren pula! Ya Allah... sisakan satu saja pria modelan begitu buat hamba, Aamiin!"
Adiba tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya. "Aamiinkan saja deh, biar kamu senang."
"Idih... mana ada cowok yang mau sama modelan cewek aneh mirip alien kayak lu," celetuk sebuah suara dari meja sebelah dengan nada mengejek yang sangat kentara. Siapa lagi kalau bukan Haikal.
Jihan seketika menoleh patah-patah. Matanya melotot tajam menatap Haikal. Tangannya yang sedang menggenggam garpu langsung diacungkan ke udara, siap menusuk udara kosong. "Heh! Ngomong apa lu barusan? Coba ulangi!"
"Jihan, sudah... ngga usah didengerin," lerai Adiba, mulai merasa tidak enak karena suara mereka agak meninggi.
Haikal dengan santainya mengunyah kerupuk. "Apa? Perasaan gue lagi ngomong sendiri, kok ada yang merasa, ya?"
"Sinting ya lu, ngomong sendiri tapi kencang banget?! Sini lu kalau berani, ngomong langsung di depan muka gue!" Jihan sudah bersiap beranjak dari kursinya, hendak melabrak Haikal.
"Astaghfirullah, Jihan! Sabar, dudukk!" Adiba menarik paksa cardigan Jihan agar sahabatnya itu kembali duduk, melirik cemas ke arah meja keluarga Syifa yang untungnya masih sibuk mengobrol.
"Sial... mulai lagi deh mereka berdua. Ngga bisa apa ya sehari aja ngga berantem?" rutuk Aidan yang duduk di sebelah Haikal, menggeleng-gelengkan kepalanya jengah.
Jihan masih belum puas, ia memajukan tubuhnya. "Lu tuh sebenarnya punya masalah hidup apa sih sama gue, hah? Dari kemarin cari masalah terus! Kenal aja enggak, gue ganggu hidup lu juga enggak!"
Haikal menatap Jihan remeh, lalu terkekeh. "Masalahnya? Masalahnya lu itu berisik banget, dan tingkat halu lu itu udah ketinggian, hahaha."
"Kalian berdua ini... Haikal, Jihan, sama-sama berisik," tegur Paman Andi yang tiba-tiba melintas di dekat meja mereka sambil membawa secangkir kopi. "Kalau mau debat, tunggu selesai makan dulu baru dilanjutkan. Atau... apa perlu Paman jodohkan saja kalian berdua sekalian biar awet?"
Seketika, aura permusuhan di antara keduanya mendadak senyap, berganti dengan ekspresi mual yang serempak.
"Ih, naudzubillah min dzalik! Mending saya jomblo karatan daripada sama cowok modelan begitu!" seru Jihan dramatis sambil mengetuk-ngetuk meja.
"Pahit... pahit, amit-amit! Mending gue menjomblo seumur hidup daripada harus nikah sama alien kayak dia!" balas Haikal tak kalah sengit sambil mengibaskan tangannya ke udara.
Melihat kekompakan dalam hal saling menolak itu, Aidan dan Adiba akhirnya tidak bisa menahan tawa mereka lagi. Suasana sarapan yang semula tegang pun berubah menjadi penuh tawa geli di sudut restoran itu.
...****************...