Hella Adelia menjalani hidupnya dalam diam, memikul peran sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi putra semata wayangnya. Dengan tekad sederhana—melihat anaknya agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMK—ia rela menyingkirkan lelah dan gengsi, menerima pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang CEO ternama.
Di balik kemewahan rumah itu, Dave Julian Alexander hidup dalam kesunyian. Seorang duda tanpa anak, dengan hati yang masih terikat pada kenangan akan mendiang istrinya. Dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Kesederhanaan Hella, ketulusannya sebagai seorang ibu, dan harapan kecil yang ia genggam untuk masa depan anaknya, menghadirkan kehangatan yang lama hilang dalam hidup Dave.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endel_Bagong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERJERAT CINTA SANG BOSS
Setelah tanda tangan terakhir dibubuhkan di atas dokumen kerja sama, Tuan Baskara langsung tersenyum puas.
"Kalau begitu, kerja sama ini resmi dimulai, Pak Dave."
Dave mengangguk singkat.
"Semoga berjalan sesuai target."
"Tentu."
Baskara lalu melihat jam tangannya.
"Pak Dave belum makan malam, kan? Bagaimana kalau sekalian makan bersama?"
Dave melirik cangkir kopinya yang sudah hampir kosong.
"Tidak usah. Saya masih ada urusan lain."
"Setidaknya tambah minum dulu."
Dave akhirnya menerima segelas kopi hitam yang ditawarkan.
Beberapa menit kemudian, ia berdiri.
"Kalau begitu saya pamit."
Baskara ikut berdiri dan menjabat tangannya.
"Hati-hati di jalan, Pak Dave."
Dave mengangguk lalu meninggalkan ruang VIP.
Namun langkahnya melambat saat melewati area restoran hotel.
Pandangannya tanpa sengaja tertuju ke meja nomor delapan.
Di sana duduk Johan dan Hella.
Mereka baru saja selesai melihat buku menu.
Dan entah kenapa, meja itu terlihat jauh lebih hidup dibanding ruang VIP yang baru saja ia tinggalkan.
"Mas Johan..." panggil Hella.
"Hm?" jawab singkat Johan.
"Ini harga nasi goreng atau harga mejanya sekalian?" bisik Hella sambil melotot melihat menu.
Johan hampir tersedak minumannya.
"Hahaha... Mas, pelan-pelan."
"Serius aku nanya."
Hella membalik menu lagi.
"Lihat ini."
Johan ikut melihat.
"Nasi goreng spesial."
"Iya." kata Hella
"Kenapa Hella..?"
"Harganya seratus dua puluh ribu."
"Iya." Johan menjawab seolah biasa saja.
"Itu ayamnya bisa nyanyi lagu Indonesia Raya ya?"
Johan langsung tertawa keras.
Beberapa pengunjung sampai menoleh.
Hella buru-buru menunduk malu.
"Mas, aku serius."
"Aku juga serius ketawa Hell."
"Kalau di Desaku uang segitu udah bisa makan satu keluarga."
"Ya kan ini hotel."
"Hotel juga nggak harus bikin jantung orang copot pas lihat menu."
Johan kembali tertawa.
Sementara Dave yang berdiri beberapa meter dari mereka, hanya memperhatikan dalam diam.
Akhirnya pelayan datang.
"Sudah siap memesan, Kak?"
Hella langsung panik.
"Eeeh..."
Ia menatap menu lagi.
Kemudian menatap harga.
Lalu menatap menu lagi.
Lalu harga lagi.
Johan sampai menahan senyum.
"Pesan aja."
"Aku takut."
"Takut kenapa Hella..?"
"Nanti kalau nggak habis gimana?"
" Ya gak apa - apa, Itu bukan masalah."
"Masalah buat aku."
Johan menggeleng geli.
"Ya sudah, pesan yang kamu mau."
Akhirnya setelah berpikir cukup lama, Hella menunjuk satu menu.
"Saya nasi putih sama gurame asam manis."
Pelayan mencatat.
"Minumnya?"
Hella membaca daftar minuman.
Harga jus jeruk.
Harga teh.
Harga kopi.
Harga smoothie.
Matanya semakin membesar.
"Kenapa minumannya lebih mahal dari bensin motor saya ya..."
Johan langsung menutup wajahnya menahan tawa.
Pelayan pun ikut menahan senyum.
"Smoothie melon aja deh."
Setelah pesanan dicatat, pelayan pergi.
Beberapa menit kemudian Hella menghela napas panjang.
"Mas."
"Hm?"
"Aku merasa bersalah."
"Lho kenapa..?"
"Belum makan aja rasanya udah kenyang." kata Hella.
Johan tertawa.
"Kenapa..?"
"Karena lihat harganya."
"Hahaha..." Johan makin tertawa, karena menurutnya Hella sangat lucu.
"Serius."
Hella memegang dada.
"Nanti kalau makanannya datang terus aku susah nelan gimana..?"
"Kenapa susah nelan..?"
"Soalnya tiap suapan aku bakal ingat itu nilainya berapa ribu."
Johan tertawa sampai harus memegang meja.
"Mas, jangan ketawa."
"Aku nggak bisa."
"Kalau aku keselek gimana?"
"Kamu lucu."
"Aku lagi gak ngelucu."
"Lucu iihhh kata ku."
"Aku lagi stres."
Johan tertawa lagi.
Dari kejauhan, Dave memperhatikan semuanya.
Hella terlihat begitu santai ketika berbicara dengan Johan.
Ia tertawa.
Bercanda.
Mengeluh soal harga makanan.
Bahkan sesekali memukul pelan lengan Johan ketika pria itu terlalu banyak tertawa.
Sikap yang tidak pernah Dave lihat selama Hella bekerja di rumahnya.
Di hadapannya...
Hella selalu kaku.
Selalu menunduk.
Selalu berhati-hati.
Seolah takut salah bernapas.
Namun di depan Johan...
wanita itu terlihat sangat berbeda.
Jauh lebih hidup.
Entah kenapa, pemandangan itu membuat Dave mengernyit tipis.
Perasaan yang muncul bukan marah.
Bukan pula kesal.
Hanya...
aneh.
Sangat aneh.
Dan Dave tidak menyukai perasaan yang tidak bisa ia pahami.
*Para pembaca, kalian ada yang mencium bau - bau asap gak sih, kayaknya ada yang lagi kenak bakar tuh* 🫵🏻😂 DAVE.
*Johan, Marcel and Dave 😁
biar gak tua-tua amat...kurang seru soalnya kalau ketuaan pemain nya 👍😁