Bagaimana perasaan mu jika kau terpaksa harus menikah muda? Terutama dengan orang yang usianya jauh lebih tua dari mu? Inilah yang terjadi dengan Clara Adeline Ferguson. Ia adalah putri tunggal keluarga Ferguson yang terkenal kaya. Papa nya juga adalah salah satu donatur terbesar sekolah SMA Citra Kirana di kota X.
Kenapa? Scandal apa yang telah dia lakukan sehingga ia harus menikah begitu dini? Ya. Jawaban nya adalah. Clara itu sangat nakal dan juga tidak pernah mendengarkan kedua orang tuanya,ia bahkan bisa di bilang anak manja dengan perilaku buruk, tidak jarang ia membuat onar di sekolah, ia bahkan selalu mendapat nilai merah di raport nya dan terancam tidak naik ke kelas tiga karena sering bolos sekolah.
Sementara itu Zidan, adalah seorang guru laki-laki termuda di sekolah SMA Citra Kirana yang katanya adalah keponakan kepala sekolah, namun identitas Zidan ini tidak lah akurat seperti sedikit tertutup dan tidak ada yang tau tentang keluarga nya kecuali sang paman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode #15
Zidan membawa Clara masuk ke kamar nya dan kemudian menguci pintu kamar lalu memasukkan kunci tersebut ke saku baju nya.
"Pak Zidan jangan macam-macam ya! Buka pintu nya, saya mau keluar!" kata Clara mulai takut.
"Malam ini kalau kamu tidak membenarkan semua ini, jangan kan keluar dari kamar saya, tidur pun kamu tidak boleh," kata Zidan yang kemudian memegang kedua pundak Clara membawa nya ke sebuah meja kecil dan membuat Clara duduk di kursi yang ada di depan meja belajar tersebut.
Clara terdiam menatap begitu banyak buku pelajaran, laptop dan juga peralatan menulis lain nya di meja tersebut, di dalam kamar Zidan ada dua meja belajar, tentu nya ini di siapkan memang untuk mengawasi Clara belajar.
"Mulai sekarang setiap hari kamu tidak boleh membuang-buang waktu dengan bermain lagi, seperti janji saya dengan kedua orang tua kamu,kamu harus belajar dengan tekun dan mengubah nilai kamu, supaya kamu bisa jadi juara satu di kelas, paham?" ucap Zidan panjang lebar.
"Apa? Kenapa harus sekamar belajar?" tanya Clara tak terima.
"Jangan membantah, saya akan mengawasi kamu," ucap Zidan yang kemudian meningalkan Clara dan duduk di atas ranjang nya sambil membaca buku.
"Cih, sialan," umpat Clara sambil menatap kertas ulangan nya tadi siang.
"Saya masih bisa mendengar," kata Zidan tanpa melirik Clara.
"Nyenyenyen," kata Clara mengejek.
Sementara itu Zidan menarik nafas panjang ia harus banyak-banyak bersabar menghadapi bocah ingusan itu sekarang.
Mau tidak mau Clara pun mengerjakan ulangan tadi siang dengan terpaksa, ia benar-benar malas jika harus berfikir tentang pelajaran namun jika tidak Zidan pasti akan memelototi nya.
"Jika tidak ada yang mengerti bertanya," kata Zidan sambil sesekali melirik Clara yang kelihatan bingung dan hanya bisa mengigit pena nya.
"Ini gimna sih beneran gak tau saya gimna caranya," kata Clara yang akhirnya menyerah karena tidak bisa mengerjakan soal tersebut.
Zidan melihat ke arah nya, dan kemudian berdiri lalu berjalan menghampiri Clara, ia kemudian berdiri tepat di samping Clara.
Laki-laki bertubuh tinggi itu membungkuk menatap soal yang dia berikan kepada Clara barusan. Aroma tubuh nya yang wangi tersibak ke hidung Clara yang berjarak dekat dengan nya. Kemeja putih dengan lengan yang di gulung sesiku membuat Clara begitu memperhatikan sang suami.
"Huhhh, sudah selama ini baru satu yang terisi, itu pun salah, bagaimana cara mu berfikir?" kata Zidan menatap ke arah Clara yang sedang menatap nya.
Kedua pasang mata bertemu dan saling tatap satu sama lain, wajah cantik dan pipi caby, rambut di grai dengan badok beruang di atas kepala serta bibir merah alami dan juga kulit putih itu membuat Zidan sedikit kagum.
Ini pertama kali nya dia menatap Clara dari dekat.
Menyadari tatapan Zidan terhadap nya Clara buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah meja yang penuh dengan buku dan juga peralatan lain.
Zidan mengambil sebuah buku, dan juga kursi dari meja kerja nya lalu kemudian duduk tepat di samping Clara dan meletakkan buku tersebut di hadapan Clara. Lalu mulai berceloteh untuk mengajarkan nya.
"Mulai sekarang kamu tangung jawab saya, kamu tidak boleh mengecewakan kedua orang tua kamu, paham?" tanya Zidan kepada Clara.
"I-iya, bawel banget sih," jawab Clara.
"Yang sopan kamu, saya di sekolah guru kamu di rumah suami kamu, jadi tidak ada alasan kamu untuk membangkang saya," kata Zidan tatapan tajam nya membuat Clara takut.
"I-iya terus ini apa, anu, ini bagaimana pak?" kata Clara gemetar dan gugup.
"Sini saya jelaskan," kata Zidan yang kemudian mulai menjelaskan pelajaran yang tidak di mengerti Clara.
Malam itu mereka mulai belajar dan Clara tak punya waktu untuk bermalas-malasan lagi sekarang.
Beberapa kali Clara menguap dan meminta Zidan menyudahi pelajaran mereka malam ini, namun Zidan tidak mempedulikan nya.
"Pak bisa besok malam aja gak di lanjutin belajar nya? Sayang ngantuk banget, huaaam," ujar Clara sambil sesekali menguap.
"Sedikit lagi selesai, tunggu di sini ada buku yang harus saya ambil," kata Zidan yang kemudian berdiri dari duduknya lalu pergi ke rak buku yang ada di kamar tersebut,lalu mencari buku yang dia butuhkan.
" Di mana buku itu ya?" batin Zidan sambil mencari-cari buku milik nya. Setelah sepuluh menit kemudian Zidan pun kembali ke meja tempat di mana Clara menunggu.
Namun ia tak menyangka kalau ternyata saat itu Clara telah tertidur di meja belajar nya.
"Astaga mudah sekali dia tidur," batin Zidan mengelengkan kepala nya tak habis fikir.
Melihat Clara yang sudah ketiduran Zidan pun tidak bisa melanjutkan pelajaran mereka, ia menjatuhkan buku tersebut di atas ranjang nya dan kemudian menghampiri Clara dan kemudian duduk di samping nya sambil mengamati Clara yang sedang tidur.
Awalnya Zidan mengira kalau Clara saat ini sedang pura-pura tidur karena tidak mau belajar, namun ternyata setelah melihat lebih jelas ternyata Clara memang sedang tidur.
"Ck, kenapa aku malah memperhatikan nya sejauh ini?" batin Zidan sambil tersenyum miring.
Lama mengamati wajah Clara Zidan pun menyadari kalau garis wajah mereka berdua terlihat sangat mirip, bulu mata Clara dan dirinya sama-sama panjang, alis yang begitu sama serta hidung yang juga sama-sama mancung.
"Maaf kan aku, kelak kau akan tau siapa aku sebenarnya," batin Zidan sambil menarik kedua sudut bibir nya terlihat ia tersenyum manis.
Keesokan harinya.
"Huaaam," Clara membuka mata dan meregangkan kedua tangan nya sambil melihat ke sekeliling kamar.
"Lah, sejak kapan gue udah di kamar? Bukan nya tadi malam belajar di kamar pak Zidan?" batin Clara seketika duduk di pinggir ranjang.
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan di pintu kamar membuat Clara tersadar dari lamunannya, ia berdiri dan bergegas menuju pintu kamar tersebut.
"Maaf nona muda, tuan sudah menunggu dan meminta nona segera bersiap-siap untuk ke sekolah," kata maid tersebut.
"Ah iya, aku tau," kata Clara bergegas mengambil handuk dan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.
Tiga puluh menit kemudian.
Mereka telah dalam perjalanan menuju sekolah.
Clara memainkan ponselnya dan melihat sekeliling jalan yang masih sangat sepi.
"Gak bisa nya gue ke sekolah sepagi ini, dulu gue jam segini masih berantem sama mama buat bangun dari kasur," batin Clara mulai kembali merindukan masa lalu nya di rumah sang mama.
Perjalanan dari villa ke sekolah memakan waktu satu jam, pagi ini Clara sama sekali tidak sempat sarapan karena dirinya khawatir kalau Zidan akan marah dan meningalkan nya.
"Kamu punya uang?" tanya Zidan memecahkan keheningan mereka.
Seketika Clara terdiam dan menoleh menatap Zidan dengan kening yang berkerut.
Bersambung....