Jiang Hao hanyalah pemuda yang lugu dan polos , jujur dan sedikit konyol , kehidupan sehari harinya seperti kebanyakan pemuda pada umumnya.
Memiliki cita cita keluarga yang bahagia dan keinginan untuk menjadi kaya .
Tapi kehidupan yang di idam idamkan di dalam pikirannya, tidak ada sama sekali.
Tatkala adik kandung yang baru pulang dari dinas militer masuk ke kehidupannya.
Merebut tunangan yang di mana dalam satu minggu akan ia nikahi, serta sikap dan sifat keluarganya yang berubah dengan memutuskan semua hubungan darah termasuk tunangan dan keluarganya.
Juga ia mendapat fitnah keji , sehingga tubuh dan jiwanya hampir mati, namun itu menjadi berkah tersembunyi, darah dan bakat bela dirinya keluar setelah 20 tahun tersegel.
Saat itu juga dunia bela diri kuno terguncang dan nama Jiang Hao menjadi legenda yang di takuti lawan serta kawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erik riswana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2 benar benar pengkhianat
Jauh dari Kabupaten Jiangnan, berpuluh puluh mil jauhnya terdapat sebuah kota yang megah dan sangat luas .
Di mana terdapat istana putih dengan dikelilingi oleh tembok istana yang sangat megah dan panjang.
Kota tersebut sangat megah , membuat siapa saja yang berkeliling mengelilingi kota tidak akan selesai hanya dalam waktu satu minggu.
Bangunan kuno , gedung mewah khas zaman dahulu berdiri begitu kokoh , dan jumlahnya mencapai lebih dari lima digit.
Kota tersebut bernama Qizhou , ibukota kerajaan Qi , negara bawahan yang cukup kuat dan Makmur, memiliki wilayah yang luas terbentang dari batas timur pegunungan Jiangshan sampai tepi laut kota Hangzhou.
Di beberapa titik ,banyak pos pos penjagaan yang sangat banyak dan memiliki masing masing sekitar seratus anggota prajurit jaga kerajaan.
Kedamaian dan kekuatan yang tangguh membuat negara Qi cukup disegani oleh negara negara bawahan lainnya .
Termasuk negara Jiang yang ada di sebelah barat negara Qi .
Keduanya memiliki perbatasan yang cukup kontroversial, di mana di antara tengah pegunungan Jiangshan, kota kota kecil menjadi rebutan dan persaingan yang sengit .
Seratus tahun yang lalu hampir saja pecah perang antar negara bawahan , dan untungnya situasi itu tidak terjadi tatkala kekuatan teratas dunia , Dinasti Qing mengambil alih dengan menjadi mediator kedua negara.
Dan kesepakatan itu menghasilkan perjanjian Jiangqi, di mana dua tahun sekali akan diadakan pertarungan jenius muda antar negara dan selama tiga puluh tahun terakhir negara Qi terus dirugikan.
Sehingga kunci perjanjian dengan penguasaan pegunungan Jiangshan menjadi milik kerajaan Jiang.
Dua puluh tahun yang lalu , negara di utara yang berbatasan langsung dengan ibukota Dinasti Qing ,ikut serta dan negara di selatan juga ikut ambil bagian .
Sehingga turnamen antar negara menjadi empat kekuatan dan itu membuat negara Qi semakin terdesak ,tidak berdaya .
Terlebih lagi negara di utara mendapatkan dukungan diam diam dari Dinasti Qing , dengan cara memberikan sumber daya kultivasi yang sangat melimpah.
Hal tersebut sangat merugikan kedua kerajaan yang ada di kawasan pegunungan Jiang dan daratan Qi .
Namun keduanya tidak berdaya , tatkala Dinasti Qing meresmikan turnamen antar empat negara sebagai turnamen bergengsi di mana juaranya akan menjadi seorang Jenderal perang Dinasti Qing.
Hal itu menjadi daya tarik bagi seluruh jenius dari berbagai kalangan, baik dari kalangan rakyat , pejabat maupun cendekiawan yang memiliki kultivasi.
Istana putih kerajaan Qi.
Halaman taman belakang istana kerajaan.
Udara terasa nyaman sejuk , menyapa dedaunan segar di halaman taman yang sangat indah mempesona.
Pohon pohon yang besar menaungi Halaman belakang istana, memberikan keteduhan yang menyentuh jiwa .
Di bawah pohon ada beberapa kursi berwarna putih bersih dengan hiasan kristal bercahaya .
Kursi kursi itu di tempati oleh beberapa orang yang memiliki aura menenangkan sekaligus menekan .
Mereka berbicara dengan santai dan kadang ada beberapa candaan ringan lainnya.
" Yang Mulia Raja, hamba tidak tahu di mana tambang roh kristal berada !" Seorang pria berzirah merah dengan tampilan seperti pahlawan perang zaman kuno berujar disertai mimik wajah tak berdaya .
" jenderal Dong ,tidak apa apa , santai saja, kerajaan Qi masih memiliki beberapa cadangan batu spiritual di gudang harta , cukup untuk lima tahun ke depan " kata sang raja dengan nada santai dan tidak mempermasalahkan ucapan dari jenderal yang sangat dipercayainya itu.
" terimakasih Yang Mulia atas perhatiannya " ucap Jenderal Dong dengan nada yang tulus dan penuh hormat.
Mata sang Raja yang berwarna biru begitu meredup, memikirkan sesuatu yang terus mengganjal di hatinya.
Sang jenderal kepercayaan Raja , tampak mengerti dengan beban yang ada di dalam pikiran sang Raja .
" Yang Mulia Raja , tuan putri kesembilan sudah waktunya kembali dari barat , " kata jenderal Dong hati hati .
Sang Raja mengangguk , " memang sudah waktunya Caier kembali , jenderal Dong kirim kultivator ahli emas atau legenda, agar keamanan terjamin " kata sang Raja Qi dengan nada serius .
" turnamen dua tahunan sudah akan di mulai , negara Qi kita mungkin hanya bisa mengandalkan Caier untuk meraih prestasi " kata sang Raja berdiri ,lalu berjalan perlahan meninggalkan taman Halaman belakang istana .
Beberapa pengawal setia dan bayangan Raja mulai menghilang satu persatu, kembali menjalankan tugas atau sekedar menjaga Raja di area gelap .
Jenderal Dong yang memiliki postur tegap dan kuat memberi hormat, lalu menghilang seperti yang lainnya .
Kota Jiangnan.
Distrik Jiang utara .
Terlihat di ujung jalan, sepasang pria wanita muda berjalan tenang , keduanya berbicara begitu asik , tanpa memperdulikan hari yang sudah menjelang malam .
Di mana keduanya terus berbicara , seolah tidak bisa dipisahkan oleh masa dan waktu.
" tuan muda Hao, bila suatu hari Caier pergi ,apa yang akan tuan muda lakukan ?" Tanya Caier dengan nada pelan dan penuh harapan.
Jiang Hao yang ada di samping kiri gadis berwajah seperti bayi itu hanya tersenyum tenang .
" Caier tidak akan pergi , tapi kalau benar benar pergi, tuan muda ini akan cari sampai ketemu , bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun " ucap Jiang Hao dengan tangan menepuk dadanya.
" tuan muda ini akan cari , karena Caier adalah adik perempuan pertama yang aku miliki "
Wajah gadis muda yang sudah tumbuh dewasa itu begitu murung , namun sesaat kemudian kembali normal .
Matanya yang berwarna putih seperti tidak buta sama sekali , bisa melihat ekspresi bahagia dari pria yang ada di sampingnya.
" maafkan Caier tuan muda , besok aku akan pergi dan semoga kita bertemu kembali, " gumamnya dalam hati .
Keduanya berjalan perlahan, sampai di sebuah gerbang megah yang memiliki bentuk setengah lingkaran ,Jiang Hao berhenti dan mendorong pintu secara perlahan.
" semuanya aku pulang ... !" Serunya keras , tangannya yang kekar dengan mudah mendorong pintu besi seberat 100 kg .
Dan suara dari pintu gerbang menarik perhatian dari beberapa orang di dalamnya.
Mata Jiang Hao terpaku saat melihat dua orang yang tampak familiar berpelukan erat , seolah itu sengaja diperlihatkan kepadanya .
" hei apa yang kalian lakukan !" Teriak Jiang Hao meninggi .
Dalam pandangannya, dua orang pria wanita yang sudah mencapai usia delapan belas tahun begitu akrab hingga ada beberapa bekas bibir di bagian pipi yang tercetak jelas sempurna.
" ehh kakak Hao kamu sudah pulang !" Tanpa merasa bersalah, wanita yang sempat bercumbu dengan adiknya datang mendekat, penampilan wanita itu begitu menggoda, di mana sosoknya terbentuk sempurna seolah sudah ditakdirkan untuk menjadi pasangan surgawi.
Kulitnya yang putih bersih dengan mata hijau zambrud begitu tajam memandang Jiang Hao .
" apakah ini yang kamu katakan bahwa kamu menyukai aku , jelaskan apa ini .. !"
" ehh kakak Hao jangan marah, aku dan adik ipar hanya berpelukan melepas rindu dan kami tidak berhubungan apapun, lagipula adik ipar Tian baru pulang dan membawa kabar gembira " kata wanita cantik bernama Lin Huanger itu menjelaskan.
" benar kakak, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan kakak ipar perempuan " Pemuda yang memiliki wajah hampir mirip dengan Jiang Hao berdiri , menjilat. bibirnya yang penuh dengan air berwarna putih .
Mata Jiang Hao terlihat dingin dan aura kemarahan sudah mencapai batasnya " adik Tian , apa aku bodoh.. aku lihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang telah kalian perbuat ... sungguh mengecewakan !" Jiang Hao menggelengkan kepala, matanya yang awalnya penuh harapan tatkala bertemu dengan adiknya menjadi begitu kosong.
" sekarang.... !"
Bukkkk...