Bagi Laily, mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di rumah mewah keluarga Arshawirya adalah sebuah keberuntungan—kesempatan kedua untuk mengubur masa lalu kriminalnya.
Jeffran Arshawirya adalah suami sempurna yang tampan dan penuh perhatian, sementara istrinya, Selina, tampak seperti wanita kaya yang tidak stabil dan gemar menyiksanya dengan aturan tak masuk akal.
Namun, di balik kemegahan rumah serbaputih itu, tersimpan gema masa lalu yang mengerikan. Sebuah rumor berbisik bahwa Selina pernah mencoba membunuh putrinya sendiri di bak mandi. Ketika batas profesional antara Laily dan Jeffran mulai mengabur dalam satu malam yang terlarang, Laily menyadari satu hal: di rumah ini, tidak ada yang benar-benar jujur.
Apakah Selina memang seorang psikopat yang berbahaya, ataukah ada skenario yang jauh lebih gelap yang sedang mengintai nyawa Laily? Ingat, di rumah ini, salah memilih langkah bisa berarti kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter enam
Pada jam 6.45, makan malam hampir siap. Ada beberapa potong dada ayam di dalam kulkas yang sudah dimarinasi dan seseorang telah mencetak petunjuk memasaknya pada kantongnya, jadi aku hanya melakukan apa yang tertulis di petunjuk tersebut dan memasukkannya ke dalam oven. Mereka pasti mendapatkan makanan mereka dari semacam layanan pesan-antar bahan makanan yang sudah dilengkapi dengan petunjuk memasak.
Dapur berbau sangat harum saat pintu garasi tertutup dengan keras. Semenit kemudian, Jeffran Arshawirya berjalan santai masuk ke dalam ruangan, ibu jarinya berada di simpul dasi untuk melonggarkannya. Aku sedang mengaduk semacam saus di atas kompor, dan aku sempat terpana sejenak ketika melihatnya, karena sempat lupa betapa tampannya pria ini.
Dia tersenyum lebar ke arahku—dia terlihat jauh lebih tampan saat tersenyum. "Laily, kan?"
"Benar."
Dia menghirup aroma udara dalam-dalam. "Wah. Aromanya luar biasa enak. Aku bisa menciumnya dari luar."
Pipiku memerah. "Terima kasih, Tuan Jeffran."
Dia melihat sekeliling dapur dengan nada puas. "Kau membuat semuanya jadi bersih."
"Itu sudah menjadi tugas saya."
Dia terkekeh dengan suara tawa yang rendah dan serak. "Kurasa memang begitu. Apakah hari pertamamu menyenangkan?"
"Iya, menyenangkan." Aku tidak akan memberi tahunya tentang kekacauan selai kacang tadi. Dia tidak perlu tahu, meskipun aku curiga Selina pasti akan menceritakannya nanti. Aku yakin dia tidak akan senang jika tahu aku hampir saja membunuh putrinya.
"Anda memiliki rumah yang indah."
"Yah, saya harus berterima kasih pada Selina untuk hal itu. Dialah yang mengurus rumah tangga."
Seolah sudah direncanakan, Selina tiba di dapur, mengenakan setelan putih lainnya—setelan yang berbeda dari yang dipakainya beberapa jam lalu.
Sekali lagi, dia terlihat tanpa cela. Namun saat aku sedang bersih-bersih tadi, aku meluangkan waktu beberapa menit untuk melihat foto-foto di atas perapian mereka. Ada satu foto Selina dan Jeffran bersama dari bertahun-tahun yang lalu, dan dia terlihat sangat berbeda saat itu. Rambutnya tidak sepirang sekarang, dia memakai lebih sedikit riasan, dan pakaiannya lebih kasual—serta tubuhnya setidaknya dua puluh lima kilogram lebih kurus. Aku hampir tidak mengenalinya—tetapi Jeffran terlihat persis sama.
"Selina." Mata Jeffran berbinar saat melihat istrinya. "Kau terlihat cantik, sayang. Seperti biasanya."
Dia menarik Selina ke pelukannya dan menciumnya dalam-dalam di bibir. Selina bersandar mesra padanya, mencengkeram bahu suaminya dengan posesif. Ketika mereka berpisah, Selina menatap ke arahnya.
"Aku merindukanmu hari ini."
"Aku lebih merindukanmu."
"Aku yang lebih merindukanmu."
Astaga, berapa lama mereka akan berdebat tentang siapa yang lebih merindukan siapa? Aku berbalik, menyibukkan diri di dapur. Terasa canggung berada begitu dekat dengan pertunjukan kemesraan seperti ini.
"Jadi...." Selina adalah yang pertama melepaskan diri.
"Apakah kalian berdua sedang saling mengakrabkan diri?"
"Uh-huh." Gumam Jeffran.
"Dan apa pun yang sedang dimasak Laily aromanya luar biasa enak, bukan?"
Aku melirik ke belakangku. Selina sedang memperhatikanku di depan kompor dengan tatapan gelap di mata coklatnya. Dia tidak suka suaminya memujiku. Padahal aku tidak tahu di mana masalahnya—pria itu jelas-jelas sangat tergila-gila padanya.
"Memang harum." Akuinya setuju.
"Selina sama sekali tidak bisa diandalkan di dapur." Jeffran tertawa, sambil merangkulkan lengannya di pinggang istrinya.
"Kami bisa mati kelaparan jika semuanya dibebankan ke pundaknya. Ibuku dulu sering mampir membawa makanan yang dia atau koki pribadinya buat. Namun sejak ibu dan ayahku pensiun ke Aussie, kami kebanyakan bertahan hidup dengan makanan pesan-antar. Jadi kau adalah penyelamat kami, Laily."
Aussie? Yah, mungkin Jeffran orang campuran. Terlihat dari matanya yang memiliki fitur asia namun hidungnya mancung seperti orang kulit putih.
Selina memberikan senyuman tipis yang kaku. Jeffran memang hanya menggodanya, tetapi tidak ada wanita yang suka dibanding-bandingkan secara buruk dengan orang lain. Dia bodoh jika tidak mengetahui hal itu. Tapi sekali lagi, banyak pria yang memang bodoh.
"Makan malam akan siap dalam waktu sekitar sepuluh menit." Ucapku. "Mengapa kalian berdua tidak pergi bersantai saja di ruang tamu? Saya akan memanggil lagi jika makan malamnya sudah siap."
Jeffran mengangkat alisnya. "Apakah kau ingin bergabung dengan kami untuk makan malam, Laily?"
Suara helaian napas tajam dari Selina seketika memenuhi dapur. Sebelum dia sempat mengatakan apa pun, aku menggelengkan kepalaku dengan kuat. "Tidak, saya akan pergi ke kamar saya saja untuk bersantai. Namun, terima kasih atas undangannya."
"Benarkah? Kau yakin?"
Selina memukul lengan suaminya. "Jeffy, dia sudah bekerja seharian. Dia tidak ingin makan malam bersama majikannya. Dia hanya ingin pergi ke atas dan bertukar pesan dengan teman-temannya. Benar kan, Laily?"
"Benar." Kataku, meskipun aku tidak punya teman sama sekali. Setidaknya, tidak di dunia luar sini.
Jeffran tampaknya tidak terlalu peduli bagaimanapun pilihannya. Dia hanya bersikap sopan, sama sekali tidak menyadari fakta bahwa Selina tidak menginginkanku ada di meja makan.
Dan itu tidak masalah bagiku. Aku tidak ingin melakukan apa pun yang membuat wanita itu merasa terancam. Aku hanya ingin tetap menundukkan kepala dan melakukan pekerjaanku dengan baik.
.
.
.
.
.
.
To be continue....
Ayo like komen gaes🥰
btw, saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa, boleh singgah profile. terima kasih 🤭