Lima tahun Riana menyerahkan hatinya untuk satu nama yaitu Irwan. Lima tahun pula ia percaya bahwa dirinya adalah satu-satunya.
Sampai sebuah kenyataan menamparnya dan menghancurkan segalanya.Ternyata selama ini Riana bukan kekasih Irwan tapi ia hanya... selingkuhan.
Riana ingin memutuskan untuk pergi. Ia muak. Tapi Irwan menolak melepasnya. "Kamu sudah terlalu dalam di hidupku" katanya, dengan nada yang membuat Riana takut sekaligus lemah.
Di tengah luka dan ancaman itu, hanya ada satu orang yang selalu ada dua lah Arif. Sahabat yang selalu menemaninya, yang hapal caranya menangis dalam diam. Arif yang ternyata sudah lama menyimpan rasa, tapi memilih pergi demi kebahagiaan Riana.
Kini Riana harus memilih. Bertahan dalam cinta yang memenjarakan, atau berani bebas meski harus kehilangan semuanya? Dan sanggupkah Arif tetap diam saat wanita yang ia cinta sedang tenggelam?
Lima tahun cinta, ternyata hanya lima tahun kebohongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rika nopiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Matahari bersinar begitu cerah secerah hati Riana karena sudah di izinkan untuk kembali ke kampus.
Ia sejak pagi sudah menunggu kedatangan teman-temannya di teras,mereka berencana untuk pergi bersama pagi ini.
"Semangat banget yang mau ke kampus!masih pagi udah siap aja.Gimana kalo sambil nunggu kamu makan dulu sayang biar ada tenaganya!" ajak Hana.
"Riana janjian mau makan di luar sama yang lain mah,mereka bentar lagi juga pada nyampe" jawab Riana sambil memandang ke jalanan,tak lama sebuah mobil masuk ke halaman rumahnya.
"Tuh kan mereka udah dateng" Riana antusias.
Teman-temannya turun dari mobil dan satu persatu mencium tangan Hana.
"Mah aku langsung berangkat ya" ucap Riana langsung mencium pipi serta tangan Hana
"Jangan sampe kecapean ya sayang!Jangan makan sembarangan,pokoknya jangan aneh-aneh ya.Arif titip Riana ya" ucap Hana.
"Siap tante" jawab Arif
"Emang aku barang di titipin segala" Riana tersenyum sambil mengajak teman-temannya masuk ke dalam mobil.
"Ri,mau makan dimana nih kita?" tanya Ido.
"Dimana ya?kita cari tempat yang deket-deket sini aja ya" ajak Riana.
Setelah berputar-putar akhirnya mereka memutuskan berhenti di sebuah toko roti yang tidak terlalu ramai sehingga mereka tidak perlu mengantri.
"Ri kayaknya gue ga akan kenyang makan yang beginian doang mah" ucap Ido, di mejanya terhidang roti coklat dan secangkir kopi.
"Makan aja Do,jangan banyak protes.Di bayarin juga" ucap Arif mendelik kesal.
"Tau loe!berapa biji tuh roti yang loe makan?gue mah makan satu aja kenyang,lagian kita harus buru-buru ke kampus kalo ga mau telat" ucap Melly ikut berkomentar.
"Iya maaf" Ido melanjutkan makannya tanpa berbicara lagi.
Mereka menikmati makanan mereka dengan tenang namun perhatian mereka teralihkan saat melihat seorang gadis yang baru masuk dan langsung memesan beberapa roti tanpa memperhatikan sekelilingnya
"Pura-pura ga liat aja,Ri" tegur Arif karna Riana yang terus menatap gadis itu.Almeera.
Riana berdiri ingin menghampiri Ara,segera Melly menahan tangan Riana agar kembali duduk di kursinya.
"Apa?" Riana kesal.
"Duduk!" perintah Melly.
"Gue cuma mau nyapa dia aja" Riana membela diri.
"Yakin?ga mau tanyain kabar Irwan?" ucap Melly sinis.
Riana berdecak sebal akhirnya ia kembali duduk di kursinya sambil menatap Ara.Mungkin karna merasa ada yang memperhatikannya,pandangan Ara pun tanpa sengaja melihat ke arah Riana,sangat terlambat untuk pura-pura tidak melihat.
Ara tersenyum tipis menatap Riana dan menghampiri meja mereka setelah mengambil pesanannya.
"Hai,kebetulan ketemu" sapa Ara dengan suara riangnya.
Suasana membeku untuk beberapa saat tak ada yang berniat menjawab sampai akhirnya Riana yang berbicara.
"Iya kebetulan,elo mau makan di sini gabung sama kita?" tanya Riana.
"Oh gak.Gue beli ni buat mamah Lena,mamah lagi di rumah sakit pasti belom sarapan jadi gue bawain ini" Ara menunjukan bungkusan roti yang ia tenteng,Riana melengos dan langsung teringat dengan sikap tante Lena yang acuh padanya.
"Bisa ngobrol berdua sebentar Ri?" tanya Ara ragu.
"Kita buru-buru mau ke kampus.Lagian mau ngomong apaan sih?kayaknya Riana udah ga ada urusan lagi sama loe.Kalo mau ngomong,ngomong aja di sini" Arif menyela,Ara sempat terkejut dengan ucapan Arif.Riana menyikut tangan Arif sambil melotot dan Arif tetap acuh.
"Sorry ya,masih ada waktu sebentar kok.Mau ngobrol di mana?" tanya Riana.
"Gue gak mau kecolongan lagi ya,kayak waktu itu.Elo tuh cewe labil yang berbahaya buat Riana" Arif menunjuk Ara sambil memegang pergelangan tangan Riana agar wanita itu tidak kemana-mana.
"Arif..." Riana menggenggam tangan Arif mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Gue janji ga bakal macem-macem.Sebentar aja kok,di meja pojok situ aja." ucap Ara
"Awas loe berani nyakitin Riana,loe berurusan sama kita semua" ancam Melly yang di angguki Ido.Ara hanya tersenyum sinis melihat sikap protektif sahabat Riana itu.
Riana segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja pojok yang tadi di tunjuk oleh Ara.Ara memilih berbicara di meja yang tak banyak orang lalu lalang namun masih bisa di lihat oleh teman-temannya.
"Ada apa Ra?" tanya Riana memulai percakapan.
"Kayaknya loe udah sehat,gue seneng liatnya Ri.Sedikit mengurangi rasa bersalah gue sama loe" ucap Ara,Riana diam masih menyimak apa yang akan Ara katakan.
"Gue mau minta maaf waktu loe ke rumah sakit kemarin mungkin kesannya gue ngusir loe tapi sebenernya gak gitu Ri" ucap Ara.
"Gue ngerti emang waktu itu jam besuknya udah abis.Gue juga cuma pengen tau kondisi dia aja.Apa loe keberatan kalo gue nengokin dia?" tanya Riana.
Pembicaraan mereka terhenti ketika tiba-tiba ponsel Ara yang ia letakkan di atas meja berdering di situ tertulis nama 'mamah Lena'.
Tanpa permisi Ara langsung mengangkat telpon itu.
'iya mah'
'sebentar lagi mah, Ara lagi di jalan'
'Bye mah'
Ara menutup telponnya dan kembali menatap Riana,ada sedikit rasa iri dalam hati Riana karna dulu ia tak seakrab itu dengan tante Lena bahkan Ara sudah memanggilnya dengan sebutan mamah.Riana malah tak pernah tau nomer telpon tante Lena.
"Sorry ya,mamah Lena telpon nanyain gue dimana" ucap Ara.
"Kondisi Irwan masih sama kayak kemarin,tapi dokter bilang kondisinya stabil kita tinggal nunggu dia sadar aja.Boleh ga Ri gue minta sesuatu sama loe?" Ara menatap dalam mata Riana sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Sebenernya gue agak keberatan loe nengokin dia kalo bisa loe ga usah nemuin dia lagi ya.Please Ri gue mohon.Gue pengen memulai semua dari awal lagi sama dia,gue takut kalo dia liat loe dia bakal bingung lagi sama perasaannya sendiri" pinta Ara memelas Riana hanya terdiam.Ara menggenggam erat tangan Riana air mata mulai luruh di pipinya.
"Ri....gue tau elo masih sayang Irwan.Gue juga tau Irwan belum bisa lupain elo.Takdir membuat kita sayang sama satu orang yang sama.Elo udah melepas dia buat gue kan?dengan loe jauhin dia gue yakin loe dan Irwan pasti bisa saling melupakan.Gue cuma punya Irwan,gue gak kayak loe yang punya temen-temen kayak mereka" Ara menunjuk pada teman-teman Riana yang sedang mengawasi meja mereka.
"Ini buat kebaikan kita semua.Kalo masalah Irwan biar itu jadi urusan gue sama mamah Lena" ucap Ara.
Riana terdiam ada rasa enggan untuk menyanggupi permintaan Ara karna itu berarti ia akan benar-benar melepaskan semuanya.
Namun ia tak punya pilihan lain mengingat ia sekarang bukanlah siapa-siapa bagi Irwan.Ya Riana memang tidak ingin di pilih sehingga ia memutuskan untuk mundur.
Akhirnya Riana hanya bisa tersenyum palsu dan mengangguk lemah sebagai jawabannya dan di sambut dengan senyum mengembang dari Ara serta pelukan erat darinya.
"Makasih Ri,gue yakin loe pasti dapet cowo yang lebih dari Irwan.Gue yakin itu" ucap Ara dan tanpa sadar satu tetes air mata Riana jatuh di pipinya dan dengan segera ia hapus kembali.