NovelToon NovelToon
Pak Polisi Penyembuh Luka

Pak Polisi Penyembuh Luka

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:39.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu

Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.

“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPPL 17

“Ingat pulang, Dan?”

Zaidan yang baru saja masuk ke ruang tengah dan hendak langsung menuju kamarnya terpaksa menghentikan langkah. Suara ayahnya terdengar tenang, tapi ada nada sindiran halus di dalamnya.

“Anaknya nggak pulang dua hari, pas pulang bukannya ditanyain kabarnya, malah disindir,” protes Zaidan sambil berbalik arah menuju ruang makan.

Di sana, Fadi sudah duduk tenang dengan iPad di tangan, kacamata bacanya bertengger rapi di hidung. Zaidan menghampiri dan mencium tangan ayahnya dengan takzim.

“Kan Papa nanya,” balas Fadi santai. “Nanya dengan versi Papa, kamu ingat pulang juga?”

Belum sempat Zaidan menjawab, sebuah tepukan mendarat di bahu Fadi. Tidak keras, tapi cukup membuat pria enam puluh dua tahun itu meringis kecil.

Asalnya tentu saja dari Bunga yang baru datang dari arah dapur.

“Mama suka banget sekarang KDRT sama Papa,” keluh Fadi sambil mengelus bahunya.

“Biar kapok,” sahut Bunga datar. “Anak baru pulang kerja, pasti capek, bukannya disambut baik, malah diajak debat.”

Zaidan tersenyum kecil melihat dinamika orang tuanya yang tidak pernah berubah sejak dulu walau kini mereka sudah menjadi kakek-nenek.

“Dan,” panggil Bunga sambil meletakkan piring-piring di meja makan, “mau makan dulu atau mandi dulu?”

“Makan dulu, Ma,” jawab Zaidan tanpa ragu. “Laper banget.”

Fadi langsung melirik ke arahnya. “Emangnya kamu tadi udah mandi?”

Zaidan menarik kursi dan duduk. “Mandi terakhir kemarin malam, Pa.”

Bunga langsung melotot. “Astaghfirullah, dua hari nggak pulang, mandi terakhir kemarin malam? Kamu ini polisi atau manusia gurun?”

Zaidan terkekeh kecil. “Ma, tadi itu nggak sempat. Habis operasi besar.”

Fadi mengangkat alis. “Operasi apa lagi?”

“Penggerebekan di apartemen, Pa. Tempat pesta obat-obatan terlarang.”

Bunga yang sedang menuangkan nasi langsung berhenti sejenak. “Astaga… itu yang di berita tadi siang?”

Zaidan mengangguk. “Iya. Kita amankan beberapa orang. Ada yang ngaku selebgram, ada juga pengusaha. Campur aduk. Perempuannya juga ada.”

“Capek, Ma,” lanjut Zaidan jujur. “Berisik, ribut, chaos. Ada yang nangis, ada yang sok kebal hukum, ada yang panik. Jadi ya… nggak sempat mikir mandi.”

Fadi menghela napas panjang. “Dunia makin aneh aja.”

“Makanya Papa sama Mama selalu bilang, jaga diri. Kerja kamu itu bukan kerja biasa,” sambung Bunga, suaranya tiba-tiba lebih lembut.

Zaidan tersenyum tipis. “Tenang, Ma. Zaidan masih utuh kok.”

“Utuh katanya,” gerutu Bunga. “Bau kamu aja udah kayak ruang tahanan.”

Fadi tertawa kecil. “Udah, Ma. Biarkan dia makan dulu. Habis itu suruh mandi pakai sabun satu botol sekalian.”

Zaidan ikut tertawa. “Siap, Pa. Jatah sabun buat dua bulan langsung Zaidan habiskan nanti pas mandi.”

Suasana meja makan kembali hangat, diisi suara sendok dan piring, serta obrolan ringan yang membuat lelah Zaidan sedikit demi sedikit luruh.

“Siap makan, Papa sama Mama mau keluar, ya. Kamu jaga rumah,” ujar Bunga ketika mereka baru saja selesai makan. Bunga kemudian langsung membersihkan meja itu dan membawanya kembali ke dapur.

“Mau kemana?” tanya Zaidan yang penasaran. Ia menatap bergantian ke arah papa dan mamanya.

“Mau pacaran lah,” jawab Fadi santai. “Makanya kamu punya pacar juga biar bisa pacaran.”

“Ih ya ampun. Udah tua bukannya perbanyak ibadah, malah pergi pacaran,” ejek Zaidan.

“Eh anak muda, kamu kira ini bukan ibadah? Ini salah satu cara agar hubungan rumah tangga itu harmonis,” jawab Fadi cepat. “Kamu sih, nggak pernah pacaran jadi nggak paham soal yang ginian,” ejek Fadi.

Zaidan yang mendapatkan ejekan dari sang ayah menatap malas. “Ngapain pacaran kalau nikahnya nggak pasti. Kita yang pasti-pasti aja, Pa, nggak perlu pacaran lama-lama. Tuh kayak Papa, pacaran lama sama Mama, tapi nikah pertamanya sama yang lain.” Balasan menohok dan tepat sasaran, dan mampu membuat Fadi tersentak seakan tak siap dengan serangan balik sang putra.

“Tapi sekarang ‘kan tetap Papa sama Mama kamu,” belanya.

Bunga yang kembali dari dapur dan hendak mengambil piring bekas makan yang lainnya tidak menanggapi ucapan kedua pria itu. Ia hanya terus berjalan tanpa memperhatikan ataupun menimpalinya.

Zaidan kemudian berdiri, mengambil dua piring lauk yang tersisa dan ingin membantu Bunga dengan membawanya ke dapur. Namun sebelum pergi, Zaidan sempat berbisik kecil pada sang ayah, yang mana mampu membuat Fadi seakan ingin berteriak, dan melempar putranya itu dengan iPad yang ada di tangannya.

“Tapi Mama jadinya dapat yang duda.”

Zaidan tertawa keras, meninggalkan Fadi dengan gerutuan yang ia tahan.

“Itu anak siapa!?”

*

*

*

Zaidan merasakan kesegaran yang sudah dua hari ini tidak ia rasakan. Aroma wangi bunga blossom menguar ketika pria itu keluar dari kamar mandi.

Zaidan mengeringkan rambutnya sekilas, lalu menggantungkan handuk basah itu kembali ke tempatnya semula. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja belajar, membawanya ke atas ranjang, lalu menyusun bantal agar tubuhnya bisa bersandar dengan nyaman.

Pria itu memilih memainkan game online di ponselnya sebagai pengisi waktunya malam itu. Kedua orang tuanya telah pergi seperti ucapan Fadi. Dan mereka memilih menggunakan sepeda motor kesayangan Fadi daripada mobil.

“Biar bisa bermesraan dong,” ucap Fadi tadi. “Jomblo nggak akan paham.”

Ucapan sang ayah itu berhasil mengganggu pikiran Zaidan. Dan tiba-tiba bayangan wajah seorang wanita kembali hadir hingga mengganggu konsentrasi Zaidan yang sedang ‘bertarung’ di game onlinenya.

“Aaargh… ‘kan kalah.”

Zaidan menghembuskan napasnya kasar. Entah kenapa jika nama itu terlintas dipikirannya, Zaidan merasakan dirinya kehilangan fokus.

Zahra.

Nama itu terus saja menghantui harinya Iptu Zaidan.

Dua bulan ini memang Zaidan dan Zahra sudah tidak ada interaksi lagi. Sesekali memang Zaidan melihat Zahra yang datang ke kantor polisi dan masuk ke bagian PPA untuk melakukan konsultasi pendampingan sesuai arahan dari pengadilan. Namun Zaidan tidak bisa menyapanya dengan benar ataupun mengajaknya bicara. Entah bagaimana Zaidan merasakan jika wanita itu tengah menghindarinya.

“Memangnya aku virus yang harus dihindari,” gumamnya.

Zaidan menutup kedua matanya dan kembali menghembuskan napasnya kasar.

“Gini amat nasib jomblo.”

Gerutuan itu terhenti ketika ponselnya berdering. Tampak dilayar nama sang papa yang tengah memanggilnya.

“Iya, Pa,” jawabnya ketika baru saja menggeser tombol hijau.

“Jemput Papa sama Mama di Happy Market jalan Kemuning, yang depannya ada kafe itu. Cepat ya, Dan nggak pakai lama.”

Telepon kemudian dimatikan secara sepihak oleh Fadi diujung sana.

“Happy Market? Jalan Kemuning? Depan kafe? Kok kayak nggak asing.”

...****************...

Terima kasih yang sudah setia dengan cerita author, ya. Tapi jangan lupa like, komen, dan jika berkenan sesajennya buat author ya, best. Itu sangat berarti buat author biar retensinya bisa bagus nanti sewaktu penilaian 🤭🤭

1
Sutarni Khozin
lnjut
mumu: halo kak terima kasih sudah mampir, cus pindah ke lapaknya Aqilla ya dengan judul Terpaksa Menikah dengan Pria Kafe. Ziadan Zahra nyempil dikit dikit juga nanti 🤭🤭
total 2 replies
Nabila Nabil
seru kayaknya..... 🤣🤣🤣
Esther
Sah sudah.
Selamat dobel Z.

Gk ada bonchap thor🤭
mumu: jangan lupa mampir di cerita baru yg udah rilis ya kak 🥰🥰🥰
total 2 replies
Nabila Nabil
padahal aku nunggu yg hot hot lhooo... 🤣🤣🤣
mumu: naseb LDR mah kalau kami 😢😢
total 3 replies
Nabila Nabil
kenapa gak jodohin Jonathan sama aqilla.... biar rame rame deh rumah.., 🤣🤣🤣
mumu: jodoh aqilla ada pokoknya author siapin 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nabila Nabil
makanya kawin aqilla kan dilangkahi... 🤭🤭
mumu: sabar buk sabar 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Nabila Nabil
emak emak rempong..... 🤣🤣🤣
mumu: ssst 🤫🤫🤣🤣
total 1 replies
Esther
Bunga mama terbaik.
Esther
Ada apa dengan Zahra
Rini
Aqilla dong 🥰🥰
Nabila Nabil
terserah mak othor aku manut.... tapi kalo aqilla dulu gpp.. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Nabila Nabil
gasssss kawinin dan.... 🤣🤣🤣🤣
Nabila Nabil
mama my flo emang the best.... lope you mama flo.... 🤣🤣🤣🤣



papa tadi said: gak usah lope lope an, gak lihat suaminya disini... 😤😤😤

🤣🤣🤣🤣🤣
Nabila Nabil
dimaafkan... tapi habis magrib nambah bab🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: wadooooh kena todong 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nabila Nabil
waaaahhhh antara ada yg gak beres dan antara ngasih kejutan.. 🤣🤣
mumu: hayo hayo maunya gimana 🤣🤣
total 1 replies
Nabila Nabil
my bini..... 🤣🤣🤣🤣🤣
Esther
ceritanya bagus sekali👍👍
mumu: terima kasih banyak kakak 🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Esther
aduh mewek aku😭😭.
Keluarga idola nih....orang kaya tapi gak pernah memandang status, baik hati dan tidak sombong.
Berbahagia kamu Zahra, bisa menjadi bagian dari keluarga ini
mumu: mertua idaman gak sih 🥺🥺🥺🥺
total 1 replies
Nabila Nabil
ihhh nyesek tau gak sih... harusnya kasih ke jelita takutnya nanti pas malem pertama dia nya trauma,,, kan berabe otongnya si zaidan... 🤣🤣🤣🤣🤣 eh harusnya emot sedih😭😭😭😭😭
mumu: nanti takutnya nolak yaaa 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nabila Nabil
beeehhhh kalo orang kaya beneran mah gini... beda sama di desa.. baru D3 aja udah ditulis di undangan... padahal yg kaya raya sarjana aja gak ditulis...
mumu: iya kek malu gitu gak sih? terkadang yg orangtuanya doktor profesor aja gak dibuat lho di undangan itu. gelar haji hajjah aja cuma ada di indo 😄😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!