menceritakan tentang pengalaman seorang Mustafa yang nekat mencium seorang wanita baik-baik dan bahkan bercadar.
Hingga kebejatannya itu membuatnya harus menikahi sang wanita bercadar.
Baca kisahnya di sini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
"Yang telpon tadi siapa Mas?" tanya Azzahra. Sepertinya dia penasaran.
"Oh ini, temen nongkrong saat pulang kerja," jawabku sekenanya. Tapi jujur juga sih, emang kayak gitu kenyataannya.
"Emh pantesan kayak akrab banget," jawabnya lagi.
Aku menatap dia sambil fokus menyetir. "Iya, akrab sih. Teman Mas dikit soalnya. Yang kenal jadi terasa akrab karena gak ada yang lain, hehe...," jawabku sambil cengengesan. Soalnya aku ini juga perantauan dari kampung. Makanya gak terlalu punya teman pas di sini.
Azzahra manggut-manggut. Sepertinya dia paham apa yang ku maksud.
"Maghriban di mana kita? Kayaknya sebentar lagi adzan," ucapku saat sudah melewati setengah perjalanan menuju rumah pak Rahmad. Mungkin sekitar 15 atau 20 menitan baru sampai.
"Di mana aja Mas. Masjid atau pom bensin juga bisa," jawabnya dan ku jawab oke.
Saat lampu merah ku lirik ponselku. Banyak banget chat masuk dari si Joy. Dia terus menerus membahas nama Jule.
Sambil menyetir ku coba mengingat-ingat nama si Jule itu.
Saat adzan maghrib berkumandang, aku baru ingat siapa si Jule ini. Ternyata dia LC yang pernah ku bayar pas karaoke bareng si Joy. Padahal waktu itu aku gak kenapa-kenapa. Gak ada yang spesial. Dia cuma memandu karaoke dan aku menikmatinya untuk menghibur diriku yang sedang kesepian. Tapi kenapa aku dituduh merebut dia dari suaminya?
"Aneh," gumamku keceplosan.
"Apa yang aneh Mas?" tanya Azzahra seperti terkejut dengan ucapanku.
"Ah ini Dik. Mas asal ngomong," jawabku gugup.
Sepertinya aku harus selesain masalah ini sampai beres. Karena aku gak mau rumah tangga yang baru ku bina akan goyah gara-gara ulah masa laluku yang belum selesai.
"Emh Dik. Setelah aku nganterin kamu, mas mau keluar sebentar boleh? Sepertinya ada hal yang harus Mas urus," kataku minta izin.
Aku jadi gak tenang gara-gara telepon dari si Joy tadi. Mana aku baru kenal sama si Jule sekali itu. Mungkin sekitar 2 mingguan sebelum aku mencium Azzahra. Kenapa jadi gini sih? Bukannya menyewa LC untuk menemani karaoke itu dah biasa? Lagian aku juga udah bayar. Apa salahku? Apes banget.
"Mas! Ngelamunin apa? Barusan kita lewati masjid loh," ucap Azzahra yang membuatku kaget.
"Gak ada," bohongku.
"Iya udah gak apa-apa kalau mas mau keluar. Azzah temenin ya, tapi setelah sholat isya dan makan," ujarnya.
Hah! Aku menganga mendengarnya. Urusan tak akan selesai jika ditemani olehnya. Soalnya aku harus ketemu sama Joy. Menanyakan hal konyol yang tak pernah ku bayangkan.
"Mas cuma sebentar nanti. Tutup toko mas pulang kok. Bukannya besok kita ijin ke abi untuk pulang ya?"
Dia mengangguk paham.
"Ya udah, kamu siap-siap untuk besok ya. Soalnya mas bener-bener ada urusan yang mendesak," kataku meyakinkan istriku. Aku tak akan tenang jika hal ini belum beres. Aku takut pak Rahmad akan marah padaku untuk kedua kalinya. Tidak, pokoknya jangan sampai.
"Ya udah kalau gitu Mas."
Usai sholat maghrib di masjid. Kami segera menuju ke rumah pak Rahmad. Tampak seperti biasa di sana. Ada Sulaiman yang sedang belajar sambil menonton TV.
"Bawa apa tu mbak?" tanyanya saat Azzahra menenteng sisa buah tadi dan ada sayuran mentah juga.
"Ini buah-buahan," jawab Azzahra sambil memperlihatkan barang bawaannya.
"Sule mau mbak!" sahutnya girang.
Azzahra menatapku yang berada di belakangnya. Aku tersenyum. "Tadi kamu bikin salad. Coba tawarin salad," suruhku pada Azzahra.
Azzahra mengangguk. Sepertinya dia baru ingat.
"Kayaknya tertinggal di mobil Mas," katanya sedikit sungkan.
Aku paham, jadi aku berinisiatif mengambilkan.
"Gak usah saladnya kak. Sule mau buah apel ini," cegahnya saat aku hendak berjalan keluar.
"Oh gitu. Yoweslah, sampean maem kuwi ae. Kak Mustafa tadi belum sempat nyicipin salad buatan mbakmu," jawabku sambil tersenyum tipis.
Aku segera keluar. Sambil mencuri kesempatan. Aku buka chat dari Joy.
"Mustafa. Bojone Jule gak terimo. Dia mau cari dirimu. Soalnya dia tadi nanyain alamatmu ke karyawan karaoke yang kemarin." Itu bunyi chat terakhir Joy yang membuatku makin ketar-ketir.
Jika suami Jule menemukanku di sini di rumah pak Rahmad, yang ada suasana makin runyam.
Untung aja yang tahu cuma karyawanku. Sebelum suami Jule menemukanku, lebih baik aku segera menelepon orang-orang toko biar mereka tak bocorin keberadaanku.
"Mas, kok lama? Apa ada masalah?" tanya Azzahra yang berada di belakangku. Aku yang sedari tadi duduk di kursi pengemudi jadi agak panik. Saat ini aku bagai pencuru yang ketangkap basah oleh pemiliknya.
Segera ku raih salad yang berkantong plastik warna putih itu.
"Gak ada Dik. Ini saladnya!" Aku turun dari mobil dan menyerahkan salad itu ke Azzahra.
"Mas mau gak?" tawarnya.
"Boleh, mas pengen ngerasain."
Kebetulan aku laper banget. Biasanya jam segini udah ngopi kedua kalinya. Namun sekarang belum bisa. Karena Azzahra belum tahu kebiasanku.
Jika ngopi tu jarang ngerasa laper. Makanya aku jarang masak, lebih ngandelin beli di luar. Apalagi cuma tinggal sendiri.
Dengan sikap senang dia masuk rumah sambil menenteng salad itu.
Aku bernafas lega. Ponselku sengaja ku tinggal di mobil. Biar kalau ada apa-apa Azzahra tidak tahu. Seenggaknya untuk sekarang Azzahra tidak tahu. Aku pasti akan memberi tahunya. Takutnya ini hanya kesalahpahaman suaminya Jule denganku.
"Ini Mas!" Azzahra menyodorkan semangkok kecil salad buatannya untukku.
Aku sudah menelan ludah karena tak sabar ingin mencicipinya.
Ku lihat di dapur ada umi Kulsum yang sedang memasak. Meskipun sudah serumah, aku sama sekali belum pernah melihat wajah ibu mertuaku.
"Maem salad Mi," tawarku pada ibu mertua sebelum aku memakannya.
"Hm, ya...," jawabnya singkat. Dan akhirnya dengan Bismillah dan doa sebelum makan aku melahap salad itu.
Nyesss! Nikmat sekali di tenggorokan. Emang benar sih, salad enaknya dimakan saat dingin.
"Hm yummy, enak Dik!" pujiku sambil mengumbar senyum kepuasan.
"Huuuussss! Kalau makan gak boleh bicara!" Tiba-tiba Sulaiman udah ada di belakangku.
Pantesan orang di sini pada cuek waktu di meja makan. Ternyata saat makan itu tidak boleh bicara.
Akhirnya aku terdiam dan menikmati salad itu sampai habis.
Ku lihat di depan, Sulaiman merengek pada ibunya. Entah apa yang dibicarakan. Aku hanya sedikit mendengar kalau Sulaiman mau minta duit buat beli sesuatu. Di saat seperti ini kayaknya aku harus jadi pahlawan. Tapi apakah Sulaiman mau ya?
Ku biarkan Sulaiman seperti itu. Adzan isya sudah terdengar, aku ijin mau sholat. Namun Azzahra ingin sholat bareng.
Akhirnya kami berdua sholat berjamaah, di belakang ku terlihat ada Sulaiman yang hendak ikut sholat bareng.
Namun ku lihat bayangannya dia pergi tak jadi berjamaah saat mendengar aku membaca takbiratul ihram.
'Ada apa?' batinku bingung. Namun akhirnya aku tetap melaksanakan sholat. Meskipun banyak pikiranku yang terganggu.
Bersambung...