"Saya penasaran, Berapa lama lagi tuan akan mencintai saya."
Cerita ini berlatar belakang era kolonial di Hindia Belanda, mengisahkan Santi, seorang gadis pribumi muda yang awalnya bekerja sebagai buruh tembakau. Kini beralih menjadi seorang baboe (pembantu rumah tangga) di rumah seorang Belanda.
Semua berawal dari sebuah pertemuan tak terduga di dalam gerbong kereta kelas tiga yang padat. Santi, yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang dari kota Surabaya, tanpa sengaja menolong seorang pria misterius yang tengannya terluka, Tuan Ludwig. Pria itu terus mengeluarkan suara menahan rasa sakitnya , Hingga Santi yang duduk di kursi dekat pria misterius itu memberanikan dirinya menawarkan sapu tangan untuk mengikatkan sapu tangan miliknya ke luka pria misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PEACHESEEU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 17
"Sekarang aku harus bagaimana, Ini sudah malam dan aku masih belum mendapatkan obat untuk ibu dan mengirimkannya ke rumah." Malam di kediaman Tuan Ludwig terasa dingin dan sunyi, kontras dengan hiruk pikuk kota Surabaya yang baru saja ia tinggalkan beberapa saat lalu. Rumah besar bergaya Indisch itu diselimuti kegelapan, hanya diterangi oleh lampu gas redup di teras depan. Santi duduk di bangku kayu panjang yang terletak di sudut teras. Ia seharusnya sudah tidur, karena besok pagi ia harus bekerja. Namun, tidurnya terasa sulit didapat.
Pikirannya melayang pada ibunya, yang kini terbaring lemah. Santi menggenggam erat telapak tangannya. Rasa khawatir yang berlebihan membuat kepala Santi sakit. Ia menunduk, matanya menatap lantai teras yang terasa begitu dingin saat itu. Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari pintu utama, memecah kesunyian malam. Langkah itu terdengar semakin mendekat, "Kenapa kamu masih ada disini??"
"....!!"
Santi terlonjak kaget. Ia segera berdiri dengan tegak dan membalikkan badan dengan cepat. “Tuan!”
“Kapan kamu pulang tadi? Ini sudah larut, kenapa masih ada diluar rumah.”
“Emm, Saya... saya tidak bisa tidur," bisik Santi, tubuhnya langsung membungkuk dalam posisi hormat. Sebagai baboe, duduk di teras larut malam adalah hal yang tidak biasa, dan bisa dianggap melanggar aturan. Di ambang pintu, berdiri Tuan Ludwig dengan begitu gagah dalam balutan baju yang sudah diganti dengan baju tidur.
"Apa kamu baru saja pulang dari kota sekarang ini??" Katanya dengan dingin.
"...."
Santi menundukkan kepala lebih dalam. Ia tidak berani menceritakan kesulitannya. Itu terlalu pribadi dan tidak pantas diucapkan di hadapan majikannya. "Maaf, Tuan. Saya juga tidak tahu kalau saya akan pulang di waktu yang seperti ini, Saya tidak akan mengulanginya lagi."
Tuan Ludwig tidak mendesak. Ia hanya berdiri di sana selama beberapa saat dalam keadaan hening, menatap ke arah halaman depan rumahnya yang tampak begitu gelap.
"Kau tahu, Santi.” Tuan Ludwig akhirnya memecah keheningan, suaranya kini lebih pelan. "Hidup ini... selalu menuntut sesuatu hal dari kita. Dan hal itu tidak akan pernah memberikan kedamaian." Tuan Ludwig mengenakan jubah mandinya, jelas sekali rambutnya yang basah baru saja mandi dan hendak tidur. Ia menatap Santi dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"..???" Santi mengangkat kepalanya sedikit, terkejut mendengar Tuan Ludwig berbicara dengannya dengan nada reflektif seperti itu.
"Jika kamu memiliki masalah," lanjut Tuan Ludwig, tanpa menatap Santi, "Aku adalah majikanmu dan kau adalah baboeku, Jika masalah itu cukup membuatku kesulitan dan kamu tidak bisa menanganinya. Kau bisa bicara denganku nanti, Aku tidak mau hal yang ada di pikiranmu itu mengganggu dan mempengaruhi pekerjaanmu di rumah ini. Aku tidak suka dengan hal seperti itu," Tuan Ludwig berhenti sejenak, Ia melihat ke arah Santi. "Apa kamu memiliki masalah??”
Mendengarnya hati Santi sedikit terenyuh, Perkataan tuannya seketika membuat hatinya begitu tenang di saat mendengarnya. "Iya Tuan, Saya mendengarnya."
"Baguslah kalau begitu, Masuklah ke rumah sekarang. Lalu tutup dan kunci pintunya. Sebelum ada harimau yang masuk ke rumah,"
Tuan Ludwig berbalik pergi begitu saja dengan lilin di tangannya, Di ikuti Santi yang juga ikut masuk ke dalam rumah itu. Ia memperhatikan tubuh Tuannya yang ada di depannya, Begitu tinggi dan besar. 'Apa itu???' Saat itu Santi melihat sesuatu di punuk tuannya, Di sana ia mencoba memfokuskan pandangannya dan tampak mulai jelas noda itu berwarna merah.
"Tuan??.." Panggilnya.
Tuan Ludwig berhenti seketika dan berbalik,"Kenapa???"
"Apa Tuan terluka??"Kata Santi sembari ia menunjuk ke arah lehernya, "Disini, Ada darah di sana. Apakah Tuan sedang terluka sekarang??"
Saat itu Tuan Ludwig meraba punuknya, Mengusapnya dengan tangan dan ia melihatnya. "Saya sedang berburu babi di hutan tadi," Katanya sembari melirik tajam ke arah jendela yang menunjuk area hutan yang gelap.
"Mungkin saja saya terkena darahnya tadi, Saya tidak sadar kalau masih darah ini masih ada yang menempel. Sepertinya saya harus mandi lagi, Kamu masuklah ke kamar." Katanya dengan santai, Ia hendak pergi dari sana. Tetap baru saja ingin mengangkat kakinya ia kembali berbalik, "Bagaimana dengan urusanmu tadi?? Apakah sudah selesai," Tanyanya.
Pertanyaan itu seketika membuatku terdiam, Aku mengaitkan kedua tanganku di balik tubuh. Aku tidak tahu harus memberi jawaban apa pada tuanku ini, Tidak mungkin aku memberitahu apa yang terjadi sekarang kalau aku tidak mendapatkan obat itu. Di sini aku bekerja sebagai baboe, Rasanya sangat tidak sopan jika aku memberitahukan masalahku pada tuanku. "Sudah Tuan, S-sudah selesai." Jawaban Santi terdengar begitu gugup, Tuan Ludwig hanya menganggukkan kepalanya sekilas lalu ia pergi dari sana.
Aku telah berbohong pada Tuan...
Santi perlahan melangkah, Tetapi langkahnya terhenti dan ia menatap tuannya yang baik ke lantai 2 kediaman itu.
Yang aku tahu, Tuan Ludwig bukan hanya seorang pemilik perkebunan tempat aku bekerja sebelumnya. Ia adalah bagian dari lingkaran penguasa kolonial di Surabaya, Aku tidak terlalu tahu tentangnya. Tapi dari dugaanku, Ia pastinya mengenal semua pejabat yang ada di setiap daerah pulau yang masih menjadi bagian Hindia-Belanda, semua pedagang besar dan pastinya semua pemilik kapal perdagangan.
Sebuah pikiran gila tiba-tiba melintas di kepalaku saat ini, Apakah aku minta saja bantuan padanya sekarang ini???Jika aku berlutut padanya sekarang ini, jika aku menceritakan semua keputusasaan mencari obat yang sangat sulit aku dapatkan setelah berkeliling di kota tadi, mungkin, hanya mungkin, hatinya akan tergerak. Mungkin ia akan melihatku bukan sebagai Baboe, tetapi sebagai manusia yang putus asa.
'Tidak, Aku tidak bisa melakukannya. Jangan melibatkan majikanmu Santi, Ini urusanmu sendiri, Bukan urusan yang tuanmu. Sampai dia harus tahu!!'
Santi bergumam pada dirinya sendiri, Ia pun segera pergi ke kamarnya. Membuka pintu lalu menutup pintu kamarnya dengan begitu rapat, Santi meletakkan tas kainnya di meja. Ia berjalan ke arah lemari dan hendak melepaskan pakaiannya, Tapi ia mengurungkan niatnya. Ia berbalik, Matanya menyapu ke arah semua sudut di kamarnya yang kecil itu. Dahinya berkerut seperti tengah memikirkan sesuatu, 'Rasanya seperti ada yang mengawasi ku setiap aku bergerak di kamar ini,'
Itulah yang ada di kepalanya, Tetapi faktanya sekarang di dalam kamarnya hanya ada dia sendirian dan tidak ada siapapun disana. Ia pun melepaskan pakaiannya, Dan mulai berganti pakaiannya. Kecurigaannya tentang ia sedang diawasi itu tampaknya benar, Dari balik dinding yang memiliki lubang kecil di sana. Ada sebuah mata hijau yang melihatnya dari celah lubang itu secara diam diam, Menyaksikan langsung bagaimana Santi mengganti pakaiannya.
..._ _ _...
Di depan meja marmer, Santi tengah mengiris kentang yang akan menjadi menu sarapannya tuannya pagi hari itu. Matanya terpaku pada gerakan pisaunya, tetapi pikirannya ribuan kilometer jauhnya memikirkan keadaan yang ibunya rasakan sekarang ini. Setiap irisan kentang, setiap bunyi tok-tok-tok pisau yang beradu dengan talenan, seolah menjadi penanda waktu yang semakin menipis tetapi ia tidak kunjung mendapatkan obat untuk ibunya. Hingga kentang terakhir sudah diiris, tetapi Santi masih memegang pisau tajam itu di udara. Jemarinya mencengkram gagang kayu dengan erat.
Ia menghela nafas panjang, memutuskan untuk memotong wortel. Pikirannya kosong, fokusnya hilang, dan tangannya bergerak bak seperti mekanis. Tiba-tiba, sebuah sensasi perih yang panas menyentak kesadarannya.
"Aduh!"
Santi menarik tangan kirinya dengan cepat. Darah merah pekat segera merembes keluar, membasahi sisa irisan wortel di talenan. Ia tidak sengaja mengiris pangkal jari telunjuknya. Luka itu tidak besar, tetapi darahnya mengucur begitu deras, bercampur dengan air dan sari sayuran. Ia buru-buru meletakkan pisau dan menekan lukanya dengan kain lap bersih dan membasuhnya dengan air yang mengalir, Di saat itu juga matanya mulai berkaca-kaca, bukan karena sakit, tetapi karena frustasi yang meledak.
Saat ia sedang sibuk menahan isak tangis yang tertahan, sebuah suara berat dan berlogat asing mengagetkannya.
"Santi? Apa yang terjadi di sini?"
Itu adalah Tuan Ludwig yang berdiri di ambang pintu dapur, keningnya berkerut saat melihat darah di talenan dan wajah Santi yang pucat.
"Tidak apa-apa, Tuan," ujar Santi cepat, menyembunyikan tangannya di belakang dengan cemasnya. "Hanya kecelakaan kecil. Pisau itu… sangat tajam."
Tuan Ludwig mendekat, dengan sigap mengambil kotak P3K dari rak. "Berikan tanganmu itu," Ia memaksa Santi memperlihatkan lukanya, membersihkannya dengan antiseptik, dan menutupnya dengan plester. Santi hanya menunduk, malu.
"Apa kamu sedang melamun tadi?? Tidak seperti biasanya kamu seperti ini, Ada hal yang mengganggu pikiranmu sekarang?? " tanya Tuan Ludwig setelah selesai, nadanya kini lebih lembut, tetapi mata hijaunya menatap tajam, menuntut jawaban. "Kamu bisa bilang pada saya,"
Santi tidak menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya sembari ia menggelengkan kepalanya.
"Saya bertanya, kamu sedang memikirkan apa?" Tuan Ludwig mengulangi dengan penuh ketegangan, menyandarkan diri di tepi meja, melipat kedua tangannya di dada.
Santi akhirnya mengangkat wajahnya. Rasa sakit dari luka irisan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan beban yang selama ini ia pikul sendiri. Ia menatap memberanikan dirinya untuk menatap wajah Tuan Ludwig, Santi meremas ujung kebayanya. Air mata nyaris jatuh, namun ia mengedipkan matanya kuat-kuat untuk menahannya. Ia menarik napas panjang, lalu menggeleng perlahan sambil memaksakan wajah yang tenang. saya teringat akan posisi saya sekarang. Saya hanya seorang baboe yang bekerja untuk upah, Melibatkan majikan dalam urusan pribadi adalah kesalahan besar dalam prinsip hidup saya. Saya harus menyelesaikannya sendiri, meski saya tidak tahu caranya. Saya tidak bisa melibatkan tuan,
"Terima kasih atas perhatian Tuan ," ucap Santi dengan nada final. "Saya sedang tidak memikirkan apapun,"