Albie Putra Dewangga dan Qistina Aulia, pasangan muda yang tengah berbahagia dengan kehadiran bayi perempuan yang mereka beri nama Eloise Humaira Alqista.
Namun ditengah kebahagiaan itu, mereka terpaksa menerima kenyataan pahit.
Hasil biopsi dan aspirasi sumsum tulang Qistina keluar. Vonis Leukemia Myeloid akut bersarang ditubuhnya. Kondisinya sangat agresif. Dalam kondisi tersebut, produksi ASI-nya menurun. Sedang putri kecilnya alergi sufor.
Khalisa Hanifa hadir dalam hidup mereka. Perempuan malang yang kehilangan bayinya setelah menjadi korban pelecehan, rela menjadi ibu susu putri Qistina. Ketulusannya membuat Qistina percaya, jika suatu hari ajal menjemput, Khalisa adalah satu-satunya wanita yang tulus mencintai putrinya seperti darah daging sendiri.
Dengan hati yang hancur, Qistina membuat keputusan paling menyakitkan. Menikahkan suaminya dengan Khalisa.
Bagaimana kisah pengorbanan cinta mereka? Akankah Albie menerima keputusan Qistina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir Mulai Berjalan
*
*
*
Khalisa melangkah tanpa tujuan.
Angin malam Kemang berembus pelan, menerbangkan ujung hijab hitam yang membingkai wajahnya. Lampu-lampu kafe masih menyala terang, tawa para pengunjung bersahutan. Kendaraan terus berlalu lalang, tanpa sedikit pun peduli dengan nasib Khalisa yang baru saja kehilangan segalanya.
Langkahnya akhirnya terhenti di tepi trotoar. Khalisa memandang ke kanan, lalu ke kiri. "Aku harus kemana malam-malam begini?"
Jemarinya bergetar, mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Layar itu memantulkan wajah sembabnya. Ia membuka daftar kontak, namun kosong.
Sejak meninggalkan Sukabumi, ia telah menghapus seluruh data diponselnya. Katu SIM lama pun sudah ia buang, diganti dengan nomor baru yang tidak diketahui siapa pun.
Dalam benak Khalisa, biarlah dia menghilang demi menghapus rasa malu yang membebani kedua orang tuanya. Biarlah mereka menganggap Khalisa benar-benar telah pergi dari kehidupan mereka.
Bingung harus menghubungi siapa, Khalisa memasukkan lagi ponselnya di tas. Mengembuskan napas, kemudian berpikir untuk mencari tempat sementara. Setidaknya malam ini ia tidak benar-benar terlunta-lunta di jalanan.
Khalisa berdiri lagi, langkahnya hati-hati sembari memegangi bagian perut bawahnya. Rasa nyeri setelah melahirkan masih terasa, bahkan seperti duri yang tergesek kulit ketika ia paksakan berjalan.
Langkahnya terhenti, di depan sebuah bangunan bercat putih dengan ornamen hijau yang menghiasi bagian depannya. Cahaya lampu terasnya masih menyala, memantulkan ketenangan ditengah pekat malam.
"Masjid ..."
Khalisa menatapnya cukup lama. Ia menelan ludah. Hatinya masih dipenuhi keraguan. Namun kalau tidak dibangunan itu, kemana lagi ia harus pulang?
Khalisa melanjutkan langkah, memasuki halaman masjid. "Bismillah ..." Matanya mulai berkaca-kaca, saat melepaskan sepatu di teras bertuliskan batas suci.
"Ya Allah ... Jika malam ini tak ada lagi tempat yang mau menemaniku, izinkan aku berlindung di rumah-Mu. Jagalah aku malam ini ... karena hanya kepada-Mu aku berserah."
Khalisa menuju serambi Masjid, membawa hati remuk, namun masih menyisakan setitik harapan kepada Rabb yang ia yakin tidak akan pernah menolaknya datang meminta perlindungan.
Tubuh Khalisa akhirnya menyerah pada lelah. Ia bersandar ditiang serambi Masjid. Meski tanpa alas dan bantal, hanya dinginnya lantai keramik yang menemani. Perlahan kedua matanya terpejam.
Tangis yang tertahan mereda, berganti dengan napas yang teratur. Ia tertidur dengan hati yang berselimut pasrah.
Namun ...
Tanpa ia sadari, sejak pertama kali melangkahkan kaki memasuki halaman masjid, sepasang mata tak pernah lepas memperhatikannya dari kejauhan.
*
*
*
*
Sementara itu,
Di ruang observasi IGD Anak, dr Nabila kembali memeriksa napas Eloise. Ruam kemerahan di pipi mungilnya masih terlihat, tetapi syukurlah tidak lagi bertambah luas. Setelah memastikan kondisi balita itu stabil, dr Nabila menghela napas lega dan menoleh kepada Albie.
"Kondisinya mulai membaik, Bie." dr. Nabila melepas stetoskop dari lehernya, kemudian menoleh pada Albie. "Kemungkinan besar ini reaksi alergi terhadap protein susu sapi. Untuk sementara jangan berikan susu formula yang tadi lagi."
Abie mengangguk pelan. Telapak tangannya mengusap lembut dahi Eloise yang mulai terasa lebih hangat. Beban yang sejak tadi menghimpit dadanya perlahan berkurang. "Perlu dirawat di ruang anak, Bil?"
dr. Nabila menggeleng.
"Nggak. Kita observasi aja. Selama napasnya tetap baik dan tidak muncul reaksi yang lebih berat, kondisinya aman." Sesaat kemudian, ia menatap Albie.
"Aku dengar Qistina juga sedang dirawat?"
"Iya ..." jawab Albie lirih. Tatapannya sejenak kosong, mengingat kembali lembar hasil pemeriksaan yang kini terasa jauh lebih menakutkan daripada apa pun.
dr. Nabila mengangguk pelan. "Kalau kondisi Qistina memungkinkan, Eloise sebaiknya menemani ibunya di ruang rawat. Biasanya bayi akan lebih tenang kalau berada di dekat ibunya. Begitu juga sebaliknya."
Albie menunduk menatap putri kecilnya. Jemarinya membelai rambut halus Eloise, lalu mengecup keningnya dengan penuh kasih. "Ayo, El ..." bisiknya lirih. "Kita temui Mommy."
Albie menggendong Eloise, melangkah keluar dari ruang observasi. Beberapa menit kemudian, ia tiba di ruang rawat Qistina. Jemarinya menekan gagang pintu logam, yang terasa dingin permukaannya.
Bunyi pintu terbuka membuat Qistina spontan menoleh. Seketika matanya berbinar. "Eloise ..." serunya dengan senyum lega.
Tangannya terulur, naluri seorang ibu mengalahkan rasa lemah di tubuhnya. Meminta Albie menyerahkan Eloise ke pelukan. Rengekan Eloise yang sejak tadi terdengar, perlahan mereda. Qistina mengecup pucuk kepala putrinya berulang kali. Jemarinya mengusap lembut punggung Eloise.
"Maafin Mommy ya, sayang ..." bisiknya lirih. "Mommy bikin El kaget."
Albie merapikan bantal di belakang punggung Qistina, memastikan istrinya duduk dengan nyaman saat mulai menyusui Eloise. Bibir mungil itu menemukan sumber ASI, menyusu dengan lahap. Qistina tersenyum lega, jemarinya meraih tangan kecil putrinya lalu mengecupnya berkali-kali. "Pinter ya, putri Mommy ..." bisiknya penuh sayang.
Albie duduk disamping ranjang, ikut mengulas senyum. Setidaknya, untuk malam ini satu kekhawatiran telah sedikit berkurang. "Malam ini kita nginep di sini dulu, ya ..." ucapnya pelan.
Qistina mendesah kecil, lalu mengangkat bahu. "Ya ... Mau gimana lagi."
Belum sempat Albie menanggapi, pintu ruangan itu terbuka.
"Qistina ..."
Qistina spontan mengangkat wajah, kemudian tersenyum melihat kedatangan Mama Alexa dan Diana.
"Mama Exa? ... Kak Diana?"
Keduanya segera menghampiri ranjang. Alexa, perempuan berusia lima puluhan tahun—adik dari Ayahnya Albie— yang selama ini sudah menganggap Qistina seperti anaknya sendiri. Wajahnya yang masih terawat tak mampu menyembunyikan kekhawatiran.
Di sebelahnya Diana—menantu sulungnya—. Ikut khawatir menatap Qistina dan Eloise dengan raut wajah cemas.
"Ya Allah ... Mama sampai kaget, waktu Albie telepon." Alexa langsung menggenggam tangan Qistina. "Sekarang gimana? Masih pusing?"
Qistina menggeleng, "Nggak sih Ma ... Aku juga udah merasa lebih baik. Tapi ..." ia mengalihkan pandangannya pada Albie, "Mas Albie bilangnya, besok masih ada pemeriksaan lanjutan."
Diana menoleh, ke arah Albie. "Ada hal serius, Bie?"
Pertanyaan Diana membuat hati Albie mencelos, bagaimana menjelaskan semuanya di depan Qistina. Rasanya dia masih belum sanggup jika wajah ceria istrinya itu redup jika ia harus mengatakan kenyataan.
"Nggak ... nggak ada." Albie mencoba bersikap biasa-biasa. "Cuma ... Aku pengen Qistina menjalani pemeriksaan lengkap aja."
Diana mengangguk, namun sudut hatinya menangkap sesuatu yang lain. Ia sudah lama mengenal Albie, laki-laki ini sering memendam sesuatu sendiri. Dan kali ini Diana yakin, kalau ada yang sedang Albie sembunyikan.
"Papa kamu, masih di Singapura sama Daniel." ujar Mama Alexa sambil meletakkan tas jinjingnya di atas nakas. "Mama sudah hubungi tadi, ngasih kabar kalo Qistina sakit. Besok pagi, mereka take off."
"Kenapa pada heboh begini sih ..." Qistina merasa tak enak jika harus mengganggu kesibukan bisnis mertuanya. "Aku nggak kenapa-kenapa, setelah pemeriksaan besok juga bisa langsung pulang. Ya 'kan Mas?"
Albie diam saja, bingung harus menjawab apa. Akhirnya ia jawab dengan anggukan kepala.
Diana melirik jam dinding, kemudian menatap Albie. Tampak sekali wajah lelah menggantung di wajah sepupu suaminya itu, ia pun berinisiatif.
"Kamu belum istirahat Bie?"
Albie mengusap wajahnya yang kuyu, "Ya ... belum sih ..."
"Kamu istirahat aja ke rumah. Lagi pula, disini sudah ada aku sama Mama." ucap Diana.
"Iya Mas, " Qistina menyambar, merasa kasihan dengan wajah lelah suaminya. "Mas pulang aja dulu, lagi pula baju aku buat pulang besok belum di bawa 'kan?"
Teringat akan itu, akhirnya Albie setuju. Meski dalam hatinya, secepat mungkin dia akan kembali lagi ke ruang rawat itu. Juga dengan aspirasi sumsum tulang Qistina yang akan menjadi penentu, langkah apa yang akan di ambil selanjutnya. Jujur, Albie sangat takut.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍
apa... gaada yang curiga? selain anggota keluarganya?🤔🤔