“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Malam: Bayang-Bayang Penyesalan dan Ego yang Terluka
Di dalam ruang rapat yang luas dan mewah di lantai atas gedung pencakar langit miliknya, suasana seharusnya berjalan serius dan produktif. Para manajer dan pejabat tinggi perusahaan duduk berhadapan, menyajikan laporan, grafik, dan strategi bisnis yang penting. Namun, bagi Kevin Mahendra, suara-suara itu terdengar samar bagaikan dengungan serangga yang jauh di telinga. Tatapannya kosong menatap tumpukan kertas di meja, namun pikirannya melayang entah ke mana, jauh dari angka-angka dan keuntungan perusahaan. Ia benar-benar tidak bisa fokus. 🧠💭
Bayangan wajah itu kembali menghantui benaknya tanpa henti. Gambarannya terasa begitu nyata, seolah baru terjadi sedetik yang lalu: bibir Alya yang merah muda dan lembut, tatapan keterkejutan di matanya, serta bagaimana ia—di bawah pengaruh alkohol yang kuat—telah menciumnya dengan cara yang kasar dan brutal. Kenangan itu terus berputar di kepalanya bagaikan rekaman yang tak bisa dimatikan.
"Kenapa aku bisa menjadi sebrutal itu? Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku malam itu? Apakah ada hal lain yang lepas dari kendaliku? Mengapa aroma dan kelembutannya terus melekat di ingatanku sekuat ini?" batinnya bergumam penuh kegelisahan dan penyesalan yang tak kunjung padam. Ia berusaha keras menepis bayangan itu, berusaha kembali mencurahkan perhatian pada pembahasan di ruangan itu, namun sia-sia. Sosok Alya bagaikan magnet yang tak terlihat, terus menarik benang kesadarannya.
Hingga akhirnya, rasa ingin tahu dan dorongan untuk memperbaiki keadaan—atau mungkin sekadar memuaskan rasa penasaran yang memuncak—menguasai logikanya. Tanpa mempedulikan tatapan bingung para peserta rapat yang melihat bos mereka tiba-tiba sibuk dengan ponsel, Kevin mengeluarkan perangkat itu. Jari-jarinya yang kekar dan terketik perlahan di layar, menyusun kata-kata yang ditujukan untuk gadis yang terus menghunus pikirannya itu. 📱🖊️
"Nona, apakah Anda memiliki waktu luang malam ini? Ada hal penting yang perlu kita bicarakan dan luruskan."
Ia mengirim pesan itu dengan harapan yang entah bagaimana caranya membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.
📱 Ketidaksukaan dan Batas Tegas
Di sisi lain kota, di tengah kesibukan dan beban pikiran yang menumpuk, ponsel di tangan Alya bergetar lagi. Ia membuka notifikasi itu, dan seketika itu juga matanya terbelalak tak percaya. Bibirnya mengerucut jijik.
"Ih... Om-om ini lagi!" keluhnya dalam hati, rasa kesal seketika memuncak. "Kenapa sih dia tidak lelah terus-terusan menghubungiku? Apa kurang jelas kejadian semalam? Kenapa dia tidak bisa mengerti bahasa penolakan? Membosankan sekali terus-menerus diganggu begini." 🤨🚫
Tanpa ragu, dengan ketegasan yang menjadi tameng harga dirinya, jari Alya bergerak cepat membalas pesan itu. Ia ingin menegaskan batas hingga ke akar, agar tidak ada kesalahpahaman sedikit pun.
"Maaf, saya sedang sibuk. Untuk apa terus bertanya? Kita tidak memiliki urusan apa pun lagi. Bagi saya hubungan kita hanya sebatas pekerja dan tamu yang pernah dilayani. Tidak ada hal lain yang perlu dibicarakan, dan tidak ada alasan untuk kita berkomunikasi lebih lanjut."
Singkat, padat, dan menusuk tepat sasaran. Alya mengirimnya lalu membuang muka, berharap ini adalah akhir dari segalanya. ✉💨
🥊 Ego yang Tergores dan Tantangan Baru
Notifikasi balasan itu masuk ke layar ponsel Kevin tepat saat rapat sedang berlangsung. Ia membacanya dengan saksama, baris demi baris. Awalnya ia hanya diam, namun perlahan ekspresi wajahnya yang tenang berubah. Rasa kesal mulai merayap masuk ke dalam relung hatinya yang biasanya dingin dan terkendali.
"Perempuan ini..." desisnya dalam hati, tangannya mengepal erat di bawah meja. "Rupanya dia suka sekali bersikap seolah-olah sangat mahal dan sulit didapat, ya? Sok jual mahal."
Penolakan itu terasa bagaikan tantangan pribadi baginya. Bukan karena ia sombong atau merendahkan orang lain, namun Kevin adalah sosok yang terbiasa dihormati, didengar, dan jarang sekali mendengar kata "tidak" secara setegas itu—terutama dari seseorang yang menurut pandangan orang lain mungkin berada di bawahnya. Penolakan itu baginya seolah-olah menurunkan harga dirinya, mengusik ketenangan egonya yang selama ini berdiri tegak.
"Aku ini tampan, sukses, dan memiliki segalanya..." batinnya bergumam dengan rasa percaya diri yang bercampur rasa tertantang yang meledak. "Masa ada wanita yang sama sekali tidak tertarik? Apakah dia butuh pendekatan berbeda? Atau dia memang sengaja melakukan ini untuk memancing perhatianku lebih jauh?"
Semakin ia ditolak, semakin ia merasa tertantang untuk mendekat. Keinginan untuk membuka "sifat asli" gadis itu—entah itu ketulusan yang tersembunyi atau sekadar sandiwara—semakin membara di dadanya. Rapat di sekelilingnya perlahan menjadi tidak penting lagi. Pikiran tentang Alya dan keinginan untuk menaklukkan pertahanan dinginnya kini telah menjadi ambisi baru yang menguasai seluruh benaknya. 🧠🔥👊
Di dalam ruang ganti atau wardrobe yang sempit namun penuh cahaya itu, Alya berdiri diam menatap pantulan dirinya di cermin besar. Tangannya yang gemetar sedikit menyempurnakan riasan wajahnya. Bibirnya diolesi lipstik berwarna merah menyala, memberikan kesan memikat dan berani—sebuah topeng yang harus ia pakai setiap malam untuk menyembunyikan kepolosan dan ketakutan di baliknya. Gaun malam yang elegan sudah melekat sempurna di tubuhnya, siap untuk menyapa dunia yang keras itu. Namun, belum sempat ia melangkah keluar sepenuhnya, namanya dipanggil dengan nada tajam oleh seseorang yang memiliki kekuasaan di tempat ini: Mami Feriska, sang pemimpin klub.
Alya mengikuti langkah kaki wanita itu menuju ruang tengah. Begitu ia menatap wajah Mami Feriska, jantungnya seketika berdegup kencang. Raut wajah wanita itu sangat suram, matanya melotot penuh amarah, dan aura yang terpancar darinya seolah ingin menerkam Alya hidup-hidup tanpa ampun. 😠🔥
"Alya..." suara Mami terdengar dingin dan mengancam, memecah keheningan. "Bukankah aku sudah sering mengingatkanmu? Kerjalah di sini dengan benar, jangan macam-macam! Kalau kamu memang butuh uang, kerjakan tugasmu sampai tuntas dan puaskan tamu!"
Mami Feriska melangkah maju, menatap tajam tepat ke manik mata Alya. "Gara-gara kelakuanmu, aku baru saja menerima laporan khusus dari tamu VIP kita, Tuan Kevin. Dia komplain! Katanya kamu menolak ajakan dia dan bersikap dingin. Apa maksudmu semua ini?"
Alya menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan sisa keberaniannya untuk membela diri dan batas yang ia pegang teguh. "Mami, izinkan saya menegaskan satu hal. Pekerjaan yang saya ambil di sini hanyalah sebagai pendamping, melayani dengan menyajikan minuman, menjadi teman ngobrol yang baik, dan menghibur mereka dalam batas wajar. Tidak lebih dari itu, Mami. Saya tidak pernah melanggar aturan maupun batas diri saya." 🙏🥺
Namun pembelaan itu justru memicu kemarahan Mami semakin meluap. Ia tertawa sinis, suara yang terdengar merendahkan. "Cih! Kamu ini jangan sok suci dan bermoral di tempat kotor ini! Pekerjaan seperti ini tidak ada yang namanya kemurnian, semuanya jalan yang sama. Ingat baik-baik ya, kalau kamu masih butuh uang untuk hidup, kerjalah dengan benar dan turuti keinginan tamu! Tapi kalau kamu merasa sudah tidak butuh lagi, atau merasa terlalu mulia untuk tempat ini, percayalah aku bisa dengan sangat mudah mencari penggantimu. Banyak gadis yang berebut posisi ini. Kamu bisa saja pergi mencari pekerjaan lain di luar sana yang mungkin lebih keras dan tak seindah ini." 🚶♀️💢
Kata-kata itu bagaikan belati yang menancap tepat di ulu hati Alya. Ia menahan emosinya sekuat tenaga, menahan tangis yang hampir meledak dari kerongkongan. Dadanya terasa sesak, namun ia sadar ia tidak boleh hancur di sini. Ia membutuhkan uang ini demi nyawa ibunya yang terbaring lemah. Dengan suara lirih dan penuh permohonan yang tulus, Alya menundukkan kepalanya.
"Mami... tolong berikan saya kesempatan sekali lagi. Saya benar-benar membutuhkan pekerjaan ini. Ibu saya sedang sakit parah di rumah sakit, ia butuh biaya pengobatan. Saya tidak punya jalan lain selain di sini. Tolong jangan pecat saya..." pintanya dengan mata berkaca-kaca. 😢🏥
Melihat kerendahan hati dan keputusasaan Alya, raut wajah Mami Feriska sedikit melunak namun tetap menyisakan ketegasan yang dingin. "Bagus kalau kamu masih tahu diri dan sadar posisi. Kalau begitu, kerjakan tugasmu dengan sungguh-sungguh, layani tamu dengan baik dan ramah. Awas saja kalau sampai ada laporan buruk tentang kamu lagi! Kamu benar-benar membuat kepalaku pusing dan pening dibuatnya."
Mami menghela napas kasar lalu menunjuk lorong yang gelap. "Sudah sana masuk! Ke kamar nomor 3. Di sana sudah ada tamu VIP yang sedang menunggu. Dan ingat, awas kamu bikin masalah lagi atau mempermalukan namaku!"
"Baik, Mami..." jawab Alya pelan. Ia melangkah gontai namun mantap menuju kamar nomor 3, menyusun kembali serpihan harga dirinya, bersiap menghadapi badai yang mungkin menanti di balik pintu itu. 🚪🥀