“Menikahlah denganku, Jia.”
“Berhentilah memikirkan masa lalu!! Kita tidak hidup di sana!!”
“Jadi kamu menolakku?”
“Apa yang kamu harapkan?? Aku sudah menikah!!!!”
Liel terdiam, sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan. Sorot matanya yang tajam itu kembali lagi. “Aku tahu kamu sudah bercerai. Pernikahan macam apa yang sehari setelah menikah sudah tidak tinggal satu atap?”
Sebelas tahun lebih, mereka memutuskan untuk menyerah dan melupakan satu sama lain. Namun, secara ajaib, mereka dipertemukan lagi melalui peristiwa tidak terduga.
Akan kah mereka merajut kembali tali cinta yang sudah kusut tak berbentuk, meski harus melawan Ravindra dan anaknya Kay, wanita yang penuh kekuasaan dan obsesi kepada Liel, atau justru memilih untuk menyerah akibat rasa trauma yang tidak pernah sirna.
Notes : Kalau bingung sama alurnya, bisa baca dari Season 1 dulu ya, Judulnya Beauty in the Struggle
Happy Reading ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Avalee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Si Pria Rambut Coklat
Salah satu pasien Jia berdiri dan mengambil tasnya. “Terima kasih dokter, aku merasa jauh lebih baik saat mengungkapkan rasa sakit ku, kalau begitu, saya pulang dulu dok.”
Jia tersenyum seraya meletakkan pulpennya di atas meja. “Ya, sama-sama. Jangan lupa obatnya di minum rutin ya? Aku menunggumu di sesi terapi berikutnya, semangat.”
Pasien tersebut segera keluar dari ruangan Jia. Seketika wajahnya berubah muram. Pikirannya tengah berada di tempat lain.
“Aku bersumpah … tidak akan menyentuh alkohol lagi!! Ah, sudahlah, tidak ada cara lain.” gumamnya pelan.
Kemudian dengan cepat jari jemarinya melakukan panggilan video kepada Jad. Dia yakin benar bahwa Jad sedang sarapan bersama ayahnya, karena postingan di sosial media yang baru saja Jad unggah.
Jad mengangkat panggilan video dari Jia. “Ada apa? Apa di sana sudah siang hari? Makan sianglah … kamu terlihat sangat tirus seperti nenek-nenek.”
Jia mendengus kesal seraya merengek. ”Jaaaad, pinjamkan aku uang.”
Jad memicingkan mata, lalu bersikap arogan. “Huh, apa Jia ku sudah tidak ada uang? Perlu berapa? 10? Atau 15 juta?”
Meski dia ingin sekali menampar dan memaki Jad, namun Jia berusaha menahan rasa kesal dan menerima semua ledekan kakak laki-lakinya itu. “ Uhm … di atas 100 juta, kemungkinan sekitar 150 juta atau bahkan lebih …”
Setelah mengatakan nominal yang tertera, Jia seketika menjauhkan diri dari ponselnya sambil menutup telinganya. Dia tahu, Jad akan segera berteriak.
“HEII!! JANGAN SEMBUNYIKAN WAJAHMU!!! APA KAMU TERLIBAT JUDI ONLINE ATAU SEMACAMNYA?? APA YANG KAMU LAKUKAN JIA? JAWAB?”
Mata Jia melotot, membela dirinya. “Bukan seperti itu!!”
Setelah mendengar keributan yang disebabkan oleh Jad, tidak butuh waktu lama untuk sang ayah mengambil ponsel dari Jad. Dia bahkan menasehati Jad untuk berhenti dan tidak membentak Jia.
“Hello my little princess, miss you so much!! what happen? Can i help you?”
(Halo putri kecilku, aku merindukanmu!! Apa yang terjadi, bisakah aku membantumu?”)
“Yeaah, i really need your help, dad!”
(“Ya, aku benar-benar memerlukan bantuanmu, ayah!”)
Jia menghela napas panjang, setelah mematikan panggilan video bersama ayahnya, yang diakhiri dengan omelan Jad.
Dua puluh menit itu dirasa cukup untuknya menjelaskan segala yang terjadi kepada sang ayah, yang mengerti situasinya ketimbang Jad.
Tanpa banyak menghakimi Jia, ayahnya bersedia mengirim sejumlah uang sesuai yang diinginkan Jia hari ini juga.
Harga dirinya terluka. Jia merasa tidak enak kepada ayahnya karena sudah berjanji akan hidup mandiri tanpa bantuan darinya lagi, namun, situasi di luar kendalinya terjadi, membuat dia harus bertanggung jawab atas kemeja putih sialan itu.
Sang ayah juga menuturkan, karena dia berada di luar negeri, memerlukan waktu beberapa hari agar uang tersebut dapat masuk ke dalam saldo rekening Jia, dan hal itu tidak menjadi masalah baginya, sebab, kemungkinan besar Jia akan menghilang selama yang dia bisa dari Eliel Bentela Lakeswara.
Jia yang masih tenggelam dalam pikirannya segera tersentak karena perutnya berbunyi. Dia melirik ke arah jam dinding yang menggantung di sebelah rak buku dan berada tepat di hadapannya.
“Ya ampun, sudah pukul 13.25 WIB?? Aku harus segera beristirahat untuk makan siang, sebelum pasienku datang.”
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan Jia, membuatnya harus melirik ke asal suara tersebut.
Pintunya terbuka, tampak seorang wanita berusia sekitar 27 tahun, mengenakan baju dan celana berwarna biru tua, dengan model rambut di sanggul rapi dan “nurse cap” di atas kepalanya.
*nurse cap : topi perawat
Dia membawa beberapa berkas riwayat medis pasien baru, yang selanjutnya akan di tangani oleh Jia pada pukul 15.00 WIB, sore hari.
“Ini dok, silahkan dibaca anamnesanya.” Perawat tersebut menyerahkan riwayat rekam medis pasien.
“Baiklah Olin, taruh saja di meja, aku harus memberi makan cacing di perutku dulu.” ucapnya terburu-buru, bersamaan dengan Olin yang menahan tawa keluar dari ruangan.
Pada saat Jia dan Olin berjalan, tampak seseorang dari kejauhan berdiri tegak di ujung lorong klinik. Mata Jia membelalak, nyaris keluar dari rongganya. Bibirnya terbuka, namun tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.
Sosok yang seharusnya sudah lama terkubur, kini ada di hadapannya. Dia mengucek matanya kembali, berharap apa yang dilihatnya hanyalah mimpi.
Pria itu tersenyum manis. “Hai, Jia. Apa kabar?
Suaranya begitu nyata. Jantungnya berdegup kencang. Namun, Jia masih tidak percaya. Dia seperti sedang melihat mahluk tak kasat mata. Bahkan mengira dirinya memiliki indera keenam. Seketika Jia pun berteriak kencang.
“Kyaaaa … hantu!!!!! A–ada hantuuuuu!!!! Olin lihat? Cepat usir atau telepon saja pembasmi setan! Klinik kita sudah tidak aman!!” Jia ketakutan seraya menutup matanya.
Jia segera terduduk di lantai. Olin yang seharusnya beranjak pergi dari mereka, mengurungkan niatnya dan membantu memapah Jia untuk kembali ke ruangannya.
Rasa lapar yang menderanya pun seketika hilang. Meski begitu, Olin telah berinisiatif memesankan makanan untuknya, dan Jia sangat berterima kasih akan hal itu.
Olin yang tidak tahan dengan ketegangan yang ada, segera beranjak pergi, meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan tersebut.
...****************...
Sementara itu di tempat lain, di hari yang sama, Liel sedang tersenyum di tengah tumpukan dokumen. Hatinya terasa ringan, sebab dirinya sedang memikirkan janji antara dirinya dan Jia.
“Keseriusan? Bagaimana hubungan yang serius itu? Aku sudah pernah mengajaknya menikah, bukankah itu pertanda aku serius? Ya kan Tony?”
Tony berdiri di samping kursi tuannya. “Namun dia menolak. Sepertinya anda harus memperlihatkan hal yang lain.”
“Membuat banner bertuliskan 'aku mencintaimu Jia', dan menempelkannya di depan kliniknya, apa itu masuk akal?” Liel menunjuk Tony dengan penuh semangat.
Tony menggeleng-gelengkan kepalanya, pertanda dia tidak setuju, membuat Liel patah semangat, bahkan berpikir keras.
“Apa aku harus membawa buket bunga satu truk dan seember es krim vanili kesukaannya?”
“Tuan … jangan terlalu berlebihan, bukankah sudah aku katakan agar jalan dengan beberapa wanita untuk mengetahui apa yang namanya menjalin hubungan.”
“Tidak ada wanita yang sesuai seleraku.”
“Hm … daripada memikirkan itu semua, bagaimana jika anda menikmati hubungan yang mulai berangsur membaik? Biasanya, setelah wanita yakin dengan kesungguhan anda, dia pasti akan memilih anda.”
“Benarkah? Kalau begitu aku akan menyatakan cintaku di depan klinik, diiringi musik klasik yang indah.”
“T–tuan, maksud saya bukan seperti ini…” Tony menepuk jidatnya pelan akibat tingkah tuan mudanya yang kaku.
Liel merasa tersindir dengan perilaku Tony. Dia segera memerintahkannya untuk keluar dari ruangannya.
“Apa anda marah tuan?”
“Kelihatannya seperti apa?”
“Sa–sangat marah, sampai aku bisa mati karena tatapan anda yang tajam, setajam gosip para tetangga.”
“Keluar dan kerjakan saja tugasmu dengan baik! Ingat, jangan sampai Ravindra mengetahuinya!”
semangat berkarya!!
,, untunglah papany super duper lovely papa~