NovelToon NovelToon
Godaan Sang Pembantu Baru

Godaan Sang Pembantu Baru

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:26.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Matcha

Cerita Dewasa‼️

Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.

Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.

‎Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.

‎Apakah Bagas akan kembali?
‎atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Kepingan Masa Lalu

Kediaman Aryanaka

Empat Tahun Lalu......

Sunyi kian terasa dalam hitungan menit saja. Padahal baru saja kediaman Aryanaka ramai akan tawa dan teriakan suka cita anak-anak yang terbalut dalam rangkaian pesta ulang tahun putri kesayangan—anak tunggal Sarah dan Bagas Aryanaka, sang pewaris keluarga Aryanaka.

Setelah dilarang sang suami untuk turut membantu membereskan sisa - sisa acara yang sebelumnya berlangsung—Sarah akhirnya memilih untuk menikmati kesendirian di halaman belakang rumah mereka. Sedangkan, suaminya itu kini tengah menggendong anak mereka yang ketiduran ke kamarnya.

Seketika Sarah tersenyum hangat. Ini bukan pertama kalinya ulang tahun Thalia mereka rayakan dengan pesta besar-besaran. Namun, tetap saja Thalia sangat antusias dan tidak bisa berhenti bersorak serta bermain kesana-kemari sampai kelelahan.

Tidak terasa tahun ini putrinya sudah berusia 5 tahun dan akan segera memasuki masa sekolah. Sebenarnya Sarah sudah memilihkan sekolah TK yang dekat dengan rumah mereka dan tinggal mendaftar saja. Namun, ayah Thalia itu ternyata tidak setuju.

Bagas ingin putri mereka bersekolah di tempat yang paling bagus dan lebih elite. Sayangnya tempat itu terlalu jauh—berjarak sekitar 30 menit dari rumah mereka. Sarah agak khawatir jika Thalia terlalu jauh darinya.

"Ah, apa aku harus omongin lagi ya sama mas Bagas?" pikir Sarah dalam lamunannya, sembari menatap gamang pada pepohonan di taman belakang.

Angin malam menerpa kulit, sedikit menghamburkan rambutnya yang terurai. Sarah mengabaikannya, ia lebih memilih terlarut dalam pikirannya sendiri. Namun, tiba-tiba saja dalam dinginnya malam yang melanda, ada kehangatan yang menyusup—menyelinap dan membalut tubuhnya.

Kehangatan itu berasal dari sentuhan lembut pria yang sangat dicintainya. Dibelakangnya, sang suami mengejutkan dirinya dengan langsung memeluk pinggangnya erat.

Tidak hanya itu, Bagas yang seakan mengerti sang istri tengah merasa kedinginan, ia juga turut meletakkan kepalanya pada ceruk leher sang istri sembari mencium dengan lembut. Berniat memberi hangat dalam bentuk cinta kasih. Namun, sepertinya juga menjadi kedok dalam mengambil kesempatan agar bisa mencumbu istri cantiknya itu.

"Mine, kamu kok malah disini hmm? Kamu emang gak capek dari kemarin prepare pesta ulang tahun Thalia? Nanti kamu bisa sakit loh kalau gak istirahat."

Bisikan halus dari Bagas kian terdengar tepat di telinga Sarah. Menghantarkan gelenyar geli juga rasa haru karena terselip nada khawatir disana.

"Mas, i am good. Aku cuma pengin nyari udara segar aja dulu," jelas Sarah—berharap Bagas mengerti dan tidak merasa khawatir lagi.

Semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh perempuan tercintanya itu—Bagas yang tidak setuju dengan alasan Sarah kemudian menyanggahnya dengan nada kesal, "Mine, udara segar darimana sih? Ini bukan segar lagi, tapi udah dingin menusuk kulit loh. Bukannya bikin sehat, ini malah bisa bikin kamu masuk angin,"

Menangkap gerutuan sang suami, Sarah tidak bisa menahan tawanya. Merasa lucu akan sikap Bagas yang sangat protective kepada dirinya. Bukannya terganggu, namun Sarah merasa terhibur akan pribadi Bagas yang akan semakin terlihat lucu jika sedang kesal.

Tetapi tampaknya Bagas malah menjadi kian sebal saat melihat Sarah yang bukannya langsung menurut, tetapi malah menertawakannya.

"Ih mine, sayangku, cintaku. Kenapa malah ketawa sih? Aku serius loh. Kalau kamu sakit, aku yang sedih," ungkap Bagas dengan wajah cemberut.

Beberapa detik kemudian, Sarah meredakan tawa. Perlahan dengan senyum manisnya, Sarah sedikit menengok ke belakang sambil terus mengelus tangan Bagas yang memeluk pinggangnya itu.

"Mas, aku gak bakalan sakit. Tenang aja. Kan ada kamu yang selalu ada buat ngasih kehangatan," goda Sarah yang seketika membuat telinga Bagas memerah.

Gara-gara perkataan manis dari kesayangannya itu, Bagas akhirnya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia memilih diam saja sambil mengecup pipi sang istri guna menutupi rasa salah tingkahnya.

Beberapa menit telah berlalu dalam keheningan. Pasangan suami istri itu masih dalam posisi yang sama dengan kehangatan yang senantiasa menyelimuti keduanya.

Pemandangan malam menjadi fokus keduanya. Hingga detik berikutnya, Sarah memutuskan untuk memulai obrolan lebih serius yang sedari tadi telah bersemayam di pikirannya.

"Mas, emm aku mau ngomong sesuatu," izin Sarah terlebih dahulu.

Dibelakangnya Bagas yang tadinya sudah mulai mengantuk, seketika membuka matanya lebar—merasa penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Sarah.

"Iya, mau ngomong apa mine?"

Sebelum menjawab, Sarah menghembuskan napas terlebih dahulu guna meredam kegugupannya. "Emm begini mas, aku mau Thalia nanti jadinya sekolah di TK yang deket rumah aja ya."

Mengernyitkan dahi heran, Bagas kemudian menanggapi permintaan Sarah itu. "Tapi kan kemarin kita udah bahas mine. Thalia itu keturunan Aryanaka, jadi harus dapet yang terbaik kan?"

"Iya sih mas, tapi sekolah yang kamu mau itu terlalu jauh. Aku khawatir," ungkap Sarah jujur.

Menghela napas, Bagas kini mencoba menguraikan kembali sekiranya apa yang membuat istrinya itu menjadi tidak yakin akan keputusannya untuk memasukkan Thalia ke sekolah bergengsi yang jaraknya cukup jauh dari rumah mereka.

"Pasti ini karena bunda ya? Kamu takut bunda berusaha ketemu sama Thalia dan bilang yang nggak-nggak sama anak kita," tebak Bagas cepat yang langsung membuat Sarah terkesiap.

Merasakan ketegangan yang tiba-tiba saja hadir. Bagas membalikkan tubuh sang istri. Kini mereka menjadi saling berhadapan. Bagas menempelkan kening keduanya. Napas sejoli itu saling bertabrakan—hangat, intens, dan sungguh menenangkan.

"Sarah, mine. Percaya sama aku. Bunda gak akan bisa seenaknya ketemu Thalia lagi. Terakhir kali bunda bikin Thalia salah paham sampai jelek-jelekin ibunya—disaat itu pula akhir dari segala akses bunda ke keluarga kecil kita."

Lagi dan lagi, satu kalimat Bagas memukul kesadaran Sarah. Seharusnya ia tidak meragukan sang suami, disaat ia yang merupakan anak tunggal Aryanaka itu saja berani mempertaruhkan hubungan dengan ibunya sendiri demi kebahagiaan Sarah juga Thalia.

"Maafin aku ya mas, aku terlalu overthinking. Aku seharusnya bisa lebih mengerti dan percaya sama kamu," pinta Sarah dengan mata yang telah berlinang air mata.

Bagas menjauhkan wajahnya, ia yang melihat perempuan yang disayanginya itu menangis tersedu, kian tidak tega. Dengan lembut dan telaten ia mengusap air mata yang jatuh.

"It's oke mine. Gak usah dipikirin lagi ya. Oh iya by the way aku punya hadiah buat kamu."

Bagas Aryanaka memang lelaki terbaik yang pernah Sarah jumpai. Bukannya merasa kesal karena harus menghadapi pasangannya yang cengeng ini. Bagas dengan perhatiannya malah memberikan hadiah.

"Hadiah apa mas? Kenapa aku juga dapet hadiah? Kan yang ulang tahun hari ini Thalia," tanya Sarah masih dengan wajah sendunya.

Sebelum menjawab pertanyaan dari wanita cantik yang hari ini memakai dress berwarna emerald itu—Bagas tersenyum misterius dan berlanjut membalikan tubuh Sarah kembali.

Kini posisi mereka seperti sebelumnya. Bagas memeluk tubuh sang istri dari belakang. "Aku mau buatin tempat terindah untuk istriku yang cantik ini," bisik Bagas lembut.

Mengernyit bingung, Sarah pun menuntut penjelasan lebih lanjut, "Tempat terindah? Tempat apa sih mas?"

"Emm tempat apa ya?"

Bukannya menjawab dengan serius. Bagas malah menggoda Sarah. Sarah yang kesal pun mencubit tangan sang suami dengan cukup keras hingga membuat Bagas mengaduh kesakitan.

"Aww sakit sayang. Kamu ihh, masa KDRT gini sih," protes Bagas sambil mengelus-elus tangannya yang terasa pedas akibat cubitan sang istri.

"Ya lagian kamu jail banget sih. Aku tanya serius loh mas."

Karena tidak ingin membuat istrinya itu semakin kesal kepadanya, akhirnya Bagas pun menjelaskan terkait hadiah rahasia yang akan ia berikan. Namun, sebelum itu Bagas menyempatkan mencuri kecupan singkat di pundak wanitanya.

"Jadi, tempat indah yang aku siapin itu ya nanti disini mine. Aku rencananya mau buat halaman belakang rumah kita jadi taman bunga peony, bunga kesukaan kamu."

Mendengar penjelasan sang suami, Sarah kini menjadi menangis lagi, membuat Bagas kalang kabut. "Duh, kenapa malah nangis lagi sih sayang?"

Dengan cepat Sarah berbalik, memeluk Bagas erat dan mengucapkan rasa terimakasihnya.

"Makasih ya mas, kamu se-efort itu buat aku. Kamu mau buatin tempat yang aku idamkan dari dulu. Aku gak tau harus balesnya gimana lagi? hikss."

Bagas turut memeluk erat pujaan hatinya itu, "Mine, kamu gak usah mikirin itu. Aku gak minta balesan apa-apa dari kamu. I love you, so much much love you. Jadi semua bakal aku lakukan untuk kamu."

"Tapi, aku tetep ngrasa gak enak mas. Aku juga pengin ngasih sesuatu buat kamu," bantah Sarah yang merasa bahwa ia seharusnya juga membalas kasih sayang Bagas dengan sesuatu yang istimewa.

Bagas melepas pelukan mereka, ia tangkup wajah cantik Sarah yang kembali penuh air mata—namun kali ini adalah air mata haru bahagia.

"Sarah, istriku. Kamu gak sadar ya? Hadiah terbaik yang kamu kasih itu adalah diri kamu sendiri untuk aku. Bahkan, kamu kasih aku kesempatan untuk jadi ayah. Kamu kasih kebahagiaan terbesar yaitu putri kita—Thalia. Itu semua lebih dari cukup, sayang."

Benar, Sarah ternyata sudah sejauh ini berjalan bersama Bagas. Ia tidak menyadari jikalau Thalia adalah hadiah terindah untuk pria itu. Sarah semakin tersedu pula.

Bagas kembali mengusap air mata istrinya, kemudian berbisik halus, "Tapi—kalau kamu memang ingin juga ngasih tempat terindah buat aku. Oke, kamu bisa kasih seluruh diri kamu untuk aku sayang. Kamu harus janji untuk selalu ada, menjadi tempat pulang dan tempat terindah yang aku miliki."

Begitu syahdu ucapan sang suami. Sarah rasanya semakin jatuh cinta kepada suaminya itu.

"Aku janji mas. Aku janji!"

Selanjutnya dalam kehangatan itu, keduanya menyatukan diri—menyalurkannya dalam ciuman intens tanpa napsu, hanya cinta yang berpadu, melebur dalam kelembutan bibir yang terasa satu sama lain.

Kepingan masa lalu itu sungguh nikmat untuk dikenang, namun setelahnya, dengan kejam berubah usang, menghilang, dan akhirnya meninggalkan luka gersang.

1
partini
waa
partini
Bagas gelo,2 th loh ngab
partini
dua tahun Weh lama banget sandiwara nya ,,agak" deh gas
partini
ayo usaha betul" Sarah biar dia ingat udah boring ini masa ga ingat"
partini
hilang ingatan Ampe tamat ini cerita kah Thor,,masa lama permanen kah
Lady Matcha: Sebentar lagi kok kak. Ditunggu ya, jangan lupa terus ikuti cerita ini, karena bakalan ada plotwist mencengangkan nanti 🤫
total 1 replies
anonim
di tunggu up nya
Ela Sari Kamaruddin
klw bisa up yg banyak2 kk
Ela Sari Kamaruddin
bgus kk
Siti Amalia
udah baguss kaaa
partini
good story
Lady Matcha
Woww
FalconSC99
Gak akan bosan baca cerita ini berkali-kali, bagus banget 👌
Syaifudin Fudin
Gila, endingnya bikin terharu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!