Melati, seorang gadis berumur 15 tahun yang menjalani hari-harinya sebagai anak homeschooling dan murid Starlight Bimbel. Hidup berdua bersama sang ayah tak membuatnya merasa kekurangan kasih sayang. Dia juga memiliki sahabat bernama Tita.
Suatu malam, Melati terpaksa harus mendatangi tempat terkutuk yang sering disebut club untuk menghadiri acara ulang tahun sahabatnya. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Melati bertemu seorang pria dewasa yang membuat hidupnya berubah drastis.
Rupanya, malam itu menjadi awal mula dari kejutan-kejutan yang menghampirinya di kemudian hari. Puncaknya adalah, saat Melati terpaksa bersedia menjadi calon istri dari seseorang yang ia beri julukan 'Om-om Bastard'.
Problema hidup yang dialami seorang Putri Ayla Melati tidak cukup sampai di sana. Begitu banyak rintangan yang terus-menerus mendatanginya.
Bagaimana kelanjutan cerita Melati? Siapa 'Om-om Bastard' ini sebenarnya? Cari tahu kisah lengkapnya di novel "My Beloved Bastard".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Freya Kara Alaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Hari terakhir ujian telah tiba. Lumayan lega, sebab setelah hari ini, aku bisa sedikit santai. Selama aku berada di sekolah yang menjadi lokasi ujian, Pak Glenn selalu menungguku di dalam mobil hingga selesai. Berulang kali aku memintanya untuk tidak perlu repot-repot menuggu, berulang kali pula Pak Glenn bersikukuh menolak. Lambat laun, aku jadi merasa si om-om bastard itu adalah supir pribadiku.
Mobil hitam Pak Glenn berhenti di depan gerbang sekolah, membuatnya segera turun. Hal yang sama pun dilakukannya.
"Semangat, Melati! Saya yakin, kamu pasti bisa menyelesaikan semua soal dengan mudah," ucap Pak Glenn seraya tersenyum hangat dan mengacak rambutku pelan. Selalu seperti ini saat aku akan memasuki gerbang. Dan jujur, aku merasa agak ... Bukan! Bukan! Bukan tidak suka atau semacamnya. Tapi, jantungku selalu berdebar lebih cepat saat Pak Glenn bertingkah laku manis. Hal itu bisa saja membuat jantungku bermasalah suatu hari nanti.
"Makasih, Om," balasku sambil membalas senyumnya.
"Hari ini terpaksa banget saya harus ninggal kamu."
Demi apa?! "Kenapa?"
Pak Glenn terkekeh, membuat keningku berkernyit heran. "Nggak usah cemberut gitu, nanti saya jemput kamu lagi, kok."
Hah? Cemberut? Siapa? Aku? Yang benar saja!
Akhirnya, aku hanya bisa mengiyakan. Tapi, memang benar, ada sedikit rasa tak rela begitu melihat mobilnya melaju meninggalkan aku. Mengapa rasanya seperti ini? Entahlah. Aku pun tidak tahu.
***
Di mana Pak Glenn?
Lima belas menit sudah aku berdiri di luar gerbang. Kali ini, aku benar-benar merasa lega. Ujian selesai, tinggal menunggu hasil, dan aku bisa melakukan persiapan untuk ujian kejar paket C tiga tahun ke depan.
Ah! Lagi-lagi tidak ada yang mengangkat panggilanku. Saat raga telah mencapai batas putus asa, sebuah mobil warna silver berhenti tepat di depanku. Pak Glenn, kah? Tapi, mengapa mobilnya berubah warna?
Mataku melebar begitu kaca mobil di sisi kiri turun. "Bagas?"
"Ngapain di situ?"
Aku sedikit menunduk agar dapat melihat wajah Bagas dengan jelas. "Lagi nunggu jemputan."
"Pak Glenn?" Aku mengangguk. "Udah bisa dihubungi?" Kali ini, aku menggeleng. "Masuk."
"Hah?"
"Udah, masuk aja dulu."
Aku menurut. Berdiri dengan terik matahari yang tepat di atas kepala sungguh membuatku lelah, seperti tengah menjalankan lari maraton. Bukannya aku takut kulitku mendadak hitam, tapi, siapa, sih yang mau berdiri di tengah terik matahari siang bolong begini? Di Ibu Kota pula!
"Lo pasti belum makan siang, 'kan?" tanya Bagas setelah aku duduk di samping kirinya.
"Belum. Gue baru selesai ujian kejar paket. Hari ini terakhir."
"Tumben Pak Glenn nggak nemenin."
Aku mengedikkan kedua bahu. "Ada urusan katanya."
"Kita makan di rumah makan langganan gue, gimana?"
Lapar, sih. Tapi, bagaimana jika aku pergi dan Pak Glenn tiba-tiba datang? "Mmm ... gimana, ya ...," ucapku ragu.
"Sebentar aja. Sambil nunggu Pak Glenn jemput lo."
Setelah dipikir-pikir, tidak ada salahnya aku menerima tawaran Bagas. Lagipula, salah sendiri, om-om bastard itu tidak mengangkat teleponku.
"Oke, deh," ucapku yang membuat Bagas tersenyum lebar dan segera melajukan mobilnya.
Lima menit kemudian, mobil Bagas sudah terparkir apik di depan sebuah rumah makan pokok jalan.
Berada dalam satu meja dengan Bagas terasa lumayan canggung. Bagaimanapun, aku tidak bisa menampik begitu saja saat Bagas memandangku dengan tatapan penuh rasa. Tapi, untung sudah ada sepiring mie goreng pedas sebagai pelarian, agar aku bisa bersikap seolah tidak tahu Bagas masih enggan melepas tatapannya dariku.
Dua puluh menit berlalu. Masih belum ada tanda-tanda bahwa Pak Glenn menghubungiku. Akhirnya, aku memasukkan ponsel ke dalam tas.
"Ngomong-ngomong, lo nggak sekolah?" tanyaku, berusaha melepas tatapan Bagas yang—jujur—membuatku risih.
"Dua minggu ini, para guru di sekolah gue sering banget rapat dadakan. Nggak tahu bahas apa. Jadinya, semua murid dipulangkan lebih cepat," jelas Bagas.
Aku kembali diam. Menikmati mie goreng pedas yang tinggal tersisa sedikit. Kapan lagi aku bisa makan pedas sepuasnya? Mengingat si om-om bastard itu tidak mengizinkanku merasakan kenikmatan sensasi pedas barang sedikitpun.
Bagas kembali bersuara. "Jadi, setelah ini, lo bakal tetap homeschooling? Atau, mau coba sekolah?"
Aku meraih es jeruk dan menenggaknya sebelum menjawab. "Udah nyaman sama homeschooling. Ya, kemungkinan besar tetap homeschooling."
"Lo nggak pengin sekolah?"
Mendengar pertanyaan itu, aku lantas menggeleng kuat-kuat. Manik mata kami saling bertemu, seolah tengah mendiskusikan sesuatu melalui pancaran bola mata.
"Iya, gue tahu, kok," kata Bagas. "Pasti karena pengalaman Tita, 'kan?" Aku hanya tersenyum singkat sebagai jawaban. Membenarkan ucapannya.
Tiba-tiba, aku merasakan seseorang mengempaskan tubuh di samping kananku. Saat aku menoleh, kedua mataku membulat sempurna.
"Om Glenn?!"
***
"Kenapa telepon saya nggak diangkat?" tanya Pak Glenn. Sekarang, kami sudah berada di dalam mobil, perjalanan menuju ke rumahku.
Alih-alih menjawab pertanyaannya, aku malah kembali bertanya, "Om juga kenapa nggak angkat teleponku?"
"Apa?" Ish! Apa telinganya mendadak tuli?! "Om kenapa nggak angkat teleponku?!"
"Bukan," sahutnya, sambil menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Hah?" Aku yang tidak mengerti akan maksud di balik ucapannya, hanya bisa menganga heran. Ditanya apa, jawabnya apa. Aneh.
"Bukan itu maksud saya," katanya seraya tetap fokus menatap jalan raya di hadapannya.
Aku menatap Pak Glenn bingung. "Terus?"
"Tadi kamu bilang apa?"
"Bilang apa?" Kebingungan semakin menyeruak dalam benakku.
"Tadi kamu bilang, 'teleponku'?"
"Iya. Teleponku. Terus?"
"Biasanya kamu pakai kata 'saya'." Kerutan pada dahiku lenyap seketika. Mengapa aku tidak menyadarinya?
Sebelum aku sempat bersuara, Pak Glenn kembali berkata, "Jadi, sekarang, pakai aku-kamu? Boleh juga. Terdengar lebih akrab."
Aku melongo. Jujur saja, aku tidak berniat merubah apapun di antara diriku dan Pak Glenn.
"Tadi jadwal rapatnya diundur lumayan lama, jadi selesainya molor. Saya ... ah! Aku lupa ngabarin kamu."
Tidak tahu harus merespon bagaimana, aku menatap Pak Glenn dengan tatapan cengo. Cara bicaranya yang formal, kini berubah. Hal itu membuatku lumayan ... entahlah! Sulit sekali dijelaskan dengan kata-kata.
"Mau sampai kapan kamu lihatin aku gitu?"
Sial! Kepergok pula!
Aku segera mengalihkan pandangan. Mencari pelarian agar bola mata hitam Pak Glenn tak mampu menangkap manik mataku.
"Jadi, kenapa kamu nggak akan teleponku?"
Masih enggan menatapnya, aku pun menjelaskan runtutan kejadian hingga akhirnya aku bisa bersama Bagas. Tak mudah mengganti panggilan 'saya' menjadi 'aku'. Lidahku kerap kali terlilit. Namun, lama-kelamaan, sebutan seperti itu lebih enak didengar, daripada menggunakan kata 'saya' yang terkesan sangat formal, kurasa.
"Jangan dekat-dekat dia." Pak Glenn menatapku serius. Tepat setelah aku usai menceritakan kejadian tadi, mobilnya telah terparkir di halaman depan rumahku.
"Kenapa?" tanyaku, sambil menatapnya heran.
Bukannya menjawab, Pak Glenn malah membuka pintu mobil dan turun. Membuatku buru-buru meraih tas ransel di jok belakang dan menyusulnya.
Aku melihat Pak Glenn melangkah cepat memasuki kamar tamu, kamar yang ditempatinya selama menginap di sini. Dia menutup pintu dengan keras, menyisakan suara bedebam yang menggelegar. Jika diperhatikan baik-baik, gelagatnya sedikit ... mencurigakan?
"Ngapain berdiri di situ?" Suara bariton khas si om-om bastard itu menyeretku dari lamunan. Aku baru menyadari bahwa diriku masih terpaku di tempat yang sama, begitu mendapati sosok Pak Glenn telah mengganti pakaian formalnya dengan kaos oblong lengan pendek dan celana training abu-abu.
"Kenapa aku nggak boleh dekat-dekat Bagas?" tanyaku, to the point.
Pak Glenn menghela napas. "Nggak mau ganti baju dulu?" Tatapannya beralih sejenak menuju pakaian yang kukenakan: kemeja bermotif lorek warna hijau tosca yang sudah kusut.
Aku menggeleng. Rasa penasaran membawa langkahku mengekori Pak Glenn menuju sofa panjang di ruang tengah. Satu pertanyaan timbul begitu saja dalam benakku: apa Pak Glenn melihat dan mendengar kejadian di depan pagar rumah malam itu?
"Jadi?" tanyaku tidak sabar. Pasalnya, sejak lima menit terakhir, Pak Glenn hanya diam dengan tatapan menerawang ke arah televisi yang menampilkan layar hitam.
Pak Glenn menoleh, menatapku lekat-lekat, tatapan yang tidak kumengerti maknanya. "Kamu sama Bagas, nggak ada hubungan apa-apa, kan?"
Alisku bertaut bingung. Pertanyaan macam apa itu? Bukannya sudah jelas bahwa aku dan Bagas tidak ada hubungan ... ah! Lampu neon dalam otakku tiba-tiba bersinar terang, tanda bahwa sebuah ide baru saja hinggap di dalamnya. Ide licik. Pak Glenn masih menatapku, menunggu jawaban. Satu sudut bibirku terangkat, menyinggungkan senyum jail. "Ada."
Tepat! Dugaanku benar-benar tepat! Mendengar jawabanku, Pak Glenn terbelalak, rahangnya mengeras. Bukannya pede, ge-er, atau apapun itu. Yang aku yakin, Pak Glenn tengah terbakar api cemburu saat ini.
Tepat saat Pak Glenn membuka mulut untuk berkata-kata, aku menyela, "Ada. Hubungan persahabatan."
Lagi-lagi, Pak Glenn membeku di tempatnya. Membuatku tak kuasa menahan gelak tawa yang terus membuncah. Pada akhirnya, aku terpingkal-pingkal, merasa puas sebab berhasil mengerjai si om-om bastard.
Saat aku masih terbahak, Pak Glenn meraih kedua permukaan pipiku, membuat tawaku seketika terhenti. Ragaku mendadak beku. Syaraf otot-otot tubuhku kaku. Bola mata hitam Pak Glenn seolah mengunci tatapanku. Wajahnya mendekat, membuatku semakin gugup. Susah payah aku meneguk saliva yang tersendat di tenggorokan. Jantungku ... argh!
Wajahnya semakin mendekat. Ketika jarak antara diriku dan Pak Glenn benar-benar akan terpangkas, aku memejamkan mata rapat-rapat. Detik berikutnya, sebuah cubitan keras mendarat di hidungku, membuat mataku terbuka lebar.
"Itu hukuman buat kamu," katanya. Ragaku masih menegang. Apa tadi? Aku berharap apa?
Melihatku hanya diam, Pak Glenn kembali bersuara. "Kenapa, sih, kamu selalu tutup mata? Padahal, aku cuma mau nyubit hidung."
Aku memalingkan muka. Enggan menunjukkan wajahku yang entah sudah semerah apa sekarang. "Aku ke atas dulu," pamitku, sambil beranjak dari sofa.
Namun, Pak Glenn menarik pergelangan tanganku, membuat pantatku kembali terhempas ke permukaan sofa. Dia menatapku lekat-lekat.
Kali ini apa lagi?!
"Bisa nggak, kamu rubah panggilan kamu?"
"Hah?" sahutku, tidak mengerti dengan maksud permintaanya. Bukannya memang sudah berubah sejak di mobil tadi?
"Panggil aku 'Kak'."
"Kak?" Aku terbengong. Kak?
Pak Glenn mengangguk sekali. "Jangan panggil Om, kamu bukan ponakanku."
"Tapi, Om bukan kakak aku."
"Kamu memang bukan adikku, kamu calon istriku."
'Blush!'
Sial! Aku dapat merasakan sensasi panas menjalari permukaan pipiku.
"Jadi, mulai sekarang, panggil aku dengan sebutan 'kakak', oke?"
"Tapi—"
Rentetan kalimat yang akan meluncur dari bibirku terpangkas oleh Pak Glenn yang lagi-lagi mendekatkan wajahnya. Hobi si om-om bastard ini aneh banget, sih!
"Mau aku cium?"
"Fine! Kak Glenn!"
"Good girl!"
Hah! Dasar om-om bastard sialan!
"Tunggu!"
Baru saja aku beranjak dari kursi, Pak Glenn kembali menahanku. Dengan malas, aku melengos ke arahnya. "Apa lagi?"
"Aku lihat dan denger semuanya malam itu."
Kpn lanjutannya..???
Di tunggu lho....😊😊
ngilu bayang kan nya..