Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Tepi Perapian
Di dalam rumah kayu sederhana itu, udara hangat dari perapian sedikit mengusir dinginnya kabut danau. Livia duduk di kursi goyang tua, matanya menatap nyala api seolah melihat kembali kejadian puluhan tahun silam. Axel dan Ayranza duduk berhadapan di bangku panjang kayu, sementara Leonardo tetap berdiri di dekat pintu, sesekali melirik ke luar jendela memastikan keadaan aman.
“Sudah lama sekali tak ada yang menanyakan kisah ini,” ucap Livia perlahan, suaranya masih serak namun makin terdengar jelas. Ia menoleh menatap Axel tajam. “Kau benar‑benar anak dari Carlo Alexander?”
“Ya,” jawab Axel mantap. “Dia ayah saya. Dan Andrei yang hilang itu adalah pamannya.”
Livia mengangguk pelan. “Dulu saya bekerja di kediaman itu sejak usia muda. Melihat kalian berdua berdiri di sini… wajahmu mengingatkanku pada Andrei, tapi sorot matamu persis seperti Carlo. Sama keras, sama tak mudah mengalah.”
“Bolehkah Ibu bercerita semuanya?” sela Ayranza lembut. “Kami tak bermaksud mengungkit masa lalu untuk menyakiti siapa pun. Tapi bahaya kini datang mengancam kami dan adik‑adik saya. Kami butuh tahu kebenaran agar bisa melindungi diri.”
Wanita tua itu diam sejenak, lalu menghela napas panjang sebelum mulai bercerita.
“Dulu mereka berdua sangat akur. Carlo dan Andrei sama‑sama muda, ambisius, bermimpi membangun kekayaan besar bersama. Namun semuanya berubah saat warisan besar dari ayah mereka turun. Sebagian besar aset jatuh ke tangan Carlo sebagai anak sulung, sementara Andrei hanya mendapat sebidang tanah di pinggir kota yang saat itu dianggap tak berharga.”
“Apakah pertengkaran hanya soal warisan?” tanya Axel cepat.
Livia menggeleng. “Ada lagi. Seorang wanita bernama Giulia. Andrei sangat mencintainya, berniat menikah. Namun Carlo diam‑diam juga menginginkannya. Ketika Giulia memilih Andrei, perselisihan makin memuncak. Malam sebelum Andrei hilang, mereka bertemu di ruang kerja tertutup. Suara teriakan dan benturan benda terdengar sampai ke dapur tempat saya sedang bekerja.”
“Lalu apa yang Ibu lihat?” potong Leonardo tak sabar.
“Tak lama kemudian Carlo keluar sendirian, wajahnya pucat, baju sedikit berantakan. Ia bilang Andrei pergi marah besar dan takkan kembali dulu. Besoknya berita tersebar, Andrei hilang tanpa jejak. Namun saya sempat melihat satu hal yang tak berani saya ceritakan ke siapa‑siapa bertahun‑tahun.” Livia berhenti sejenak, menelan ludah. “Saat Carlo berbalik punggungnya menjauh, di bawah ujung mantelnya terlihat kain selendang milik Giulia yang terselip di ikat pinggang.”
Keheningan menyelimuti ruangan itu seketika. Ayranza menatap Axel yang tampak kaku mendengarnya.
“Apakah… apakah ini berarti ayah saya yang melenyapkan paman?” tanyanya berat, hampir tak terdengar.
“Saya tak berani menuduh,” jawab Livia pelan. “Tapi Andrei tak mungkin pergi begitu saja tanpa membawa dokumen penting maupun uang tabungannya. Dan ada hal lain yang jauh lebih mengerikan: saat Andrei hilang, Giulia sedang mengandung anak pertamanya. Tak lama setelah itu ia pun menghilang. Kabar yang sampai ke telinga saya, ia dikirim jauh ke luar negeri agar tak ada yang menanyakan nasibnya.”
Axel bangkit berdiri, berjalan gelisah maju mundur. “Kalau mereka punya anak… berarti mungkin masih ada keturunan Andrei yang hidup sampai sekarang?”
“Benar,” sahut Livia mantap. “Anak laki‑laki lahir tak lama setelah Giulia melahirkan jauh dari sini. Namanya Riccardo. Ia tumbuh besar dengan membawa dendam bahwa keluarganya dirampas haknya dan dibuang begitu saja. Selama ini ia diam‑diam menyusun kekuatan, menunggu waktu yang pas untuk kembali dan menuntut balas penuh.”
Ayranza menatap Axel lekat‑lekat. “Kalau begitu… semua ancaman, surat‑surat, gangguan di sekolah, bahkan perintah Elena dan ayahnya, semua itu bisa jadi bagian dari rencana Riccardo?”
“Tentu saja,” potong Livia cepat. “Elena dan Giancarlo hanyalah sekutu sementara yang dijanjikan keuntungan besar. Riccardo‑lah otak di balik semuanya. Dan ia tahu persis kelemahan kalian: nama baik keluarga, serta keselamatan orang‑orang yang kalian sayangi.”
Axel berhenti bergerak, menatap nyala api di perapian dengan sorot mata berubah tajam. “Jadi selama ini saya salah mengira musuh utama. Saya sibuk menangani Giancarlo, padahal ada bahaya jauh lebih besar yang diam‑diam mendekat.”
Livia mengangguk. “Riccardo berniat merusak nama baik keluarga Alexander habis‑habisan, merebut kembali seluruh aset warisan, dan membuat kalian merasakan kepahitan yang sama seperti yang dirasakan ayah dan ibunya dulu. Dan dia tahu satu cara paling ampuh untuk meluluhkanmu, Nak.” Ia menatap Ayranza sekilas lalu kembali ke wajah Axel. “Melalui wanita ini dan kedua adiknya.”
Jantung Ayranza berdebar kencang. Ia tak kuasa menahan ucapan yang meluncur dari bibirnya,“Kalau begitu, Riccardo takkan berhenti sebelum dia mendapatkan apa yang dia inginkan?”
“Tepat sekali,” jawab Livia tegas. “Dia bergerak diam‑diam, berani, dan tak kenal ampun. Sama seperti kakek‑nenekmu dulu.”
Leonardo maju selangkah. “Ibu Livia, apakah ada petunjuk di mana kami bisa menemukan Riccardo sekarang? Atau kapan dia berencana melancarkan serangan besar‑besaran?”
Wanita tua itu merogoh saku rok panjangnya, mengeluarkan selembar kartu nama tua yang sudah agak usang, lalu menyerahkannya. Di atasnya tertulis nama perusahaan investasi yang tak asing lagi bagi Axel. Salah satu mitra bisnis baru yang baru saja masuk berhubungan beberapa bulan terakhir.
“Dia menyamar di balik nama perusahaan itu,” jelas Livia. “Banyak transaksi besar berputar di sana, semuanya disiapkan untuk melumpuhkan keuangan Alexander sekaligus mencoreng nama baik saat puncak acara pengumuman kerja sama besar dua minggu lagi.”
Axel mengambil kartu itu, menggenggamnya erat hingga buku jarinya memutih. Ia menoleh ke arah Ayranza dan Leonardo bergantian.
“Dengar baik‑baik,” katanya lantang dan tegas. “Kita tak bisa lagi hanya bertahan pasif. Kita harus menyusun rencana balasan yang matang. Besok pagi kita segera pulang. Leonardo, kau segera atur pengawasan ketat di kediaman dan sekolah adik‑adik Ayranza. Pastikan tak ada celah sedikit pun.”
“Siap, Tuan,” jawab Leonardo singkat.
Axel kemudian menatap Livia dengan pandangan lebih lembut namun serius. “Terima kasih atas semuanya, Ibu. Risiko yang Ibu ambil besar sekali. Kami akan pastikan keamanan Ibu mulai malam ini juga.”
“Tak perlu khawatirkan saya,” tolak Livia halus. “Saya sudah tua, sudah siap menghadapi apa pun. Yang penting kalian berhati‑hatilah. Riccardo bukan lawan yang bisa diremehkan. Dan ingat satu hal lagi…” Ia berhenti sejenak, menatap wajah mereka berdua bergantian. “Di tengah bahaya sebesar ini, persatuan hati adalah senjata terkuat kalian. Jangan biarkan rasa ragu atau salah paham merusak kekuatan itu.”
Mata Ayranza tak sengaja bertemu pandang dengan Axel. Ada rasa hangat yang menjalar di dada meski suasana penuh bahaya. Sebelumnya hubungan mereka hanya didasari kontrak dan rasa saling curiga, namun kini di sini, di hadapan rahasia besar yang mengancam nyawa, ikatan itu tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dan nyata.
“Kami mengerti,” ucap Ayranza pelan namun mantap. “Terima kasih, Ibu.”
Tak lama kemudian mereka berpamitan pulang. Saat melangkah keluar rumah, kabut di luar makin tebal, menyelimuti jalanan tanah dan permukaan danau yang tenang namun menakutkan. Di perjalanan kembali ke kendaraan, Axel berjalan beriringan dengan Ayranza, sementara Leonardo berjalan sedikit di depan memeriksa keadaan sepanjang jalan.
“Kau baik‑baik saja?” tanya Axel pelan saat tak ada orang lain yang bisa mendengar.
“Ya,” jawab Ayranza sambil mendongak menatapnya. “Cuma… rasanya makin berat saja masalah ini. Dulu saya kira cukup bertahan tiga tahun sampai kontrak habis. Sekarang malah terjebak jauh lebih dalam.”
Axel berhenti sejenak, menatap wajahnya lekat‑lekat di bawah remang cahaya kabut. Ia perlahan mengulurkan tangan meraih bahu Ayranza, menahannya agar tetap tenang.
“Dulu pun saya berniat menganggapmu sekadar perjanjian semata,” akunya jujur, nada suaranya rendah namun penuh penekanan. “Tapi semua berubah. Kau, Angga, Arshen… kalian masuk ke hidupku dan mengubah segalanya. Mulai hari ini tak ada lagi istilah kontrak di antara kita. Kita hadapi bahaya ini bersama‑sama sampai tuntas.”
Ayranza tertegun, matanya berkaca‑kaca mendengar ucapan itu. Rasa takut perlahan berganti rasa percaya yang kuat. Ia mengangguk pelan, lalu mereka pun kembali melangkah menyusuri jalanan berkelok pulang menuju Milan. Kembali ke tengah pusaran bahaya yang kini sudah mereka kenali wajah aslinya.
Sesampainya di dalam mobil dan perjalanan pulang dimulai, Leonardo tak bisa menahan pertanyaannya.
“Kalau begitu, Tuan, rencana kita bagaimana selanjutnya? Apakah kita langsung menghadang Riccardo sekarang juga?”
Axel bersandar di jok belakang, menatap kartu nama tua di tangannya yang kini tersimpan rapi di saku jas.
“Belum,” jawabnya tenang namun penuh tekad. “Dia sudah merencanakan ini bertahun‑tahun. Kita tak boleh terburu‑buru. Kita biarkan dia merasa hampir menang, mendekatkan diri sepenuhnya ke jebakan yang akan kita siapkan. Saat dia lengah, saat itulah kita bertindak. Sekali pukul, tuntas semuanya.”
Ayranza yang duduk di sebelahnya ikut bersuara: “Dan bagaimana dengan Angga dan Arshen? Riccardo pasti akan mencoba menggunakan mereka lagi kalau dia tahu itu cara paling cepat melumpuhkan kita.”
Axel segera menoleh padanya. “Itu tugas utama kita. Menjaga mereka lebih ketat dari sebelumnya. Mulai besok, mereka takkan lagi sekolah seperti biasa sampai bahaya benar‑benar lewat. Kita atur pengajar pribadi di rumah saja. Leonardo akan mengawasi semuanya langsung.”
“Baik kalau begitu,” sahut Ayranza lega. “Setidaknya hati saya lebih tenang.”
Di sela keheningan singkat perjalanan pulang, Axel kembali berbicara pelan, kali ini khusus hanya pada Ayranza.
“Ada satu hal lagi yang ingin kukatakan. Kalau rencana ini gagal dan hal buruk terjadi… kau dan adik‑adikmu harus segera pergi menjauh, kembali ke Medan kalau perlu. Tak perlu pedulikan nasibku maupun keluargaku.”
Ayranza segera menatapnya tak setuju. “Tidak. Ingat ucapan Ibu Livia? Persatuan hati adalah kekuatan terbesar kita. Kita berjuang bersama, dan kalau pun harus jatuh, kita jatuh bersama.”
Axel terdiam sejenak mendengar ketegasan itu, lalu perlahan tersenyum tipis. Senyum yang jauh lebih tulus dan hangat dari sebelumnya. Ia tahu benar, sejak hari itu, ia tak lagi berjuang sendirian.
Di kejauhan, cahaya lampu kota Milan perlahan mulai tampak menembus kabut malam. Di sana, bahaya besar sudah menanti, namun di dalam mobil itu, tekad bulat tumbuh makin kuat siap menghadapi apa pun.