Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Sumpah di Ambang Batas
Embusan angin sore yang menerobos lewat celah pintu depan terasa begitu menyesakkan di dalam koridor bawah rumah kontrakan. Cengkeraman kuku-kuku Erni di lengan Hino terasa semakin menyiksa, seolah wanita yang sedang mengandung dua bulan itu ingin menguliti seluruh kebohongan yang tersimpan di balik pakaian suaminya. Bau wewangian wanita lain yang samar namun asing dari arah seberang jalan menempel begitu pekat di jaket hitam Hino, menjadi bukti otentik yang tidak bisa disangkal oleh lidah pelayan toko tersebut.
"Jawab aku, Mas! Dari mana kau?!" desak Erni lagi, suaranya naik satu oktav, serak oleh amarah yang bercampur dengan ketakutan finansial yang nyata. "Irmi sudah bertingkah gila sore ini! Dia mengunci diri di kamar belakang dan memutus seluruh aliran uang belanja dari kasir toko kedua! Kita bisa mati kelaparan di rumah ini, dan kau... kau malah pulang membawa aroma tubuh perempuan lain?!"
Hino menyentak lengan Erni dengan satu gerakan kasar hingga pegangan istrinya terlepas. Wajahnya yang tampan kini tampak begitu kuyu, matanya merah menyala memancarkan kilat frustrasi ekstrem yang sudah mencapai titik jenuh tertinggi. Tekanan dari ancaman rahim Hina di rumah mewah siang tadi, ditambah skakmat dingin dari Irmi di jalan kompleks pagi hari, telah menghancurkan seluruh sisa-sisa kesabaran di dalam otaknya.
"Cukup, Erni! Tutup mulutmu!" bentak Hino, suaranya menggelegar di ruang tengah yang sunyi, membuat Erni terkesiap mundur dua langkah. "Uang, uang, dan uang saja yang ada di dalam kepala pembantumu itu! Kau pikir aku ini mesin pencetak harta harian?!"
Hino menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan, mondar-mandir di depan meja makan kayu dengan napas yang memburu seperti binatang buruan yang terkepung di ujung tombak. Di dalam sudut terdalam benaknya, sebuah pemikiran jahanam yang aneh mendadak muncul menawarkan kedamaian yang semu. Ia lelah menjadi budak pemerasan. Ia muak harus merangkak dari satu kasur ke kasur lain hanya untuk mengunci mulut wanita-wanita egois ini.
Hino berhenti melangkah, menatap Erni dengan pandangan kosong yang sangat mengerikan. "Kau tahu apa yang sebenarnya ingin aku lakukan sore ini, Erni? Aku ingin berjalan kaki sekarang juga ke rumah Ketua RT! Aku ingin mengumpulkan seluruh warga kompleks ini di lapangan depan gerbang!"
Erni membelalakkan matanya, jantungnya berdegup kencang melihat kegilaan yang mulai merayap di wajah suaminya. "Mas... apa yang kau bicarakan? Jangan gila kamu!"
"Aku tidak gila, Erni! Aku justru baru saja waras!" seru Hino dengan tawa hambar yang menyakitkan. Ia memukul dadanya sendiri dengan kepalan tangan yang kuat. "Biar saja warga tahu semua kelakuan kita di dalam rumah dua lantai ini! Biar saja polisi datang menjemputku malam ini juga! Berada di dalam sel penjara yang dingin jauh lebih terhormat dan damai daripada harus hidup mengemis harat pada rahim kalian yang rakus! Toh, kalaupun aku membusuk di dalam penjara nanti, aku tetap menang karena terbukti jantan dan punya anak di luar sana!"
"Hino, diam!"
Sebuah suara wanita yang dingin dan berwibawa memotong kalimat Hino dari arah pangkal tangga. Linda sedang berdiri di undakan tangga ketiga, memegangi pegangan kayu dengan tubuh yang agak lemas. Wajah dosen sosiologi itu tampak luar biasa pucat, dan gaun rumahannya yang longgar tidak mampu menyembunyikan getaran ketakutan di kedua lututnya setelah mendengar rencana nekat Hino untuk menyerahkan diri ke aparat desa.
Linda melangkah turun perlahan, menatap Hino dengan pandangan mata yang sarat akan ancaman karir dan harga diri akademisnya yang tidak boleh runtuh ke tanah kompleks.
"Jangan pernah berani melangkahkan kakimu ke rumah Ketua RT malam ini, Hino," ucap Linda, suaranya sangat pelan namun terdengar begitu pekat mengunci pergerakan udara di ruang tengah. Ia berdiri di hadapan Hino dan Erni, mengabaikan daster kusut Erni yang mulai bergerak gelisah. Linda menyentuh bagian perutnya sendiri yang mulai terasa mual sejak pagi, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Hino dengan sorot mata yang mematikan. "Jika kau nekat menyerahkan dirimu ke polisi hanya karena frustrasi bodohmu itu... aku pastikan bukan cuma kau yang membusuk di dalam sel, tapi aku sendiri yang akan memastikan anak-anak di dalam rumah bawah ini lahir tanpa pernah tahu siapa nama ayah mereka."