Karena sebuah kesalah pahaman, seorang gadis suci dihancurkan kehormatannya. Tak hanya kehilangan kehormatan, Ia harus kehilangan cinta, karir dan keluarganya. Di tengah upayanya bertahan menghadapi cobaan, Ia terpaksa harus dijatuhkan dengan kenyataan lain. Mengandung benih orang yang "merusak"-nya. mampukah Ia tetap melangkah membawa kemalangan dan merubahnya menjadi kebahagiaan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Citra Susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Mencari dirimu
Faris POV
Aku sudah merencanakan makan malam penuh kehangatan dengan Risa dan keluargaku sepulang dari kunjungan di Surabaya. Bahkan aku sudah membelikan Risa oleh-oleh sebuah gaun yang akan dipakainya besok. Aku pun menyampaikan undangan makan malam ini kepada kedua orang tuaku, meskipun mereka menerimanya dengan ekspresi yang tidak kuharapkan. Namun ternyata harapan itu harus musnah saat Risa menghilang beberapa hari tanpa kabar.
Sebenarnya aku mulai curiga di malam terakhir kunjunganku di Surabaya. Risa tak membalas pesan dan bahkan teleponku diabaikannya. Saat itu aku mencoba berpikir positif, mungkin saja Risa sudah tidur. Pagi saat keberangkatanku kembali ke ibukota pesan dan panggilan ku masih di abaikannya. Kucoba menghubungi Siska menanyakan keberadaan Risa, namun Ia pun tak tahu keberadaan atasannya.
Siang hari aku sampai di rumah, na bymun karena rasa lelah yang mendera membuatku urung berangkat ke kantor. Aku masih mencoba mengirim Risa pesan dan meneleponnya berkali-kali dengan harapan mungkin saja dia lupa meninggalkan ponselnya di suatu tempat. Ternyata hasilnya masih tetap sama, baik pesan dan panggilanku masih diabaikan. Aku mulai merasa cemas, tak biasanya Ia mengabaikan pesanku seharian.
Dengan rasa lelah aku menuju ke rumah Risa untuk mendapatkan petunjuk, namun ternyata sia-sia karena aku tak menemukan apapun di sana. Rumah itu tampak sepi tak berpenghuni. Lalu di mana kekasihku sekarang? Aku kembali ke rumah mencoba mengistirahatkan pikiranku yang semakin kalut dan cemas.
"Kamu baik-baik saja kan, Faris," tanya Mama saat aku kembali kerumah. Ia mulai curiga karena tak biasanya wajahku tampak cemas.
"Tak apa-apa Ma, hanya lelah karena pekerjaan," kataku menutupi kejadian sebenarnya. Aku tak ingin ketiadaan Risa yang tanpa kabar mempengaruhi sikap Mamaku. Sebisa mungkin aku ingin kedua orang tuaku tak tahu kejadian ini.
Besoknya aku semakin frustasi mengetahui Risa tak datang ke kantor lagi. Amarahku tak dapat ku tahan saat ku dengar dari Meta, asistenku, bahwa Pak Dedi menyetujui cuti Risa yang diajukan oleh asistennya. Bahkan langsung membawa surat keterangan dokter. Apalagi ini? Risa sakit? Bukankah kemarin Siska bilang tak tahu dimana kekasihku berada, lalu kenapa hari ini dia membawa surat ijin itu. Apa kemarin dia bermaksud menyembunyikan keberadaan Risa dariku?
Sekembalinya Siska dari HRD dan ruangan Pak Dedi aku melabrak gadis itu. Dengan wajah ketakutan dia menjelaskan bahwa dirinya belum tahu di mana Risa berada. Tentang surat dari dokter yang menyatakan Risa sakit benar-benar ia terima dari seorang perawat yang diminta dokter untuk menyerahkannya kepada Siska.
Aku kembali ke ruangan dengan berbagai pertanyaan di kepala. Melihat keadaanku semua bawahan tak ada yang berani menyapa, bahkan asistenku Meta membatasi laporannya kepadaku. Saat di kantin aku mendengar kasak-kusuk beberapa anak magang dan karyawan bagian keuangan tentang diriku.
"Pak Faris tadi ngamuk di ruang Audit ...."
"Ternyata orang pendiam kalo marah menakutkan ya," ujar yang lain.
"Apa ini soal Bu Risa yang ga ada kabar?"
"Ku dengar Bu Risa sedang sakit ...."
"Kalau sakit kenapa Pak Faris tidak tahu, seharusnya Pak Faris orang pertama yang tahu keadaan Bu Risa, dia kan tunangannya ...."
Deg.
Hatiku nyeri mendengar kalimat mereka yang terakhir.
Ya, aku adalah tunangannya. Seharusnya aku tahu keberadaannya, dan tahu keadaannya. Tetapi sekarang aku benar-benar tidak tahu tentangnya.
Di ruangan aku bertemu dengan Lusi, sepupu Risa yang magang di divisi Keuangan. Secara tidak langsung dia adalah bawahanku sekarang. Melihatnya aku teringat pesan terakhir Risa, dia bertanya padaku mengapa aku tak mengatakan jika Lusi magang di kantor ini.
Aku memang belum sempat memberi tahu Risa jika Om Yudha, ayah Lusi meminta tolong padaku agar dapat membantu putrinya menjadi anak magang di kantor. Saat itu aku sedang mencari waktu yang tepat menyampaikan padanya. Dengan hubungan Risa dan keluarga Tantenya saat ini, aku tak ingin ada kesalahan.
Sepertinya Risa sudah mengetahui hal itu terlebih dahulu. Apakah karena hal ini dia marah padaku dan menghindar?
"Mas Faris baik-baik saja?" tanya Lusi. Tampak matanya menelusuri tampilan ku yang kacau. Aku hanya mengangguk pelan.
Mungkin gadis itu sudah tahu penyebabnya.
"Apa Risa sudah bertemu denganmu dan tahu kau magang di sini?" tanyaku dingin.
Jujur, aku tak terlalu suka dengan gadis ini. Jika bukan karena Papa yang memaksaku untuk mengabulkan permintaan Om Yudha, aku tak ingin berurusan dengannya.
Kulihat gadis itu salah tingkah.
"Ya ... sudah Mas. Kami tidak sengaja bertemu di lobi beberapa hari lalu," jawabnya takut-takut.
Pandangan ku menyipit seolah mencari kebenaran dari kata-katanya. Kulihat Dia semakin salah tingkah.
"Kuharap kamu menjaga sikapmu di sini. Jangan mengatakan hal yang tak perlu, atau aku tak segan-segan menegurmu," ku ucapkan kalimat itu dengan dingin. Kuharap Ia mengerti ancaman tersirat dariku.
Gadis itu bergetar, mungkin merasa takut dengan ancaman ku. Bagus, itulah yang aku harapkan.
**
Sepulang dari kantor aku bergegas memasuki kamar. Rasa lelah karena pekerjaan mungkin tak sebanding dengan beban pikiran yang yang ku tanggung saat ini. Memikirkan Risa terkadang membuatku hilang akal. Risa adalah duniaku. Aku tak bisa hidup tanpa nya.
Aku terpaksa turun untuk makan malam bersama kedua orang tuaku, meski aku tak memiliki nafsu makan. Aku hanya tak ingin ketidak hadiran ku dijadikan alasan oleh Papa untuk mencampuri kehidupanku yang lain.
Hubunganku dan Papa tidak begitu bagus. Karena anak tunggal, aku digadang-gadang menjadi penerus Papa di perusahaan. Dulu aku begitu patuh akan keinginan Papa, namun sejak mengenal Risa kehidupanku berubah. Tujuanku untuk terus di sisinya membuatku menjauh dari keinginan kedua orang tuaku. Apalagi keputusanku bekerja di tempat yang sama dengan Risa sebenarnya mendapat tentangan dari Papa. Karena itulah mereka tak menyukai keberadaan Risa, mereka menganggap karena Risa aku menjadi pembangkang.
"Bagaimana kabar Lusi, apakah dia betah gabung di perusahaanmu?" tanya Papa memecah keheningan suasana makan malam kami.
"Hemm, baik," ujarku singkat.
Aku pikir dengan komentarku yang irit tentang gadis itu membuat Papa tak akan melanjutkan perbincangan ini, ternyata aku salah.
"Syukurlah kalau begitu, Om Yudha benar-benar senang kamu bisa membawa Lusi ke Perusahaan. Semoga saja kelak dia bisa bekerja bersamamu nantinya, dan Papa harap kamu bisa lebih dekat dengan anak itu,--"
Ku letakkan kedua alat makan dengan asal di atas meja sehingga menimbulkan suara yang keras dan membuat Papa menggantung kalimatnya. Mereka sempat terlonjak kaget, namun tetap dapat menahan sikap. Kami terdiam beberapa saat. Kurasakan dadaku sedikit bergejolak menahan amarah. Di tengah perasaan frustasi dengan menghilangnya Risa, mendengar segala hal tentang gadis lain, apalagi sepupu Risa, membuatku tak dapat menahan emosi.
"Yang perlu Papa tahu, di sana bukan perusahaan ku. Mampu atau tidaknya dia diterima kelak bukan kewenanganku. Dan yang terakhir, jangan berharap lebih tentang hubungan kami, karena di hatiku hanya ada Risa seorang," ujarku dingin.
Kulihat Papa menahan geram. Tapi hebatnya Ia masih melanjutkan makannya dengan tenang. Itu satu hal yang ku kagumi dari Papa, pengendalian diri.
"Kau benar-benar pria yang menyedihkan Faris, cinta membuatmu buta. Kau mungkin bangga dengan kesetiaanmu, tapi bagiku kau tak lebih dari seorang pengemis yang mengharapkan cinta dari tunanganmu. Berapa tahun kau mengaguminya? Sepuluh? Huh, jika kau menggunakan waktumu itu untuk membangun perusahaan pasti kau sudah jadi orang hebat, tidak seperti sekarang. Kepala Bagian? Kau bangga dengan jabatanmu itu?" tanya Papa kepadaku sarkastik. Kali ini kulihat wajahnya nampak penuh amarah.
"Kenapa Papa dan mama tidak mencoba menerima Risa menjadi bagian hidupku, apalagi sebentar lagi dia menjadi menantu kalian," ucapku sengit.
Kulihat Mama menghentikan kegiatan makannya seperti terpengaruh dengan ucapanku.
"Lalu kapan calon menantu Mama itu mau datang ke rumah ini? Apakan pekerjaannya menjadi Kepala Audit benar-benar tak tak memberinya waktu sedikit pun?" tanya Mama sambil dengan gayanya yang anggun melap sudut bibirnya dengan serbet makan. Ia menatap mataku dengan ekspresi yang tak dapat ku tebak membuatku terdiam.
"Sampai kapan Dia merasa kehidupannya begitu penting sehingga tak mempedulikan kehidupanmu, Faris?" tanya Mama lagi.
"Apa maksud Mama?" tanyaku dengan dengan khawatir, karena aku mulai mengerti ke arah mana pertanyaannya. Kulihat Mama tersenyum sinis.
"Ayolah Faris, kamu tahu ke mana arah pertanyaan Mama. Kamu terlalu berharga untuk dia sia-siakan. Apakah kedudukanmu sebagai tunangannya tidak dianggap berharga, hingga dia bebas menghilang kemana saja tanpa memberimu kabar? Sementara Kamu seperti orang gila mencarinya ke sana kemari?" ujar Mama dingin.
Deg. Mereka tahu. Padahal aku berusaha menyembunyikan hal ini dari mereka. Siapa yang sudah mengadu pada Mama dan Papa?
Ku tekan amarah dan kegelisahan ku. Aku tak Ingin membuat Risa semakin buruk di mata mereka.
"Sebenarnya semua salah Faris Ma. Risa marah karena Faris melakukan kesalahan. Mungkin kepergian Risa tanpa kabar adalah hukuman untuk Faris agar lebih menghargai pendapatnya," ujarku kemudian. Aku tak berbohong soal ini, saat ingatanku tertuju pada pesan terakhir Risa yang dikirim mempertanyakan campur tanganku terhadap diterimanya Lusi menjadi anak magang.
Kulihat Air muka Papa dan Mama normal kembali, entah mereka mengerti penjelasan ku atau hanya menyimpan emosi dan tak menunjukkan nya. Ada sedikit kelegaan dalam hatiku.
"Besok saat Risa kembali, aku akan mengajaknya makan malam bersama Papa dan Mama. Kuharap undangan itu masih berlaku untuknya," ujarku sambil tersenyum dengan harapan dapat mencairkan suasana. Sedangkan Papa dan Mama melanjutkan makan penutup mulut mereka tak menanggapi ucapanku.
lama gak muncul "!!
setelah aku stop baca di part 82, krn d rasa alur nya ga maju2.
akhirnya, hr ini tuntas baca 29 part dalam sehari, abis sampe tamat.
Terima kasih sdh berkarya, memberi hiburan buat kami.
tetap semangat melahirkan karya2 lg ya thor.
jangan kecil & patah semangat dengan kritik & saran.
aku kasih hadiah vote & bunga ya thor, biar terus semangat berkarya..
author tegaaaa...