NovelToon NovelToon
Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi / Romantis
Popularitas:464.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Lukman Kalbuadi

Mengisahkan tentang seorang remaja bernama Galang. Remaja yang bisa di bilang introvert kala di SMP. Ia bahkan sulit untuk menghapal nama teman-temannya.

Kini ia telah memasuki jenjang SMA. Ibunya kini memberi saran kepadanya untuk bisa lebih terbuka dan mendapatkan beberapa teman di SMA. Setelah mendengar nasehat ibunya, Ia pun bertekad untuk bisa mendapatkan beberapa teman.

Dengan berjalan waktu, ia pun nantinya akan mengenal yang nama cinta. Perasaan yang ia belum pernah rasakan saat masih di SMP. Akan tetapi, ia sulit menyadari bahwa ia sebenarnya sedang merasakan cinta. Ia selalu bertanya-tanya perasaan apakah yang sedang ia rasakan itu.

Namun seiring berjalannya waktu, ia pun perlahan-lahan akan mengerti perasaanya itu.

Selain itu di cerita ini juga akan ada kisah persahabatan, kompetisi, dan hal-hal seru masa SMA lainnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukman Kalbuadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17 : Perasaan

"Kau tak menyadarinya?" balas Sofia.

"Apanya?" balasku lagi.

"Satu minggu yang lalu kau terlihat sangat sendirian, sementara kini kau sudah punya teman di sisimu."

Aku terdiam tidak membalas perkataan Sofia barusan. Aku tidak bisa mengatakan apapun pada Sofia sekarang. Bahkan, aku juga tidak bisa menanyakan apakah ia mau menjadi temanku atau tidak seperti yang aku rencanakan ketika aku bertemu dengan Sofia lagi. Mulutku tidak mau terbuka. Aku tidak bisa mengatakannya.

"Wah kalian sudah akrab juga yah," kini giliran Ruben yang bersuara.

"Yasudah ya, aku ke belakang dulu mau ketemu papa," ucap Sofia lalu pergi meninggalkan kami.

"Oi Lang kamu jangan nikung temen dong," ucap Ruben lagi.

"Aku tidak menikung, minggu lalu saat hari Jumat aku tak sengaja bertemu dengannya di sini. Kemudian dia mengajakku ngobrol karena katanya aku terlihat sangat sendirian ketika makan bakso. Dan entah kenapa dia berjanji akan mengantarku pulang jika aku mau makan bakso yang ia berikan," jelasku.

"Wah cukup panjang juga yah, aku sampai tak paham apa yang kau ucapkan tadi," ucap Ruben dengan raut wajah kebingungan.

"Ternyata kebodohanmu tidak berubah ya Ben? Dari dulu aku mengenalmu kau memang tidak pernah berubah. Kau adalah orang paling konsisten yang pernah aku temui selama hidupku," ledek Ahsan yang dari tadi diam.

"Haa? apa-apaan itu? Kau sedang memujiku atau menghinaku? Kalimatmu membingungkanku saja."

"Terserah kau saja. Kau bebas menganggapnya pujian ataupun hinaan."

Lalu, kami pun melanjutkan menyantap makanan kami yang tersisa sedikit itu hingga habis.

"Oi kenapa kau tadi tidak mengobrol dengan Sofia San? Kenapa kau diam saja? Apakah ini yang dinamakan kalah sebelum berperang?" ucap Ruben menggoda Ahsan.

"Berisik, bukan urusanmu," jawab Ahsan yang kali ini kelihatan serius.

"Oi oi apa-apaan wajahmu itu? Kenapa jadi jelek begitu?" ledek Ruben lagi.

"Hhhahahaha," aku yang berusaha menahan ketawa, kali ini tak lagi bisa menahannya.

"Oi kenapa kau tertawa lagi?" ucap Ruben.

"Tidak, tidak apa-apa. Maaf."

"Oi San sudahlah gak perlu malu untuk mengakuinya. Kenapa kau gak menyatakan perasaanmu saja padanya. Lagi pula kita bertiga kan pernah sekelas waktu kelas 9 SMP dulu," kini ucapan Ruben entah kenapa menjadi serius.

"Sebenarnya aku sudah menyatakan perasaanku padanya," jawab Ahsan yang membuat kami berdua terkaget-kaget.

"Aaaapa??? Kau udah mengatakannya? Kapan ? Kenapa kau gak pernah cerita?" Ruben bereaksi sangat kaget.

"Dulu, sehabis kita upacara perpisahan. Aku mengatakan padanya apa yang aku rasakan pada saat pulang."

"Lalu apa jawabannya?"

Ahsan tidak menjawab pertanyaan Ruben. Ia hanya terdiam. Meskipun begitu, raut wajahnya menjelaskan semuanya.

Kami pun lalu mengakhiri pembicaraan tentang Sofia dan Ahsan, kemudian kami membayar tagihan makanan tadi.

"Habis ini mau kemana nih?" tanya Ruben.

"Kau ada ide Lang? Dari tadi kau jarang sekali bicara," kali ini Ahsan mengajukkan pertanyaannya padaku.

"Kalo aku ikut saja kemana kalian inginkan," jawabku singkat.

"Apa-apaan tuch. Tak menyelesaikan masalah sama sekali," ucap Ahsan kembali dengan gaya bicaranya.

Kali ini Ruben tidak bicara. Ia memejamkan matanya sambil terus berjalan seolah sedang mencari ide.

"Kau sedang apa Ben?" Tanya Ahsan.

Ruben tidak menggubris pertanyaan dari Ahsan dan tetap memejamkan matanya sambil terus berjalan.

"Kau dengar tidak? Kenapa diam saja?"

Tiba-tiba Ruben berhenti dan menunjukkan raut wajah seperti sedang menahan sesuatu yang amat berat. Wajahnya juga berubah sedikit pucat.

"Teman-temanku yang budiman, aku tahu sekarang mungkin waktu yang kurang tepat untuk aku mengatakan hal ini, tapi apapun alasannya izinkan aku untuk mengatakannya. Ini demi kepentingan umat manusia," ucap Ruben dengan nada suara berat dan wajahnya yang sekarang sudah benar-benar pucat.

"Ha? Apa? Katakan saja," balas Ahsan santai.

"Sebelum kita melanjutkan perjalanan kita, izinkan aku untuk mencari toilet terlebih dahulu. Tolong tunggu sebentarrrrr," setelah selesai mengucapkan kata terakhir tadi ia langsung berlari untuk mencari toilet. Aku tau, sepertinya ia terlalu banyak memakan sambal tadi.

Sembari menunggu Ruben selesai buang air, aku dan Ahsan pun menepi sebentar sambil duduk. Entah kenapa jika berdua saja dengan Ahsan, rasanya jadi agak sedikit canggung.

***

"Soal yang tadi tidak usah terlalu dipikirkan ya Lang?" tiba-tiba Ahsan berbicara setelah beberapa saat kami tidak bertukar kata.

"Oh, iya," jawabku singkat.

"Kalau kau memang suka pada Sofia kau boleh mengungkapkannya," tambahnya lagi.

"Eh? Kenapa kau berpikir aku menyukainya?" tanyaku sedikit terkejut Ahsan berkata seperti itu.

"Entahlah, aku juga tidak tahu. Hanya saja, sesuatu dari dalam diriku yang mengatakannya haha," ucap Ahsan diakhiri suara tawanya.

"Sudahlah pokoknya yang tadi itu tak usah dipikirkan oke? Aku gak mau kau terbebani oleh itu...," tambahnya lagi.

"Oo-oke," jawabku singkat.

Tak lama setelah itu, Ruben datang menghampiri kami. Wajah Ruben yang tadi pucat pasi, kini seolah memancarkan cahaya yang menyilaukan.

"Apa-apaan wajah yang bersinar ituch?" ucap Ahsan.

"Haaa? Memangnya ada salah?" balas Ruben.

"Jadi, kita mau kemana setelah ini?" ucapku kali ini yang mencoba masuk dalam percakapan.

"Benar juga, tadi ketika aku sedang bermeditasi dengan tingkat konsentrasi yang amat tinggi, aku menemukan ide," ucap Ruben.

"Apa ide mu itu?" tanya Ahsan.

"Ayo kita ke bukit bintang !?" usul Ruben.

"Bukit bintang? Dimana itu?" tanya Ahsan penasaran.

"Itu berada di ujung Timur kota ini," jawab Ruben mantap.

"Wah cukup jauh ya berarti," balas Ahsan.

"Ya begitulah. Sepertinya kita harus menggunakan bis jika mau ke sana. Bagaimana?" tanya Ruben lagi.

"Wah mungkin lain kali saja ya? Kalo sejauh itu aku belum bawa uang cukup nich," ucap Ahsan.

"Hadeuh hadeuh terus kemana dong?" ucap Ruben.

"Bagaiman kalau kita pergi ke taman dekat rumahku saja? Nanti sekalian kita makan malam di rumahku. Ibuku pasti akan senang jika bawa banyak teman," kini aku mengutarakan usul ku.

"Wah ide bagus tuch, aku sih yes gatau kalo mas Ruben?" ucap Ahsan menirukan logat juri pada suatu ajang pencarian bakat yang sering disiarkan di TV.

"Aku juga yes sih. Baiklah sudah diputuskan. Ayo kita kesana...let's gooo." ucap Ruben dengan mantap.

Setelah itu, kami bertiga langsung menuju ke taman. Taman yang aku maksud adalah taman tempat Hana bermain bersama teman-temannya waktu itu yang terletak di dekat SD. Kami berjalan dengan santai dan sambil bersenda gurau. Seperti biasa Ruben dan Ahsan saling berbalas ejekan sepanjang jalan, sementara itu aku hanya mengamati mereka sambil sesekali tertawa.

Aku penasaran bagaimana reaksi ibuku nanti ya ketika pulang bersama mereka? Aku juga penasaran bagaiman reaksi Hana ketika pertama kali melihat mereka?

***

Bersambung

1
Kang Nyimak
ngk punya adik nyimak
Munibah Munibah
masih blm jelas alur cerita nya
Munibah Munibah
hadir
senja
hiatus?
HeeeM
konsep cerita yang unik tor saya suka
Aiko_cchi
Ruben Ahsan emang yg paling lucu
Aiko_cchi
Yahh.... Galang gk disebut ya....😞
Beby Na21
Terus semangat berkarya kakak😄

salam dari ....

#Rindu With Me

#Suamiku kakak sahabatku
Radin Zakiyah Musbich
aq mampir ❤️❤️❤️

jgn lupa mampir di novelku juga berjudul:

"My Annoying Wife" 🍃🍃🍃

kisah cewe bar bar yang jatuh cinta sama cowok polos 🍊🍊🍊

ku tunggu like and comment nya ya 🙏🙏☺️
Aiko_cchi
Wah....pasti seru tuh, main ke pantai bareng temen² terus liat sunset
oktabebee
lanjut lagi kak
Aerik_chan
Semangat berkarya kak...

"Pengantin Pengganti"
Aiko_cchi
Bener kata Hana, Ruben sama Ahsan emang lucu banget
Aiko_cchi
Cindy cemburu ya....
Aiko_cchi
Kok Risal gk dpt juara sih....
Aiko_cchi
17 September, sama kyk ulang tahun sekolah SMP gw
Aiko_cchi
Ahsan sama Ruben selalu bikin ketawa
Aiko_cchi
Es jeruk tanpa gula
Aiko_cchi
Gara² baca ini gw jadi kangen waktu gw masih sering main bola dulu, walaupun gw cewek gw itu suka banget main bola, dulu biasanya gw ikutan anak² cowok main di lapangan deket sekolah gw, anak cewek yg ikut juga bukan gw doang, ada beberapa temen gw juga yg ikut, tapi cewek² jarang main sampe selesai, paling² cuma setengah permainan doang, kecuali gw pastinya, gw selalu ikut sampe selesai, waktu SMP juga nilai olahraga gw pas materi sepakbola lumayan bagus, seimbang sama cowok²
Aiko_cchi
Puisinya bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!